
Farah berjalan dengan tergesa-gesa dengan perasaan kesal, walaupun perjalanannya masih sedikit jauh ia tetap menyusuri jalan, niat hati ingin membuat Keken kesal tapi nyatanya ia yang kesal karena melihat ibu muda itu bercanda dengan suaminya.
"Kenapa Keken banyak yang suka padahal pria itu menyebalkan." gumamnya dalam hati.
Dan Beberapa orang melihat kearah Keken yang kini meraih tangan isterinya namu selalu dihempas oleh Farah bahkan salah satu dari orang itu berteriak agar Keken menembak gadis itu.
" Tembak.. Tembak pacarnya bang. "ucap salah seorang pria
" Cie.. pacarnya ngambek bang. "balas seorang wanita yang berpapasan dengannya.
" Dia istri saya mba"ucap Keken
"Oh, sorry. Gue kira masih pacaran pakai acara ngambek segala."
Keken hanya menggulum senyum dan kembali mengejar Farah
"Sayang, jangan lari begitu. Ingat kamu sedang hamil." Keken meraih kembali tangan Farah dan mendekapnya dengan erat
Beberapa orang melihat kejadian itu dan seolah ikut terbawa suasana.
" Romantis banget bang." seru salah seorang pria
"Maulah jadi gadis itu dipeluk - peluk pasti nyaman." sahut salah satu wanita. Mereka seperti melihat film drama romantis ala korea.
"Apaan sih , Ken! Malu tahu." Farah memukul ringan punggung Keken, wajahnya merona karena beberapa orang melihat kearah mereka.
"Aku tidak peduli." Keken mendekap erat tubuh istrinya dan mencium kening Farah dengan lembut, seperti biasanya.
"Udah lepasin! Ayo kita pulang." pinta Farah, ia tidak mau semua orang melihat kearahnya dan itu membuat dirinya sangat malu.
Keken tidak bergeming dan masih memeluk istrinya, mencium aroma tubuh Farah yang membuat dirinya nyaman.
"Bang... ada minuman, kacang, teh cucuk, panta, coco cola dipilih-dipilih bang." suara pedagang asongan pinggir jalan merusak suasana romantis mereka.
"Ah, abang menganggu saja." protes Keken sembari mengurai pelukannya.
"Kalau mau pelukan dan romantisan di rumah saja bang. Ini jalan umum malu sama pak ogah." kelakarnya
__ADS_1
" Jadi beli dagangan saya tidak bang." ucap pedagang asongan lagi.
"Aku beli semuanya." ucap Keken dan pedagang itu serta Farah melolong
"Emang kamu punya uang?" tanya Farah
"Kamu tenang aja." Keken membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar pada pedagang itu.
"Makasih bang." pedagang itu tersenyum lebar saat melihat uang banyak. Ia memasukan semua dagangannya ke dalam plastik hitam.
"Mau tidak yang." Keken memberikan air mineral pada Farah
"Aku mau panta."
"Tidak boleh! Itu minuman tidak sehat untuk ibu hamil." ucap Keken. "Ya sudah kamu minum ini saja." Keken memberikan satu botol teh cucuk.
Ia pun mengambil satu botol dan sisanya dibagi - bagikan pada orang yang berlalu lalang di jalan itu.
"Makasih bang udah beli dagangan saya, semoga samawa bahagia dunia akhirat dengan istrinya." ucap pedagang asongan itu
"Aamiin, makasih." balas Keken namun Farah hanya diam tidak mengaminkan doa itu. Ia tidak peduli.
"Oke."
Doa dan ucapan terima kasih terucap dari setiap orang yang menerima minuman itu dan membuat Keken ltersenyum bahagia.
"Ternyata membuat orang bahagia itu sangat sederhana tidak perlu keluar banyak modal." gumam Keken dalam hati. Ia yang terbiasa hidup mewah selalu memberi kebahagiaan orang lain dengan foya-foya dan memberinya banyak uang.
"Sayang, banyak yang doain kita lho tadi." ucap Keken sembari menggandeng tangan Farah, walaupun beberapa kali istrinya menolak untuk digandeng namun Keken tetap bersikeras memaksanya hingga Farah pasrah.
"Aku tidak peduli!" ucap Farah
Keken hanya tersenyum kecut, ternyata istrinya tidak tersentuh dengan perbuatan baiknya. Farah masih sama tidak mencintainya. Sabar Ken.
"Kita belum makan lho, mampir dulu ke warung ya."
"Aku tidak lapar." ketusnya.
