Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 80


__ADS_3

Farah menatap tajam pada pria yang kini duduk di dekatnya. Ia merasa risih saat Keken menatapnya dan selalu tersenyum.


"Dia pikir dengan senyum seperti itu aku akan luluh padanya, jangan harap!" ucap Farah dalam hati. Ia membuang wajahnya kearah lain dengan kesal.


"Ayo kita ke dokter. Ken, tolong bantu Farah untuk duduk di kursi roda." pinta Imelda. Kali ini mereka akan masuk ke ruang obgyn untuk memeriksa kehamilan Farah.


" Tidak usah mih,aku bisa sendiri." Farah bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan tidak mau Keken membantunya.


"Kau panggil mommy aku dengan sebutan mommy? Sedekat itukah kalian." Keken seolah tidak percaya, Farah dan ibunya begitu dekat hingga dengan mudahnya Farah memanggilnya dengan sebutan mommy. Tidak mudah bagi orang lain memanggilnya dengan sebutan mommy karena Imelda terlihat dingin dan tidak tersentuh.


" Dengan kau memanggilnya mommy, apa kau sudah memaafkanku dan kita akan menikah?" tanya Keken lagi


"Tidak akan!" Farah kembali menatapnya dengan tajam. " Aku lebih baik sendiri daripada harus menikah denganmu!"


Farah bergegas menggandeng tangan Imelda, ia tidak peduli sang nyonya akan marah padanya karena begitu lancang menyentuh tangannya.


Mommy memberi kode agar Keken tetap diam dan tidak membuat emosi Farah kian meluap dan tibalah mereka masuk ke dalam ruangan di bagian kandungan.


"Nyonya Farah." seru sang perawat. Farah masuk ditemani oleh Imelda dan Keken


" Silakan berbaring." pinta dokter Ifa.


" Sudah lama tidak bertemu mba." sapa Ifa, ibunda dari Khaffi. " Masih seperti dulu cantiknya tidak termakan usia."


" Sudahlah, tidak perlu basa - basi cepat kau periksa menantuku. Aku ingin melihat calon cucuku."


" Oh ya ampun, kau masih saja seperti itu, ketus dan menyeramkan. " sindir Ifa, ia sudah paham dengan sifat dan karakter Imelda yang selalu to the point.


"Kamu itu yang menyebalkan, sudah kaya masih saja bekerja di rumah sakit kecil ini. Uangmu sudah banyak dan tidak akan habis untuk anak cucumu, sudah seharusnya kamu istirahat di rumah dan menikmati hidup apa kau ingin selamanya menjadi penghuni rumah sakit ini?" Imelda menyindir dengan gayanya yang khas. Baginya rumah sakit adalah tempat yang mengerikan karena terdapat berbagai macam penyakit dan virus yang mudah menyerang manusia. Tidak semua orang menyukai tempat ini.


" Aku mencintai pekerjaanku. "balas Ifa


" Tapi kau sudah tua, alangkah baiknya digantikan dengan dokter muda yang lebih cantik dan menyegarkan mata. "


" Hahaha... "Ifa tertawa," Yang tua lebih berpengalaman daripada yang muda, mbak. Kau ini selalu menyebalkan saat bicara. Tunggu, kapan Kendrew menikah? Kenapa dia sudah memiliki istri yang sedang hamil? Khaffi tidak pernah mengatakan apapun padaku. "


Keken hanya mengusap wajahnya, bingung apa yang harus ia katakan.

__ADS_1


" Ifa.. "Imelda menatap tidak suka seolah memberi tanda agar tidak banyak bicara.


" Oke, Sorry. " Ifa dengan cepat meletakan alat pada perut Farah yang telah diolesi gel.


" Istrinya Keken cantik juga, hitam manis. "Ifa menatap Farah dari jarak dekat sembari menggerakkan alat itu.


" Saya bukan istrinya Keken dok. "ucap Farah


" Loh, kok bisa? " Ifa semakin bingung. Ia menatap Keken dan Farah secara bergantian


" Saya memang belum menjadi suaminya tan, tapi saya ayah dari anak yang dikandungnya. "jelas Keken, mau tak mau ia harus memperjelas statusnya.


Ifa hanya menghela nafas panjangnya, tanpa bertanya lagi ia tahu apa yang sebenarnya terjadi karena hal ini sudah terbiasa terjadi saat pemeriksaan kehamilan.


Namun saat pemeriksaan berlangsung, terdengar suara pria yang masuk ke dalam ruangan Ifa.


"Aku datang." kepala Feri menyembul dari luar dan melihat keluarganya sedang bersama Ifa.


"Ngapain kesini?" tanya Imelda


"Mau lihat calon cucuku." Feri tersenyum memperlihatkan baris giginya.


