
Keken pulang tengah malam dengan wajah lelah, seharian ia harus bekerja ekstra karena Fafa benar-benar pulang cepat. Pria itu sengaja memberinya banyak pekerjaan sebagai ucapan selamat datang. Sial!
Keken lupa bahwa ada Farah di mansion ibunya. Dan saat ia melewati ruang makan, ia melihat istrinya tertidur dengan kepala yang menempel pada meja.
" Aden, maaf nona Farah menunggumu. Sudah bibi larang tapi dia masih saja menunggu Aden pulang bahkan saat makan malam Non Farah hanya makan sedikit." Asisten rumah tangga itu menundukkan kepalanya dengan takut
"Mommy kemana?"
"Nyonya sudah tidur,dia juga sudah melarang tapi non Farah tetap keras kepala."
" Mas Keken." Inha datang saat mendengar suara mobil berhenti dan iya yakin pasti itu Keken.
" Beri istrimu makan, dia cuma minum susu dan makan sedikit, memangnya kamu mau anakmu kurang gizi. "
" Aku sudah menyuruhnya makan tapi katanya dia ingin menunggumu dan aku yakin pasti si gendut ini kelaparan."
" Mulutmu memang seperti mommy, pedas dan ngeselin!" ucap Keken. Inha hanya terkekeh.
"Aku tadi ke rumah mama Navysah bersama Farah tapi dia selalu murung dan tidak bersemangat. Memangnya mas mau anakmu berwajah asam dan seperti kuburan, tidak kan."
"Berbaik hatilah sedikit padanya, kau tidak mau kan Farah sakit lagi, nanti si Kenzi tidak mendapatkan jatah harian."
Keken dengan gemas mencubit pipi Inha, gadis ini benar-benar menjengkelkan saat bicara.
" Masuklah, suaramu membuat tekanan darahku naik. Sudah cukup mommy dan Farah yang membuat aku pusing!"
Dan gadis itu hanya menjulurkan lidahnya, masa bodo dengan Keken.
"Besok ajak aku jalan - jalan, aku ingin refreshing." pintanya
"Sama Khaffi saja, nanti aku telepon dia."
"Khaffi si Pangeran Medit itu?!" Aku tidak mau. "gumamnya
Keken menggulum senyum, Inha memang tidak akur dengan Khaffi karena pria itu selalu menggodanya dan pelit.
" Dia tidak akan berani me sum denganmu. "
" Iya, tapi dia pelit! Yang ada aku yang membayar semua tagihannya."
Keken tergelak tawa. Dan gadis itu masih saja menggerutu sembari masuk ke dalam kamarnya.
"Farah, bangunlah..." Keken menepuk pipi istrinya dengan pelan.
__ADS_1
Ia menyipitkan mata dan melihat Keken yang masih menggunakan kemeja kantornya. "Kau sudah pulang?"
"Hmm..."
" Masuklah ke kamarmu."
"Aku tidak mau."
" Jangan memintaku untuk menggendongmu, karena tubuhmu berat berkali-kali lipat. Aku tidak kuat." ketus Keken
"Kau sudah makan?" Farah tidak tersinggung dengan ucapan Keken karena saat ini yang terpenting bagaimana membuat suaminya luluh.
" Hmm?."
"Aku lapar, ingin makan."
" Ya sudah makan saja, gitu aja kok repot." Keken masih dalam mode seolah tidak peduli.
" Aku ingin makan denganmu." Farah
Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya berkali-kali. Sangat sulit untuk membenci istrinya, dengan melihat wajah Farah yang seperti ini ia bisa goyah.
" Ayo kita makan."
Asisten rumah tangga itu menyiapkan makan malam untuk mereka dan Farah mulai mengisi piring Keken.
" Maaf." satu kata yang keluar dari bibir Farah setelah acara makan bersama itu selesai.
"Masuklah ke dalam kamar, aku sedang tidak ingin membahasnya." perintah Keken
"Itu kamarmu." Farah
"Aku lebih nyaman tidur di kamar tamu!"
Farah masih melihat amarah Keken padanya.
"A... aku....ing___" Farah terbata, ia ingin mengucapkan sesuatu pada Keken
"Aku mengantuk, aku tidur dulu." Keken beranjak dan meninggalkan istrinya, namun Farah dengan cepat mengikuti suaminya ke kamar tamu. Nafasnya berkejaran setelah sampai kamar itu, perutnya kian membesar dan membuat Farah sedikit pengap.
"Mau apa kamu kesini?" Keken melihat istrinya masuk tanpa permisi dan duduk di sisi ranjang. Farah tidak menjawab, hanya menatap suaminya.
