Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 21


__ADS_3

"Bagaimana rasanya?" Farah mengigit bibir bawahnya, ia pun sengaja berdiri di sisi Inha untuk mendengarkan bagaimana rasa masakannya. Ada rasa gugup dan takut jika masakannya tidak sesuai dengan keinginan sang nona.


Inha tak kunjung memberi tanggapan, ia mencicipi satu persatu masakan Farah. Keken yang duduk berhadapan dengan Farah hanya bisa menahan senyum karena melihat wajah Farah yang terlihat lucu dan risau karena sang adik tak kunjung bersuara.


"Kamu pergilah ke dapur." perintah Keken.


"Tapi...." Farah menundukan kepala, ia benar - benar penasaran dengan penilaian seorang nona Inha tentang rasa masakannya.


" Ayo Farah." Pak Amin mendelik kearah Farah, ia tahu kebiasaan nona Inha yang tidak ingin diganggu saat makan. Farah hanya bisa masuk ke dapur dengan wajah menunduk.


"Kita perlu bicara mas." ucap Inha setelah Farah menghilang dari hadapannya.


"Tentang?"


" Jangan pura-pura b*doh, aku tahu mas tahu apa yang akan kita bahas!"


"Kamu memang pantas jadi anak mommy Imel, auramu sama mengerikan seperti dia" Keken menggulum senyum, Inha yang sering diasuh ibunya kini menuruni sifatnya. Tegas, pintar dan tidak suka basa - basi.


"Terkadang aku heran, sebenarnya anak dari Ratu Medusa aku atau kamu." Keken tersenyum sembari menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Mas, dia ibumu. Kamu itu selalu seperti itu!"


" Haha, dengarkan aku. Tanpa aku bicara dengan Ratu Medusa, dia pasti sudah tahu ada Farah disini, bukankah Amin itu Cctv berjalan untuknya." Keken melirik Amin yang sedang membersihkan dapur.


" Dan gadis itu hanya sementara bekerja disini, aku tidak ada feeling dengannya. Dia terlalu naif dan b*doh. "


" Benarkah?!" Inha seolah tidak percaya dengan perkataan Keken," Bukankah mas suka gadis yang b*doh hingga bisa kau bohongi." sindir Inha


Keken tergelak tawa." Emang susah kalau bicara dengan titisan Ratu Medusa,aku nggak bakalan menang. "


" Selama aku makan tadi, kulihat mas curi - curi pandang dengannya. Yakin nggak ada feeling?"


"Sok tahu! siapa juga yang suka dengan gadis gendeng itu!" elak Keken


" Tapi sayangnya gadis itu sepertinya sudah bertunangan." Inha sempat melihat cincin yang melingkar di jari manis Farah saat menyajikan makanan tadi.


" Dan sepertinya gadis manis itu tidak ada feeling denganmu, dia sama sekali tidak terpesona dengan seorang pangeran modosa, tidak silau dengan kemewahan kamu mas, gadis yang cukup unik ." jelas Inha

__ADS_1


"Kamu memang pintar tanpa aku beritahu kamu sudah tahu kalau gadis itu sudah bertunangan." Keken memuji kepintaran Inha, mata gadis itu begitu jeli dan mampu membaca situasi.


" Farah! " panggil Inha


Farah dengan cepat menghampiri nona muda yang baru saja mencicipi makanannya.


" Iya nona, bagaimana dengan masakanku? " Farah masih kekeh ingin tahu penilaian dari Inha


" Apa kau begitu penasaran dengan penilaianku."


Farah menganggukan kepala.


"Kau memang tidak mudah menyerah." cebik Inha, "Masakanmu enak untuk yang Indonesian food tapi tidak dengan macaroni scotel. Kurang enak, aku tidak suka."


" Aku suka dengan rasa capcay dan sambalnya, Terima kasih." Inha selalu mengapresiasi seseorang yang sudah memasak untuknya walaupun hanya dengan ucapan terima kasih.


" Nona, boleh aku bertanya? "


" Apa? "


" Bukankah kita pernah bertemu, saat aku hampir menabrak mobilmu. Saat itu anda bersama seorang pria tampan dan baik hati." Farah mulai ingat bahwa dia pernah bertemu dengannya.


"Tapi aku yakin itu anda nona." kekeh Farah


"Oh mungkin kamu bertemu dengan si cerewet Inka, dia kembaranku."


"Jadi nona kembar, wahh.. luar biasa.Lalu pria baik itu siapa ya? Ciri-cirinya dia tinggi, putih, suka tersenyum dan bercanda dan dia tampan seperti pangeran."


