
Dua hari di rumah sakit, kesehatan Keken mulai membaik dan wajahnya yang sebelumnya terlihat bengkak kini mulai normal kembali. Ia pun sehat seperti semula.
Farah selalu menemaninya, bahkan wanita itu selalu memeluknya saat tidur dan Keken hanya bisa tersenyum karena Farah seolah tidak ingin kehilangan dirinya.
"Hari ini kita bisa pulang, kau ingin pulang ke rumah yang mana, aku akan mengikutimu." Farah tidak mau lagi berdebat untuk urusan tempat tinggal. Sekarang ia ingin berusaha jadi istri yang baik dan penurut.
"Aku ingin tinggal di Utara saja karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, nanti setelah aku dinas di Malang dan Bali, kamu harus tinggal di mansion bersama mommy agar dia bisa menjagamu."
"Baiklah, aku nurut kamu saja."
Keken mengecup bibir istrinya dengan lembut, Farah benar-benar berubah menjadi wanita yang manis menurutnya.
" Aku akan mengurus semua administrasi terlebih dahulu, kamu disini saja." Farah akan beranjak dari tempat duduknya namun Keken menahan tangan nya.
"Tidak perlu, semuanya sudah diurus oleh Antoni. Dia kesini saat kamu tidur."
"Benarkah, kenapa aku tidur begitu pulas sampai tidak tahu kalau dia kesini."
"Ken, coba telepon Antoni. Uang administrasi pakai uangku saja jangan merepotkan mommy." pinta Farah
"Kau itu, mana mungkin mommy membiarkan kita membayar tagihan rumah sakit. Mommy sangat kaya, tagihan berapapun akan dibayar olehnya asal aku sehat lagi." Keken terkekeh melihat Farah yang menggerucutkan bibirnya.
"Tapi kita harus mandiri Ken, aku tidak enak jika semuanya mommy yang membayar. Kira-kira dia mau menerima uangku tidak ya?" tanyanya
"Mommy tidak butuh uang recehan kita." Keken kembali tergelak tawa, sedangkan Farah hanya bisa terdiam,mertuanya memang sangat kaya.
" Kamu kecapean sayang, selalu setia menungguku sampai lupa istirahat." Keken kembali mencium kening istrinya dengan penuh kelembutan hingga Farah merasa nyaman.
" Aku beresin dulu bajumu sebentar. "Farah membuka lemari pakaian namun tidak ada satupun baju Keken di dalamnya
" Bajunya kemana? kok tidak ada. "
" Sudah dimasukkan ke dalam mobil, para pengawal yang membereskan nya jadi kamu tidak perlu repot. " Keken
" Pantas saja semuanya terlihat bersih.Kenapa aku merasa tidak berguna." Farah menghela nafas panjangnya, lagi-lagi Keken menyuruh pengawalnya. Dia benar-benar memperhatikan Farah agar tidak kelelahan. Memang beberapa hari ini perutnya terasa kram dan Farah mulai pengap. Perutnya semakin membesar dan sedikit menyulitkan dirinya untuk bergerak.
* **
__ADS_1
Keken melirik istrinya yang selalu tidur di sepanjang perjalanan, kali ini mereka diperbolehkan naik mobil Imelda dan diantar sampai rumah kontrakan nya.
" Aku bisa jalan sendiri, kenapa kau menggendongku. Aku malu, Ken." Suaminya berinisiatif menggendongnya sampai rumah kontrakan namun saat melewati gang beberapa orang melihat kearahnya bahkan bersiul sembari menggoda pasangan ini.
"Kalian begitu romantis, maulah digendong bang Keken." goda seorang wanita.
"Mereka pasangan yang serasi, lihat suaminya begitu tampan. Dia anak orang kaya, aku tidak menyangka karena selama ini suami Farah terlihat seperti pengangguran." ucap salah seorang lain nya.
" Bang Keken keren...!!" teriak salah seorang gadis penggemar Keken.
" Bang Keken, setelah gendong kak Farah nanti gantian aku yang digendong ya. "Lagi-lagi suara wanita menggoda Keken.
Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya lagi, sosok Keken benar-benar membius mereka. Farah sudah tidak asing dengan suara - suara sumbang dan banyak wanita yang menggoda suaminya.
"Taruh disini saja, lalu pulanglah. Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit tanpa kalian aku mungkin sudah tiada." Keken mengucapkan dengan tulus
"Itu sudah tugas kami Tuan!"ucapnya dengan serempak.
" Kalian tidak pernah libur bekerja maka dari itu aku memberi ijin untuk kalian berlibur selama satu minggu. Pergunakanlah dengan baik. "Keken
" HAH...!! Kedua pengawal itu terkesiap kemudian saling memandang. Terasa aneh karena memang mereka dipekerjakan untuk mengurus putra mahkota dan tidak ada libur bagi mereka. Hanya di hari besar baru Imelda akan mengijinkan nya libur.
