
Farah bersiap-siap akan menjemput kedua adiknya. Matanya masih terlihat sembab hingga dengan cepat ia menutupinya dengan conceler dan bedak yang sedikit tebal.
Sejak semalam Farah menelepon Aisyah, entah kenapa dia sangat merindukan gadis kecil itu. Farah ingin mengajak kedua adiknya jalan - jalan di mall dan menonton film animasi yang sedang diputar dalam bioskop.
Farah mencoba untuk kuat, setelah kemarin berpisah dengan Hilman, kini hatinya terasa lega. Beban yang menganjal kini mulai terangkat, ia tidak perlu berbohong. Dan sekarang ia naik ojek dan menunggu kedua adiknya di sudut jalan.
"Kakak...!!" teriak Aisyah, ia berlari kearah Farah dan memeluknya.
"Pelan-pelan nanti jatuh." Farah mengusap rambut adiknya dengan lembut, aroma sampo masih tercium darinya. Sangat menyegarkan.
" Fadil mana?" tanyanya
"Kak Fadil masih dirumah, tadi ibu menyuruh kak Fadil beli makanan jadi Aisyah disuruh pergi duluan." ucap Aisyah
" Bapak lagi ngapain?" tanyanya lagi, Farah sudah lama tidak bertemu ayahnya dan ingin sekali dia mengembalikan kartu atm bapaknya namun belum ada kesempatan. Jika bertemu di rumah pasti akan ada ibu tirinya yang menyebalkan itu.
" Ayah sedang duduk di teras tadi, Aisyah udah pamit ke ayah kok kalau mau pergi sama kakak. Tapi Aisyah bilang jangan bilang ke ibu dan ayah mengiyakan kak" Aisyah mengerucutkan bibirnya, ia terpaksa berbohong pada sang ibu agar tidak kena omel.
" Kak, hari ini bapak terlihat sangat murung dan sedih. Tapi saat ditanya Ais, bapak hanya tersenyum lalu diam tidak tahu kenapa."
Farah hanya tersenyum saat mendengar adiknya bercerita namun dalam hatinya ia ikut bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh sang ayah.
" Mungkin bapak capek kerja, Ais kalau lihat bapak capek jangan lupa bikin minuman teh hangat agar bapak merasa sedikit baikan."
"Udah kak, Ais udah pijitin bapak juga kok. Katanya Ais anak bapak paling nurut dan berbakti." ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang berlubang
"Ini gigi apa jalan desa kok banyak lobangnya." kelakar Farah sembari menyentuh dagu adiknya
"Ahh, kak Farah rese!" Aisyah pundung
"Kakak!!" teriak Fadil dari jauh, ia berlari dengan cepat dan ngos-ngosan
"Pelan-pelan, nggak usah lari. Kakak pasti nunggu kamu kok." Farah membuka tas selempangnya dan memberikan botol air mineral pada adiknya
"Takut ketinggalan, tadi langsung cabut pumpung ibu lagi pergi ke rumah tetangga." Fadil mencoba mengatur nafasnya yang berlarian
"Dil, ada yang lagi pundung, sepertinya dia tidak mau ikut kita." Farah melirik adik kecilnya, dan Fadil mengerti arah mata kakaknya.
"Nanti tinggalin aja di angkot biar dibawa pak sopir." goda Fadil
"Kak Fadil , ishhh..." Aisyah kian cemberut dan memukul ringan lengan Fadil
"Ayo kita berangkat." ajak Farah
Di perjalanan Farah tidak menggunakan angkot, dia menggunakan moda transportasi busway agar lebih efisien waktu, mengingat daerah Jekardah yang begitu macet.
__ADS_1
Mereka masuk ke kawasan mall mewah di Jakarta Pusat, tidak seperti biasanya kali ini Farah ingin sekali berkeliling dan makan di tempat ini.
