Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 56 ( Kisah dimasa lalu)


__ADS_3

Setiap hari Farah selalu mendapatkan makanan dan coklat dari Keken melalui kurir. Dan itu membuat desas desus yang berkembang di tempat kerjanya semakin parah, beberapa dari mereka mulai berbisik - bisik dan penasaran dengan pria yang memberikan makanan setiap hari untuk Farah.


"Farah selingkuh."


"Dia pacaran dengan pria lain."


" Sepertinya pria ini lebih tajir dari tunangannya.


" Bagaimana dengan pernikahan nya, kasihan Hilman selalu dibohongi. "


Suara - suara sumbang yang sering Farah dengar dari beberapa teman nya, namun ia tidak peduli dan tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi karena itu tidak penting. Farah hanya ingin fokus berkerja dan berusaha yang terbaik. Ia melakukan untuk yang terakhir kalinya sebelum dirinya mengundurkan diri.


"Ini." Farah menyodorkan makanan dan coklat pada Dini.


"Asyik!! Kalau gini terus gue bahagia karena tidak perlu keluarin duit untuk makan siang." Dini begitu sumringah mendapatkan jatah makanan dari Farah. Setiap hari selama Keken mengirimkan makanan, Farah tidak pernah memakannya,ia memberikannya pada Dini. Farah takut akan terjadi salah paham lagi hingga akhirnya dia lebih memilih untuk memberikannya pada Dini.


"Pria itu memang gila, setiap hari kirim makanan untukmu. Rejeki anak soleha, punya temen di sukai pria tajir." Dini mengunyah satu paket steak dan spaghetti yang begitu lezat baginya.


"Sudahlah kamu makan saja, anggap dia suka denganmu."


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..." Dini tersedak hingga dengan cepat meminta air minum pada Farah.


"Udah gratisan nyuruh - nyuruh lagi." sindir Farah, Dini selalu kebiasaan lupa mengambil air minum saat makan.


"Sorry deh, ini emergency."


" Perlu lu tahu ya Far, gue memang doyan makanan nya tapi gue ogah sama orangnya. Walaupun dia tajir melintir tapi liat gayanya yang sok cool dan slengean, big No!!"


"Ah, nanti juga jodoh lu modelnya kayak gitu nggak usah bilang No, nanti bisa berubah jadi yes."


"Amit-amit jangan sampai deh." ucap Dini sembari menepuk perutnya.


" Pria gila itu masih menghubungimu?"


"Tidak! Nomer nya sudah aku block."


"Bagus." ucap Dini sembari menyuap makanan ke mulutnya.


"Hilman bagaimana?"

__ADS_1


"Abang masih saja mendiamkanku, ia masih marah. Aku sudah lama pacaran dengannya jadi aku tahu persis sifat dan wataknya. Dia akan menghubungiku setelah hatinya tenang dan benar-benar ikhlas memaafkanku."


Dini hanya menganggukkan kepalanya. " Apa aku harus membungkam mulut mereka yang suka membicarakanmu di belakang. " Dini begitu kesal karena beberapa teman nya selalu bergosip tentang teman nya, ia ingin melawan mereka namun Farah selalu memintanya untuk menahan diri.


"Tidak perlu Din, biarkan mereka berfikir sesuka hati mereka, kita tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi."


"Kamu jangan terlalu baik dengan mereka! Aku tidak suka kamu lemah seperti ini." gerutu Dini


"Ini bukan masalah lemah atau tidak, mereka tidak akan mengerti tentang kita jadi percuma jika dijelaskan. Biarkan mereka bergosip, aku tidak peduli."


Dan tak lama kemudian Farah dipanggil karena ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"Farah, ada ibumu di luar." ucap salah seorang teman Farah


Dini dan Farah saling bertatapan. Ia tidak menyangka ibu tiri Farah datang ke restoran, tempat dimana Farah bekerja.


"Aneh, apa yang terjadi hingga ibunya berani datang ke restoran." pikir Dini


"Ada apa dia kesini? Kamu jangan keluar, biar aku saja." sambungnya lagi. Ia begitu geram, untuk apa ibu tiri Farah datang kemari. Dan Dini tidak mau Farah akan bersedih lagi jika bertemu dengan wanita itu.


"Aku tidak tahu." sahut Farah


Namun beberapa detik kemudian terdapat satu pesan masuk dari nomer tak dikenal.


