
Keken
Ia tidak menyangka ternyata pemandu wisata membelokkan arah yang berbeda dari tempat rafting biasanya. Pria itu membawa perahu itu ke arah arus besar yang tidak memiliki pengawalan. Dan wanita yang diselamatkan Keken itu tidak tahu terima kasih, bahkan wanita itu sengaja mengurai tangan nya agar Keken tidak berpegangan pada perahu. Kaki terasa kram dan disaat yang bersamaan pengawas itu memukul kepala Keken dengan dayung. Berkali-kali memukul kepalanya hingga membuatnya hampir hilang kesadaran. Tubuhnya mengikuti aliran air, dan darah keluar begitu banyak hingga membuat air sungai berwarna merah. Ia terbawa arus.
Keken melihat wanita itu mencekik gadis lain dan pria pemandu wisata itu pun bagian dari kelompoknya, ia dengan sengaja melepaskan jaket pelampung dan mendorong salah satu gadis itu agar terbawa arus. Keken tidak mengerti mereka siapa dan kenapa ingin mencelakai dirinya.
Saat terbawa arus Keken masih berusaha berenang ke pinggir mencoba menyelamatkan gadis itu namun tangan nya tidak mampu meraih karena ombak memang terlalu besar bahkan untuk bernafas saja cukup sulit. Tanpa disadari ia masih terbawa arus dan saking besarnya ombak kepalanya kembali terbentur sebuah batu besar,Keken benar-benar hilang kesadaran.
Y? G g
Di tempat lain di sebuah desa,
Dua pria paruh baya yang berbeda suku kini terlihat sedang memancing, mereka meluangkan waktu di hari minggu untuk sekedar mengurangi rasa jenuh akibat pekerjaan.
Mereka terlihat antusias saat mendapatkan seekor ikan yang menarik mata pancingnya.
"Ini pasti ikan besar, bang." ucap pak Tono, pria asli jawa timur yang bekerja sebagai petani buah di kawasan Malang. Walaupun usia Tono lebih tua satu tahun dari Sam, dia selalu memanggil abang sebagai penghormatan.
" Mana lah, coba kau tarik pancing itu. Kita lihat ikan apa yang kau dapat." ucap pak Sammy, seorang pengusaha angkutan umum yang berasal dari Sumatera Utara namun sudah lama menetap di Malang. Keseharian nya ikut mengolah kebun sayur untuk menambah kesibukan.
Dan benar saja, Pak Tono terlihat girang saat kail nya mendapatkan ikan.
" Tumben sekali kau dapat ikan nila besar, ton. Ini pasti luapan dari tambak sebelah."
"Mungkin juga bang, sejak dua hari yang lalu hujan deras dan cuaca buruk. Rejeki kita ini bang. Bisa langsung di bakar untuk makan malam."
" Lumayanlah untuk lauk kita, bisa makan bersama keluarga."
Lalu mereka bercanda sembari menunggu kail nya dimakan ikan lagi.
Tanpa sengaja pak Tono melihat dari jauh seseorang yang tersangkut di batang bambu , ia menyipitkan matanya memfokuskan pandangan bahwa apa yang dilihat adalah seorang manusia.
" Bang, abang.... ada mayat bang" teriak Pak Tono. Sam menoleh dan membenarkan ucapan Tono bahwa ada seseorang yang tersangkut.
Lalu mereka mencoba menghampiri seseorang yang ia yakini manusia berbalut kaos putih. Mereka mengangkatnya ke darat dan mencoba mengecek urat nadinya.
"Masih ada nafas namun kepalanya berdarah." Pak Sam yang pernah menangani orang tenggelam kini mencoba memberikan pertolongan pertama pada pria berkas putih itu. Memompa dadanya berulang kali agar air yang berada di tubuh itu keluar bahkan pak Sam memberikan nafas buatan agar pria itu tersadar.
Namun tidak ada reaksi dari pria itu, mereka langsung membawanya ke rumah sakit terdekat karena saat melihat pupil mata pria itu terlihat pucat dan tidak ada respon.
