Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 183 (Pembalasan dari Hilman)


__ADS_3

Farah begitu kesal saat Keken memutuskan sambungan telepon nya dan berkali-kali ia menghubungi tidak pernah satupun diangkat oleh suaminya.


"Keken jahat!!!" Farah menangis meraung bahkan ia terduduk di lantai layaknya anak kecil yang tantrum, begitu sakit melihat suaminya bersama wanita itu.


"Aku mau pergi ke Bali!"


"Aku mau pergi sekarang!" serunya.


Inha hanya bisa menghela nafas panjangnya, bahkan baru saja ia menikmati makanan nya kini sudah tidak lagi berselera. Andai saja mommy tidak memintanya untuk menjaga wanita hamil ini pasti dia sudah pulang ke rumah ibunya sendiri.


" Mommy Imelda sedang pergi, kamu tidak boleh kemana - mana." ucap Inha


"Pokoknya aku mau pergi sekarang ke Bali!" Farah masih dalam mode merengek sembari menangis keras hingga membuat Inha pusing.


"Di rumah ada si Inka dan disini ada babon bunting yang sama gilanya." Inha memijit kepalanya yang sedikit pusing.


"Inha..." Farah mulai mendekat pada gadis itu, "Aku rindu Keken, aku ingin kesana." rengeknya lagi


"Tidak bisa Farah, mommy tidak mengijinkanmu kesana dan aku pun tidak bisa mengantarmu karena sibuk kuliah."


" Tolonglah aku yang hamil ini, aku rindu Keken." Ia masih merengek hingga mau tak mau Inha harus menelepon mommy Imelda.


"Baik mih, jangan terlalu dipikirkan mommy pasti lebih tahu daripada Inha." Lalu ia menutup telepon nya.


"Nanti kamu pergi kesana dengan kedua pengawal aku tidak bisa mengantarmu." Inha masih dengan mode ketus, berada di rumah mommy kali ini membuatnya stres.


" Benakah mommy mengijinkanku pergi ke Bali" Farah


"Iya, kau punya telinga kan tadi mommy mengiyakan permintaanmu." Inha sangat malas jika harus mengulang perkataan dua kali.


"Yesss... aku akan ketemu Keken." Farah berjingkrak saking senangnya.


"Kau gila ya!!" Inha mendelik pada wanita itu. "Kau sedang hamil, kau ingin keguguran." Inha mendelik kesal


"Oh ya ampun, aku lupa." Farah langsung memeluk Inha karena dia bisa bertemu suaminya.


"Terima kasih sudah membantuku, nanti jika kau butuh bantuan katakan padaku Inha." Farah memeluk dengan erat tubuh Inha hingga gadis itu tersenyum dibalik sikapnya yang ketus, ia ikut bahagia.


Farah terheran karena Inha tidak bau keringat seperti Keken juga.


"Apa, kenapa menatapku seperti itu?!" Inha melihat Farah seperti orang bingung dan menatapnya dari atas ke bawah.


"Kenapa orang kaya tidak bau keringat ya, sedangkan aku kerja kagak asem iya." keluhnya


" Mandilah, pakai parfum yang mahal dan makan makanan sehat. Kamu sih kebanyakan makan gorengan sama bawang goreng makanya bau." Seperti biasa mulut Inha tanpa filter.


" Iya aku suka gorengan apalagi kalau pakai cabe dan kecap manis. Mmm.. enak." Farah langsung membayangkan makanan kesukaannya.


" Kok aku jadi lapar. "Ia mengelus perut buncitnya. Air liurnya hampir menetes.


" Kamu itu memang tukang makan seperti Inka jadi tidak usah pura-pura nyidam. "sindirnya. Farah tergelak tawa, enak juga mengerjai Inha dan membuatnya kesal.


" Aku akan ke Bali tapi tolong jangan bilang Keken karena aku ingin memberi surprise padanya. "


" Terserah! " Inha sudah tidak mau tahu urusan Farah.


Dan benar saja besok kedua pengawal Keken sudah sampai di mansion dan Farah pun sudah siap. Mereka pergi ke bandara menuju Bali.


* **


Keken


Setelah kejadian kemarin ia mulai waspada dan berharap bisa bertemu Hilman secara langsung. Ia ingin meminta maaf atas segala kesalahan nya dan berharap Hilman akan mengakhiri rasa sakit hatinya.


Setelah pekerjaan nya selesai ia pergi ke laut. Mencari udara segar sembari melihat beberapa penduduk Bali yang sedang membersihkan pantai sanur. Beberapa hari ini ombak sedang tidak bersahabat, gelombang begitu besar dan membawa beberapa sampah dari laut.


Ia yang melihat beberapa kaleng soft drink yang terbawa air kini memasukan ke dalam kantong plastik besar. Keken ikut membantu warga sekitar memungut sampah.


