
Keken
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, terlihat seorang pria yang sedang serius dengan tumpukan berkas di depan mejanya. Keken yang sejak pagi begitu sibuk dengan pekerjaan kini sudah terlihat lelah.
Satu panggilan dari Amin, asisten rumah tangga di apartemen miliknya.
"Aden, hari ini nona Farah datang. Aden ingin makan apa?"
"Makan orang bisa, hehehe..." Keken tertawa sendiri, walaupun terkadang Amin sering di maki - maki namun hanya pada Amin lah Keken bisa bersenda gurau di rumah.
" Aden bisa saja." Amin hanya bisa tersenyum diujung telepon namun tak terlihat.
"Mm... Aku mau kue karamel dan ramen. Suruh si Farah telepon aku jika tugasnya selesai."
"Baik Den."
Keken menutup teleponnya dan hanya menghela nafas panjangnya, dasinya terasa mencekik hingga akhirnya dia melepaskannya.
Dan kini Keken mulai terganggu dengan sebuah video yang dikirimkan oleh salah satu pacarnya. Wina, seorang mahasiswi di sebuah universitas. Mereka menjalin kasih sudah dua bulan yang lalu. Paras cantik, semampai dan kulit putih mulus adalah kriteria yang disukai oleh seorang Keken.
Sebuah video yang sedang Keken putar, tercetak dengan sangat jelas bodi mulus dengan balutan kain sifon tipis berwarna pink. "
Luar biasa ciptaan tuhan satu ini. " Keken tersenyum lebar membayangkan betapa nikm*tnya dia bisa berselancar diatas tubuh Wina. Bagian bawahnya mulai ketat, si Kenzi mulai berontak ingin keluar dari persembunyiannya.
Dan disaat bersamaan sang gadis meneleponnya.
"Sayang..." suara manja sang gadis terdengar sangat sexy.
" Sudah dua minggu kamu tidak kesini, aku kangen."
" Aku juga kangen, kita ketemu sekarang ya. Datanglah ke apartemen itu seperti biasa, minta kunci sama Andi." perintah Keken, ia selalu menyewa apartemen ukuran studio untuk bersenang-senang dengan wanitanya. Andi sang penjaga Apartemen sudah hafal dengan sifat temannya yang selalu membawa wanita yang berbeda.
" Oke sayang. "
Keken menutup teleponnya dan membereskan mejanya. Ia begitu semangat untuk bertemu dengan pacarnya.
"Mau kemana Ken?" tanya Fafa yang baru saja masuk ke dalam ruangan Keken
"Gue pulang duluan." ucapnya tanpa menoleh
"Ini masih jam kantor, kok lu nggak profesional gitu, sih!"
"Yang nggak profesional gue apa lu, kampret!, Lu aja masuk suka - suka sering pulang cepat karena takut sama bini, capek deh."
"Bukannya gue takut, tapi karena gue sayang bini gue yang sedang hamil. Nanti lihat saja kalau bini lu hamil, lu akan tau rasanya jadi calon ayah yang sesungguhnya. Lu nggak bisa jauh dari istri lu, takut dia kenapa - napa dengan calon anak lu."
"Mosoooo..." Keken hanya menye-menye mencibir Fafa.
__ADS_1
"Yaelah kagak percaya lu, makanya cepetan kawin dan punya anak."
"Kawin mah udah, nikah yang belum. Punya anak nanti saja deh gue masih pengen seneng - seneng" Keken menggulum senyum.
"Dasar Pangeran Modosa, dosaaaa terus kerjaannya."
" Dosa - dosa gue yang nanggung, lu jangan banyak cingcong. Gimana si kembar, udah dapat nama belum."
"Udah tapi masih bingung, si Janin pengen ngasih nama Arsya dan Arsyi tapi gue pengen kasih nama Flora dan Fauzan, eh si Janin malah ngamuk." Fafa hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya, istrinya tambah sensitif menjelang hari persalinan.
" Yang bagus itu Flora dan Fauna saja, hihihi." kelakar Keken
"Ntar anak gue dunia tumbuhan dan hewan dong!" dengus Fafa dengan kesal.
"Gue terserah si Janin deh mau kasih nama siapa, aku manut saja." lanjutnya lagi
"Dasar STI alias Suami Takut Istri." cibir Keken
"Terserah lu ngomong apa yang penting gue sekarang aman terkendali, kepala atas tenang nggak banyak pikiran, kepala bawah anteng nggak berontak mulu kayak si Kenzi."
"Eits! jangan salah, si Kenzi juga aman terkendali. Dia tahu mana yang original dan mana yang second an, hahahaha..." seloroh Keken
"Dasar Modosa!! si Kenzi (Keken Zina) masih saja keluyuran di lob*ng haram."
"Habis enak, sih!" sahutnya tanpa dosa. " Gue pulang dulu, si Kenzi udah jejeritan minta sarung." Keken keluar ruangan sembari bersiul bahagia.
* **
Keken datang ke apartemen dengan membawa banyak makanan dan minuman untuk sang kekasih.
