Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 105


__ADS_3

Keken terbangun di saat suara adzan subuh berkumandang. Ia dengan segera mandi dan memakai baju kokonya. Farah yang melihat pemandangan itu merasa sedikit aneh, karena selama menikah bersama Keken, ia tidak pernah melihat suaminya pergi ke masjid. Keken hanya solat di rumah seperti biasa.


"Mau ke masjid?" tanya Farah dan ia hanya mendapat anggukan dari suaminya.


"Memangnya tahu tempat masjid nya dimana?" tanyanya lagi


"Tidak, tapi aku punya telinga untuk mendengar suara adzan dan mulut untuk bertanya." Keken segera ke luar rumah setelah mengucapkan salam.


Farah hanya menghela nafas panjangnya, sejak semalam Keken tidur benar-benar pulas. Dan masih dalam mode diam, tidak seperti biasanya Keken yang selalu cerewet.


Tak lama kemudian Keken datang dan menganti pakaiannya kembali. Ia berbaring di ruang tamu seperti biasa, tidur dengan sofabed yang berukuran single sembari memejamkan matanya kembali. Beberapa hari kemarin ia kurang tidur karena siang harus ke restoran Michelle untuk membantu Fafa mengurus pekerjaan yang belum selesai. Ya, di Cafe Michelle lah mereka sering berkumpul dan membicarakan pekerjaan. Fafa yang keteteran karena beberapa hari ini Antoni sakit kini meminta Keken untuk membantunya. Malam hari ia harus pergi ke club malam untuk merayu beberapa teman agar mau membeli mobil keluaran terbaru. Sebenarnya beberapa dari mereka menolak namun dengan azas pertemanan, mau tak mau mereka memenuhi permintaan Keken. Lima mobil terjual dalam waktu tiga hari dan sudah dipastikan Keken mendapatkan fee yang lumayan besar. Seratus juta rupiah langsung masuk ke dalam rekening Keken.


Awalnya dia mengira Farah akan senang saat tahu dia mendapatkan uang banyak dari hasil kerja kerasnya, maka dari itu Keken ingin cepat pulang dan ingin mengajak Farah untuk dinner bersama, namun nyatanya saat dia pergi Farah menerima tamu pria lain dan itu hampir saja membuat dirinya naik pitam. Andai saja dia tidak memikirkan nama baik Farah, pasti dengan senang hati ia akan memukul pria itu. Pria yang berusaha merebut Farah darinya.


Keken sangat kecewa karena Farah bisa tertawa lebar dengan pria itu, sedangkan dengannya Farah selalu ketus dan memaki. Tapi Keken sadar diri, Farah memang tidak pernah mencintainya.


"Ken,kau sudah tidur?" tanya Farah. Ia mendekat kearah Keken dan melihat suaminya menutup mata.


"Aku masih ngantuk." jawabnya tanpa membuka mata


"Maaf." ucap Farah


"Untuk apa?" Keken pura-pura tidak tahu, ia mengintip wajah istrinya dibalik siku tangannya dan terlihat Farah yang menunduk takut.


" Maaf karena bang Hilman datang kemari." ucapnya


" Hmm, sudahlah aku ingin tidur. Dan ini peringatan terakhir, aku tidak mau melihat pria itu datang kemari lagi. "ancamnya.


" Aku tahu kamu tidak mencintaiku tapi tolong jaga kehormatanmu sebagai seorang istri. Tidak boleh menerima tamu lelaki apalagi saat aku tidak berada di rumah. Ingat, Farah kita hidup di lingkungan masyarakat. Aku tidak mau orang lain menggunjing tentangmu."


"Iya. "


" Jangan cuma bilang iya iya saja tapi lakukanlah dengan benar."


"Kalau bang Hilman ingin bertemu denganku di luar bagaimana?"


Keken mengeraskan rahangnya. "Apa kau berniat ingin bertemu dengannya lagi?"

__ADS_1


Farah tidak menjawab, ia hanya diam membisu dan Keken tahu keinginan istrinya tanpa harus menjawab. "


" Terserah kamu, jika aku melarang pun kamu tidak akan mendengarkanku. "


Farah kembali diam.


" Memangnya dia bicara apa denganmu hingga kalian tertawa bahagia?! Keken bertanya masih dengan mode ketus.


"Hanya mengingat masa lalu."


