
Siang hari mereka tiba di kediaman rumah Davian. Rumah itu memiliki tiang-tiang yang menjulang tinggi berwarna putih dan halaman yang begitu luas dan asri hingga terlihat teduh dan segar di pandang mata.
Beberapa kali Farah terpukau melihat keindahan rumah mewah itu hingga matanya melihat ke seluruh penjuru.
" Bersihkan air liurmu." cibir Keken, ia melihat Farah yang masih terkesiap melihat keindahan rumah keluarga Davian .
"Ken, ini rumah atau istana ,besar sekali rumahnya. Ini bisa menampung satu kampung." kelakar Farah
"Dasar kampungan!" ejek Keken, " Rumah gue juga seperti ini,apa kau berubah pikiran dan mau menikah denganku?" tawar Keken
"Cih! Siapa juga yang mau menikah denganmu. Ogah, gue udah punya calon suami." Farah berkata dengan tegas.
"Bang Hilman juga kaya walaupun rumahnya tidak sebesar ini."
Keken hanya tersenyum kecut, ia sudah tahu Farah akan menolak dirinya dan tidak akan silau dengan penawarannya.
Imelda berjalan masuk ke dalam rumah adiknya, dia tidak memperdulikan Keken dan Farah yang sedang mengobrol.
" Assalamualaikum... "
"Walaikumm salam..."
"Mommy...." sapa Raffa yang sedang menggendong Shifa, anaknya.
" Sama siapa kesini mih?"
Namun belum sempat Imelda menjawab, Keken dan Farah masuk secara bersamaan.
"Ken, dia pacar baru kamu?" tanya Raffa menyelidik. Ia tahu Keken petualang cinta, dalam seminggu saja pacarnya bisa berganti.
"Bukan kak, saya teman Keken. Mau bertemu tante Navysah untuk melihat gaun pengantin." Farah menjawab dengan cepat sebelum Keken membuat orang salah paham.
"Oh, ternyata hanya teman,saya pikir kamu pacar barunya."
"Cucu mommy cantik banget, tambah tembem ini pipi." Imelda menowel - nowel pipi Shifa, namun bukannya senang Shifa malah menangis.
"Bahkan anak bayi tahu kalau Ratu Medusa itu mengerikan, Shifa tidak mau sama mommy." Keken terkekeh dengan menggoda ibunya.
"Dasar anak kurang ajar!" umpat Imelda sembari mencubit anaknya. Keken meringis kesakitan.
" Sini Shifa gendong mommy." pinta Imelda
"Jangan dulu mih, biarkan mommy istirahat dulu. Mommy kelihatan capek, dan Shifa harus minum susu juga." tolak Raffa.
"Ya sudah mommy istirahat dulu ya Raff." Imelda duduk di ruang keluarga,umur nya sudah tidak muda lagi hingga sering merasa kelelahan. Dan terlihat dari jauh Inha turun dari lift dan menghampiri Imelda, seperti biasa dia selalu bergelayut di lengan Imelda dan bermanja.
__ADS_1
"Nan, ini Shifa nangis minta Nen." panggil Raffa sembari menimang anaknya agar shifa diam.Bayi yang berusia hampir tiga bulan itu kembali menangis.
"Iya." Kinan datang dari arah dapur dan menghampiri suaminya, namun matanya melihat Mommy Imelda yang sedang duduk bersama Inha. Dan Keken dengan seorang wanita. Kinan lebih dahulu menghampiri Imelda dan menyapanya.
"Mommy...." Kinan mencium takzim tangan Imelda. " Sudah lama aku tidak melihat Mommy kesini."
" Iya, Mommy kan sibuk kemarin pulang ke solo bersama Navysah karena anaknya si Rani menikah. Shifa sehat sekali ya Nan, lucu tambah gemesin."
"Iya mih, minum ASI nya kuat juga." ucap Kinan, " Mih, itu calon istrinya si Modosa? Cantik, senyumnya manis." Kinan melirik kearah Farah yang sejak tadi tersenyum menggoda Shifa yang sedang menangis.
"Bukan, itu temennya Keken. Entahlah..." Imelda melirik Farah dengan tatapan datar tidak terbaca.
"Oh, aku kira calonnya si Modosa. Soalnya kemarin mama Navysah bilang ada temen Keken yang akan datang kesini, tapi mama sangsi karena Keken tidak akan pernah membawa satu wanita pun datang kesini."