Tanpa ada satu identitas pun mereka membawa ke rumah sakit dengan cepat. Mendaftarkan nama pasien itu dengan nama Slamet,sebagai keluarga dari pak Tono.
"Bagaimana ini? Kita tidak tahu dia siapa dan orang mana. Apa kita lebih baik lapor polisi? Pak Tono sedikit ketakutan karena adanya pria asing yang tenggelam.
" Jangan, kita lihat dulu dia siapa? Karena aku sempat melihat pria itu sepertinya bukan orang biasa. Lihat merk kaos dan jam tangan ini." Pak Sam menerima kaos bekas Keken dan jam tangan nya dari perawat. " Dan sepertinya pria ini sudah menikah." Sam menunjukan sebuah cincin dengan huruf KF di dalam cincin itu.
" Benar, mungkin saja inisial pria ini K atau F. " Tono
" Tadi kita mendaftarkan dia dengan nama Slamet karena dia sudah selamat dari maut." sambung pak Tono lagi.
__ADS_1
" Tidak masalah, itu identitas dia selama belum ada kejelasan siapa dia sebenarnya."
"Apa dia korban pembunuhan? Atau pria ini bunuh diri karena cinta?" Mereka menyimpulkan sendiri pemikiran tentang pria tak dikenal itu.
"Kita tunggu dulu disini, lihat apa yang terjadi dengan pria itu." saran Pak Sam
Dokter memanggil kedua pria itu bahwa korban mengalami pendarahan di bagian kepala, bagian dada penuh dengan air hingga harus dibersihkan.Namun pria itu masih hilang kesadaran.
" Abang pulanglah, biar aku yang menjaga pria ini. Tolong titip pesan pada Ani karena aku tidak pulang hari ini dan besok bawakan beberapa baju untuk pria ini."
"Baiklah, aku pulang dulu. Besok aku akan kemari untuk menjaga pria ini."
Mereka masih bertanya-tanya siapa pria dengan jam tangan mewah ini. "
* **
Sam pulang selepas maghrib dan langsung datang ke rumah Pak Tono untuk mengabarkan pada anaknya.
" Ayahmu tidak pulang hari ini, tolong kau siapkan beberapa perlengkapan baju dan alat mandi untuk ayahmu. "
" Memangnya ayah kemana tulang" (sebutan untuk Om dalam suku Batak)?
" Dia menginap di rumah teman, nantilah kapan-kapan tulang cerita denganmu namun saat ini belum bisa."
"Baik tulang, minumlah teh dulu." tawar Ani, anak semata wayang pak Tono.
"Baik, tulang. Terima kasih."
Namun belum sempat Sam melangkah keluar terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam datang ke rumah pak Tono.
"Permisi, apa anda melihat pria ini?" tanyanya
Sam melihat foto itu dengan seksama, benar seperti pria yang ia temukan di sungai tadi siang. "Tidak! Siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa, jika anda melihat pria ini coba hubungi kami." Salah satu pria itu memberikan foto Keken beserta nomor handphone.
Mereka pamit namun masih berdiri di disisi rumah pak Tono sembari menerima perintah lewat sambungan telepon.
" Ayo kita cari lagi, kita harus menemukan pria ini karena belum ada kabar berita, dia mati atau tidak. Jika dia masih hidup kita yang akan dibunuh bos besar." lirih Mereka setelah menjauh dari rumah Pak Tono.
Sam melebarkan matanya, ternyata pria yang dia temukan sedang dalam bahaya, ada orang yang mengincar nyawanya. Ia harus bergerak cepat.
Ani yang sudah menutup pintu kini membukanya lagi karena Sam mengetuknya. " Bawa sebagian bajumu dan baju ayahmu, cepatlah." lirih Sam
"HAH...!"
"A... ada apa tulang?" Ani begitu bingung karena Sam memintanya untuk berkemas.
"Cepatlah, kita tidak punya waktu lagi. Kemasi barangmu!"
__ADS_1
"Ba.. baik tulang."