Farah hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, ia tidak menyangka ibu tirinya akan datang dan sudah pasti ini masalah kartu atm.


"Ada apa?" tanya Dini


Farah memperlihatkan pesan adiknya.


"Ya ampun!!" seru Dini, " Ujung ujungnya pasti duit dan pertengkaran.Kamu tidak perlu mengembalikan kartu itu karena kartu itu milikmu. Itu dari ayahmu Farah, dia tidak berhak mengambilnya. Biar aku yang bicara dengannya." Dini bangkit dari tempat duduknya


" Jangan, biar aku saja yang hadapi. Ini masalah keluarga biar aku yang selesaikan. "


" Tapi Farah. "


" Kamu tenang saja, aku kuat. "Farah meminta ijin pada mba Riri untuk bertemu keluarganya.


* **

__ADS_1


" Kembalikan kartu itu. "tanpa basa - basi ibu tirinya menadahkan tangan.


" Ini milikku bukan milik ibu. " Farah duduk di kursi dekat dengan pohon rindang. Cuaca begitu terik hingga sinar matahari menembus di sela-sela ranting pohon.


" Apa kau bilang, itu milikmu! Jangan mimpi." sentak ibunya


"Ini milik ayah, dia memberikan untukku. Ayah memberiku uang untuk acara pernikahan, jadi untuk apa ibu memintanya."


"Karena itu milikku, kau tidak berhak apapun atas ayahmu. "


"Kenapa aku tidak berhak? Aku anak ayah juga dan sebentar lagi aku akan menikah dan ayah wajib menjadi wali nikahku." Farah menatap kesal pada ibu tirinya itu.


"Jangan bermimpi Farah, ayahmu tidak akan pernah jadi wali nikahmu. Itu tidak mungkin terjadi!" seru ibunya lagi


"Kenapa? kenapa ayah tidak mau jadi wali nikahku, kenapa itu tidak mungkin!" sentak Farah, ia begitu emosi mendengar ucapan dari ibunya.


"Kau mau tahu alasannya? Berikan kartu itu terlebih dahulu, setelah itu kau akan tahu kebenarannya."


Farah berkaca-kaca, tanpa ragu Farah memberikan kartu itu dengan harapan ibu tirinya akan mengungkapkan kebenaran apa yang telah terjadi.


"Ambilah."Farah melempar kartu itu tepat di wajah ibu tirinya


" Dasar anak tidak sopan! " teriak Ibu tirinya. Ia memunggut kartu dan memasukannya ke dalam tas.


" Kau ingin tahu, kenapa ayahmu tidak bisa menjadi wali nikahmu? "


" Karena dia BUKAN AYAH KANDUNGMU! " ia menekankan kalimat terakhir.


"Dia hanyalah ayah sambungmu, disaat ibumu hamil diluar nikah, ayah kandungmu kecelakaan dan ayah Ilham yang menggantikan posisi itu untuk menikahi ibumu."


Farah begitu terkejut hingga sedikit limbung. Matanya menatap netra sang ibu mencoba mencari kebohongan, namun nyatanya tidak terlihat sedikitpun. Ia benar-benar terlihat jujur.


"Kau tidak percaya dengan ucapanku?" tanyanya, " Tanyakan saja pada ayahmu itu dan keluarga dari ibu kandungmu apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu."


"Dan kau tahu kenapa aku sangat membencimu? Karena ibumu sudah merebut ayahmu dariku, ibumu yang sial*n itu selalu merebut pria yang aku cintai, kau dengar itu!" makinya lagi


"Itu tidak mungkin!" teriak Farah,


" Ini tidak mungkin." tubuh Farah bergetar hingga kakinya lemas terkulai. Airmatanya mengalir begitu deras mendengar kenyataan pahit yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kamu pasti bohong!" teriak Farah lagi, kepalanya terasa sakit, ia tidak kuat mendengar ibunya terus mengatakan kejadian yang sebenarnya.


"Terserah, jika kau tidak percaya tanyakan pada keluarga ibumu itu." Ia berlalu meninggalkan Farah begitu saja. Sedangkan Farah mencoba untuk bangun namun kakinya seolah tidak bertenaga. Ia hampir terjatuh namun disaat yang bersamaan, seorang wanita menolongnya.


__ADS_2