Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 115 (Temen Setan)


__ADS_3

Farah menatap Khaffi dengan kesal karena pria itu selalu menggodanya. Ia selalu tersenyum sembari menaik turunkan alisnya. Dan tentu saja tebakan dia benar karena sepertinya Keken benar-benar mencintai Farah dengan tulus, pria itu benar-benar tinggal di rumah tidak jadi pergi dengannya.


"Bagaimana, benar tidak tebakanku? ." bisik Khaffi dengan lirih


"Berisik!" lirih Farah


"Hei, Kalian sedang apa! Kenapa dekat-dekat istriku sembari bergumam lirih seperti itu." Keken begitu curiga karena istrinya berbicara lirih bersama temannya. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan.


"Apaan sih!! cacing kremi mending diem deh ini urusan anak sultan dan menantu ratu Medusa." kelakar Khaffi sembari tersenyum mengejek


"Gue juga anak sultan!"


"Iya anak sultan tapi sekarang dimiskinkan." potong Farah sembari tersenyum mengejek.


Keken menyerah pasrah memang saat ini ia miskin, lalu mendorong Khaffi agar pulang ke apartemennya sendiri, karena saat ini Keken ingin berduaan dengan istrinya.


" Cepetan pergi, urusan papahnya Michelle kita bahas nanti. " ia kembali mendorong Khaffi hingga keluar pintu


"Keken kok Khaffi diusir,dia sudah baik loh kasih kita banyak cemilan." protes Farah, saat Khaffi datang pria itu membawa banyak makanan dan biskuit untuknya. Dan dengan jahatnya Keken mengusir pria itu.


"Dia ini baik tapi modus, si perayu ulung." ucap Keken


"Dih!! ngomongin orang, dirinya sendiri juga tukang modusin cewek." potong Farah, kali ini istrinya membela Khaffi.


Keken menelan salivanya. Sedangkan Khaffi tersenyum penuh kemenangan karena Farah membelanya.


"Aku sudah lama tidak modusin cewek yang, kamu kan tahu itu." Keken


" Aku tidak tahu,bisa jadi kamu diluar bertemu dengan wanita lain."


"Tidak ada wanita selain kamu sayang."


"Terserah!! Aku sih masih belum percaya." Farah masuk kedalam kontrakan nya lagi dan tidak memperdulikan kedua pria gila yang kini berada di teras.


" Sana pulang!" usir Keken

__ADS_1


"Sudah dibantu malah ngusir." gerutu Keken


"Bantuanmu membuat rumah tanggaku semakin kusut!!" kesalnya.


"Tidak juga, aku harap ini awal yang baik." Khaffi menggulum senyum, saat Farah menerima taruhan nya, ia yakin wanita itu mulai menyukai Keken namun masih enggan untuk mengatakannya.


"Baik bagaimana?" Keken mengernyitkan dahi, selama ini Farah masih saja ketus dengannya.


" Lihat saja Nanti." Setelah diusir berulang kali akhirnya Khaffi beranjak pulang.


"Cepetan!!" Keken mendelik saat melihat Khaffi ogah - ogahan untuk pulang.


"Sabar..., ih sudah nggak tahan nih ye." goda ya sembari menggeliatkan tubuhnya dengan sensual.


"Najis!!" umpatnya, " Gue naf su sama bini sendiri bukan elu! " Keken kian gemas dengan sikap Khaffi yang cengengesan hingga akhirnya Keken menendang b*kongnya.


"Pergi sono!" usirnya lagi


"Ya, ya, ya pangeran miskin, gue bakal pulang." Namun bukan Khaffi namanya kalau tidak bikin ulah. Ia buang angin dengan suara keras dan bau yang menyengat, lalu berlari menghindari amukan Keken.


"Bangs*t lu!!! Temen setan!!" teriak Keken dengan emosi, bau busuk tercium menguar hingga ia ingin muntah.


Keken baru menyadari bahwa ia salah bicara. "Betul juga ya, berarti aku setan nya." ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalian berdua sama, sama-sama sinting!" Farah berselonjor di depan televisi. Entah kenapa kakinya sakit.


" Apa kamu kelelahan? "tanya Keken, ia melihat Farah memijit kakinya dengan melumurinya minyak kayu putih.


" Sedikit, tapi hari ini aku senang karena masakanku habis terjual. Untungnya lumayan untuk makan sehari-hari. Besok aku akan posting di grup jual beli kuliner area Jekardah agar lebih banyak yang beli."


