
Dini melihat tutorial masak dan sesekali melirik kearah Farah yang sedang melamun bahkan wanita itu beberapa kali menghembuskan nafas panjangnya.
" Kamu nyesel mutusin bang Hilman?" tanyanya
"Aku tidak menyesal hanya saja saat melihat wajah bang Hilman tadi, dia begitu menyedihkan. Tubuhnya kian kurus dan tidak terawat."
"Sudah jangan kau pedulikan dia, jangan membalas pesan ataupun berkomunikasi dengan nya." ucap Dini sembari menyicipi rasa masakan nya yang terasa aneh.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada pertemanan dengan sang mantan karena itu berpotensi menjadi selingkuhan." Dini berkata dengan tegas.
"Ah, masa. Tidak juga kok buktinya Keken dan Michelle masih saja berteman, lalu Keken dengan Wina juga masih saling komunikasi." elaknya
"Itu karena suamimu sudah cinta mati padamu, coba kalau kamu dan Hilman yang ada kamu bakal inget terus sama dia. Dan bang Hilman akan mempengaruhimu secara tidak langsung."
"Kau itu selalu berpikiran negatif."
"Aku bukan berpikiran negatif Far, tapi lebih kearah waspada dan jaga-jaga."
"Baiklah nona Dini yang judes, aku akan mengikuti saranmu." Farah tak ingin lagi berdebat dan hanya mengiyakan permintaan Dini.
"Apa yang salah ya." Dini heran karena masakan nya tidak sesuai ekspektasi padahal sudah belajar dari yutub. "Cobain dulu masakanku ini."
Farah menyicipinya dan memang ada rasa yang aneh. " Kluwaknya (pucung) kebanyakan ya makanya rasanya kurang enak."
"Tidak kok,aku memasukkan nya sesuai yotub. Mana ku tahu, aku kan memang tidak pandai memasak." gerutu nya
"Tambahin garam sedikit." Farah memberikan sedikit garam dan penyedap agar enak.
"Tapi ini masih bisa dimakan, lumayan kok." Farah kembali menyuap sayur ikan gabus itu. "Enak!"
"Sudahlah jangan dimakan nanti kamu keracunan."
"Ih ini tidak akan membuat aku keracunan, orang anak aku yang mau." Farah mengambil nasi dan makan sayur ikan itu dengan lahap, Dini hanya bisa tersenyum saat melihat temannya rakus seperti biasanya.
" Si rakus kayak tikus." ejek Dini
"Nanti kalau kamu hamil akan tahu bagaimana rasanya lapar dan nyidam, kau akan lebih rakus dariku."
" Mosooooo...." Dini dengan gaya slengean nya.
"Nanti pisahkan sayur nya agar Keken tidak makan, aku takut dia alergi lagi."
"Iya, kau tenanglah karena aku akan menyimpan ini dengan baik." Kali ini Farah tidak ingin lalai.
"Apa aku harus jujur dengan Keken ya kalau hari ini bertemu bang Hilman?"tanyanya lagi
"Tentu saja kau harus jujur, memangnya kamu mau ada kesalahan pahaman lagi."
"Aku tidak mau lah, yang ada aku dipecat jadi menantu papih Feri. Dia terlihat santai tapi saat tahu anaknya disakiti, langsung deh marah sama aku." Farah kembali mengingat sosok mertua lelakinya yang menyeramkan saat marah dan dia berharap tidak akan ada masalah lagi di kemudian hari.
" Jujur itu lebih baik. Aku akan membantumu jika Keken tidak percaya dengan kejadian tadi siang. "
" Beneran ya Din, bantuin aku bicara pada Keken."
"Iya, iya."
* **
Malam hari pukul tujuh Keken datang bersama Khaffi. Entah apa yang mereka bicarakan hingga mereka terlihat serius.
__ADS_1
"Farah, kopi." teriak Keken
"Farah, susu." teriak Khaffi, dan langsung saja ia mendapat pelototan dari Keken.
"Apaan sih, Ken. Aku cuma minta kopi susu tahu." elaknya
"Otak lu kotor! Aku tahu kemana arah pikiranmu." jelas Keken dan Khaffi tergelak tawa.