Keken membuka kemeja dan seperti biasa membuangnya ke sembarang tempat. Dan tidur membelakangi istrinya.
__ADS_1
"Ken...." Farah mulai mendekat bahkan memeluknya dari belakang.
"Apaan sih!" ia mengurai pelukan istrinya, pura-pura memberontak namun dalam hatinya ia sangat menginginkannya, sudah beberapa hari ia tidak memeluk istri dan bayinya.
"Aku kangen." lirih Farah, "Kangen kamu."
"Tidak usah bercanda, aku tidak mau kamu bohongi lagi. Sudah cukup Farah!" Keken mau tak mau bangkit dan bersandar di kepala ranjang.
" Aku tahu kamu tidak mencintaiku, apapun yang aku katakan tidak pernah kamu dengar. Jika kamu ingin membuka usaha atau kembali bersama pria itu silakan, aku tidak akan menahanmu lagi. Yang terpenting anakku sehat, aku tidak mau ada kejadian seperti kemarin."
" Jika kamu ingin bercerai sekarang, akan aku kabulkan. " Keken meremas tangannya, ucapan ini begitu sulit tapi harus ia lakukan, namun dalam hati ia berharap Farah tidak meminta cerai darinya.
"Tidak! Jangan berkata seperti itu Ken, aku tidak mau cerai darimu, aku tidak mau jauh darimu ." Farah ikut bersandar dan menatap wajah suaminya. Menyentuh pipinya agar mau menatapnya.
"Cukup Farah, Lepas.!!" Keken mengibaskan tangan isterinya. " Aku sudah tidak percaya lagi dengan kamu. Kamu pernah bilang kan bahwa muak saat melihatku maka tenanglah, aku tidak akan muncul lagi di depanmu. Kamu bisa sesuka hati bertemu dengan pria itu tanpa sembunyi - sembunyi , aku sudah tidak peduli. Aku menyerah! "Keken membuang wajahnya kearah lain.
"Keken, jangan berkata seperti itu. Aku tidak mau kamu menyerah, maafkan aku.huhuhu..." Farah mulai menangis terisak, hatinya begitu sakit saat melihat amarah di wajah suaminya. Pengorbanan Keken selama ini begitu banyak tapi ia tidak pernah menghargainya dan sekarang Keken bilang menyerah. Ini tidak boleh terjadi,ia ingin kembali pada suaminya.
"Beri aku kesempatan kedua." pinta Farah
"Untuk apa?! Untuk menyakiti aku lagi, No Farah!" Keken menatapnya dengan tajam. Farah kian terisak, Keken benar-benar berubah tidak ada pancaran cinta yang biasa Keken tunjukkan untuknya.
"Sudah berkali-kali aku beri kesempatan nyatanya sama saja!" sambung Keken kembali.
"Maafkan aku Ken, aku janji akan menurut padamu. Aku ingin kita kembali seperti semula."
"Tidak bisa Farah, sekeras apapun kamu berusaha jika hatimu untuk pria itu lebih baik aku yang mengalah. Berbahagialah dengannya, aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Tidak Ken! Jangan katakan itu, huhuhu...." Farah menangis, hatinya kian sakit.
"Kau bilang aku orang ketiga diantara kalian kan, maka aku yang akan pergi." Keken
"Tidak, aku tidak mau kamu pergi."
" Aku tidak butuh ijinmu, karena ini keputusanku. Sekarang masuklah ke kamarmu itu, aku ingin istirahat." usir Keken, lalu kembali merebahkan diri di ranjang, ia benar-benar mengantuk.
"Tidak! Aku ingin disini, tidur bersamamu." Farah tidak peduli Keken akan berpikiran seperti apa padanya, yang Farah mau sekarang hanya Keken. Ia memelukny dari belakang dan menghirup aroma tubuh suaminya dalam-dalam. Keken berkali-kali menggeliat dan melepaskan tangan istrinya agar menjauh tetapi Farah masih saja keras kepala ia masih memeluk tubuh suaminya.
"Pergi sana!" Berkali-kali Keken mengusir istrinya tetap saja tidak bergeming. Farah kian erat memeluknya.
"Aku tidak mau, Ken!"
"Dasar keras kepala!" Keken menutup matanya kembali, namun disudut hatinya ia begitu bahagia karena Farah menolak bercerai.
__ADS_1
"Sana pergi!!" usir Keken lagi
"Tidak mau!! Pokoknya aku mau disini. Jangan usir aku." Farah