Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 232


__ADS_3

Khaffi melihat seorang gadis yang sedang membayar ojek online. Dan tanpa sengaja mereka bertemu di tempat parkir namun Dini pura-pura tidak melihat nya.


Dini..! " Inka berteriak memanggil gadis itu namun Dini hanya melambaikan tangan dan mengobrol dengan tukang ojek itu, mereka seolah saling mengenal.


"Jemput aku besok jam empat sore bang, jangan lupa. "


"Siap neng Dini. " jawab tukang ojek itu


"Ini uangnya, besok aku tambahin lagi. "


"Makasih neng. " Tukang ojek itu senyum-senyum mendapatkan uang jasa dari Dini


Ia melangkahkan kaki namun lagi-lagi suara Inka mengagetkan nya. "Dini, Farah ada di ruangan kedua. " ucap Inka


"Iya." Lalu gadis itu tetap berjalan menuju kamar Farah.


"Dia itu kenapa? Kok tidak peduli denganku padahal biasanya dia cerewet saat aku bicara. " gumam Inka.


"Apa aku punya salah dengan nya ya? " Inka bertanya pada dirinya sendiri


"Bukan padamu tapi padaku. " celetuk Khaffi


" Padamu, memang kamu salah apa? "


"Sudah lah tidak usah dibahas. " Khaffi malas jika harus menceritakan permasalahan pada Inka. Ia sangat yakin Dini masih marah padanya maka dari itu sikapnya dingin dan seolah tidak mengenal.


"Apa kau ingin meluruskan masalah dengan nya, aku akan menunggu di dalam mobil tetapi jangan terlalu lama karena aku ingin istirahat di rumah. "


"Tidak usah, buat apa bicara dengan gadis itu. buang-buang waktu sajalah. " Khaffi, dengan cepat ia melajukan kendaraan nya.


***


Dini masuk ke kamar inap Farah dan melihat bayi mungil itu, dengan semangat Dini menggendongnya.


"Ya ampun anak kamu lucu sekali Far, gemes aku lihat nya. " Dini mencium pipi bayi mungil itu


" Aku bahagia karena Ghani sudah lahir, tidak nyangka ya Din anakku selucu itu. "


"Iya, dulu boro-boro diterima yang ada lu pukul terus tuh perut biar keguguran. "


Farah tersenyum getir, dia pernah menjadi seorang calon ibu yang jahat dan berharap saat itu keguguran


"Dan aku tidak akan melakukan hal itu lagi, nyesel banget Din. "


"Sekarang tugasmu merawat anak ini dengan penuh kasih sayang sembari menunggu keken datang. " Dini masih bicara sembari menusuk - nusuk pipi bayi itu dengan jarinya


"Aku akan merawatnya dengan baik, tidak akan aku sia-siakan untuk kedua kalinya. "


"Kau tadi ketemu Khaffi kan? " tanya Farah


"Sudahlah jangan membahas pria menyebalkan itu bikin mood aku hancur saja." Dini mulai berwajah masam


"Jadi beneran kamu tidak ingin berteman dengan khaffi lagi? " tanyanya


"Iya Farah, jawaban aku masih sama. Aku tidak mau berhubungan dengan dia lagi , aku hanya ingin hidup tenang tanpa cacian darinya. " Dini


"Terserah kau sajalah. " Farah tidak ingin ambil pusing karena Dini gadis yang keras kepala jika dia sudah memutuskan sesuatu berarti itu yang terbaik.


***


Keesokan harinya,

__ADS_1


Farah pulang ke kediaman ibunya dengan sang bayi . Bapak sudah membersihkan dan menyiapkan kamar Farah bahkan saat ini Aisyah pindah kamar bersama ibunya sedangkan bapak bersama Fadil.


"Kakak...!! " Ais berteriak sembari berlari menghampiri


"Pelan-pelan jangan lari dan tidak perlu berteriak karena Ghani kaget. "


Dan benar saja bayi mungil itu menangis karena terganggu dengan suara Ais yang kencang. "Oa... oa... oa.... "


" Tuh kan nangis, ais sih! " Dini yang datang bersama Farah kini membawa tas bayi dan melirik tajam gadis kecil itu.


