Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 91 ( Pernikahan)


__ADS_3

Seminggu kemudian,


Farah terlihat begitu cantik dengan kebaya yang mengusung adat sunda. Seperti impiannya dulu, saat ia merencanakan untuk menikah dengan Hilman, Farah dengan senang hati memilih konsep sunda di acara sakralnya. Dan konsep pernikahan sesuai dengan impiannya namun dengan pria yang berbeda.


Kebaya yang ia gunakan adalah pilihannya saat berkunjung ke rumah tante Navysah, dengan waktu yang sempit kebaya itu berhasil diselesaikan dengan baik. Kebaya dengan warna gold dengan aksen payet disekitar leher dan dada serta bagian ekor yang panjang dan menjuntai.


"Kamu terlihat cantik." Navysah melihat Farah yang sedang bercermin di kamar pengantin. Ia terlihat sedih dan bekas airmata masih tersisa di sudut matanya. Setelah acara ijab qobul terlaksana, Farah meminta ijin untuk pergi ke dalam kamar hotel.Perutnya terasa mual dan kepalanya terasa pusing karena terlalu banyak tamu yang datang. Farah ingin beristirahat sejenak.


" Melupakan seseorang memang tidak mudah, tapi sekarang kamu adalah istri dari seorang Keken. Cobalah memulai dari awal dan berusaha mencintainya."


" Anak ini pasti bahagia jika kedua orangtuanya bahagia. Jika kamu berlarut-larut dalam kesedihan, kasihan anakmu ini seolah tidak diharapkan oleh ibunya. Memang Keken salah karena sudah menghamilimu tapi bayi ini tidak pernah salah, dia suci dan bersih jadi cobalah untuk ikhlas dan menerima takdir ini. "


" Tante..., A... Aku." Farah kembali meneteskan airmata, benar apa yang dikatakan oleh tante Navysah. Ia menolak kehadiran bayi ini dan membencinya. bahkan, Farah menganggap ini semua karena Keken dan bayinya yang sudah membuat hidupnya hancur.


" Tante...." Farah kian menangis dan duduk di sisi ranjang. Memeluk Navysah seperti ibunya sendiri. Disaat orang bahagia di acara pernikahannya namun tidak bagi Farah, bapaknya tidak bisa menjadi wali karena memang bukan ayah kandungnya sehingga Farah harus dinikahkan secara wali hakim karena pamannya tidak bisa menghadiri,tante Eri yang di Bogor pun tidak bisa datang karena saat ini ia harus menjalani operasi kanker p*yudara .


"Semua akan baik-baik saja, tenanglah. Keken anak yang baik dan perhatian walaupun dia terlihat pecicilan namun sesungguhnya dia pria yang bertanggung jawab. Mommy Imelda memang terlihat galak tapi dia ibu yang baik pasti akan menyayangimu dan bayi ini. Dan jika kamu butuh sesuatu katakan pada tante. Kami semua menyayangimu. " Navysah mengelus punggung Farah dengan lembut. Setelah mendengar kisah hidup Farah dari Imelda, Navysah sedikit iba dan ia tahu kenapa Keken berani merebut wanita yang telah bertunangan ini.


"Terima kasih." Setelah menangis, Farah merasa lega. Setidaknya ia masih memiliki seseorang untuk berkeluh kesah dan mendengarkan ceritanya.


" Nanti dirias lagi biar cantik ya, jangan menangis lagi nanti bedaknya longsor kena tsunami."kelakar Navysah sembari tertawa


Farah hanya menganggukan kepala.


" Apa bayi ini merepotkan? Masih sering mual ya?"tanya Navysah sembari mengelus perut Farah


" Sekarang udah mendingan, dulu bau masakan saja sudah mual banget. Tidak mau makan nasi, mintanya roti dan sandwich. Kalau malam suka cium parfum Keken baru bisa tidur. "keluhnya

__ADS_1


" Wah, sepertinya dedek mirip ayahnya. Dulu waktu mba Imelda hamil juga suka makan roti ketimbang nasi, berantem terus sama mas Feri padahal cuma masalah sepele tapi kadang bawaan bayi juga, suka sebel sama ayahnya. "


" Sehat terus adek, nenek nungguin sampai lahir nanti bisa main bareng sama Shifa, Raya dan Rain. " Navysah mengelus perut Farah lagi, seperti biasa yang ia sering lakukan pada kedua menantunya saat hamil. Navysah selalu mengajak bicara si calon bayi.


