
Keken tiba di rumah Farah selepas ashar karena ia mampir ke dealer dan ada rapat yang tidak bisa dia tinggalkan. Ia masuk ke dalam sebuah gang dan mencari rumah keluarga Farah. Tak menunggu lama akhirnya Keken menemukan rumah itu saat melihat Farah sedang duduk di teras rumah.
"Farah..." sapa Keken, dan istrinya hanya menatapnya dengan datar tidak menyahutinya sama sekali.
"Kau sudah datang?" kali ini suara bapak terdengar begitu berat.
"Iya pak, aku datang." Keken mencium takzim tangan bapak mertuanya.
"Aku ingin menjemput Farah."
"Aku tidak mau!" kali ini terdengar penolakan dari Farah, " Aku masih ingin disini." ia masuk ke dalam rumah menghindari Keken
"Oh ya ampun apa lagi ini, kenapa dia yang marah padaku." lirih Keken namun suaranya masih terdengar di telinga pak Ilham.
"Wanita memang seperti itu Nak, ayo kita masuk ke dalam." pak Ilham mempersilakan Keken masuk dan mereka melihat ibu tiri Farah sedang membersihkan dapur.
"Bu, berikan minuman pada menantu kita." pinta pak Ilham
Dengan cepat ia memberikan satu cangkir teh hangat dan menyuguhkan nya pada Keken. " Menantuku sudah datang, silahkan diminum teh ini." Bu Tami tersenyum lebar namun Keken tidak membalasnya. Ia masih dendam pada wanita ini, karena dia hidup Farah dulu begitu menyedihkan, Keken masih kesal. Ia pun tidak menyapa apalagi mencium takzim mertuanya.
Bu Tami hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia tahu kesalahan nya selama ini begitu banyak dan mungkin akan sulit untuk dimaafkan. Ia berlalu pergi meninggalkan dua pria di ruang tamu.
"Nak, Keken apa kau suka bertanam?" tanya pak Ilham, " Maukah kamu membantu bapak di halaman belakang." Namun belum sempat ia mendengar jawaban Keken, pak Ilham pergi ke belakang rumahnya.
" Begitu sulit datang ke rumah mertua." gumam Keken, ia tak mampu menolak ajakan nya.
" Aku belum menjawab main pergi aja. "gumam Keken dalam hati
" Potong semua daun yang berwana kuning, ranting yang kering dipotong juga, jangan sampai salah ya. " akhirnya Keken menuruti permintaan pak Ilham, ia yang tidak pernah bertanam masih merasa bingung karena biasanya pekerjaan seperti ini dilakukan oleh pelayan rumah.
" Ranting jangan dibuang Nak, bisa dimanfaatkan untuk bakar ikan. " Pak Ilham yang melihat Keken membuang ranting kini menyuruhnya kembali untuk memungutnya.
" Sejak kapan aku berubah menjadi Amin." gumamnya dalam hati, "Ternyata pekerjaan Amin tidak mudah." pikirnya
" Fadil, kau sudah bawa ikan nya?" pak ilham melihat anak lelakinya datang membawa plastik berwarna putih.
" Sudah pak, ini ada ikan bawal, udang, lele dan ayam." Fadil melirik kaka iparnya namun ia tidak menyapa sama sekali.
" Kenapa bocah ini seolah tidak suka denganku. "gumam Keken dalam hati
__ADS_1
" Ini semua keinginan Farah, dia nyidam ikan bakar. "Pak Ilham menyiapkan ranting dan membakarnya agar menjadi arang lalu ia mengambil alat panggang sederhana untuk membakar ikan.
" Dil, bawa margarin dan kecap. Minta sama ibu. "perintahnya
" Iya pak. "
" Nak Keken bisa bakar ikan? "
" Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya pak, maaf. " Lebih baik Keken jujur daripada berpura-pura.
" Cobalah belajar memanggang ikan, ini semua kan untuk kak Farah terutama calon bayinya itu! " sahut Fadil dengan sewot, ia menatap tidak suka pada kakak iparnya.
" Tentu saja aku akan memanggangnya. "Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya, sudah pasti ini pekerjaan yang sangat sulit untuknya karena selain ia tidak pernah memanggang, ia pun tidak tahu bagaimana caranya membuat api menyala sedangkan angin cukup kencang.
Matanya terasa perih karena asap pembakaran. Wajahnya sedikit panas akibat hawa dari api ranting yang dibakar.
" Andai saja ada Amin, sudah pasti akan aku beri dia bonus daripada aku capek-capek melakukan hal seperti ini." Keken mulai mengipasi dan mengoles ikan dengan margarin dan kecap lalu ia membakarnya di arang. Sangat sulit, pikirnya.
