
Keken merebahkan diri di kamar Farah padahal waktu baru menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Tidak seperti biasa, Keken ingin tidur lebih cepat. Ia sengaja melakukan nya agar tidak mengobrol dengan keluarga Farah.
"Daripada aku melihat wanita tua itu lebih baik aku tidur, mulutnya sangat manis padaku tapi hatinya busuk" gumamnya, Keken tidak suka dengan sikap mertuanya yang berlebihan apalagi setelah mendapat hadiah. wanita itu selalu mengajaknya mengobrol dan berbasa - basi tentang hal yang tidak penting.
"Farah mana sih, kok tidak masuk ke dalam kamar. Tubuhku lelah ingin dipijat." Hari ini Keken mengeluh tubuhnya terasa sakit dan ingin sekali dimanjakan oleh istrinya.
" Jadi kamar barbie ini milik istriku, ini terlalu kecil dan sempit." keluhnya. Keken menatap setiap foto di dinding dan buku-buku milik Farah dulu yang masih terpajang.
"Kenapa pak Amin tadi menatapku seperti itu, apa diriku aneh." gumamnya lagi dengan bermonolog. Sejak makan malam berlangsung Keken beberapa kali melirik Amin yang selalu menggulum senyum dan terlebih lagi orang itu selalu terlihat bingung saat Keken manggilnya dengan sebutan bapak dan saat beberapa kali Keken mengucapkan maaf serta terima kasih.
"Dari dulu perangaiku begitu buruk hingga kini orang begitu heran melihat perubahan sikapku dan ini karena Farah, ia merubah diriku secara perlahan-lahan." Keken mengulas senyum membayangkan istrinya kembali.
"Kenapa aku kangen dia padahal dia ada di rumah ini, si gadis keras kepala dan selalu ingin menang sendiri." Lagi-lagi Keken hanya bisa bermonolog. Sejak maghrib Keken mengajak Farah untuk pulang namun istrinya tidak mau. Ia ingin menginap di rumahnya dengan alasan masih kangen dengan adik-adiknya.
Saat suara pintu terbuka, Keken pura-pura tertidur.
"Ken, kok kamu sudah tidur sih! Biasanya juga tidur paling malam." Farah menusuk - nusuk pipi suaminya karena kesal Keken tidak meminta maaf padanya dan sekarang pria itu tidur leluasa di ranjang. Ukuran ranjang Farah yang tidak terlalu besar membuat pria itu tidur sesuka hati hingga hampir memenuhi semua bagian dari ranjang Farah.
" Geser dikit tidurnya, aku masa tidak kebagian, sih!" gerutu Farah pada suaminya. Ia ikut berbaring dalam satu ranjang.
" Ken, kamu beneran tidur?" tanyanya lagi
Keken menghela nafas panjangnya, ia masih pura-pura memejamkan mata dan segera mendekat kearah Farah. Kepalanya menurun dan mengendus perut Farah yang kian membesar, menciuminya dengan penuh kelembutan hingga Farah sedikit risih dan geli dengan tingkah Keken.
" Geli, Ken." ia merinding karena Keken selalu bergerak menciumi perutnya. Namun disisi lain ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Farah, saat Keken melakukan hal itu benar-benar terasa menenangkan dan calon bayinya kembali berdenyut.
"Adek berdenyut lagi, dia tahu ayahnya." lirih Farah dan Keken mendengar perkataan Farah.
"Jadi dia tahu kalau aku cium dan peluk dia." tanya Keken, ia mendongak keatas melihat wajah Farah yang menganggukkan kepala.
" Kira- kira dia ingin ditengokin tidak ya?" goda Keken sembari menggulum senyum sembari menciumi perut Farah kembali, mencoba memancing hasrat Farah mana tahu istrinya akan khilaf lagi.
" Mana ada seperti itu!" sembur Farah ia meremas rambut tebal Keken dengan kesal.
__ADS_1
" Pagi ketemuan dengan wanita lain, malam mau minta jatah denganku. Kamu pikir aku apa!" Farah beranjak dari tempat duduknya mendorong kepala Keken agar menjauhinya.
"Kamu cemburu?" Keken kembali menempel. Ia sangat malas meski hanya mengangkat kepalanya. Hari ini ia merasa lelah, ternyata bekerja di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.
" Siapa juga yang cemburu, kamu bertemu dengan wanita manapun itu hak mu, terserah kamu mau ngapain dengan mereka, tidak pulang juga tidak masalah!" ketus Farah
"Oke, aku catat ya. Aku diijinkan nyonya Farah untuk bertemu wanita manapun dan dia tidak akan cemburu dan aku diperbolehkan untuk tidak pulang ke rumah." Keken menekankan kalimatnya. Dan benar saja gadis itu menatapnya dengan tajam, sorot matanya begitu terlihat kesal.