"Kinan bilang bibi dulu ya mih untuk ambilin minuman, permisi." pamit Kinan sembari menyenggol kaki Inha yang sedang bergelayut manja pada Imelda
"Ya ampun anak ini sudah besar ngetek terus sama mommy." cibir Kinan pada adik iparnya, Inha.
"Apaan sih mba!" Inha melirik tajam, namun Kinan hanya menjulurkan lidahnya.
" Ayo Shifa, Nen dulu yuk..." Kinan mengambil alih bayi kecilnya dari gendongan Raffa.
" Aku ikut... Aku ikut...Nen...Nen..Nen" Keken bersuara dan bertingkah seperti anak kecil yang haus dan ingin minum dari sumber kehidupan Kinan.
"Najis!!" Kinan menjitak kepala Keken, " Sono Nen sama si Tasya, Rara, Wina masih kurang dengan mereka!" Kinan menyebut satu persatu pacar Keken yang dia ingat.
Farah yang melihat kekonyolan mereka hanya bisa menggulum senyum. Keluarga yang humoris.
" Auwoooo.... " teriak Fafa dari arah lift yang diikuti istrinya dan ibunya.
"Ini anak mau jadi bapak kelakuannya begitu terus." Navysah menjewer Fafa yang selalu berteriak di dalam rumah seperti biasanya.
"Iya Aa mah begitu terus, yang ada ini si kembar sawan denger bapaknya teriak mulu." Hanin mengelus perutnya yang kian membesar. Hamil anak kembar membuat dirinya cepat lelah dan naik darah saat mendengar suaminya berteriak.
" Aku begini agar si kembar tidak kagetan, biar dia kuat sejak dalam kandungan. " ucap Fafa sembari mencium perut buncit istrinya.
"Sudah datang Ken." Navysah menghampiri Keken dan Farah.
Mereka mencium takzim tangan Navysah sebagai rasa hormat.
"Sudah tan, ini temen Keken yang akan nikah. Dia minta diskonan sama tante."
Farah mencubit dengan gemas pinggang Keken karena malu.
"Isshh... sakit." desis Keken
__ADS_1
"Siapa namanya?" tanya Navysah
"Farah, Tante."
" Kapan kamu akan menikah?"
"Tiga bulan lagi tan."
Navysah melirik kearah Keken yang diam dengan wajah datarnya.
" Nanti kita ke rumah belakang, disana tempat untuk usaha tante. Ayo kita makan dulu, sudah siang."
" Ayo semua anak-anak kita makan siang dulu." ajak Navysah dan seluruh keluarganya masuk ke ruang keluarga.
Farah sedikit bingung, ia masih berdiri di tempatnya.
" Kok diam, ayo Farah? " ajak Navysah lagi
" Mmm... begini tante, saya disini saja tungguin tante selesai makan. "ujarnya sembari memilin ujung bajunya. Farah merasa rendah diri, malu jika harus satu meja dengan orang kaya seperti tante Navysah,apalagi statusnya hanya teman sekaligus pekerja part time di apartemen Keken.
" Kenapa? " Navysah menatap intens wajah Farah
" Tidak apa-apa tante."
Keken yang sudah masuk ke ruang makan kini kembali lagi ke tempat Farah, " Kok kamu masih disini sih! Ayo kita makan."
"Nggak usah Ken, tadi kan aku sudah makan." jawab Farah
"Tadi kamu makan sedikit, kenapa? Kamu malu sama tante Navysah, kamu rendah diri?" tebak Keken
"Nggak usah rendah diri, tante Navysah tidak memandang seseorang dengan statusnya. Setiap orang yang kesini pun akan makan bersama. Kamu tidak perlu malu." Keken menggandeng Farah agar mengikuti dirinya ke ruang makan.
Navysah hanya tersenyum melihat tingkah Keken yang begitu perhatian dengan Farah.
" Jadi dia gadis yang bikin Keken uring - uringan sampai mba Imelda ikutan pusing. " gumam Navysah dalam hati.
" Ehem... Ehem..." Imelda memberi kode pada anaknya agar menjaga sikap.
"Lupa mih, ini tangan belum bisa dikondisikan." Keken cengengesan saat melihat mommy nya menatap pada tangan Keken yang masih menggengam tangan Farah. Ia mengurai tangannya dengan cepat.
"Ayo kita makan, jangan lupa berdo'a." Ucap Navysah.
* **
Jangan lupa beri bintang 5 gaes (⭐⭐⭐⭐⭐), like and comment. Matursuwun all reader 😘😘🙏
__ADS_1