__ADS_1
"Mungkin kamu tidak lapar tapi anak kita pasti kelaparan."
"Terserah." Hati Farah sedang tidak baik-baik saja, saat semua orang mendoakannya dan Keken agar menjadi keluarga samawa, saat itu juga dirinya seolah menolak keras. Ia masih berkeinginan bercerai setelah melahirkan anaknya. Tidak ada rasa cinta untuk Keken, yang ada hanyalah rasa benci dan ingin rasanya setiap hari menumpahkan segala kekesalannya pada pria itu.
Farah mengurai tangan Keken dan berjalan cepat menuju rumah kontrakan. Sedangkan Keken hanya menghela nafas melihat Farah yang masih enggan untuk berdekatan dengannya. Ia memilih pergi ke warung dan membeli masakan padang untuknya dan sang istri.
" Kopi." pinta Keken pada sang istri, masih sama selalu ingin dilayani. Mereka makan bersama di ruang tamu sekaligus tempat tidur Keken. Ia hanya tersenyum saat Farah menyajikan secangkir kopi sachet yang dibelinya di warung. Pemandangan yang sangat jauh berbeda, jika dulu Keken selalu menggunakan kopi terbaik kini dia hanya bisa meneguk kopi kemasan dengan harga recehan. Miris.
"Makan yang banyak agar anak kita sehat." ujar Keken sembari mengelus perut Farah
"Apaan sih!" Farah menepis tangan Keken agar menjauh dari perutnya. "Aku tidak naf su makan."
" Kamu kan belum makan masa tidak naf su, kalau lihat aku naf su tidak?!" goda nya
Farah memicingkan matanya dan menatap tajam suaminya. "Tambah enek!" ketusnya
Namun Keken hanya tersenyum, baginya omelan dan makian Farah terbiasa untuknya.
"Besok aku mau jualan makanan lewat online. Besok aku mau masak dan akan aku posting di beberapa grup."
"Aku tidak mengijinkan kamu jualan.Fokuslah dengan kesehatanmu dan calon anak kita." Keken tidak suka jika Farah bekerja dan otomatis istrinya sibuk dan Keken tidak mau Farah kelelahan.
"Aku hanya memberitahu bukan meminta ijin, suka tidak suka mau tidak mau kamu, aku tetap jualan." kekeh Farah
"Apa uang yang aku berikan kurang? Apa maharnya terlalu sedikit untukmu hingga kamu ingin bekerja? Kalau kamu merasa kurang bilang padaku, akan aku transfer lagi uang yang banyak agar kamu tidak perlu bekerja. Kalau perlu semua tabunganku aku berikan agar kamu nyaman. "
" Ken, ini bukan masalah uang. Aku jenuh di rumah, tidak ada kegiatan yang dilakukan, aku terbiasa kerja Ken! "
" Tapi sekarang berbeda Farah, kamu tanggung jawabku. Aku yang akan bekerja untukmu dan anak kita. "
" Pokoknya aku tidak mau tahu, besok aku mau jualan. Titik! "
Keken hanya menghela nafas panjangnya, Farah begitu keras kepala dan tidak mau menurut padanya.
" Kalau kamu bosan di rumah bagaimana kalau kita pindah ke Cafe Michelle, tempat kos kami sudah jadi disana kamu bisa bertemu dengan teman-temanku dan sesekali bisa membantu Michelle. Aku kerja di Selatan dan sekarang kita di Utara, banyak memakan waktu di perjalanan Far. Ayo kita pindah dan mulai hidup baru. " Keken merasa sedikit kelelahan jika harus pulang pergi dari Utara ke Selatan. Ia pun berharap Farah mau ikut agar memudahkan dirinya bekerja lebih efisien waktu dan jika Farah tinggal di kosan Cafe Michelle secara otomatis Hilman tidak akan berani datang karena banyak teman dan karyawan Keken disana.
"Aku tidak mau!" tegas Farah, ia tidak mau berhubungan dengan para mantan Keken apalagi satu pekerjaan dengannya. Bagi Farah menghindar dari teman-teman Keken adalah jalan yang terbaik karena ia tidak mau menjalin pertemanan dengan para sahabat Keken karena pernikahannya hanya sementara, yakni satu tahun.
__ADS_1
Keken menutup bungkus makanannya, ia sudah tidak berselera lagi. Berdebat dengan Farah pun percuma, karena isterinya itu makhluk paling keras kepala. Keken bergegas mengambil rokok dan menghisapnya di luar rumah. Hanya dengan cara ini ia bisa meredakan emosi yang hampir bergejolak.