
Farah membanting pintu kamarnya karena kesal, entah kenapa hatinya ingin memberontak saat tahu Keken akan meninggalkan nya lagi apalagi selama dua bulan dan itu artinya dia akan melahirkan tanpa adanya suami.
Melahirkan buah cintanya namun si ayah bayi tidak bisa menemaninya berjuang. Farah benar-benar takut saat dirinya berjuang ia tidak bisa melihat Keken lagi. Apapun bisa terjadi saat melahirkan seorang anak bahkan Farah pernah mendengar cerita dari Keken saat tante Navysah melahirkan dia mengalami preeklamsia . Farah begitu takut. Ia kembali menangis dan menutup wajahnya dengan bantal.
Keken masuk ke dalam kamarnya dan melihat Farah masih dalam mode nangis. Ia pun duduk disamping Farah.
"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut Keken
" Apa aku harus menunggumu melahirkan baru pergi ke Singapura?" tanyanya
"Jika kau ingin seperti itu maka aku akan menurutimu."
Farah segera membuka bantal dan menatap wajah Keken, lalu ia bersandar di kepala ranjang sembari menuntun tangan suaminya kearah perut.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa tapi jika harus jujur aku ingin saat melahirkan ada kamu."
"Ghani anak kita dan kamu suamiku, aku berada di posisi yang sangat sulit. Satu sisi aku ingin kamu cepat sembuh dan satu sisi aku ingin kau disini, menemaniku. Aku memang serakah." lirihnya sembari tersenyum getir, lalu mengusap kembali perutnya dengan tangan Keken
"Lihat, Ghani sangat senang saat disentuh ayahnya." Farah merasakan denyutan bayi yang kian aktif saat Keken mengelus perutnya.
" Ghani." Lagi-lagi Keken menggulum senyum, sebuah nama yang tidak asing untuknya bahkan beberapa kali ia mencoba mengingat memori di masa lalu dan kepingan - kepingan itu mulai terbentuk walaupun tidak utuh.
"Apa aku menghamilimu sebelum kita menikah?" tanyanya
Farah menatap wajah Keken dengan intens, "Apa kau sudah ingat?" tanyanya
"Belum, hanya saja aku melihat tanggal pernikahan kita di foto besar itu dan tertera enam bulan yang lalu, sedangkan kamu sudah memasuki usia kehamilan hampir delapan bulan dan itu artinya __"
"Iya aku hamil sebelum kita menikah, kamu menghamili ku." potong Farah
" Maaf."
" Itu sudah terjadi dan sekarang aku hanya mencintaimu Ken, hanya kamu. kau dengar?"
Keken menganggukkan kepala.
"Aku hampir gila saat tahu kau menghilang dan sekarang kau disini tapi rasa cintamu juga sepertinya ikut menghilang, tidak ada pacaran cinta dimatamu bahkan sekarang yang aku lihat bukan Keken yang ceria tapi sekarang Keken yang pendiam dan aku rindu canda tawamu, aku rindu Keken yang dulu yang selalu manatapku dengan penuh cinta dan kasih sayang, Keken yang selalu humoris dan me ratu kan diriku,huks...hiks...." Farah menumpahkan segala isi hatinya tidak peduli jika Keken akan marah.
" Lalu aku harus bagaimana? "
" Keken aku tidak minta apa-apa darimu bahkan sejak dulu aku tidak peduli jika kamu anak orang kaya, yang aku inginkan hanya satu tolong cintai aku, cintai aku seperti dulu Ken." pintanya
"Aku tahu kamu lupa tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk selalu dekat denganmu."
__ADS_1
"Aku akan bilang mommy agar kau ikut denganku ke Singapura, bagaimana?"
" Aku memang ingin ikut tapi kesehatanmu lebih penting." Farah menghela nafas panjangnya, " Aku sudah memikirkan tadi jadi lebih baik aku disini lagi bersama tante Navysah, aku tidak ingin merepotkanmu. "
" Maaf. " Lagi-lagi Keken selalu meminta maaf walaupun dia tidak tahu apa kesalahannya, situasi ini membuat Keken bingung dan meminta maaf itu pilihan terbaik ,pikirnya.
" Peluk aku. "pinta Farah
Keken masih menatap datar namun Farah dengan cepat memeluk suaminya.