"Aku tidak setuju! Kamu pasti akan kelelahan dan aku tidak mau kamu sakit."


Hati Farah berdesir karena Keken begitu memperhatikan kesehatan dirinya, namun ia masih ingin menyibukan diri. Farah tidak bisa hanya diam dan duduk santai, ia hanya ingin bekerja untuk mengusir rasa jenuhnya.


"Aku mau bekerja, kamu tenang saja. Aku tahu tentang kesehatanku, jika aku kecapean pasti aku akan libur jualan. Dan jika pembeliku kian banyak, aku bisa mempekerjakan teh Cucu sebagai kurir antar makanan dengan begitu dia bisa menambah pemasukan, kasihan dia Ken, butuh uang banyak karena anak yang dikampung akan masuk sekolah menengah pertama. "ujar Farah, beberapa hari yang lalu teh Cucu bercerita tentang kehidupannya dan biaya sekolah anaknya yang memakan biaya yang lumayan besar.

__ADS_1


Keken kian mendekat dan mengambil alih memijit kaki Farah sembari melumurinya dengan minyak kayu putih. Dan Farah tidak menolak saat Keken mulai memijit kakinya.


"Pelan - pelan." pintanya


"Iya sayang, ini sudah pelan - pelan." ucap Keken, dalam hatinya ingin bersorak karena Farah tidak menolak dirinya saat memijit. Awal yang baik.


"Aku mau kamu di rumah dan tidak perlu bekerja. Urusan teh Cucu akan aku bicarakan dengan Michelle, mungkin dia bisa membantunya." tangan Keken mulai merangkak naik perlahan-lahan kearah atas kaki Farah.


" Michelle lagi." gumam Farah dalam hati.


"Memangnya Michelle bisa bantu apa?! " tanyanya dengan ketus


"Dia punya Cafe, beberapa kenalan aku juga bekerja disana dengan bantuan Michelle dan sekarang mereka berubah menjadi wanita baik - baik." ujar Keken. Namun pikirannya melayang jauh saat menyentuh kaki atas Farah, entah gadis itu benar-benar polos atau terhipnotis dengan obrolan Keken hingga gadis itu tidak sadar kalau tangan Keken sedang menjelajahi area kakinya.


" Memangnya kalau teh Cucu daftar bisa langsung diterima Michelle?" tanyanya lagi


"Melihat fisik teteh sih lumayan cantik dan putih kalau dia cekatan dan bisa kerja dengan baik, Michelle pasti akan memberinya kesempatan." jawab Keken dengan nafas yang mulai naik turun dan sepertinya Kenzi mulai terbangun. Gawat.


" Kalau aku daftar ke Michelle kira-kira diterima tidak ya? "tanyanya asal


" Jelas tidak! "


" Kenapa? Aku kan cekatan dalam pekerjaan dan cepat dalam melakukan sesuatu. "


" Kamu tidak akan diterima Michelle karena sebentar lagi tubuhmu akan seperti mesin ATM, ibarat tabungan kamu rekening gendut. "kelakar Keken sembari tertawa lebar


" Jahat! Wanita lain dipuji, istri sendiri diejek! " Farah terlihat begitu kesal karena Keken selalu mengejeknya.


" Aku bicara kenyataan Farah, mana ada perusahaan atau Cafe yang akan menerima wanita hamil. Itu jarang terjadi."


"Dan tadi kamu bilang istriku, berarti kamu sudah menganggap aku suamimu?" tanya Keken sembari mengedipkan matanya. "Boleh dong silaturahmi bertemu dengan Kenzi si per kasa."


"Jangan ngaco deh! Siapa juga yang menganggap kamu suamiku dan jangan harap ada hubungan suami istri, itu tidak mungkin Ken! " ketus Farah,


" Dan jangan coba - coba mencari kesempatan dalam kesempitan." ia menepis tangan Keken yang kian merambat ke atas kakinya. Farah baru sadar kalau tangan Keken menjelajahi dirinya saat pria itu bicara.

__ADS_1


" Sayang sekali tidak diijinkan padahal Kenzi sudah bangun. " Keken meraih tangan Farah dengan cepat dan menuntunnya kearah tengah diantara kedua kakinya.


"Keken, sial*n!!" umpat Farah dengan kesal, ia merasa geli saat menyentuh Kenzi si per kasa. Namun pria itu telah terlebih dahulu berlari ke toilet karena menghindari amukan Farah.


__ADS_2