"Kak, kakak tidak salah pilih tempat? Kata temen Fadil, disini sangat mahal makanannya." bisiknya di telinga Farah
" Tidak apa-apa, kakak memang lagi pengen kesini." Farah pun merasa heran kenapa ia sangat ingin datang ke mall ini padahal harga barang dan makanan di tempat ini terbilang sangat mahal.
" Kak, makan di indomerit saja yang murah. Disana juga jual kopi - kopian, roti, sosis juga ada. Kalau kesini nanti uang kakak habis." bisik Fadil, ia masih bersikeras untuk keluar dari tempat ini.
"Tidak apa-apa, kamu tenang saja." Farah menggandeng kedua adiknya masuk ke dalam sebuah toko buku yang sekaligus menjual peralatan sekolah.
"Aisyah mau beli apa?" tanyanya
" Beli tas, boleh?"
"Boleh, yang mana?" Farah mengikuti arah adiknya yang kini menuju tempat rak yang berisi tas.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan bertanya tentang apa kebutuhannya.
"Ada yang bisa kami bantu?" ucapnya dengan sopan, namun mata pelayan itu melihat mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki dan menahan senyum seolah sedang mengejek. Ya, saat ini mereka hanya menggunakan sandal dan sepatu ala kadarnya, tidak bermerk namun masih terlihat bersih dan layak dipakai.
"Tas yang itu." Aisyah menujuk sebuah tas berwarna pink dengan gambar unicorn yang terletak di bagian atas.
"Tunggu sebentar, saya ambilkan." Pelayan itu dengan malas mengambil stik kayu yang biasa dipergunakan untuk menurunkan barang dari atas.
"Ini sangat bagus kak, Ais ingin ini." mata gadis cilik itu begitu berbinar melihat tas kesukaannya.
Ia mengucek kedua matanya dan mencoba menghitung barisan angka yang terlihat begitu sangat rapat,bergantian melihat kearah karyawan dan kearah label harga.
"Du... dua juta." Farah tergagap
"Iya benar nona." jawab sang pelayan toko.
"Nanti saja belinya, kamu kan sudah punya tas di rumah." Fadil menarik tangan adiknya agar segera menaruh tas dan pergi dari toko itu. Mendengar harga tas yang begitu fantastis membuat dirinya merinding, sebagus apa tas itu hingga harganya begitu mahal. Jika dihitung - hitung,ia bisa dapatkan dua puluh tas bahkan lebih jika membeli tas yang mirip seperti itu di pasar.
"Tapi aku suka kak." Aisyah pundung kembali, bibirnya mulai mengerucut
" Jadi beli tidak?!" tanya pelayan itu dengan sedikit ketus
" Jangan ka, itu terlalu mahal. Kita beli di pasar saja." bisik Fadil di telinga kakaknya.
Farah hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya. Tas yang Aisyah mau terbilang mahal dan memang sesuai dengan kualitas bahannya. Dua juta rupiah hanya untuk membeli tas sekolah, harga yang sangat mencekik leher Farah namun untuk Aisyah, dia tidak akan sungkan mengeluarkan uang.
"Tabunganku masih banyak, untung saja uang pesangon dari restoran sudah ditransfer." gumam nya dalam hati.
"Aku beli itu." jawab Farah, "Fadil, kamu ambil mana yang kamu inginkan.buku, peralatan sekolah mana saja yang kamu perlukan, ambillah."
__ADS_1
" Tidak perlu! Peralatan sekolah Fadil masih banyak." namun matanya melotot kearah Aisyah karena kesal. Fadil mengerti bagaimana kakaknya banting tulang untuk mereka dan kali ini Fadil tidak ingin merepotkan kakaknya.
" Ayo, ambilah. "bujuk Farah
" Fadil tidak mau, kalaupun butuh buku Fadil bisa beli di warung kelontong milik abah Husen. Disana kalau uangnya kurang juga bisa ngutang nggak kayak disini serba mahal. "lirihnya di telinga Farah dan disambut dengan tawa Farah yang begitu renyah. Adiknya memang apa adanya dan ceplas ceplos.