"Bukan begitu caranya, ih gini aja masa tidak bisa!" Fadil kesal karena Keken mengipas ikan dengan penuh semangat hingga api berkobar kemerahan membuat ikan menjadi hitam.
"Pelan-pelan kipasin agar ikan matang sempurna." gerutu Fadil dia yang mengipasi dan Keken yang memberi bumbu.
" Udangnya tidak perlu dikupas langsung saja tusuk ke lidi ini." perintah Fadil pada Keken
"Aku tidak bisa melakukannya." ucap Keken
"Oh, ya ampun! Kenapa serba tidak bisa sih." Fadil ingin sekali memukul Keken, andai saja dia bukan suami kakaknya sudah pasti Keken akan dipukul habis-habisan.
"Aku alergi udang, aku tidak bisa melakukannya."
"Oh, ya sudah jangan pegang udang tapi ikan dan ayamnya bisa kan." Fadil
"Bisa." Keken
"Apa kau tidak menyukaiku? sepertinya kamu selalu kesal denganku." Keken akhirnya berani bertanya setelah hanya ada mereka berdua.
"Aku memang tidak menyukaimu karena kamu menghamili kakakku."Fadil menatap tajam Keken, ia berkata jujur pada kakak iparnya.
" Tapi sekarang aku kakak iparmu dan itu semua sudah terjadi. "
__ADS_1
" Kau tahu apa impian kakakku? "
" Kakak ingin menikah dengan bang Hilman dan hidup bahagia dengannya tapi sekarang impian itu pupus karena kamu." Fadil berkata dengan ketus
Keken hanya menghembuskan nafas panjangnya, ia tahu semua ini karena dirinya.
" Aku akan berusaha membuat kakakmu lebih bahagia saat bersamaku, bahagia selamanya dan tidak akan ada airmata yang menetes saat dia bersamaku. " janji Keken
" Tidak usah berbohong, ingin membuat kak Farah bahagia tapi masih tinggal di kontrakan sempit." sindir Fadil," Buktikan pada kami kalau kamu bisa membahagiakan kakakku."
Keken terkekeh mendengar Fadil menyindirnya, baru kali ini dia disindir secara terang-terangan oleh bocah kemarin sore.
" Kamu tenang saja, aku pasti bisa buktikan bahwa kakakmu itu lebih bahagia denganku. "
Dan saat mereka mengobrol, Farah datang dengan membawa piring nasi. "Sudah ada yang matang belum, aku sudah lapar." ucapnya sembari duduk berselonjor di kursi rotan panjang. Ia menunggu ikan yang sudah matang, air liur nya hampir menetes saat menghirup aroma wangi dari asap ikan yang dibakar.
"Belum ada, sebentar lagi kak. Suamimu sangat payah, dia tidak bisa membakar ikan." gerutu Fadil
Farah hanya melirik Keken yang tersenyum padanya, seperti biasa Keken tidak bisa melakukan pekerjaan apapun.
"Adek pengin ikan ya." Keken mendekat lalu mengelus perut Farah dengan lembut, " Sabar ya sebentar lagi Om Fadil selesai bakar ikan nya."
"Om Fadil." Fadil berkata dalam hati, sesaat ia melirik Keken yang menatap kakaknya dengan penuh cinta. "Ah ternyata sebentar lagi aku menjadi Om." gumamnya dalam hati. Ada senyuman bahagia yang tidak bisa ia tunjukkan.
"Kenapa tidak papah saja yang bakar ikan, ayo bakar ikan untukku pah." Farah menirukan suara anak kecil, ia berusaha mengerjai Keken agar mau melakukan pekerjaan itu.
"Iya Nak, sabar ya papah sedang berusaha. Lihat mata papa merah dan perih, wajah papa panas seperti ini demi kamu Nak." Keken seolah memelas agar Farah tahu dirinya sedang berusaha.
"Dih! Baru segitu saja ngeluh." sindir Fadil. "Padahal dari tadi Fadil yang bakar ikan nya bukan dia."
Keken tergelak tawa, sedangkan Farah menatapnya dengan tajam.
"Kebiasaan!" gerutu sang istri saat melihat Keken tidak pernah benar dalam mengerjakan sesuatu.
"Aku telepon Amin buat kesini ya agar semua pekerjaan dia yang beresin." lirih Keken di telinga istrinya
"Tidak usah! Jangan merepotkan orang jika kami bisa mengerjakannya." Farah
" Masih ada Fadil yang bakar ikan tidak perlu menyuruh orang luar nanti jatah makananku berkurang." ucapnya, dan Keken hanya tertawa. Ternyata ini masalah jatah makanan yang membuat Farah ogah mengundang Amin.
__ADS_1