
Dan saat Dini akan keluar dari pintu rumah, terdengar suara Keken begitu mengagetkan dirinya.
"Kok pulang sih! Nggak mau main bareng sama kami." ucap Keken, namun Dini tidak menjawab dan malah melirik pria disamping Keken.
"Kalian kenapa? Kok aneh banget." Keken melirik kearah Khaffi kemudian bergantian kearah Dini lagi. Keduanya hanya diam dan saling menatap hingga membuat Keken curiga
"Kalian pacaran?!" selidiki Keken
"Tidak...!!" Mereka menjawab secara bersamaan.
"Tuh kan jodoh." goda Keken sembari tersenyum lebar
"Eh, ******! Gue kalau mau pacaran juga lihat - lihat Ken, masa sama gadis buluk dan rambutnya lengket bau asem gitu." ejek Khaffi dan ternyata hal itu membuat Dini merasa tersindir.
"Siapa juga yang mau dengan pria sok jagoan dan menyebalkan seperti kamu!"sembur Dini.
Keken tertawa keras setelah mendengar pertengkaran mereka.
" Khaffi, bagaimana kamu tahu kalau rambut Dini bau asem. Memangnya kamu mencium rambutnya? " Keken kembali memancing obrolan dengan mereka.
" Apaan sih! Sudahlah jangan dibahas. "kali ini bukan Khaffi yang menjawab tetapi Dini. Ia merasa malu aibnya dibuka di depan umum. Ia merutuki kebodohannya karena lupa keramas.
" Aku jadi penasaran. "gumam Keken.
" Ada apa kok ribut - ribut. "Farah keluar dari dapur seraya membawa nampan berisi kue lapis, nagasari dan dua cangkir kopi.
" Ya ampun istriku yang cantik pengertian banget dibawain cemilan gini. "Keken dengan cepat makan kue basah itu dan tanpa sadar ia makan dua biji.
Farah hanya memutar bola matanya dengan malas. Keken selalu memujinya namun hatinya tidak pernah bergetar saat sang suami memuji.
" Din, ayo sini duduk dulu. "Farah menggandeng tangan Dini dan mendekat kearah Khaffi.
" Dimakan kue nya Fi. "tawarnya." Ini buatan ibunya Dini, enak lho. "
__ADS_1
" Kue nagasari isi di dalemnya pisang, enak lho. "Keken kembali mencomot kue itu dan memakannya.
" Ada juga nih naga di dalem kolor. "kelakar Khaffi namun kedua wanita itu terdiam tak mengerti apa yang dimaksud olehnya. Sedangkan Keken tergelak tawa karena mengerti kemana arah pembicaraan Khaffi.
Sekian detik kemudian Dini paham maksud perkataan Khaffi," Dasar mesum, pikirannya tidak jauh dari situ!" ketusnya
"Apaan sih Din? Kok cuma aku yang tidak tahu." protes Farah sembari mengerucutkan bibirnya
"Kamu jangan sampai tahu, bahaya." ucap Khaffi. Ia mencoba makan satu kue nagasari dan menurutnya enak. " Sejak kapan kamu makan jajanan basah seperti ini." sindir Khaffi pada sahabatnya.
"Apa kamu bisa menjalani ini semua? Pasti terasa sangat sulit untukmu Ken." Khaffi merasa iba pada Keken, saat dirinya datang,ia melihat Keken sedang menyapu rumah dan itu pekerjaan yang tidak pernah Keken lakukan. Wajahnya pun tampak berbeda, kurang terawat. Kumis tipis mulai tumbuh dan Keken membiarkannya, padahal dulu pria itu tidak menyukai jika dirinya memiliki kumis. Keken sangat perfeksionis.
" Tidak terlalu sulit, lama - lama juga akan terbiasa." Keken tersenyum seperti biasa seolah tanpa beban,mencoba menutupi semua keadaan dengan wajah cerianya.
Khaffi hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia berteman dengan Keken sejak kecil sehingga tahu sifat dan karakternya. Tidak mudah bagi Keken hidup sederhana dan berada di rumah sempit seperti ini apalagi mengingat semua tabungan sahabatnya telah habis untuk membangun kos-kosan. Keken yang terbiasa hidup mewah pasti sangat sulit menerima keadaan ini.