Setelah mereka membayar, Farah mengajak mereka ke toko sepatu. Ia membeli dua pasang sepatu sekolah untuk kedua adiknya, sedangkan dia membeli sandal dengan heels tiga sentimeter. Sandal yang cukup nyaman untuk ibu hamil, sandal keluaran terbaru dengan harga yang lumayan menguras dompet bagi Farah. Setelah selesai membeli sepatu, mereka berjalan ke sebuah restoran Jepang. Entah mengapa ia menginginkan sushi dan ramen. Dulu Farah pernah makan makanan Jepang karena ditraktir mba Riri yang waktu itu merayakan hari ulang tahun,itupun tiga tahun yang lalu. Dan hari ini dia menginginkannya.
Sejak tadi perut Farah terasa sakit seperti kram. Beberapa kali berdenyut kencang namun Farah tidak memperdulikan, ia hanya fokus menyenangkan kedua adiknya.
"Memangnya masakan Jepang enak, kak?" tanya Aisyah
"Enak."
" Lebih enak mana sama baso bang Ali." Langganan baso Aisyah yang terletak didekat pasar.
"Ya bedalah Ais, masa masakan jepang disamakan dengan baso. Itu sangat berbeda!" sela Fadil. Mereka berjalan mencari gerai sushi.
"Emangnya kak Fadil pernah makan sushi, kok tahu itu berbeda?" Fadil hanya bisa menelan salivanya, ia hanya pernah melihat tayangan makanan jepang namun belum pernah sekalipun mencicipinya.
"Tidak pernah." Ia merasa malu dan membuang wajahnya kearah lain. Dan disaat bersamaan ia melihat seorang pria yang tidak asing. Wajahnya mirip dengan teman kakaknya yang pernah diajak bertemu di sudut gang rumah.
" Kak Farah." Fadil menepuk bahu kakaknya.
" Bukankah pria itu teman kakak saat kita ketemuan di gang dekat rumah?"
Farah menoleh kebelakang, ia sempat mundur dua langkah karena terkejut. Melihat Keken untuk pertama kalinya setelah hampir dua bulan pergi ke kota lain. Perut Farah kembali berdenyut keras seolah memberi tanda bahwa ia telah bertemu sang ayah. Ia melihat Keken bersama tiga pria lainnya, tak seperti biasanya Keken terlihat rapi dengan jas dan mimik wajah yang serius. Ia terlihat tampan.
Farah mencoba menyungingkan senyum dan ingin menyapa namun perutnya kembali berdenyut keras.
" Ishh..." Farah memegang perutnya,
" Sepertinya kamu tahu kalau ayahmu disini dan kamu ingin menyapanya Nak!" gumam Farah dalam hati, ia mengelus perutnya kembali.
Semakin mendekat dada Farah semakin bergemuruh, tak menyangka akan bertemu dengan pria yang menghamilinya. Saat Farah memperhatikan lebih dekat, pria itu terlihat kurus, wajahnya sedikit tirus, rambut sedikit gondrong dan berkumis tipis tidak seperti dua bulan yang lalu yang selalu terlihat rapi tanpa kumis.
Farah begitu kecewa saat pria itu melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Seolah tidak mengenal. Matanya mengekori kemanapun pria itu pergi hingga punggungnya tak terlihat lagi.
"Kak, dia teman kakak kan? Kok tidak menyapa?" tanya Fadil, ia melirik kakaknya yang sempat melamun dan melihat pria itu pergi.
"Mungkin dia sibuk." jawab Farah, namun matanya tak bisa menutupi rasa sedihnya. Farah sedikit berkaca-kaca.
"Kalau makan baso saja gimana, kakak sudah tidak selera makan sushi." ucap Farah
"Oke!" Aisyah begitu semangat mendengar kata baso. " Tapi baso mang Ali ya kak, Aisyah mau itu." pintanya
__ADS_1
"Iya." Farah mencoba tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Dan Fadil tak bisa dibohongi, ia seolah mengerti bahwa sang kakak sedih setelah melihat pria itu.