
Pagihari,
Farah tidak diperbolehkan untuk memasak oleh mertuanya karena sebentar lagi asisten rumah tangga akan datang membawakan makanan.
Dan benar saja satu jam kemudian, Ia begitu tercengang tatkala ruang tamunya kini berisi banyak makanan bahkan beberapa kantong plastik berisi cemilan.
" Mommy, kita cuma bertiga kenapa membawa makanan sebanyak ini." Keken menghembuskan nafas panjangnya. Kini ruang tamu nya terasa semakin sempit karena ulah mommy nya yang membawa makanan yang begitu banyak.
"Mommy, ini makanan banyak sekali dan bisa untuk satu kampung mih. Bagaimana cara kita menghabiskan nya." Farah tercengang
"Mommy kita cuma berdua, kenapa banyak cemilan dan bahan makanan. Seperti mau buka toko aja." dengus Keken lagi
"Ya sudah bawa orang - orang kampung kemari, kita makan bersama." Imelda
"HAH...!!" kedua sepasang suami istri itu terkesiap dan saling memandang. Mereka benar-benar tidak menyangka mommy mau makan bersama orang-orang kampung.
"Mommy jangan bercanda, ini tidak lucu!" Keken tahu ibunya tidak suka dengan keramaian orang apalagi berbaur dengan masyarakat umum.
"Siapa juga yang bercanda, apa mommy terlihat sedang bergurau." Dengan melihat tatapan ibunya Keken tahu bahwa saat ini ibunya memang sedang serius.
"Oke, aku woro-woro orang sekitar ya." Keken beranjak dari tempatnya.
"Tidak perlu karena para pengawal sedang mengundang semua warga."
"HAH...!!" lagi-lagi mereka tercengang dengan tindakan ibunya lagi.
"Mih, mommy sehat kan? Waras kan mih?" Keken mendekati ibunya dan mengecek suhu tubuhnya dengan menyentuh dahi sang ibu.
"Kamu pikir mommy gila!" ketus Imelda sembari menepis tangan Keken dari dahinya. "Mommy masih waras, Ken!"
__ADS_1
"Mommy tidak kesambet setan kontrakan kan?" tanyanya lagi. Dan Keken mendapat cubitan bertubi-tubi dari mommy nya.
"Setan kontrakan takut sama mommy, mana berani dia!" ketus Imelda dan Farah hanya menahan senyum, ibu mertuanya tidak semenakutkan apa yang terlihat dari luar. Ia masih bisa diajak bercanda.
"Mommy kalau ngomong memang selalu jujur, iya ya mih setan aja takut dengan mata laser mommy." Keken terkekeh
Dan benar saja para warga datang dan mengambil makanan yang telah disiapkan oleh asisten Imelda. Mereka berbaris antri di depan rumah. Asisten ibunya menyulap teras Farah dengan hiasan dan meja yang berjejer diatasnya di tutup dengan kain penutup meja dan terlihat nasi serta banyak lauk pauk seperti ayam, ikan, daging, sayur dan beberapa buah bahkan terlihat meriah seperti acara hajatan. Mereka menyajikan secara prasmanan.
" Makasih ya mba Farah, semoga langgeng terus sama mas Keken." ucap salah seorang warga
"Makasih mas Keken, makanannya enak banget."
"Makasih ya Farah, hari ini aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan."
"Alhamdulillah, hari ini mpok bisa makan enak. Semoga sering-sering traktir begini ya Far."
Itulah ucapan dan do'a yang mengalir dari sebagian warga yang datang hingga membuat Farah dan Keken saling menatap dan salah tingkah. Dan beberapa warga bertanya tentang acara hari ini, sang mommy hanya berkata bahwa acara ini syukuran pernikahan anaknya.
Setelah acara selesai, Farah kini duduk di depan televisi sembari memijit kakinya. Seharian berdiri membuat kakinya pegal.
" Kamu capek, sayang?"tanya Imelda saat melihat menantunya kelelahan.
" Cuma pegel mih ini kaki Farah, padahal cuma berdiri dan tidak ngapa-ngapain tapi kok capek ya mih. " Farah bahkan tidak diperbolehkan membereskan sisa makanan. Ia hanya berdiri dan terkadang duduk bercanda bersama warga.
