
Seorang pria muda turun dari mobilnya.
"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang luka?" tanyanya, ia berjongkok dan ingin membantu Farah bangun.
"Apa kau sudah gila atau kau buta warna hingga tak melihat lampu merah menyala! Kau ingin cari mati!" umpat pria itu.
"Iya, aku ingin mati! Aku ingin mati saja, kenapa kau tidak menabrakku hingga mati!" teriak Farah sembari menangis keras. Ia menangis histeris, hatinya begitu kacau apalagi saat ini dirinya hampir menyenggol mobil pria itu. Sial.
Pria itu hanya mengerutkan dahinya, ia melihat wajah Farah yang berantakan. " Kalau kau ingin mati terjunlah ke sungai atau ke laut jangan di jalan raya bikin orang susah saja. "
" Kamu masih muda, jangan pernah berpikir untuk bunuh diri. Memangnya kamu mau gentayangan dengan wajah rusak tidak berbentuk. Kamu ini cantik, hiduplah dengan baik. " ucap pria itu lagi
" Bangunlah, aku bantu dorong motormu ke pinggir jalan. "
Farah kini berada di pinggir jalan, dia masih sedikit syok hampir saja tertabrak mobil. Nafasnya naik turun dan matanya terlihat kosong.
" Minumlah" pria itu menyodorkan sebuah air mineral kepada Farah.
"Kalau berada di jalan raya jangan melamun apalagi tatapanmu kosong seperti saldo atm di akhir bulan!" kelakar pria itu
Farah melirik pria itu dan hanya menghela nafas. "Tidak lucu!" ketusnya
Pria itu hanya tersenyum lebar.
"Sepertinya motormu rusak, perlu diperbaiki." ia melihat motor Farah yang lecet dan ban nya terlihat kempes
" Bengkel disini jauh." ucap Farah, masih dalam tatapan kosong.
Dan seorang perempuan keluar dari mobil pria itu dengan wajah khas bangun tidur. " Khaffi, ada apa ini? " ia mengucek matanya
" Tadi aku hampir menabrak gadis ini, kamu sih, Ka tidur terus!" jawabnya
" Benarkah " Inka menutup mulutnya, "Maaf, aku ngantuk banget fi." ujarnya
" Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pada Farah
"Aku tidak apa-apa."
" Kamu bawa mobilku ya, aku akan dorong motor ini ke bengkel sebentar. Kasihan dia, bengkel jauh dari sini." bisik Khaffi pada Inka
__ADS_1
"Isshhh..." Inka memukul lengan Khaffi, "Kamu lupa ya, aku tidak bisa bawa mobil." Inka mengerucutkan bibirnya
"Oiya, aku lupa princess katro kan tidak bisa setir mobil." ledeknya
Inka mencubit dengan gemas pinggang Khaffi bertubi-tubi. Memang ibunya tidak mengizinkan kedua anak kembarnya untuk mengendarai mobil, hingga akhirnya sang putri selalu diantar jemput oleh sopir. Namun kali ini Inka meminta Khaffi untuk menjemputnya karena ia membutuhkan bantuan Khaffi untuk membawa baju butik yang cukup banyak.
"Ampun, ampun Nyai.Pangeran Khaffi tidak akan menggulangi lagi." ucapnya dengan sungguh - sungguh, ia kegelian saat Inka menggelitiki tubuhnya.
"Cuih...! Pangeran Kodok buluk mah iya." cibir Inka.
"Aku tungguin di warung makan itu, kamu cepat bantuin dia. Jangan lama-lama." Inka menunjuk sebuah warung disisi jalan
"Bilang saja lu laper Ka, dasar perut gentong!"
"Princess itu biasanya makan pilih - pilih, lah ini warung pinggiran aja doyan." sindir Khaffi lagi
"Apaan sih, Fi. Yang penting makanan itu bersih dan enak. Aku sih yes aja mau makan dimanapun." Inka
"Princess bodong lu." umpat Khaffi, ia segera mendorong motor Farah kearah bengkel.
