
Keken masuk ke dalam kamar Farah dan mengamati setiap sudut ruangan, tidak luas memang tapi kamar itu cukup rapi. Satu ranjang yang tidak terlalu besar namun ada beberapa boneka dan satu yang tampak menonjol yakni boneka beruang.
"Sepertinya ini kamar si Aisyah. " gumam Keken dalam hati
Ia merebahkan diri sembari mengingat setiap kejadian di masa lalu, seperti kepingan yang tersusun secara acak keken harus menata kembali memori itu.
Kedua adik Farah masuk, dan berbaring dengan Keken tanpa rasa risih hingga membuat pria itu heran kenapa adik Farah begitu menempel padanya.
"Apa yang kalian lakukan? " Keken sedikit terkejut karena Aisyah pun memeluknya begitu juga dengan Fadil
"Seperti biasa tidur dengan kak Keken, kakak tenang saja Ais tidak akan menendang perut kak Farah kok. " ucap gadis itu.
" Aku juga tidak akan menendang kaki kak Keken kok. "Kali ini suara Fadil.
" Kalian apa-apaan sih, mana ada tidur seperti ini. "
"Ada." Kedua adik Farah menjawab serempak
"Dulu saat kak Keken menginap disini kita tidur berempat dengan kasur lantai. " Fadil
" Ah, kalian pasti bohong. Masa aku mau tidur dibawah dengan kalian apalagi sempit-sempitan, tidak ada pendingin udara juga, mana mau aku seperti itu! "Elak keken
" Mereka benar, kita pernah tidur berempat di lantai dengan selimut bersama. Saling berpelukan dan terasa hangat. "Kali ini Farah yang menjawab, dia datang dengan membawa sebotol air mineral, beberapa hari ini ia sering haus dan selalu buang air kecil setiap malam.
" Masa sih, aku mau seperti itu! " Keken masih saja tidak percaya
" Sini aku perlihatkan foto kakak saat tidur disini." Fadil memperlihatkan foto di galeri ponsel nya
" Benar juga aku tidur disini. "Gumam keken dalam hati setelah melihat foto itu.
__ADS_1
" Kita tidur lagi seperti dulu ya kak, Ais tidak akan menganggu kak Farah karena aku sudah memiliki boneka besar ini. Kak keken yang memberikan padaku. " Aisyah memeluk boneka beruang itu dengan erat
Keken melolong, bagaimana bisa dia sebaik itu dengan adik Farah bahkan dirinya saja kurang menyukai anak kecil.
"A... Aku.. . "
" Ais kamu tidur bersama ibu sementara Fadil dengan ayah sementara. Kak keken tidak bisa istirahat jika kalian menganggu nya. "Farah tahu Keken tidak merasa nyaman dengan kedua adiknya.
" Tapi kak. " Rengek Aisyah
"Ais, kakak ingin istirahat. " pinta Farah
"Ayo Ais kita pergi, kak Farah pasti kelelahan dan ingin istirahat karena perutnya sudah besar. "
Fadil menggandeng tangan adiknya untuk keluar kamar lalu keken mengunci pintu itu, ada sesuatu hal yang ingin dia katakan pada Farah.
"Maaf." Satu kata yang keluar dari mulut Keken, meminta maaf atas segala kebodohan nya tadi.
"Kau sudah tidur? " Keken ikut berbaring dan melirik istrinya lagi.
"Aku akan tinggal disini setelah kau pergi ke Singapura, aku ingin bersama keluarga ku saat melahirkan. " Farah tidak menjawab pertanyaan keken , dia hanya ingin memberi tahukan bahwa ini keputusan yang terbaik untuknya
"Kok gitu? Kenapa mendadak sekali, apa kau marah denganku? "
" Tidak! Buat apa marah denganmu, buang-buang waktu saja! , Aku hanya ingin disini karena disini lebih ramai dan keluarga sendiri, aku tidak mau merepotkan tante Navysah lagi apalagi merepotkan Fafa, kau tahu kan kalau Hanin cemburu padaku. Aku hanya ingin menjaga perasaan nya. Fafa pun pasti sudah repot dengan pekerjaan dan keluarga nya sendiri. "
"Aku tidak setuju, jika kau melahirkan malam hari tidak ada kendaraan untuk ke rumah sakit. Lebih baik kau di tante Navysah. "
" Tidak, Aku tidak mau disana! " kekeh Farah. "Aku hanya ingin memperbaiki hubungaku dengan keluarga ini dan dengan begitu akupun bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibu. Mereka akan menjagaku. Kalau aku perlu mobil kau tidak usah khawatir karena pak Atsan depan rumah pun memiliki mobil dan sudah pasti dia akan meminjamkan nya pada kami. Dia sangat baik. " Farah
__ADS_1
Keken terdiam, tidak menjawab lagi. Sepertinya keputusan Farah sudah bulat.