"Sejak kapan aku mau ikut membersihkan pantai seperti ini." gumam Keken sembari tersenyum. Dia dari dulu tidak pernah bersih-bersih kini justru menyukai pekerjaan ini. Selama hidup bersama Farah, wanita itu mengajarkan banyak hal termasuk beberes dan memasak.

__ADS_1


"Kenapa aku kangen si celengan bagong ya." Keken terkekeh kembali saat mengingat istrinya. Ia kembali memungut sampah sampai tidak mengetahui ada seorang pria di dekatnya.


" Kenapa pantai ini kotor sekali." gumamnya lagi.


"Iya seperti yang kamu lakukan saat merebut calon istriku. Begitu kotor dan menjijikkan." Hilman. Ia pun memungut sampah seperti yang dilakukan Keken.


Kegiatan memungut sampah ternyata tidak hanya orang setempat namun ada juga beberapa bule yang ikut membantu.


Keken melihat pria itu dan mengulas senyum ternyata dia yang menghampirinya jadi Keken tidak perlu repot-repot mencarinya.


" Kemarin aku bertemu Ayu." ucap Keken setelah kegiatan nya selesai bahkan. Ia sengaja mendekat kearah Hilman yang duduk di bangku sembari menikmati ombak lautan di sore hari.


" Maafkan aku. "Kali ini Keken mengucapkan nya dengan tulus, sekilas Hilman menoleh namun langsung kembali menatap laut lagi.


" Aku salah, aku yang merebut Farah darimu tapi percayalah sekarang dia bahagia bersamaku. "Keken


" Cih! Kau sedang memamerkan kebahagiaanmu padaku! "Hilman mendelik kesal.


" Tepung saja serbaguna tapi saat bersamamu aku jadi serbasalah. "kelakar nya.


Hilman kian mendelik, bisa-bisanya Keken bercanda disaat dirinya ingin bicara serius.


" Menjengkelkan! Bisa-bisanya Farah mendapatkan suami sepertimu! "


" Emang, aku memang menyebalkan dan banyak orang yang kesal padaku tapi heran nya mereka akan dengan cepat menyukaiku yang seperti ini."


"Itu tidak mungkin! Percaya diri sekali kamu! "


"Hidup harus percaya diri dan aku melakukan itu sampai sekarang dengan kepercayaan diriku, aku selalu berhasil mendapatkan apapun yang aku inginkan."


Hilman pergi ke tempat penjual minuman daripada mendengar ocehan pria gila itu. Ia membeli dua minuman dingin untuknya dan Keken.


"Aku tidak menyukaimu." Ucap Hilman sembari membawa dua minuman itu dan memberikannya pada Keken.


"Aku tahu." Keken menerima minuman jus strawberry lalu menyeruputnya tanpa rasa curiga.


" Kita bisa berteman dan memulai dari nol. Aku tahu ini tidak mudah bagimu tapi ku harap engkau mau memaafkanku."


"Saat aku tidak ada bisakah kau menjaganya. Aku ingin kita berteman dan hilangkan rasa bencimu padaku."


Hilman hanya diam tidak menanggapi ucapan Keken. Ia menatap jauh pada ombak di laut. Sakit sekali rasanya saat mendengar permintaan maaf Keken yang terlihat tulus namun ego nya masih belum bisa memaafkan pria itu.


" Ini tidak mudah bagiku karena semua kebahagiaanku kamu renggut, impian bersama Farah hilang begitu saja." Mata Hilman berkaca-kaca, jauh di lubuk hatinya ia seperti orang jahat yang sengaja merusak kebahagiaan Keken namun disisi lain ia membenarkan tindakan nya.


" Aku minta maaf. " Namun entah kenapa Keken merasa panas di badan nya padahal hari sudah mulai sore dan matahari mulai terbenam.


" Ada yang tidak benar." gumam Keken dalam hati. Kepala nya mulai pusing, hasratnya kian melambung entah apa yang dicampurkan Hilman pada minuman nya.


"Kau!" Keken mengeraskan rahangnya. Matanya mulai memerah seolah sesuatu ingin keluar dari persembunyian nya.


" Ini pelajaran untukmu karena aku masih benci denganmu." Hilman tersenyum menyeringai dan pergi meninggalkan tempat itu. Apa yang dia lakukan memang salah namun Hilman tidak peduli. Keken tidak akan bisa lepas dari obat perangsang yang sengaja ia berikan.


" Aku ingin memukulmu tapi tidak kulakukan karena aku cinta dengan istriku. Dia sangat mencintaiku, kau dengar!" teriak Keken. Hilman menoleh sesaat lalu mengacungkan jari tengah dan meninggalkan pria itu dengan perasaan marah.


Hilman juga ada niatan untuk memukul pria itu namun ia urungkan karena saat ini dia berada di luar kota Jekardah dan Keken bukan orang sembarangan,bisa jadi dia masuk bui karena kasus pemukulan.