" Lu mah enak udah nikah, dingin-dingin begini bisa langsung nempel si Farah, sedangkan gue cuma bisa meringkuk diatas kasur sambil peluk guling."
"Makanya nikah."
" Tidak! Males gue nikah, emak Ifa cerewet banget jodohin sama temen anaknya yang dokter."
" Bagus dong, jadi lu punya emak dokter, ayah dokter, kakak dokter, bini lu juga dokter."
"Ogah."
"Emang kenapa? Keken begitu heran karena Khaffi menolak memiliki istri seorang dokter.
" Bisa mabok gue bau obat, mereka lebih mementingkan pasien lalu siapa yang akan memperhatikanku di rumah. "
" Bibi. "jawab Keken sembari terkekeh
" Lu kan biasa sama asisten rumah tangga sejak kecil. "
" Iya, memang benar tapi aku tidak mau sendirian lagi. "Khaffi menghela nafas panjangnya, memori nya begitu membekas. Kedua orangtua nya begitu sibuk dengan dunianya hingga terkadang ia sedikit terabaikan namun saat hari libur orangtua akan bermain bersamanya. Sedangkan mba Kinan, jelas dia lebih memilih bermain di rumah tante Navysah.
" Ini kopinya. "Farah memberi dua cangkir kopi hitam.
" Kita makan bersama ya. "Farah masuk ke dapur dan membawa beberapa piring, sayur gabus pucung dan ayam goreng lalapan."
"Sejak kapan kau makan malam dengan nasi?" Khaffi
" Memangnya kalau malam Keken tidak pernah makan nasi?" Farah baru tahu kebiasaan suaminya
"Tidak! Suamimu itu sangat menjaga kesehatan dan badan nya. Dan lihat sekarang dia bertambah gendut dan itu karenamu." Khaffi
"Sekarang tidak masalah jika aku gendut karena istriku menerima diriku apa adanya." Namun matanya melirik sayur ikan itu. " Apa ini kok sayurnya hitam begini?"
"Oh, itu sayur ikan gabus pucung tadi siang aku ke pasar bersama Dini dan dia memasak untukku. Kamu jangan makan ikan, aku tidak mau kamu alergi lagi."
"Iya sayang, perhatian banget sih sama aku." Keken mencium pipi istrinya dengan lembut.
" Mataku terkontaminasi dengan keromantisan kalian, kasihanilah diriku yang jomblo ini." Khaffi menyendok nasi lalu mencicipi sayur ikan itu. Namun ada yang aneh rasanya.
" Kenapa rasanya seperti ini?"
" Dini memang tidak bisa memasak, tapi ini lumayan enak bisa di makan kok. "jelas Farah
" Si judes itu memang payah dalam urusan rumah tangga. "cibir Khaffi, namun ia terpaksa memakan makanan yang sudah terlanjur diambil
" Ia memang payah dalam memasak tapi dia hebat dalam __"Farah mengantungi kalimat nya. Sebenarnya ia ingin berkata me sum tapi diurungkan. Dini hebat dalam menonton adegan pa nas, hobinya sama seperti Vania. Dan biarpun terlihat judes Dini selalu perhatian dan setia kawan.
"Hebat dalam hal apa?" Khaffi masih saja penasaran
" Dia hebat dalam berhitung, memanjat pohon dan menawar barang di pasar." Farah menunjukkan beberapa kelebihan Dini. Hanya itu yang keluar dari mulutnya karena dia tidak ingin mempermalukan sahabatnya.
" Dia memang perempuan aneh." Khaffi
"Siapa yang aneh?!" seru Dini, ia sempat mendengar percakapan di rumah Farah dan pria itu menyebutnya aneh. Kurang ajar.
__ADS_1
"Apa..." Khaffi tidak ingin banyak bicara dan bertengkar dengan wanita itu, ia dengan cepat menghabiskan makanan nya.
"Kau lapar, Fi? Mau nambah lagi?" Farah melihat pria itu seperti orang kelaparan.