" Terimakasih Nenek, adek akan selalu sehat dan baik-baik saja. "Farah kembali tersenyum, tak lama kemudian ia dirias kembali dan keluar menyambut tamu.


Keken yang sejak tadi menunggu Farah datang kini mulai lega karena Farah sudah menunjukkan sedikit senyuman padanya. Tidak seperti acara sebelumnya, Farah selalu diam tidak banyak bicara dan terkesan murung.


"Dan acara selanjutnya, kita sambut penyanyi dangdut yang sedang naik daun. Para hadirin kita sambut ini dia si pemilik goyangan arwah, Natata!" seru sang MC


Keken senyum - senyum melihat penyanyi dangdut yang fenomenal kini berada di acara pernikahannya, namun tidak demikian dengan Khaffi. Ia sengaja menghindar dari penyanyi aneh itu. Ia berjalan mundur hingga tidak sengaja menabrak seorang gadis.


"Yah, kamu lagi." Khaffi menghela nafas saat melihat Dini kembali.


"Dih! Siapa juga yang mau ketemu kamu lagi. Urusan kita sudah selesai, aku sudah membayar kerugian mobil jadi jangan sok akrab!" Dini berlalu begitu saja, tanpa melihat kearah Khaffi kembali


Namun saat dia akan melangkahkan kakinya, terdengar suara biduan yang kini sedang memanggilnya dari atas panggung." Abang Khaffi, sini sayang joget bareng neng Tata." panggilnya dengan suara mendesah


Khaffi menengok sembari mendelik kesal, namun matanya melirik kearah sang ibu yang kini menatapnya dengan tajam.


"Ya ampun, mama Ifa mengerikan sekali. Pasti dia berfikir aku ada hubungan dengan biduan itu." gumam Khaffi


Sebagai orang tertawa saat mendengar suara biduan yang kini sedang menggodanya dan sebagian lagi bersikap tidak peduli.


Khaffi berlari menjauh dari biduan itu dan tenggelam dikerumunan tamu yang sedang bersantap ria.


"Akang gendang, goyang bang...." desahnya.

__ADS_1


"Ta... Ta... Ta... Ta..." Ia bemutar pinggulnya dan mulai menyanyi dengan ciri khas goyang loncat-loncat ala vampir serta mengibas-ngibaskan rambut merahnya yang panjang.


"Iwak peyek, iwak peyek nasi jagung, sampe tuwek, sampe tuwek Natata tetap disanjung."


"Kutu pada terbang kutu..." teriak Khaffi saat melihat biduan itu sedang melakukan aksi panggung nya.


"Disini aku menghibur kamu, menyanyi dan bergoyang bersamamu, disini aku mengajak kamu, bergembira dan bahagia selalu, ho ho ho..."


Ia kembali bergoyang dengan gemulai.


"Nggak usah sok sexy!" teriaknya di kerumunan orang.


"Sok cantik lu!!!" teriaknya lagi, Ia melakukan ini karena kesal sang biduan selalu mengirimkan pesan setiap hari dan mengklaim dirinya sebagai pacarnya.


" Kuntilanak Merah, jelek lu!" teriaknya lagi, ia tertawa cekikikan di kerumunan orang dan bersembunyi disana.


Dan tanpa disangka sang biduan turun dari panggung dan menghampiri dirinya tanpa ia sadari hingga membuat pria itu melolong. Aku tertangkap, Si*l.pikirnya


"Abang Khaffi, ayo joget bang." Natata berusaha menggoda iman Khaffi dengan sentuhan kecil darinya.


"Si*l!!" umpat Khaffi dalam hati, " Kenapa dia turun panggung sih!" Dan Khaffi mau tak mau harus menunjukkan senyuman palsunya.


"Goyang bang.." Natata meraih tangan Khaffi dan mendekap di tubuhnya sembari bergoyang


"Ya ampun, mana tahan kalau digoyang begini. Mana tuh gunung keliatan dari sini." gumam Khaffi dalam hati, ia yang lebih tinggi dari sang biduan kini bisa melihat betapa putih dan mulusnya gunung kembar yang saling berdesakan ingin keluar.


Mau tak mau ia ikut bernyanyi agar mengalihkan pandangan matanya dari si putih. Namun ia kembali melirik sang ibu yang kini seolah ingin menerkamnya.

__ADS_1


"Oh my God!!" gumam Khaffi dalam hati.


__ADS_2