" Dasar pangeran medit!" umpat Inka. Ia tidak peduli dengan sindiran Khaffi, perutnya memang terasa lapar. Ia dengan perasaan gembira masuk ke dalam warung makan sembari menunggu Khaffi datang.
"Mungkin dia sedang ada masalah keluarga atau dengan pacarnya." gumam Khaffi dalm hati
"Melamun lagi?" Khaffi mendekat dan duduk di sisi Farah.
"HAH..!" Farah terhenyak dari lamunannya, entah berapa lama dia melamun sampai semuanya diserahkan pada pria itu.
"Maaf, aku sedang melamun."
"Tidak apa-apa, mungkin dengan melamun kamu merasa lebih baik. Tapi sebaiknya jangan terlalu lama apalagi di jalan raya, sayangi anumu eh maksudku nyawamu." Lagi-lagi pria itu membuat lelucon.
Farah hanya menundukkan kepala.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Khaffi
"Di utara, tak jauh dari sini. Lima belas menit lagi sampai."
"Oh."
__ADS_1
"Sudah makan?" tanya Khaffi lagi
Farah menggelengkan kepala. Ternyata ia lupa makan karena keasyikan bermain dengan Aisyah. Khaffi segera pergi entah kemana dan datang kembali dengan membawa bungkusan nasi.
" Ini untukmu, makanlah. Pumpung sepeda motornya sedang diperbaiki, sembari menunggu kamu bisa makan agar mempunyai punya tenaga untuk pulang ke rumah."
Farah seperti terhipnotis dengan ucapan Khaffi, ia memang lapar. Ia menganggukan kepala dan segera menyuap nasi pemberian pria itu. Hingga tidak terasa nasi itu licin tandas dengan cepat dan pria itu tersenyum saat melihat cara makan Farah yang super cepat.
"Kamu ini wanita apa sopir angkot yang sedang kejar setoran, ngebut amat!" sindir Khaffi. Dan Farah hanya menundukkan kepala, malu dengan dirinya sendiri.
"Minum dulu." perintah Khaffi. Dan lagi-lagi Farah menuruti perintah pria itu.
"Kamu lucu." Khaffi menggulum senyum
"Aku bukan badut, kenapa kau bilang lucu." Farah akhirnya bersuara setelah meneguk minumannya. Ia menatap wajah Khaffi dari dekat.
"Akhirnya kamu bersuara, aku kira kamu bisu setelah tabrakan tadi." goda Khaffi, ia selalu melihat Farah diam dan melamun dan akhirnya gadis itu mau menatap wajahnya
"Maaf."
"Ini bukan lebaran, kenapa kamu meminta maaf." kelakar Khaffi.
Farah hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya, ternyata ia bertemu pria yang sedikit gila.
"Oh iya, aku sudah membayar semua kerusakan motormu itu."
"Terima kasih, ini aku akan mengganti uangmu." Farah membuka dompetnya dan menyodorkan dua lembar uang seratus ribu
"Tidak perlu" tolak Khaffi, " Aku pergi dulu, tuan puteriku sudah menunggu terlalu lama." Khaffi bergegas berlari ke tempat Inka berada
"Terima kasih!!" teriak Farah lagi, ia sangat bersyukur hari ini bertemu orang baik. Ia pun menyimpan kembali uang miliknya ke dalam dompet. Sedangkan Khaffi hanya melambaikan tangan tanpa menoleh kearah belakang.
"Untung saja pria itu menolak uangku, jika tidak habislah diriku. Hanya ini uang yang tersisa di dalam dompetku." gumam Farah dalam hati
Farah berharap suatu saat bisa bertemu pria itu lagi dan mengganti uang yang dia pakai untuk menganti kerusakan motornya.
" Eh, kenapa aku lupa tanya nama pangeran baik itu. "Farah baru tersadar saat pria itu menghilang dari pandangan nya.
" Kenapa aku tidak meminta nomor ponselnya agar aku bisa mentransfer uang setelah aku gajian nanti. " gumam Farah lagi, ia terlihat begitu menyesal karena lupa, pikiran nya masih belum fokus untuk berpikir.
__ADS_1