"Karena kehamilan kamu semakin membesar jadi kamu mulai kelelahan. Mulai sekarang mommy minta kamu tidak perlu bekerja apalagi berjualan,biarkan Keken yang mencari nafkah untukmu dan anak ini." Imelda mengelus perut Farah dengan lembut, calon cucunya. Dulu ia seperti Farah yang sering kelelahan apalagi saat itu usia dia hampir menginjak umur empat puluh tahun, sangat rentan dalam kehamilan.
" Mih, aku bosan jika harus berdiam diri. Apalagi Keken selalu pulang tidak menentu, kadang pulang kadang tidak." Farah menundukkan kepala
"Mommy tahu, maka dari itu mommy akan berusaha agar Keken masuk ke perusahaan agar dia bisa pulang tepat waktu dan menjaga kamu. Mommy minta kamu segera pindah dari sini, rumah ini tidak layak untuk cucu mommy."
__ADS_1
"Tapi mih." Farah masih berat hati jika harus meninggalkan tempat ini, tempat dimana dia hidup dari nol tanpa bantuan keluarga.
"Jika kamu cinta dengan Keken lakukan perintah mommy ini." ucap Imelda dan itu membuat hati Farah nyeri. Bahkan, saat ini dia tidak tahu dengan perasaan nya sendiri. Pertengkaran dan pertengkaran sering mereka lakukan, ia bahkan sering mencaci maki Keken.
"Ah, sepertinya aku bukan istri yang baik." gumam Farah dalam hati.
"Kok bengong?" Imelda melihat menantunya hanya diam dan melamun.
"Tidak ada apa-apa mih, Farah hanya lelah dan mengantuk." Farah pura-pura menguap dan mengucek matanya, padahal ia sedikit merasa bersalah karena belum bisa memperlakukan Keken dengan baik dan terkadang selalu marah dan kesal tanpa alasan yang jelas.
" Keken masih ingin tinggal disini. "Kali ini Keken yang bicara, ia keluar dari pintu kamar mandi dengan wajah segarnya. Farah sempat terpana dengan suaminya sendiri karena Keken selalu bersih dan wangi apalagi bulir- bulir air yang tersisa setelah mandi menambah nilai plus ketampanan pria itu. Rambutnya basah hingga aroma sampo tercium dari indera penciuman Farah. Ia menelan salivanya dan mengelus perutnya yang kembali berdenyut. Ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat melihat Keken begitu segar dan menarik.
" Aku pasti sudah gila, kenapa aku selalu ingin mendekati Keken." gumam Farah dalam hati. Ia menepis perasaannya, entah kenapa semakin hari dirinya selalu ingin dekat bersama Keken apalagi setelah pertengkaran itu terjadi hati kecilnya selalu nyeri saat Keken pergi meninggalkan nya selama dua hari.
" Keken beneran masih ingin tinggal disini mih, jika kandungan Farah sudah menginjak delapan bulan baru kita pindah ke mansion mommy agar disaat melahirkan, Farah ada yang menjaganya tidak sendirian."
Bahkan disaat seperti ini Keken masih membelanya, dan memperhatikan dia disaat persalinan nanti. Farah berkaca-kaca dan membuang wajahnya kearah lain.
" Ya sudah terserah kamu saja gimana baiknya, yang terpenting Farah dan cucu mommy sehat dan selamat." ucap Imelda sembari membereskan perlengkapannya, ia berkemas karena hari sudah malam dan acara menginap di rumah kontrakan Farah telah selesai.
"Mommy pulang dulu. Kalian baik-baik disini." pamitnya
"Biar Keken antar." Keken dengan cepat beranjak dari duduknya dan mengambil jaket.
"Kamu lupa mommy siapa! Pengawal mommy diluar."
Keken hanya tersenyum.
"Memangnya kalau kamu anterin mommy mau pakai apa? Mobil saja tidak ada." cibir nya, " Masa mau pakai motor sih, tidak level!" Imelda selalu menutupi perasaannya, jauh dari lubuk hati ia merasa bahagia karena Keken ada perubahan dan mau bersikap manis untuk mengantarnya pulang, tidak seperti dulu anaknya selalu tidak peduli karena Keken yakin ibunya akan baik-baik saja dengan diantar para pengawal.
__ADS_1
" Lupa mih, ternyata Keken sudah miskin." Keken menepuk jidatnya sendiri sembari meringis menahan malu.