Mereka datang kerumah Sam yang sedikit ramai,sedangkan Ani hanya tinggal berdua dengan ayahnya.
"Ada apa ini bang?" tanya seorang wanita paruh baya dengan logat Jawa yang kental. Siti, Istri dari Sam. Asri dan Eki anak dari Sam juga ikut bergabung karena tidak seperti biasa Ayahnya membawa Ani.
" Dengarkan Ayah dengan baik." Mereka semua menganggukkan kepala dan membuka lebar-lebar telinganya, mendengarkan perintah.
Sam menceritakan kejadian tadi siang lalu meminta mereka untuk merahasiakan dari para warga. "Hanya ayah dan Tono yang tahu tentang pria itu, karena kami membawanya dengan motor dan tidak ada satu orang pun yang tahu.
" Sepertinya pria itu sedang diburu untuk dibunuh jadi kita semua harus melindunginya dengan cara apapun. "
" Kenapa harus kita yah, ini sangat berbahaya jika mereka tahu kita melindunginya." Eki, pria berumur delapan belas tahun anak kedua dari keluarga Sam yang baru saja tamat sekolah SMA.
" Karena kita manusia yang memiliki hati nurani. "
" Tapi kita tidak kenal pria itu ayah, bisa jadi dia penjahat atau kriminal atau *******." Eki masih kekeh tak ingin membantu dan waspada dengan orang asing.
" Ayah rasa tidak, dia sepertinya orang baik. Perasaan ayah tidak bisa dibohongi, saat melihat wajahnya dia seperti anak orang kaya dan berpendidikan bukan tipe penjahat ataupun *******."
"Jika kamu berada di posisinya dan terancam, ayah harap ada seseorang yang menolong dan melindungimu juga. Ayah tidak bisa kehilangan anak dicintai. Dan pria itu pasti punya keluarga dan mereka pasti sedang mencari pria itu. Ini sebagai rasa kemanusiaan, kamu mengerti tidak ayah bicara apa?" tanya Sam
" Eki mengerti ayah. "
" Jadi begini. "Sam dengan cepat memberi arahan pada mereka untuk tetap kompak melindungi pria itu. Dan dengan cepat mereka berbagi tugas masing-masing.
Tengah malam,
Sam mengendarai angkot miliknya dengan kecepatan penuh dan ke rumah sakit bersama Ani dan Eki. Ia tersenyum saat mendengar Ani dan Eki menjerit ketakutan karena cara berkendaranya. Si Raja Jalanan yang mematikan, mengendarai seolah di dalam sirkuit yang panjang dan bebas mengebut.
"Ayah, kau ingin membunuhku!" teriak Eki.
"Tulang, aku belum menikah dan aku tidak ingin mati sia-sia!" teriak Ani.
Bukanya memperlambat lajunya, Sam hanya terkekeh dan masih dalam keadaan mengebut. Ini seperti mengingat masa lalunya yang dulu hanya seorang sopir angkot.
"Kalian tenanglah, ayah sudah ahli mengendarai Jeki." Sam menyebut mobilnya dengan nama Jeki.
"Iya tapi gak gini juga tulang." gerutu Ani.
Mereka langsung menuju tempat pria itu dan mengurus semua administrasi.
"Belum saatnya pasien pulang pak, Lukanya belum kering dan masih belum sadar ." ucap salah seorang perawat
"Tidak masalah, aku akan melunasi semua tagihan. Masalah tidak sadar biarkan kami yang mengurusnya di rumah."
"Tapi bagaimana jika pasien kritis, pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab dan anda harus menandatangani beberapa kesepakatan ini agar tidak ada masalah nantinya."
" Baik, aku akan tanda tangan sekarang." Sam mengambil resiko besar, ia juga memalsukan nama Keken serta alamatnya. Mereka membawa Keken ke suatu tempat yang aman. Tidak mungkin Keken berada di rumah sakit ini karena para pengawal itu pasti akan datang kemari untuk mencari nya.
__ADS_1