"Tidak! Masakan ini aneh, aku menghabiskan nya agar tidak mubazir!" Dan pria itu menatap Dini
"Kalau tidak enak nggak usah dimakan!"ketus Dini
" Dih! Orang ini makanan Farah kenapa kamu yang sewot! " Khaffi
" Sudah cukup kalian jangan bertengkar, kenapa sih kalau kalian bertemu tidak pernah akur. "Farah
" Bisa jadi kalian jodoh. "celetuk Keken
" Tidak!!!" kali ini mereka menjawab secara bersamaan lalu saling menatap.
" Tuh liat, kalian ngomong aja kompak begitu. " Keken semakin membuat suasana semakin panas.
Dini bergegas pulang kembali ke rumah kontrakan nya. Ia tidak mau melihat wajah Khaffi yang menyebalkan.
"Tuh kan, dia pundung." Farah melihat sahabatnya pergi, padahal ia ingin meminta bantuannya agar bicara pada Keken tentang kejadian siang tadi.
"Dia memang ngambekan, biarkan saja Far." Khaffi tidak ingin ambil pusing dengan sikap Dini yang selalu kesal padanya.
"Ken, aku ingin bicara jujur padamu tapi jangan marah ya." ucap Farah setelah Khaffi pulang. Mereka saling bekerja sama membereskan rumah. Keken mencuci piring, Farah menyapu rumah.
" Bicara tentang apa?" Keken mengeringkan tangan nya setelah mencuci piring. Lalu pergi ke kamar membereskan tempat tidur
" Tadi bang Hilman menemuiku saat di pasar."
"Oh." Keken masuk ke dalam selimut, ia sudah mulai mengantuk.
"Kok cuma oh doang, Memangnya kamu tidak ingin mendengar ceritaku?" Farah bergegas ikut masuk ke dalam selimut. Memeluk suaminya hingga terasa nyaman.
"Pria itu sudah memberitahukan padaku." Keken mulai menutup matanya yang terasa berat
"Eh, beneran bang Hilman kasih tahu kalau dia ketemuan sama aku. Dia bilang apa?"
"Sudahlah tidak perlu dibahas, Memangnya jika aku mengatakan yang sebenarnya kau akan lebih percaya denganku atau dengannya? " Keken sebenarnya sudah tahu bahwa Hilman menemui istrinya di pasar dan gila nya lagi pria itu masih saja menginginkan istrinya.
Farah merasa bingung namun saat ini suaminya yang paling utama." Aku lebih percaya padamu, Ken. "
Keken langsung membuka matanya kembali, ia tidak menyangka Farah akan lebih mempercayai nya daripada mantan nya.
"Bang Hilman bicara apa?"
"Dia bilang, masih menginginkanmu. Dan sebelumnya juga dia selalu mengirimkan video yang bisa membuat kita bertengkar karena salah paham, tapi aku lebih percaya padamu." Keken
"Benarkah." Farah kian mengeratkan pelukan nya. Keken benar-benar pria terbaik.
"Aku mencintaimu Kendrew Putra Feriansyah, cup." Farah mengatakan dengan sadar kali ini, mengungkapkan isi hatinya hingga membuat Keken menatap haru, pengakuan Farah begitu sangat berarti untuknya.
"Aku juga mencintaimu." Keken mencium pipi istrinya namun ia kembali membalikkan tubuhnya ke dinding.
"Kok aku diabaikan setelah mengakui perasaanku." Farah ngedumel.
"Sangat berbahaya jika Kenzi terbangun, berdekatan seperti ini membuat tubuhku panas kembali. Aku tidak ingin kamu kelelahan maka dari itu tidurlah."
" Ishhh... kau itu, aku juga mau kalau malam ini Kenzi bersilaturahmi nengokin si adek." Farah, ia pun selalu menginginkan sentuhan suaminya. Farah ketagihan.
" Tapi sayangnya hari ini aku tidak berminat, biarkan Kenzi tidur damai hari ini. Tenagaku sudah habis mengurus proyek Utara. "Keken menggulum senyum karena hari ini ia benar-benar ngantuk dan ingin tidur.
__ADS_1
" Dasar pelit!!! Awas saja kalau minta, tidak akan aku kasih!! " Farah merasa kesal karena permintaan nya ditolak, bahkan ia sengaja memunggungi suaminya. Keken hanya mengulas senyum.