Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 41 (Si gadis bunuh diri)


__ADS_3

Namun belum sempat mereka makan, terdengar suara pria yang mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumm salam..."


"Ada Antoni dan Khaffi, ayo makan bersama." ajak Navysah


Dua orang pria itu tersenyum dan menunduk hormat,namun saat mereka menoleh, mereka melihat seorang gadis yang kini duduk bersama di tengah-tengah keluarga Navysah, mereka saling terkejut.


"Lho, bukannya kamu gadis itu. Gadis yang mau bunuh diri di jalanan." Khaffi mengingat Farah saat akan menabraknya dulu.


"Bunuh diri?!" beberapa orang terkejut secara bersamaan, yakni Navysah, Imelda dan Keken yang kini menatap Farah dengan penuh selidik.


Antoni masih dengan wajah datarnya menatap Farah yang kini duduk di depan Keken .


"Ti.. tidak... Ini hanya salah paham.Saat itu aku hanya melamun." Farah mencoba menjelaskan, namun matanya kini menatap lekat pada seseorang yang tengah berdiri disisi Khaffi. Antoni, seseorang yang Farah kenal. Teman dari calon suaminya.


"Habislah aku." gumam Farah dalam hati. Ia bertambah lesu.


Farah seperti pencuri yang tertangkap basah oleh Antoni. Farah hanya menunduk malu, ia berharap Antoni tidak akan memberi tahu Hilman bahwa sekarang dirinya berada di rumah keluarga Navysah.


" Kau jangan bohong! Saat itu kau memang benar-benar ingin bun___" belum sempat Khaffi melanjutkan perkataannya, Farah langsung membekap mulutnya.


"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan." potong Farah, ia masih membekap mulut Khaffi. Namun matanya masih melirik Antoni.


"Ini hanya salah paham." Farah menjelaskan kembali.


"Namamu Khaffi kan, ayo duduk kita makan bersama." Farah menarik tangan Khaffi untuk duduk di sampingnya seraya berbisik " Tolong jangan banyak bicara, please." pintanya sembari menarik kursi.


Farah pun menarik sebuah kursi untuk Antoni agar duduk di tak jauh darinya. "Kak Antoni, silakan duduk disini."


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Navysah


"Kak Antoni teman tunangan saya tan." Farah mengulas senyum walaupun hatinya masih berdetak cepat karena ketakutan.


"Ada yang perlu aku bicarakan dengan kakak nanti. Tolong jangan pulang dulu." bisik Farah pada Antoni.


Farah merasa hari ini penuh kejutan untuknya hingga disaat acara makan bersama dia tampak tidak bersemangat dan sesekali menghembuskan nafas panjangnya.


Keken yang melihat interaksi Farah yang begitu dekat dengan Khaffi dan Antoni kini merasa sedikit cemburu, ia selalu menggengam erat sendok di tangannya.


Imelda menginjak kaki Keken saat tahu anaknya kesal dan cemburu melihat gadis yang ia sukai kini mengobrol dengan Khaffi.


"Jangan melebihi batasanmu, dia milik orang lain." bisik Imelda pada putranya. Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya, mommy nya selalu tahu apa yang dia pikirkan.


Setelah acara makan siang selesai mereka kembali ke ruangan santai keluarga dan duduk lesehan sembari menonton tv. Namun, mommy Imelda pergi ke kamar bersama princess Inha. Kinan pergi ke kamar karena anaknya tidur. Raffa, Antoni dan Khaffi pergi ke ruangan kerja untuk membahas beberapa proyek perusahaan.


Farah melihat foto keluarga di rumah Navysah.Ia melihat tante Navysah dan suaminya berdampingan dengan lima orang, dan dua pasang diantaranya kembar.

__ADS_1


"Mereka anak - anak tante, ada lima orang." ucap Navysah, " Dua pasang kembar."


Navysah memperkenalkan semua anak dan menantunya .


"Dan ini suami tante, Om Davian namanya."


Farah terperangah melihat sosok Davian yang masih terbilang muda walaupun sudah berumur. Pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan membawa peralatan olahraga.


Davian yang baru pulang dari lapangan tenis kini melihat banyak mobil di rumahnya. Disusul Alif, putranya yang bekerja sebagai dokter muda.


" Tumben Alif pulang? " tanyanya pada Alif yang menghampirinya.


"Iya mah tadi anterin Anggrek ke rumah sakit jadi Alif mampir sekalian jenguk mama dan ayah."


Alif lebih menyukai tinggal di apartemen yang sepi karena membuatnya lebih fokus untuk belajar.