"Kalau butuh sesuatu katakan padaku." ucap Khaffi. Dan Keken hanya tersenyum
Farah menelisik wajah suaminya yang kini sedikit kusam. Ada perasaan iba dan bersalah namun semuanya telah terjadi, nasi sudah menjadi bubur dan kini Keken memang tidak punya apa-apa dan itu pasti sulit baginya.
"Enak." Farah menghabiskan kue itu dan mengambilnya kembali.
"Kau tidak makan." Khaffi melihat Dini hanya diam dan tidak menyentuh makanan sedikitpun.
"Tidak, aku sudah bosan dengan makanan itu." Dulu hampir setiap hari Dini melihat ibunya membuat kue dan makanan untuk dijual. Ia sampai hafal bagaimana cara membuatnya.
"Takut gendut?" tanya Khaffi lagi, "Badanmu sudah tipis seperti keripik singkong ngapain diet!" ejeknya
"Aku heran, apa kamu tidak pernah makan nasi goreng tengah malam atau makan lontong sayur dengan kuah santan kental? Kenapa tipis seperti itu, dipeluk tidak ada rasanya" sambungnya lagi. Dan kini sepasang suami istri saling menatap dan bergantian melirik kearah Khaffi dan Dini
"Siapa juga yang diet! Ini badanku, terserah akulah!" ketus Dini, ia begitu kesal karena Khaffi selalu menghinanya.
"Tunggu dulu, kalian berpelukan?" tanya Keken
__ADS_1
" Dini, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" Farah menatap wajah Dini dengan tajam
"Tidak ada! Itu hanya kesalahan pahaman." ucap Dini
"Benar, itu terjadi karena ketidak sengajaan dan saat itu aku menganggapnya sedang memeluk tiang listrik." Khaffi kembali mengejeknya dan berkata sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dini geram.
"Biarpun aku tiang listrik tapi seleraku bukan kamu!" ejeknya. Dini tidak mau ambil pusing dan memasukkan ucapan Khaffi kedalam hati, anggap saja angin lalu.
Khaffi tersenyum sinis. "Siapa juga yang mau denganmu, TIPIS!" ejeknya lagi dengan menekankan kata terakhir.
"Sudah jangan bertengkar nanti bisa jadi cinta mending kita makan yuks, si Farah sudah masak. Iya kan yang?"
Istrinya hanya menganggukan kepala.
" Kebetulan banget aku lapar, makasih ya cantik sudah masak untukku." Khaffi mengedipkan matanya pada Farah dan Keken melihat itu.
" Tidak usah celamitan dengan bini orang. "Keken menonyor kepala Khaffi dengan cepat.
" Kalau mau godain istri orang mendingan balik sono, disini tidak menerima pria perebut bini orang. "ketus Keken dengan kesal
" Dih cemburu, asal lu tau aja gue juga tidak selera selingkuh sama bini temen." Khaffi
" Mana ada cemburu, gue cuma tidak suka ada huru hara di rumah tangga gue. "sahut Keken lagi. Farah dan Dini hanya diam melihat dua pria yang kini perang urat.
" Gue nggak mau pulang sekarang, masih ada operasi zebra. Gue lupa bawa surat kendaraan yang ada nanti kena tilang " gerutu Khaffi sembari menyesap kopinya
" Tadi banyak yang kena tilang tidak?" tanya Keken penasaran
"Banyak banget, untung saja gue pintar slap slip aman terkendali."
"Kalau gue, daripada kena operasi zebra mending gue operasi janda. Enak!" Keken terkekeh dengan ucapannya sendiri. Ia membayangkan beberapa wajah wanita single parent yang pernah dipacarinya.
"Kalau itu gue juga mau, apalagi jandanya model gitar spanyol bikin betah ngangk*ng seharian." ucap Khaffi
__ADS_1
Farah dan Dini tersenyum sinis pada kedua pria itu dan mereka saling berbisik lalu pergi arah teras. Lebih baik menghindar dari mereka daripada mendengar obrolan unfaedah itu.