Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 155 (Aku mau...)


__ADS_3

Farah datang pukul sembilan pagi ke mansion Imelda. Sebelumnya ia menelepon sang mertua dan menanyakan keberadaan Keken, tak lupa juga ia menanyakan makanan kesukaan Keken.


"Keken dirumah, semalaman dia bekerja di kamarnya."


"Keken suka steak dan spaghetti."


Perkataan itu yang keluar dari mulut ibunya. Ia sangat bersyukur mommy Keken tidak banyak bertanya tentang masalah rumah tangganya walaupun sudah dipastikan sebenarnya dia sudah tahu, karena saat itu pengawal mendengar semua pertengkaran mereka.


Dan Kini Farah berada di kamar Keken.


" Untung saja makanan kesukaanmu bisa aku masak dengan cepat." Farah menghela nafas panjangnya, sejak subuh ia mulai memasak makanan itu demi suaminya.


Farah menatap datar wajah suaminya yang kini meringkuk di dalam selimut. Ia terlihat nyaman dengan tidurnya tidak seperti di rumah kontrakan, Keken selalu gelisah dan tidak nyaman saat tidur.


Farah melirik di bawah nakas, terdapat beberapa botol wine yang masih tersisa sedikit. Pria itu pasti meminumnya tadi malam.


"Ken..." panggil Farah, wajah pria itu tampan walaupun sedang tidur. Dan entah kenapa ia mengingat Wina, gadis itu pasti sering melihat wajah dan tubuh polos suaminya. Farah membayangkan yang tidak - tidak, ia kembali kesal.


"Ken....bangun ih!" Farah menggerakkan tubuh Keken namun pria itu hanya menggeliat dan tidur kembali.


" Oh ya ampun, dia benar-benar menjengkelkan!" lirih Farah namun dengan cepat tangannya ditarik Keken dan masuk ke dalam selimut.


"Ken...." Farah terkesiap, ternyata suaminya mendengarnya. "Ken, aku__"


"Diamlah,sebentar saja seperti ini." Keken kian memeluknya dengan erat dan mencium pipi istrinya berkali-kali. Rindu, itu yang Keken rasakan karena dua hari tidak melihat wajah istrinya.


"Deg, deg, deg.. " hati Farah berdebar dengan cepat tidak seperti biasanya, ia merasakan sesuatu yang berbeda saat berdekatan dengan suaminya.


"Kenapa hatiku berdebar kencang..." gumam Farah dalam hati, ia merasa gusar hingga ingin mengurai pelukan suaminya.


"Jangan bergerak seperti itu, memangnya kamu ingin bertanggung jawab jika Kenzi bangun." lirih Keken dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Ih, bau tahu. Kamu habis minum kan tadi malam?"


"Iya, sedikit."


"Mulai sekarang jangan minum, aku tidak suka kamu mabuk. Ini permintaan anakmu bukan aku." Farah sengaja menggunakan nama anaknya agar Keken mau menuruti permintaan nya.


"Kamu selalu menggunakan anakmu untuk menekanku." lirih Keken


"Memangnya anak kita namanya siapa?" tanya Keken lagi


"Siapa ya?" Farah mulai berpikir, " Aku rasa nama Farhan, Atta, Arfan juga bagus."

__ADS_1


"No!" ucap Keken


"Memangnya kamu mau kasih nama siapa?"


" Kenzi, nama yang keren kan." Keken menggulum senyum


"Nooooo!!!" seru Farah, "Masa anak kita dinamai alat tempurmu. Jangan harap aku menyetujui nama anak kita Kenzi!"


" Anak kita memang ada karena si Kenzi meludah, coba kalau tidak mana mungkin kamu hamil."


"Keken, ihh..." Farah memukul dada suaminya, " Ini tidak lucu!"


"Aku mau anak kita jadi anak soleh, tidak seperti bapaknya." sindir Farah sembari bangkit dari tempat tidur. Ia merasa pengap karena pelukan Keken yang begitu kencang.


"Terserah!" Keken membalikkan tubuhnya seolah enggan melihat Farah. Entah mengapa ia tersinggung dengan ucapan Farah.


"Ken, ayo makan. Aku sudah masak steak dan spaghetti untukmu." Namun tidak ada respon dari suaminya.


"Ken...." Farah menggerakkan tubuh suaminya lagi. "Ayo mandi lalu makan." ajaknya lagi


"Aku tidak lapar, aku masih mengantuk."


"Ken...., apa kau masih marah denganku?" tanyanya. Pria itu tidak menjawabnya.


"Keken tidak bau keringat saat bangun tidur, pria ini benar-benar menjaga kebersihan tubuhnya." gumam Farah dalam hati, ia merasa nyaman saya memeluk suaminya. Terasa hangat.