"Maaf kak. " Gadis itu menunduk takut dan meminta maaf dan menyesal


"Sudah... sudah tidak apa-apa. " Farah menimang bayi itu dan masuk ke kamarnya. Ia terkesiap saat masuk , warna cat berubah dan terlihat beberapa pernak-pernik anak bayi.


" Bapak, kamarnya... " Farah meminta penjelasan dari bapaknya


"Untuk cucu pertama bapak jadi sengaja di renovasi dengan cepat. "


Farah berkaca-kaca, keluarganya begitu pengertian dan sayang padanya. " Ini beneran untuk anak aku. "


"Iya Nak. "


"Bapak, Terima kasih untuk semua ini. Aku sangat senang. " Farah tak kuasa menahan air mata bahagianya . Ia meletakan Ghani yang mulai menggeliat di ranjang.


"Bapak keluar dulu. " pamit nya, sepertinya Farah akan menyusui anaknya maka dari itu bapak pergi dari kamar


Farah dengan cepat membuka kancing bajunya dan menyusui anaknya yang mulai rewel lagi.


"Lucu ya Farah, anakmu kehausan. " Dini melihat Ghani menyusu


"Iya, ishhh... " Farah berdesis, sedikit sakit diarea payud*ra saat dihisap anaknya.


"Mantap." Dini terkekeh saat melihat ukuran dada Farah lebih besar dari sebelumnya.


"Iya.. iya aku tahu. "


Dan tak lama kemudian Khaffi datang bersama Navysah dan Inha. Setelah datang dari Bandung Navysah segera ke rumah Farah


"Cucu Omah.. " Navysah yang masuk ke dalam kamar Farah kini menggendong bayi mungil itu dan menciumnya.


"Keken pasti bahagia melihat anaknya lahir. " sambungnya lagi


" Iya tan, kemarin telepon malah dia nangis karena terlalu bahagia.


" Aku kangen keken tan, ternyata melahirkan tanpa suami rasanya begitu sedih. "Farah


" Nanti keken akan pulang, bersabarlah. Apa kamu pindah saja ke rumah tante , disana ramai dan tante bisa merawat anakmu juga."


"Tidak usah tan. " tolak Farah, "Biarkan aku disini, entah kenapa setelah Ghani lahir membawa begitu banyak kebahagiaan. Keluargaku rukun dan menjadi keluarga yang normal seperti keluarga lain nya. Bapak dan ibu pun sayang pada kami. "


" Baiklah jika itu kemauanmu, jika kau butuh sesuatu katakan pada tante. "


Farah menganggukan kepala.


"Mah, Ghani bawa saja ke rumah kita lalu biarkan Farah disini. " Inha begitu antusias saat melihat anak Farah bahkan dia selalu menciumnya.


"Kau itu, Ghani masih butuh ASI bagaimana bisa mau dipisahkan dari Farah. Memang nya kamu mau yang menyusui bayi ini. " Navysah


"Benar juga ya, hanya saja perjalanan kesini cukup jauh. Jika aku kangen Ghani tidak bisa langsung kesini dong. "keluh nya


" Bisa, nanti pakai sepeda motor saja minta anter pak Ari biar cepet. "

__ADS_1


" Iya tapi itu berlaku jika Inka tidak mengikutiku, mama kan tahu si Inka seperti penguntitku. "gerutunya. Entah kenapa kembaran nya suka sekali mengikutnya seperti ingin selalu berdua bersama nya.