"Memangnya ada pria tampan selain aku." potong Keken, ia merasa tidak suka Farah berlebihan memuji pria itu.


"Ada, pria itu lebih tampan dan lebih baik darimu Ken. Dia mendorong motorku tanpa mengeluh,beda denganmu kalau kamu pasti sudah mengomel." Farah keceplosan, ia menutup mulutnya seperti biasa, Farah lupa bahwa saat ini ada nona Inha yang mengawasinya dan selalu menatapnya dengan penuh selidik.


" Farah, kau terlalu jujur. " Inha tertawa untuk pertama kalinya. Sedangkan Keken menekuk wajahnya.


" Terima kasih nona atas pujian anda dan terima kasih juga ternyata masakanku tidak terlalu buruk. "Farah bernafas lega karena nona Inha memuji masakannya. Farah tersenyum lebar, senyuman yang tidak pernah sekalipun ia tunjukan pada Keken. Senyuman yang teramat manis hingga siapapun yang melihatnya akan meleleh dan terpesona.


" Deg. " Hati Keken mulai bergetar saat melihat senyuman dari Farah. Senyuman mematikan. Keken membuang wajahnya ke arah lain dan pura-pura sibuk dengan ponselnya, ia tidak ingin ketahuan oleh Inha, titisan si Ratu Medusa.

__ADS_1


" Nona, bolehkah saya belajar memasak darimu. Aku mendengar dari pak Amin, nona seorang chef handal di restoran D& R."


" Kamu juga chef, kenapa harus belajar denganku."


"Aku hanya chef amatir, aku hanya belajar secara otodidak. Aku ingin belajar darimu, bisakah kau mengajariku."


" Kalau aku ada waktu, aku akan mengajarimu tapi jawab satu pertanyaanku. Apa alasanmu menjadi chef?" tanya Inha


"Karena dengan memasak aku merasa dekat dengan ibuku.Aku merasa ibu hadir disisiku dan dengan menjadi chef aku bisa bertahan hidup."


"Memangnya ibumu kemana?" tanya Inha


"Ibuku sudah lama meninggal karena kebakaran, saat itu umurku lima tahun. Dulu aku suka membantu ibu di dapur dan ternyata dengan keahlianku ini aku bisa bertahan hidup." Farah tersenyum saat menceritakan kenangan pahit bersama ibunya. Tidak ada tetesan airmata yang jatuh di pelupuk matanya. Farah terlihat tegar meskipun ada raut kesedihan yang seolah masih membelenggu dirinya. Ucapan ibu tirinya kembali terniang, julukan anak pembawa sial yang selalu berdenging di telinganya saat sang ibu tiri itu marah dan memaki dirinya.


"Maaf, aku tidak bermaksud__" ucap Inha dengan menyesal, kalimatnya terpotong karena Farah


"Tidak apa-apa non, tidak perlu merasa bersalah. Dan aku tidak perlu dikasihani, aku masih bisa bangkit dan berdiri disini." Farah kembali tersenyum lebar


"Kalau kau ada waktu, datanglah ke restoran ini." Inha tersenyum sembari memberikan sebuah kartu nama.


"Ingat! Jangan sembarangan memberi nomer ponselku pada orang lain.Aku tidak suka!" tegas Inha, ia tidak suka ada orang lain yang selalu menelepon dan mengganggunya.


"Siap nona." mata Farah berbinar dan terlihat begitu bahagia saat menerima kartu nama Inha.


"Kau pulanglah, sudah malam." Inha melihat jam tangannya.


"Baik nona, terimakasih." Farah menundukan kepala dengan hormat.


"Biar aku antar, di luar hujan." Keken tidak tega melihat Farah kehujanan dengan naik motor.


" Tidak perlu Den, saya bisa pulang sendiri." tolak Farah


" Diluar hujan, kau ingin basah kuyup." Keken sedikit kesal karena Farah menolak kebaikannya.


" Di bagasi motor sudah tersedia jas hujan Den Keken tidak perlu mengantar saya."


" Saya permisi dulu Den, Non. " Farah pergi dengan tergesa-gesa agar tidak terlalu malam sampai ke rumah.

__ADS_1


" Ya ampun, kasihan sekali kakakku ditolak seorang gadis. Menyedihkan, hahahaha. "Inha tergelak tawa sembari memukul bahu Keken, seolah memberi kekuatan agar lebih bersabar.


__ADS_2