Ia masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan terdengar suara gemericik air dari dalam bathroom.
"Ini si Kenzi nggak sabaran banget sih, berontak mulu. Sabar-sabar sarungmu sedang dalam pembersihan." Keken mengelus area bawah agar sedikit lebih tenang, namun hasratnya tidak terkendali ketika mendengar gemericik air saja pikirannya sudah mulai kotor.
"Sudah datang." Wina keluar dengan bathrope bermotif garis berwana biru dan handuk kecil yang membungkus rambutnya.
"Sudah, sampai ileran ini aku nungguin." kelakar Keken, yang dimaksud dengan ileran menunjuk ke arah Kenzi.
"Dasar nakal!" Wina bergelayut manja duduk di pangkuan Keken sembari mengalungkan tangan di leher sang kekasih.
"Sayang..." Wina bersuara manja seperti biasanya, " Kapan kau kenalkan aku dengan ibumu?" Wina menginginkan Keken serius padanya, ia yang sudah terlanjur melakukan hubungan terlarang menginginkan Keken untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Nanti, sekarang belum saatnya. Kita bersenang-senang terlebih dahulu honey." Keken menghirup wangi tubuh Wina yang terasa sangat segar. Dan sudah pasti si Kenzi kembali berteriak.
" Jangan bohong."
"Iya." Dan tangannya mulai menjelajah di balik bathrope.
__ADS_1
"Aku bawakan makanan dan minuman untukmu." Keken bicara dengan suara beratnya, hasratnya kian menderu saat Wina mengigit-gigit kecil belakang telinganya. Wina pun menggerakan tubuhnya, ia tahu ada yang menggeras di bawah sana.
" Aku ingin sekarang." ucapnya dengan suara berat.
Wina menganggukan kepala, mengiyakan permintaan pacarnya.
Senyum indah terpancar dari seorang Keken, ia kembali menyusupkan tangan ke dalam bathrope dan bermain di pucuk dad* sang kekasih.
"Geli ih!" Wina memukul tangan Keken
"Ya sudah." Keken mengangkat tubuh Wina ke dalam ranjang, "Akan aku buat geli yang sesungguhnya hingga kamu minta ampun." ucapnya dengan mengedipkan mata.
Tangan Keken mulai aktif menjalar ke semua bagian tubuh Wina, lidahnya tak mau kalah, mencercapi setiap jengkal milik sang gadis. Ini bukan pertama kalinya bagi mereka. Pasangan ini sudah empat kali melakukan kegiatan panas layaknya suami isteri.
Sentuhan Keken yang begitu memabukan membuat sang gadis terlena, Keken benar-benar sang casanova handal hingga Wina mendes*h tidak karuan namun disaat yang bersamaan suara dering telepon berkali-kali cukup mengganggu kegiatan panas mereka.
"A.. Angkat dulu, siapa tahu penting." Wina yang berada di bawah tubuh Keken meminta sang pacar untuk mengangkat panggilan telepon
"Tanggung, baru juga pemanasan."
"Angkat dulu, daripada menganggu kita." pintanya lagi
Keken yang sedang bersemangat untuk menjelajahi kini merasa kesal karena Wina menyuruhnya untuk mengangkat telepon.
" A.. Apa?!!" dengan suara terengah dan tanpa basa - basi Keken menyemprot si penelepon. Dia begitu kesal setelah membaca namanya.
Keken yang masih berada di atas tubuh Wina, tak tinggal diam. Ia merem*s payud*ara sang gadis sembari memilinnya.
"Sayang, tu.. tup teleponnya. Akhhh... sss... Akhhh..." ucap Wina dengan wajah sayunya.
"Kenapa ada suara ah... ah... ah, kamu sedang apa?" tanya Farah dengan polos di ujung telepon.
"Bego lu!!" teriak Keken sembari mematikan handphonenya.
Keken turun dari tubuh Wina dan sudah tidak berkeinginan untuk menjamahnya lagi. Semangatnya sudah ambyar gara - gara gadis gendeng itu.
"Dia itu polos atau bodoh, sih! Masa bertanya aku sedang apa setelah mendengar des*han si Wina." gumam Keken dalam hati
"Sayang, kok diem. Ayo lanjutkan."
"Aku sudah badmood, kita akhiri saja hari ini." Keken membuang wajahnya ke arah lain.
"Please...." Wina memohon dengan wajah memelas. Hasratnya sudah di puncak namun Keken ingin mengakhirinya sepihak. " Keken, please..." Wina menarik tangan Keken untuk menyentuh miliknya yang masih tertutup underw*ar.
" Sayang..." Wina tak tinggal diam, ia menyentuh Kenzi agar berontak kembali. " Please...." pintanya lagi
"Baiklah." Keken tak lupa mengambil pengaman yang selalu dia simpan di dalam dompetnya.
__ADS_1
Wina tersenyum puas, aktifitasnya yang sempat tertunda kini berlangsung penuh gairah, Keken benar - benar mampu membuatnya terlena dengan sentuhannya.