" Tidak usah marah begitu, aku hanya bercanda. "Keken mendekat dan memeluknya dari belakang dan Farah tidak meronta, ia menerima perlakuan Keken yang selalu lembut dan menenangkan untuknya. Keken selalu membuat wanita tanpa sadar mengiyakan tindakan nya. Ia benar-benar mengerti tentang bagaimana menaklukkan hati wanita.
"Aku minta maaf karena aku membuatmu menangis hari ini." Hembusan nafas Keken menyapu leher Farah hingga gadis itu merasa geli dan merinding.
"Iya, sudahlah jangan peluk seperti ini. Geli tau." gerutu Farah.
Dan sebenarnya ada sesuatu yang menegang di bagian tubuh Keken. Berdekatan dengan Farah membuat Kenzi terbangun, padahal hanya mencium aroma tubuh istrinya.
"Sial!" umpat Keken, " Bisa- bisanya Kenzi bangun disaat yang tidak tepat, tidak mungkin aku menyentuhnya disini, yang ada suara Farah terdengar dari luar." Keken berusaha menahan hasratnya agar Kenzi tidur kembali, semakin ia menempel pada Farah maka semakin terbangun. Keken mengurai pelukannya.
"Apa?!" Keken malah balik bertanya dan di detik kemudian Keken terkekeh. "Kamu mau dipeluk aku lagi? Mau aja atau mau banget?" godanya sembari mengerlingkan matanya.
"Keken...!!!" teriak Farah dengan kesal. Ia memukul lengan Keken yang karena pria itu masih menertawakan nya.
"Aku hanya menahan diri agar Kenzi tidak mengamuk, ini rumah orangtuamu dan tidak mungkin kan aku menyentuhmu disini." Keken menjelaskan apa yang kini sedang dirasakan nya.
"Ya sudah jangan peluk, aku takut!" Farah. Ia kembali membelakangi suaminya, namun matanya melirik Keken yang kini sedang membalas pesan.
"Dari siapa?" Farah kembali menatap suaminya
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" Seperti biasa Keken selalu menggoda istrinya agar lebih penasaran dengan siapa dia berkirim pesan.
"Bodo amat!! Tinggal jawab saja susahnya minta ampun." ketus nya "Kalau mau bertemu dengan wanita lain kenapa harus sembunyi - sembunyi!"
Keken tergelak tawa, Farah selalu negatif thinking dengan nya dan menduga bahwa dirinya sedang berkirim pesan dengan wanita.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, jika kau ingin bertemu dengan mantanmu itu kenapa harus sembunyi - sembunyi." sindirnya. Farah kembali membisu, sindiran Keken begitu mengena padanya.
"Jika aku bilang padamu kalau aku bertemu bang Hilman, memang nya kamu ijinkan?!"
"Tentu saja tidak! Mana ada suami yang rela istrinya bertemu sang mantan pacar."
"Maka dari itu aku sembunyi - sembunyi apalagi kedua pengawal mommy yang merepotkan itu, dia selalu melihat gerak gerik kita."
Keken tergelak tawa, pengawalnya begitu ketat mengawasi pergerakan nya dan sang istri.
"Kau merasa tidak suka dengan kehadiran mereka?"
"Tentu saja, aku tidak bebas untuk kesana kemari karena takut mereka akan melaporkan pada mommy."
"Itu karena sudah tugas mereka."
" Jawab aku, kau sedang berkirim pesan dengan siapa?" Farah masih saja penasaran. Ia mengira Keken sedang chating dengan Wina.
"Iya aku sedang chating dengan orang berkumis dan memiliki samurai panjang bukan dengan orang yang memakai rok mini."
"Maksudnya??"
"Aku sedang berkirim pesan dengan Antoni, sayang. Ini tentang pekerjaan." jawabnya tanpa melirik kearah Farah.
"Di rumah saja masih membahas pekerjaan, kapan kau pedulikan diriku!"
Keken kembali melirik istrinya bahkan mencium pipinya dengan lembut. "Bahkan disetiap waktu aku selalu perhatian denganmu tapi kamu tidak melihat itu."
"Ken, jangan seperti ini." Farah merasa takut karena jarak Keken terlalu dekat bahkan hembusan nafasnya menerpa kulit wajahnya.
"Kenapa memangnya? kita sudah suami istri dan___"
"Tok.. Tok..." suara ketukan pintu terdengar dari luar, dan Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya.
__ADS_1