" Mungkin Inka sedang kesepian dan butuh teman, kalian harus saling menjaga bersama-sama. " ucap Navysah


"Farah, ayolah ikut kita ke rumah atau kau ingin tinggal di mansion mommy Imelda maka aku akan mendampingimu yang penting jangan jauh seperti di rumah ini. " pinta Inha


"Tidak bisa Ha, aku lebih nyaman disini dan kau tahu, aku baru saja menerima kebahagiaan di rumah ini. Keluarga yang nyaman dan hangat dan aku menyukai nya. " Farah


"Yasudah, tapi saat mas keken pulang maka kau harus kembali bersama kami. " Inha


"Tentu saja, jika keken pulang maka aku harus bersama nya di mansion. " jawab Farah


"Khaffi mana ya? Tadi dia disini. " Navysah mencari Khaffi karena tadi pria itu berada di samping nya. Namun Farah hanya tersenyum karena tahu kemana pria itu berada dan tentunya bersama teman nya juga.


Di pekarangan rumah Farah,


"Apaan sih lu! " Dini tidak suka dengan sikap Khaffi yang menarik tangannya dengan kasar dan memaksa mengikuti langkah kakinya.


" Masih marah denganku? "tanyanya


" Sudahlah... " Dini seolah tidak ingin lagi mengobrol dengan Khaffi, ia akan berlalu pergi namun tangan nya dicekal oleh Khaffi


"Aku masih ingin bicara denganmu. " Khaffi


" Aku tidak ingin bicara lagi karena ujungnya pasti kau menghinaku. "


" Apa kau sangat membenciku? "


"Sudah tahu pakai tanya lagi! Aku tidak mau berhubungan dengamu lagi, kau dengar itu!" ketus Dini dia menepis tangan Khaffi dengan kasar. Lalu pergi meninggalkan pria itu yang masih terdiam.


"Apa kesalahanku begitu besar padanya. " gumam Khaffi dalam hati


Dan disaat yang bersamaan Inha keluar dan duduk di teras, begitupun juga dengan Fadil yang baru pulang dari tempat les.


"Eh, ada non Inka. " Sapa Fadil sembari tersenyum dan duduk disamping gadis itu.


"Kau salah orang. " Inha menatap sekilas lalu sibuk dengan ponsel nya


"Kemarin baru saja bertemu masa lupa. " lirih Fadil. Ia merasa saat ini gadis idola nya sedikit ketus dan tidak sekalipun tersenyum sangat berbeda dengan yang kemarin.


"Aku Inha bukan Inka, kami kembar dan kau salah orang. "


"Oh pantas saja, kau tidak seceria kemarin ternyata kalian kembar. Nona, bolehkah aku meminta foto dengamu. " Fadil ingin menunjukkan pada teman-teman nya kalau dia punya teman seorang gadis yang cantik.


"Sayang sekali aku tidak suka difoto! " tolak nya


"Padahal aku ingin sekali berfoto dengan mu, ya sudahlah. " Fadil tak mau ambil pusing apalagi memaksa seseorang untuk berfoto dengan nya.


Inha melirik kembali, ternyata pria ini tidak menyebalkan seperti fans garis keras yang selalu memaksa dirinya untuk sekedar berfoto.


"Memangnya untuk apa foto bersamaku? "


" Hanya ingin berfoto nona, tidak ada maksud apa-apa kok. "Fadil bicara dengan sopan karena dia tahu dengan siapa dia bicara, anak konglomerat dari Jakerdah .


" Mana ponselnya. "Inha yang awalnya menolak kini mengiyakan permintaan nya karena Fadil sepertinya anak baik dan bukan tipe pria yang cabul.


" Asyikk.... !! " Fadil begitu senang dan memberikan ponsel nya. Mereka berfoto bersama dan Inha terlihat tersenyum lebar.


"Nona.. nona... kau sangat cantik saat tersenyum tetapi kau terlihat galak saat diam. "Lihat ini. " Fadil menunjukkan foto mereka. Dan memang benar Inha sangat manis saat tersenyum.


"Bawa sini ponselnya lagi, hapus sekarang juga foto nya jika kau bicara kalau aku galak! " seru Inha

__ADS_1


"Tidak akan!! " Fadil berlari menuju kamarnya, sudah susah mendapatkan fotonya dan kini akan dihapus, enak saja, pikirnya.


Inha hanya menguljm senyum melihat adik Farah yang lucu.


__ADS_2