"Aku akan memberikan kartu ATM untukmu, jadi saat melahirkan kamu bisa menggunakan nya untuk membayar persalinan. "
" Tidak perlu, aku masih punya tabungan bahkan uang mahar darimu masih utuh. Aku tidak perlu uangmu. "
"Kau itu kenapa sih?! "Keken tidak suka dengan sikap Farah yang dingin dan tidak menerima bantuan nya. " Aku itu suami mu, sudah sewajarnya aku memberikan nafkah untumu dan bayi ini! " Keken sedikit emosi hingga nada bicara nya sedikit meninggi.
"Coba katakan padaku, kamu mau apa?! " tanya nya lagi.
"Jika karena tadi aku mengusirmu, oke aku minta maaf tapi kamu jangan seperti ini . " sambung Keken lagi
Farah membalikan tubuh dan menatap pria yang selama ini menjadi suaminya. Dia menjadi sosok keken yang berbeda, bahkan nada bicara nya selalu meninggi saat tidak sesuai dengan apa yang diinginkan nya.
"Aku sudah memikirkan semuanya bahwa aku akan mandiri tanpa kamu, aku harap saat di Singapura nanti kamu ingat dengan kami. Tapi jika kamu tidak menginginkan kami lagi aku sudah siap dengan segala kemungkinan. " Ucap Farah sembari berkaca -kaca.
"Ngomong apa sih kamu?! " Keken menatap tidak suka dengan ucapan istrinya
" Saat kau mengusirku aku mengerti kamu belum bisa menerimaku dan aku harus lebih realistis kalau nanti nya kamu kembali dan tidak menginginkan kami. Aku harus siap untuk itu semua bukan karena aku menyerah tetapi memang sepertinya kamu tidak menyukaiku, hatimu mulai berubah dan aku tidak bisa memaksakan itu semua. Aku pun harus sadar diri. " Farah menangis saat mengatakannya.
Sakit sekali hati Keken saat melihat Farah berkata seperti itu, jantung nya bergemuruh dengan cepat dan seolah tidak menerima nya. Keken tidak bisa menerima nya.
" Aku minta maaf, kau dengar itu. " Keken
"Aku tidak tahu kalau sikapku ini sangat menyakiti hatimu tapi satu hal yang pasti kau istriku dan ini anakku. " Keken menyentuh perut besar Farah
"Jika kau ingin disini dan melahirkan disini aku tidak akan melarang mu tapi satu hal yang aku inginkan, kamu tidak boleh menyerah denganku. Tolong bantu aku mengingat sesuatu dan pahami diriku, jika memang aku kasar dan emosian aku minta maaf. Aku minta maaf, kau dengar itu! " Keken mencium kening istrinya yang masih sesenggukan karena menangis.
" Jangan pernah meminta pisah dariku karena aku tidak bisa tanpamu, hatiku sangat sakit saat kamu mengatakan hal tadi. Aku tidak tahu kenapa tapi satu hal yang pasti aku menyayangimu. Aku menyayangimu walaupun baru sedikit Farah, kau dengar itu. "Keken kian merengkuh tubuh istrinya agar tenang dan tidak banyak menangis.
__ADS_1
Namun dengan ranjang yang sempit dan suasana yang mendukung Keken justru berpikiran mesum, ingin sekali ia menyentuh istrinya.
Sedangkan Kenzi, saat ini pun terbangun karena berdekatan dengan Farah yang begitu intens.