"Aku sudah bilang pada mommy dan dia mengijinkan nya, sekarang pulanglah, beristirahat selama satu minggu."
Kedua pengawal itu terlihat begitu senang, ini seperti anugerah yang begitu besar untuknya. "Terima kasih tuan, akan kami pergunakan liburan ini dengan baik."
Keken menutup pintu setelah kedua pengawalnya pergi. " Tumben sekali kau baik hati, biasanya kau selalu marah dan kesal dengan mereka." Farah memberikan segelas air hangat.
" Mereka selalu patuh dengan mommy dan liburan ini sebagai hadiah untuk mereka."
"Kenapa tidak menyajikan kopi, kok cuma air hangat." protes Keken sembari melirik gelas berwarna bening.
"Kamu baru saja sembuh dan masih dalam perawatan. Makan dulu lalu minum obat, kurangi kopi."
"Tapi aku mau kopi, aku sudah sehat apalagi si Kenzi yang selalu on fire." Keken menggulum senyum
Farah menatap malas, suaminya selalu berbicara me sum.
__ADS_1
"Aku mau." Keken menghampiri istrinya dan mencium pipinya dengan lembut.
"Apa??" Farah pura-pura tidak mengerti, beberapa hari tidak melakukan hubungan dengan Keken memang membuatnya rindu akan sentuhan namun ia masih gengsi untuk mengatakannya.
"Aku mau..., lihat Kenzi terbangun dari tidur nya. Kamu seperti magnet yang selalu menarikku untuk dekat dan ingin selalu menyentuhmu, sayang."
" Aku mencintaimu, sampai kapanpun akan selalu mencintaimu. Farahku yang paling cantik dan sexy." Keken mulai merayu istrinya agar mau mengikuti keinginan nya.
" Baru kali ini Farah mendengar Keken mengatakan cinta padanya dengan benar, bahkan Keken yang hanya mengecup punggung tangan nya membuat Farah berdesir.
"Mandi dulu bau, nanti malam saja mintanya." Farah segera bangkit dan menolak ajakan suaminya. Ini masih sore, ia takut ada tamu yang datang apalagi dinding mereka yang saling berdekatan, Farah takut ada yang mendengar desah*n nya.
" Nyobain yang sore. Malam pernah,pagi pernah, siang apalagi, tinggal sore yang belum." Keken terkekeh sembari menggendong istrinya ke ruang tengah tempat dimana kasur Farah berada.
"Kau itu selalu___" belum sempat Farah menyelesaikan perkataan nya, Keken dengan cepat ******* bibir istrinya. Menyentuh titik-titik terlemah di tubuh istrinya hingga ia pasrah. Keken benar-benar pintar dalam urusan percintaan.
"Aku lapar." Nafas Farah masih terengah setelah pelepasan. Keken benar-benar kurang ajar, ia meminta lagi berkali-kali hingga Farah kewalahan.
" Aku akan membelikan makanan online, sebentar ya." Ia memesan beberapa makanan untuk istrinya.
"Tega kamu ya, ku kira sekali nyatanya berkali-kali! gerutu Farah
" Habis enak, sih! "ucapnya sembari terkekeh.
" Kenzi begitu semangat saat melihat dirimu. Dia ingin berdiam diri bahkan bersemedi didalam ruangan gelap yang lembab. "kelakarnya.
" Ishhh... kau itu!" Farah sudah tidak punya tenaga untuk bangun.Ia hanya berselimut tanpa menggunakan sehelai benangpun.
Keken dengan segera mandi karena sebentar lagi kurir makanan akan datang.
" Ken, besok tidak perlu bekerja dulu. Aku ingin kau beristirahat satu minggu. Minta ijinlah pada mommy dan mas Raffa agar kamu benar-benar sehat terlebih dahulu." Farah
"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah sehat. Besok aku akan kerja seperti biasa. Ini demi anak kita sayang."
"Kau itu, tidak mau mendengar saranku. Sudahlah terserah!" Farah pundung. Ia masih khawatir dengan kesehatan Keken karena saat bekerja pria itu tidak mengenal waktu. Keken pasti akan pulang malam lagi.
"Oke baiklah, aku akan meminta ijin pada mommy dan mas Raffa tapi hanya untuk dua hari, tidak lebih karena proyek Utara harus tetap berjalan."
__ADS_1
Farah tersenyum bahagia akhirnya Keken mau mendengar perkataan nya.
Namun beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Suara seorang wanita dan mereka tahu siapa pemilik suara itu.