" Iya opah, aku ingin bertemu opah." Feri menjawab secara monolog, dengan suara seperti anak kecil.


"Lah, belum jadi opah sudah stres." kelakar Ifa sembari tertawa


Ifa menerangkan bahwa bayi di dalam kandungan Farah sehat, usia kehamilannya sembilan minggu. Dan perlu diingat bahwa di awal kehamilan sangat rentan dengan keguguran maka dari itu Ifa menyarankan agar Farah lebih menjaga kehamilan, minum vitamin dan makan - makanan yang sehat.


" Hindari stres, jangan terlalu banyak pikiran karena itu akan berakibat fatal,kurangi pekerjaan yang berat dan untuk sementara waktu lebih baik bedrest."


Ifa menuliskan resep untuk vitamin dan penguat kandungan Farah.


"Ini resep dan foto USG nya." Ia menyerahkan secarik keras pada Keken dan sebuah foto.


"Ditunggu undangannya." goda Ifa lagi


"Ah tante, aku jadi malu." Keken menggulum senyum.

__ADS_1


" Mommy, lihat ini foto anakku mom. Aku bahagia sekali." wajah Keken begitu bersinar saat melihat sebuah foto yang menampilkan calon bayinya yang masih berukuran sebesar biji kacang. Imelda juga bahagia saat melihat anaknya begitu antusias akan memiliki anak.


"Farah, ini anak kita." ucapnya sembari melihat kearah Farah. Namun, gadis itu hanya melengos seolah tidak peduli.


"Tenang saja, kamu pasti akan kami undang Fa. Calon mantuku begitu cantik masa tidak aku pamerkan." Feri mencoba menghidupkan suasana yang sedikit kaku. Ia tertawa lagi.


"Ifa, aku tidak akan kalah denganmu .Sebentar lagi aku akan punya cucu, akan aku pamerkan padamu dan Davian dan pastinya cucuku setampan aku." ujar Feri lagi


"Papih apaan sih! kan aku yang menanam benih, sudah pasti mirip akulah masa mirip papih." protes Keken tidak terima


" Pasti tampanlah seperti opahnya,jangan seperti Keken yang playboy. Iya kan Ifa aku tampan maksimal?" tanya Feri


"Iya, tampan banget." Ifa tidak mau ambil pusing lebih baik mengiyakan agar cepat selesai.


"Lah, aku keturunan siapa? Kalau aku playboy apalagi papih." gerutu Keken. Kedua pria itu saling sahut menyahut.


"Ifa, kau cari masalah denganku. Ingin kubeli perkebunan teh mu itu." ancam Imelda, ia merasa cemburu saat ada perempuan lain yang mengatakan kalau suaminya tampan.


"Aku juga bisa membeli restoran D & R sekarang juga." balasnya lagi, " Sudah tua masih saja cemburuan, mbak Imel sama saja seperti Davian selalu cemburu buta."


"Hei, menantuku. Kau tidak perlu bingung dengan kedua wanita tua itu. Mereka sudah terbiasa seperti ini.Ketika wanita sang penguasa sudah saling menyerang, mereka akan adu kekuatan satu sama lain." Feri membantu Farah untuk turun dari brankar. Ia melihat Farah yang terbengong saat melihat dokter dan Imelda saling berdebat.


" Pih, biarkan aku yang membantu Farah. "Keken menarik tangan ayah nya agar menjauh dari gadis itu. Keken tidak mau ayahnya mencari kesempatan dalam kesempitan.


" Ya ampun, anak ini belum apa-apa sudah cemburuan. "Feri menggulum senyum.


" Ini bagian Keken pih, sama calon mantu jangan celamitan. "bisik Keken pada ayahnya. Dan Feri tergelak tawa sembari memukul lengan anaknya.


Farah mau tak mau memegang tangan Keken karena kesulitan untuk bangkit dari brangkar.


" Fa, ruanganmu horor seperti wajah kalian berdua. "kelakar Feri dengan melihat Ifa dan Imelda secara bergantian.


" Diam kau pria tua! " seru Ifa


" Diam kau tua bangka! Mau aku usir tidur diluar, hah! " ancam Imelda


" Ampun kanjeng ratu, saya tidak bermaksud mengejek tapi ini adalah kenyataan bahwa anda mengerikan dan sudah tua,hihihi..." Feri semakin menggoda istrinya sembari memeluk, namun dibalas dengan tatapan tajam Imelda.

__ADS_1


" Sudahlah, pergi hush.. hush.. kalian memang keluarga gila. Apes banget pagi hari dapat keluarga pasien modelnya begini bikin rusuh aku saja. " Ifa mengibaskan tangannya dan menyuruh keluarga Feriansyah untuk keluar dari ruangannya.


__ADS_2