" Kalau aku minta sesuatu harus kamu kabulkan walaupun itu hanya pelukan karena aku butuh itu. "Farah
" Iya, iya bawel sekali kamu, Farah." Keken
" Panggil aku sayang bukan Farah. "
" HAH....!! "
" Apa! Kenapa kau terkejut seperti itu. "Farah sengaja memanfaatkan situasi agar lebih intens bersama Keken. Waktunya hanya seminggu untuk bisa bersama suaminya karena Keken akan pergi lagi.
" Panggil aku sayang sekarang. "Farah
" Sa.. sa.. sayang. "ucap Keken," Tapi kok rasanya aneh ya. "
" Biarkan aku memelukmu seperti ini, rasanya sangat nyaman. "Farah memeluk sembari menghisap aroma tubuh Keken kuat-kuat. Aroma yang selalu ia sukai dan rindukan.
" Aku bisa sesak nafas jika kau seperti ini, Farah. "Keken
" Panggil aku sayang. "Farah menggerucutkan bibirnya dan melepaskan pelukan.
" Kau itu lucu sekali. " Entah kenapa saat melihat Farah cemberut ia malah suka.
" Lucu apanya? Kenapa kau tertawa? " Namun dihati Farah berdesir dan menghangat saat melihat Keken tersenyum. Ini suatu kebahagiaan untuknya.
"Bibirmu itu seperti tikus, jelek sekali. Tolong kondisikan jangan seperti itu." Keken masih dalam mode tawanya
"Padahal dulu Keken selalu suka dengan apa yang aku lakukan, dia selalu bilang aku sexy dan manis." gumam Farah dalam hati. Tanpa basa basi Farah mencium bibir suaminya. Tidak peduli Keken akan marah, sedangkan pria itu cukup terkejut mendapat serangan dadakan. Namun tanpa disadari Keken kian menikmatinya, ada sesuatu yang aneh dalam dirinya yang tidak menolak dengan perlakuan Farah.
"Cukup!" Keken mendorong tubuh Farah dan pergi ke toilet. Sedangkan Farah hanya diam dan menatap Keken yang menghilang di balik pintu.
"Keken, kau baik-baik saja?" tanya Farah karena Keken tidak kunjung keluar.
"Aku baik."
__ADS_1
"Apa kau perlu bantuanku?"
"Tidak!" teriak Keken. Ia masih tidak mengerti kenapa dirinya mau saja saat wanita itu menciumnya bahkan Keken ikut menikmati permainan wanita hamil itu. Ia terpaksa menghentikan nya karena ada sesuatu yang mengeras di bagian bawah dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Apa yang harus aku lakukan,dia memang istriku." gumam Keken, lalu Ia mencuci wajahnya.
"Kau baik-baik saja?" Farah masih bertanya saat Keken membuka pintu kamar mandi
"Aku baik-baik saja."
" Sini aku bantu." Farah menuntun Keken kearah ranjang dan merebahkan nya.
"Jangan terlalu lelah, aku akan meminta asisten rumah tangga untuk membawakan makanan untukmu."
"Tidak perlu." Keken menahan tangan Farah. " Aku baik-baik saja."
"Beneran?"
"Iya sayang."
Farah tersipu malu karena ini pertama kalinya Keken memanggilnya sayang tanpa diminta. Ia menggulum senyum.
"Jika diperhatikan wanita ini manis juga." gumam Keken dalam hati
" Sayangnya aku." Farah menyentuh pipi suaminya dengan lembut. "Cepetlah sembuh, aku menunggumu."
"Apaan sih, lebay banget!" Keken menepis tangan Farah karena merasa risih.
" Pelit sekali, sentuh pipi saja tidak boleh. Lama-lama aku cium nih!"
"Tapi aku memang tidak suka saat ada wanita yang menyentuh tubuhku." Keken
"Iya, iya aku tahu. Maaf!" Farah kembali menggerutu.
"Ken, bolehkah aku bertanya?"
"Apa?"
"Mmm... mmmm..." Farah terlihat malu dan enggan membuka mulutnya.
"Tanya apa, pasti aku jawab."
"Aku mau tanya, kamu kan hilang ingatan tapi Kenzi masih aman kan? Dia tidak ikutan amnesia kan?"
__ADS_1
"HAH...!!" Keken terkesiap