Keken pergi dari tempat itu lalu kembali ke hotel. Ia tidak bisa keluar karena keadaan dirinya sudah tidak memungkinkan. Hawa panas menyergap dirinya, bahkan Kenzi bangun dengan stamina penuh.


"Sial!! ..." umpat Keken. Dia belum sempat makan kini harus menahan gairah nya juga.


"Keken..." Farah melihat suaminya datang dalam keadaan sempoyongan.


"Keken, kau baik-baik saja. Apa ada yang sakit?"


"Farah..." Keken melihat istrinya dan dua pengawal berdiri di depan pintu kamar nya. Ia tidak menjawab pertanyaan istrinya.


"Kenapa kamu lama sekali, aku meneleponmu tapi tidak terhubung." Farah mengembungkan pipinya kesal.


"Ponselku lowbet, maaf." Keken menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kalian pergilah, aku akan menelepon saat membutuhkan kalian."


"Siap tuan!"


Keken mengunci pintu lalu membuka kemejanya.


"Ken, aku kesini un__" Ucapan Farah terhenti saat suaminya ******* bibirnya dengan kasar hingga ia terkejut. Keken tidak pernah seperti ini.


"Kau ingin membunuhku!" Nafas Farah tersenggal seolah kekurangan oksigen. Ia mendorong dan memukul dada suaminya.


"Maaf, Ayo kita lanjutkan di kamar." Keken menggendong istrinya ala bridal style lalu merebahkan nya di ranjang.


"Ken, aku ___"


Dengan cepat Keken membuka baju istrinya hingga polos, ia sudah tidak kuat menahan hasratnya. Farah melolong, Keken benar-benar berbeda hari ini.


"Ken, kau kena__" Lagi-lagi suara Farah terhenti karena ulah suaminya yang kian menggila. Keken memacu dirinya menuju surga dunia, bahkan kali ini Keken sangat berbeda bahkan terkesan kasar saat melakukan nya.


"Keken stop!!!" Farah sudah tidak kuat lagi melayani suaminya yang meminta berkali-kali. Pria itu seperti memiliki stamina berkali-kali lipat. Jam sudah tengah malam, Farah kelaparan karena sejak sore dia digempur Keken secara membabi buta.


"Aku sangat lapar..." rengek Farah.


"Oh, ya ampun. Maaf sayang aku lupa." Keken segera menelepon kedua pengawalnya untuk membawakan makanan.


"Kamu kenapa?" tanya Farah karena hari ini bukan seperti Keken yang biasa menyentuhnya dengan lembut.


"Aku tidak apa-apa dan terimakasih karena kamu sudah datang tepat waktu. Jika tidak aku pasti akan pusing semalaman menahan hasratku." Keken mencium kening istrinya dengan lembut.


" Tubuhku sakit, kau itu minta terus." gerutu Farah sembari memeluknya dengan erat. Keken terkekeh.


" Aku tadi bertemu Hilman. "Keken


" Benarkah, apa kalian baku hantam? "Farah menatap suaminya dan melihat apakah ada bekas pukulan dari mantan nya karena jika mereka berdua bertemu pasti berkelahi.


" Aku tidak apa-apa sayang, dia baik kok. "Keken tidak ingin menyudutkan pria itu. Biarlah Farah selalu menganggap bahwa Hilman orang baik.


" Dia memang baik, apa kalian sudah berteman? "


" Aku menganggapnya teman tapi entahlah mungkin dia belum bisa menerima diriku. "


" Kau tenang saja, seiring berjalan nya waktu abang pasti menganggapmu teman. "


" Bela terus si mantan." sindir Keken


"Oh ya ampun, kau masih cemburu. Sekarang dan selamanya aku milikmu sayang." Farah mencium pipi suaminya


Keken menggulum senyum namun tangan nya mulai aktif kembali menyentuh area bawah istrinya.


" Emang nakal! Tangannya harus diiket pakai tali tambang biar diem nggak menjelalatan kemana-mana. " Farah menahan tangan suaminya.


"Kebiasaan yang." Keken tergelak tawa. Dan sesaat kemudian pintu diketuk oleh seseorang yang ternyatata kedua pengawal Keken.


"Makanlah."


Keken yang masih menggunakan piyama kini mendekati Farah yang masih bersandar di ranjang. Ia menyuapi Farah dengan telaten.


"Kau tidak makan?" Farah hanya melihat Keken menyuapi dirinya


" Kau dulu nanti baru aku."


Farah begitu bahagia karena Keken begitu pengertian dan mau mengalah untuknya.


"I love you."


"I love you too."


"Berarti nanti malam aku minta lagi boleh kan?" sambung Keken sembari menggulum senyum


"Kalau tahu begini mending aku pulang ke Jekardah saja!" Farah cemberut

__ADS_1


__ADS_2