Keken menggulum senyum saat melihat Farah memeluknya, otak me sumnya kembali bereaksi.


" Bisa nih gue kibulin Farah lagi. "gumamnya dalam hati sembari tersenyum licik. Saat seperti ini ia merasa panas dan haus. Kenzi pun sedikit terganggu dengan kehadiran Farah.


"Apa?" ia pura-pura merajuk sembari membalikkan tubuhnya. Memeluk Farah kian erat


"Ah, enak. Empuk." gumamnya dalam hati. Ia sengaja menempelkan pada dad* istrinya yang kian besar, rasanya ingin mengulang kembali malam panas itu.


" Jangan marah lagi, aku minta maaf." kali ini Farah yang mengalah. " Aku sudah buatkan kamu makanan sebagai tanda permintaan maaf."


" Aku tidak lapar!" Keken pura-pura ketus, namun kaki nya tidak mau diam mengesekan antara kaki dan kaki. "


" Ih geli, ah!" Farah merasa geli karena rambut kaki suaminya teras menempel dan membuat bulu kuduknya merinding. Farah tidak tahu kalau Keken sedang pemanasan.


"Aku masih marah denganmu!" Keken pura-pura merajuk lagi dan kali ini tangannya tidak mau diam,menyentuh pinggang istrinya dan mulai merayap kearea bawah.


Hasrat nya kian membumbung saat menyentuh sesuatu yang selalu membuatnya panas dingin. Tangan nya mulai beraksi di balik selimut. Farah mendelik karena suaminya menggerakkan jari di tempat intinya.

__ADS_1


"Ken..." Farah mulai men desah tidak karuan. Namun Keken tetaplah Keken seorang pria ulung yang mampu membuat wanita melemah dan bertekuk lutut. Mencium titik lemah istrinya hingga Farah lemas.


"Ken...., ih tangannya."


"Ya sudah kalau tidak mau." Dengan percaya diri ia menghentikan gerakan nya dan membelakangi istrinya kembali. Farah melolong, ia yang sempat panas dan menikmati sentuhan suaminya kini hanya bisa menggerutu kesal.


"Keken... ih!" Farah memukul punggung suaminya. " Keken...." serunya lagi.


"Apa?" Keken dengan wajah polosnya membalikkan badan dan seolah tidak tahu. "Apalagi?"


"Lanjutin..."


"Apanya?" ia pura-pura tidak tahu dan menahan senyumnya.


" Aku mau." wajah Farah memerah menahan malu. Ini pertama kalinya dia meminta hal itu.


"Mau apa?" Keken benar-benar membuat istrinya bertambah kesal.


"Aku mau bertemu Kenzi si per kasa!" ucap Farah


Keken terbahak mendengarnya, ia berhasil memperdaya istrinya hingga akhirnya menyerahkan diri. Dan ia melakukan nya dengan cinta, memacu hasrat yang kian membumbung tinggi dan memenuhi keinginan istrinya berkali-kali.


Imelda menggulum senyum saat sepasang suami istri itu turun dan duduk bersama di meja makan. Mereka lupa dengan makan siang karena kegiatan panasnya dan kini Farah merasa malu karena tanda kepemilikan Keken terlihat jelas di bagian tubuhnya.


"Mom..." sapa Farah namun kembali menundukkan kepala, ia merasa malu.


"Kamu itu bawa steak tapi lupa untuk menyajikannya dan nyatanya anakku lebih suka makan istrinya daripada steak." sindir Imelda, ia menahan senyumnya. Ia bersyukur anak dan menantunya kembali akur.


"Mom..." Keken mengerlingkan matanya agar sang ibu berhenti menggoda istrinya.


" Farah sedang hamil, jangan terlalu keras saat bermain." saran Imelda


Rasanya Farah ingin tenggelam didasar laut, malu setengah mati dengan ucapan mommy Imelda.


"Mommy tenang saja, Keken bermain aman kok. Farah sih minta terus." ia pura-pura menyalahkan istrinya


"Ih, apaan orang kamu yang minta nambah. Aku sudah tidur dibangunin lagi, tidur dibangunin lagi kan capek." Farah membela diri dan berkata yang sebenarnya.


Keken tergelak tawa. Ini yang membuat dirinya suka dengan Farah, ia gadis yang apa adanya dan mau saja dikerjai.


" Sudah, sudah jangan bertengkar. Sebaiknya kalian makan dan setelah itu Farah ikut dengan mommy."


"Eh, iya mom." Farah meremas tangannya, entah apa yang akan dibicarakan mertuanya kali ini. Ia begitu penasaran.

__ADS_1


__ADS_2