"Dan kamu begitu bahagia saat mengingat masa lalu bersamanya." sindir Keken


"Kenapa kamu marah? bukankah kita tidak boleh mencampuri urusan masing-masing."


Keken bangkit dan duduk sembari menatap tajam istrinya. "Kita memang tidak boleh mencampuri urusan masing-masing tapi kita harus lihat situasinya Farah!"


"Bagaimana jika aku membawa wanita lain untuk datang kesini apa kamu tidak marah?!" teriak Keken


" Aku menjaga perasaanmu tapi kamu tidak!"


" Aku pun tidak ingin kamu menjadi bahan gunjingan tetangga, kau tahu itu!" Keken berkata dengan nada sedikit tinggi. Wajahnya memerah menahan amarah dan rasa kesal.


" Minta maaf terus tapi nanti juga akan diulangi lagi, aku yakin kamu pasti akan menemui dia lagi! "


" Ken, aku.... "


" Sudahlah... " Dan Keken kembali menutup matanya dan tidur daripada bertengkar dengan istrinya. Dengan tidur ia bisa meredakan emosinya.


Entah berapa lama ia tertidur pulas hingga suara adzan ashar berkumandang. Dan Farah masih melihat suaminya diam tak menegurnya.


Keken hanya makan setelah disiapkan Farah, setelah itu ia merokok di luar rumah sembari menelepon seseorang sembari tertawa bahkan suaminya tidak mencium perutnya untuk hari ini apalagi memeluknya. Pria itu hanya sibuk dengan ponsel dan laptopnya.


"Kamu tidak bekerja?" tanya Farah, ia melihat Keken sedang melihat laptop dengan gambar kurva yang naik turun. Entahlah, ia tidak mengerti.


"Aku bekerja di rumah."


"Tidak pergi ke club?"

__ADS_1


"Tidak!"


"Mau makan apa?"


"Terserah."


"Besok kerja lagi?"


"Mmm..."


Farah hanya menghela nafas panjangnya, bicara dengan Keken hanya dibalas dengan jawaban singkat. Dan itu membuat Farah merasa bersalah. Keken pun hari ini tidak merayunya apalagi mengikat rambutnya yang biasa dia lakukan. Dan itu membuat Farah kesal.


" Stok makanan di kulkas habis, susu hamil juga habis." Farah membuka obrolan setelah Keken makan siang.


"Pakai kartu yang sudah aku berikan, belanjalah seperlunya." ucap Keken tanpa melirik kearah Farah. Ia masih sibuk dengan lembaran kertas yang menumpuk diatas lantai.


"Aku tidak mau memakai kartu itu karena akan aku pergunakan untuk biaya persalinan nantinya."


Keken yang mendengar ucapan Farah kini melirik sejenak kearahnya lalu kembali sibuk dengan kerjaan nya.


"Saldonya masih cukup banyak karena baru kemarin aku transfer lagi dan itu masih bisa dipakai untuk keperluan biaya rumah tangga seperti biasanya."


"Aku tidak mau." Farah menggelengkan kepala. Masih kekeh bahwa uang itu untuk tabungan persalinan.


"Aku masih punya uang dan yang sekarang aku butuhkan hanya kamu."


Lagi-lagi Keken melirik kearah Farah karena heran, kesambet setan apa sampai Farah bilang membutuhkan dirinya. Mungkin saja ia ingin memperbaiki hubungan yang sempat membuat mereka renggang.


"Dini kerja, aku tidak berani belanja sendirian." Akhirnya kalimat itu lolos dari mulut Farah, meskipun ia merasa malu pada Keken.


Keken menoleh dan merasa aneh pada istrinya, tidak seperti biasanya Farah takut belanja sendiri padahal biasanya dia selalu mandiri dan tidak takut dengan apapun.


" Adek mau ayah yang anterin." wajah Farah memerah karena malu, seperti biasa anaknya menjadi alasan agar Keken mau menuruti dirinya.


"Kalau ayah tidak mau bagaimana." Keken menahan senyuman dibalik wajah datarnya, ia sengaja mengerjai istrinya. Dan benar saja wajah Farah terlihat kesal.


"Ini anak kamu yang minta, masa ayah nolak sih!" ketus nya sembari memasang wajah cemberut

__ADS_1


"Iya iya, nanti sore ya Nak! Ayah kerja dulu." ia mencium dan mengelus perut Farah seperti biasa namun tidak memeluknya. Dan hal itu membuat Farah sedikit lega.


__ADS_2