
Keken tidak mengantarkan Farah langsung ke rumahnya, ia mengajak Farah makan di warung kaki lima di pusat kota.
Farah mengiyakan permintaan Keken karena dia pun merasa lapar karena sejak pulang dari rumah sakit dia belum mengisi perutnya.
"Mau makan apa?" tanya Keken
"Terserah kamu saja, kamu mau makan apa Ken?" Farah balik bertanya
"Pengen makan kamu, hihihi..." kelakarnya sembari terkekeh. Farah hanya memutar bola matanya dengan malas.
" Apa kamu bahagia?" Keken sejak tadi melihat Farah memutar - mutar kartu sakti dengan jari tangannya dan dia sama sekali tidak memasukkan benda itu ke dalam tasnya.
"Aku bahagia, bukan karena aku mendapatkan uang dari ayahku namun, ini pertama kalinya ayah perhatian dengan diriku yang sebentar lagi akan menikah."
" Dan saat ini juga aku akan membebaskanmu dari hutang - hutangmu, kamu tidak perlu lagi mencicil dengan tenagamu. Tapi jika aku memerlukanmu, kamu harus datang membantuku. "ucap Keken lagi.
Saat Keken mencuri dengar pembicaraan Farah dan adiknya dari dalam mobil, ia merasa iba dengan gadis itu yang telah berusaha mengumpulkan uang untuk acara pernikahannya serta menyekolahkan adik-adiknya.
Keken yang selalu bergelimang harta dan permintaannya selalu dituruti orangtuanya, merasa tersentuh saat mendengar adik Farah yang terlihat sangat bahagia karena sebentar lagi mendapatkan laptop. Hanya sebuah laptop, sedangkan dia, bisa saja berganti laptop dengan sesuka hati, ia patut bersyukur.
"Kamu beneran, Ken." Farah seolah tak percaya dengan ucapan Keken
"Hmmm..."
"Alhamdulillah..." Farah tersenyum bahagia karena akhirnya dia bisa bebas dari pekerjaan double job yang membuatnya sering kelelahan.
" Jangan senang dulu, karena syaratnya hari ini traktir aku makan dan beli apapun yang aku mau."
"Oke, kali ini aku traktir kamu, apapun yang kamu ingin beli aku yang bayar. Tapi jangan yang mahal ya, uangku tinggal sedikit, hehehe..."
"Dasar gadis miskin."
"Iya, aku memang gadis miskin. Makanya jangan beli yang mahal, aku tidak mampu membayarnya." Farah tidak protes dengan hinaan Keken kali ini karena bagi Farah saat ini yang terpenting bisa melunasi hutang Keken tanpa beban dan berakhir hari ini. Farah berharap tidak bertemu lagi dengan Keken, karena dia ingat perkataan Antoni dan ingin segera mempersiapkan acara pernikahannya.
" Ken, kau kenal dengan Khaffi dimana?" Farah membuka pembicaraan lagi.
" Dia teman kecilku sekaligus adik ipar mas Raffa anak dari tante Navysah. Emang kenapa, kau suka padanya?"
"Tidak, aku hanya kagum padanya dia pria baik karena dulu pernah menolongku dan juga dia tampan serta murah senyum."
"Kalau lihat dia pakai mata ini kan, bukan mata kaki!" Keken sedikit kesal, ia menunjuk kedua matanya lalu kearah lutut kaki.
__ADS_1
"Masa Khaffi begitu saja dibilang tampan, sudah jelas lebih tampan aku daripada dia." Keken benar-benar tidak suka saat Farah memuji Khaffi dihadapannya.
"Kok kamu marah, sih!"
"Karena kamu salah menilai seseorang wajarlah kalau aku marah!" seru Keken dengan kesal
" Khaffi itu keliatannya aja polos tapi dia juga suka yang polosan." sambung Keken
" Apalagi dompet dia sepi kayak penjual yang nggak pakai penglaris. Sepi, anyeb banget dah."
" Tingkahnya nyeleneh dan sok - sok an cari gadis yang bisa menerima dia apa adanya, preett...! Hari gini mana ada gadis yang bisa menerima pria apa adanya. Yang ada mereka mencari yang ada apanya, jadi jangan munafik deh!" Keken begitu berapi-api saat menceritakan tentang Khaffi, sahabatnya.
" Maka dari itu si Khaffi suka disepelein sama gadis - gadis dan sering putus karena dia pura-pura miskin. Dompet dia memang sepi tapi sebenarnya dia kaya karena semua uang dan asetnya yang pegang ibunya. Dia tipe anak yang boros seperti Fafa maka dari itu semua di handle sama tante Ifa,emak dia.
Farah hanya membuang wajahnya, ia masih tidak ingin berdebat dengan Keken. Farah takut Keken akan berubah pikiran jika dia melawan, hingga akhirnya dia memilih diam.
" Masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan tentang dia?" tanya Keken sembari melirik kearah Farah
"Iya, iya aku percaya." Lebih baik Farah mengalah
"Good Girl..."Keken tersenyum bahagia, ia menyentuh anak rambut Farah dengan lembut.
" Apaan, sih! sentuh-sentuh sembarangan. "Farah menepis tangan Keken agar menjauh dari rambutnya
"Kita parkir disini saja, aku ingin belanja di Indomerit dan makan disebrang jalan itu." ucap Keken
"Baiklah pangeran modosa, aku siap membayar tagihanmu." Farah keluar dari mobil dan masuk ke dalam Indomerit, sedangkan Keken mengekorinya dari belakang.
Keken membeli beberapa air mineral dan makanan ringan sedangkan Farah membeli roti dan minuman. Saat Keken memilih beberapa cemilan ada beberapa gadis yang curi-curi pandang padanya, sesekali mereka mencoba mencari perhatian Keken dengan menjatuhkan beberapa barang, namun Keken hanya tersenyum manis dan itu semakin membuat para gadis itu menggilai Keken.
Penampilan Keken yang tinggi dan kekar dibalut dengan kaos casual yang membentuk tubuhnya membuat gadis-gadis itu terpesona apalagi barang yang melekat di tubuh Keken yang terlihat begitu mahal dan bermerk ,tidak semua orang memilikinya, sudah pasti bisa ditebak Keken pria kaya yang tampan.
Farah hanya memutar bola matanya dengan malas saat melihat para gadis itu senyum - senyum seperti orang gila, menganggumi ketampanan Keken. Farah tidak peduli, ia mengantri di depan kasir tanpa melihat kearah Keken yang masih sibuk tebar pesona sembari memilih cemilannya.
"Sayang, kok kamu tidak nungguin aku sih. Ini makananku jangan lupa dibayar ya." Keken merangkul mesra Farah sembari mengedipkan matanya. Ia menaruh cemilannya di keranjang Farah. Beberapa gadis yang mengaguminya kini tersenyum mengejek dan membubarkan diri. Kekaguman yang sempat terlintas tadi kini berubah saat Keken meminta wanita yang ia panggil sayang untuk membayar semua makanannya.
"Apaan sih, jangan macem - macem ya!" Farah mengibaskan tangan Keken yang menyentuh bahunya
"Sebentar saja, ini akting." bisik Keken
Beberapa gadis berbisik-bisik dan sebagian menggerutu. " Ah, cowok nggak modal minta dibayarin ceweknya."
__ADS_1
" Cuma modal dengkul." bisiknya
"Ganteng - ganteng kere! " ucap gadis lainnya
"Pasti palsu tuh barang yang dipakainya." bisik gadis lainnya
"Kagak jadi naksir, cowok pelit nggak modal.Ogah, ke laut aja." sahut lainnya
Keken hanya tersenyum, namun Farah masih menatapnya dengan tajam seolah meminta penjelasan padanya.
"Kamu apa - apaan, sih!" lirih Farah
"Lihatlah mereka! setelah tahu kalau kamu yang membayar, mereka semua membubarkan diri karena mereka berpikir kalau aku cuma modal dengkul tidak punya uang." Keken terkekeh
" Dengan cara seperti ini mereka akan pergi satu persatu tanpa kita usir." bisik Keken
" Tapi mereka tahunya aku pacarmu, jangan ngadi-ngadi deh. " kesal Farah dengan cemberut. Ia masih menggerutu karena Keken bersikap seenaknya namun pria itu seolah tidak peduli.
" Foto dulu untuk kenang-kenangan. "Keken memfoto beberapa kali saat Farah masih menekuk wajahnya.
" Senyum dong sayang. "
" Apaan sih Ken! " Farah semakin gusar karena beberapa pengunjung melihat kearah mereka. Farah menutup wajahnya agar Keken berhenti memfoto.
" Selamat datang di indomerit, apa ada membernya kak. "sapa seorang karyawan toko
" Tidak ada. "
" Baik, saya scan dulu ya. "
" Mbak, tolong ambilkan yang warna merah di belakangmu. "pinta Keken, ia menunjuk sebuah produk kond*m berwarna merah.
" Yang ini pak. " karyawan indomerit menggulum senyum saat tahu produk yang diminta Keken.
" Iya. "
" Sayang, kau suka yang mana. Produk yang ini atau yang lain nya?"tanya Keken pada Farah
" Kau suka yang model polos atau yang bergerigi?"tanyanya lagi," Ada produk baru lho, apa kau mau? " Keken semakin gila menggoda Farah
Wajah Farah merah padam menahan malu saat Keken menawarkan produk kond*m itu, beberapa orang yang sedang mengantri di belakang kembali berbisik.
__ADS_1
" Pilih yang mana, ayo sayang." goda Keken kembali
" Keken....!!! Si*lan kamu!!!" teriak Farah sembari memukulnya bertubi-tubi.