" Alif ke kamar dulu, ada yang perlu diselesaikan." pamitnya


"Tunggu dulu, Lif tolong ambilkan berkas perusahaan di mommy Imel. Mommy ada di kamar Inha." pinta Navysah


"Iya mah." Namun matanya sempat melirik Farah yang tersenyum dan menunduk hormat. Tidak dibalas senyuman dari Alif.


"Pria ini dingin sekali, bahkan dia tidak membalas sapaanku" gumam Farah dalam hati.


"Ini Alif, anak tante. Kamu jangan heran karena dia pendiam dan tidak banyak bicara." Navysah membeberkan karakter anaknya agar Farah tidak tersinggung.


"Siapa dia mah?" tanya Davian sembari meletakkan alat olahraga nya.


"Ah, tidak mungkin hanya teman." Alif melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki Farah hingga gadis itu merasa risih.


" Aku rasa dia masuk kriteria si Me sum itu." sambungnya lagi.


"Alif..." Navysah memberikan kode agar anaknya diam.


" Jangan sampai kamu termakan bujuk rayu si Modosa, pacar dia banyak!" Alif memberi nasehat pada Farah lalu ia berlalu pergi ke lift menuju atas.


" Maafkan Alif ya Far, dia memang selalu bicara tegas dan terlihat ketus.


" Tidak apa-apa tan. "Namun Farah mengingat - ingat ucapan Alif lagi,


" Apa si Modosa suka padaku, ucapan pria itu mengingatkanku pada Dini."gumamnya dalam hati


"Mas mau makan?" Navysah bertanya pada suaminya. Farah yang sempat melamun kembali terjaga.


"Tidak, aku mau mandi dulu sayang. Aku pergi ke kamar dulu ya." Davian mencium kening istrinya.


"So sweet..." goda Keken pada Om dan tantenya. Ia tiba-tiba datang dari Lif atas entah darimana.


" Makanya nikah!" ucap Davian dan Keken hanya meringis menunjukan baris giginya yang rapi.

__ADS_1


" Ken, kenapa disini banyak orang cantik dan tampan. " Farah bertanya pada Keken.


" Sudah pasti keluarga kami cantik dan tampan kan bibit unggulan terutama aku. "Keken berbicara dengan nada sombong.


" Narsis lu!" gerutu Farah.


" Kalau ngomong tidak pakai filter pengen gue tabok! "


Dan Keken hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya.


" Lu boleh tabok gue tapi pake itu. "Keken menunjuk dengan dagunya kearah dad* Farah.


" Plak! Plak! Plak, uhhhh... Enak Ahhhh... . " Keken menirukan gaya seolah ditampar dengan buah dad* sembari tersenyum me sum.


" Dasar Me sum! " Farah mencubiti lengan Keken karena gemas. Entah kenapa Farah mempunyai keberanian untuk membalas Keken.


" Keken, tidak boleh berkata seperti itu Nak!! " seru Navysah, ia begitu gemas karena ponakan nya selalu berkata me sum.


" Nggak usah modusin anak orang, kalau nantinya terluka dan patah hati." sindir Navysah sembari melirik Keken.


" Tidak boleh membeli barang yang sudah ditawar orang lain apalagi merebutnya, lebih baik cari yang lain yang masih free." Navysah memberi nasihat secara samar pada ponakannya dan Keken mengerti maksud dari tante Navysah.


"Iya, iya Keken tahu."


" Ayo Farah kita ke belakang. Kita lihat gaun mana yang cocok untukmu. " ajak Navysah


" Baik tante. "


" Aku ikut. "Hanin yang mendengar mertuanya akan ke tempat butik belakang kini ingin ikut dengannya. Dia bangkit dari tempat duduknya namun sedikit kesulitan karena perutnya yang membesar. Nafasnya pun terdengar berlarian. Sesekali perutnya terasa sakit dan berulang namun tidak ia hiraukan karena hari persalinan diprediksi dokter dua minggu lagi.


" Aa... bantuin. " pinta Hanin seraya merentangkan tangannya. Nafasnya masih terdengar berlarian.


" Badut... Badut... "ejek Keken, ia tertawa cekikikan melihat Hanin yang kesulitan berdiri, sesekali Hanin menghembuskan nafas panjangnya dan terlihat kelelahan.


" Aa... Modosa ngledekin aku, masa aku dibilang badut. "adunya pada Fafa


" Ayo berdiri pelan-pelan. "Fafa dengan sabar membantu istrinya berdiri.


" Kamu itu Ken, jangan bikin ulah! Jangan bikin huru - hara, lu kan tahu istri gue sensitif selama kehamilan. "


" Tong... Gentong... "Keken kembali menggejek Hanin sembari cekikikan.


" Aa..!!! Modosa tuh A, ngeledek lagi. " Hanin mulai berkaca-kaca, semenjak mendekati hari persalinan, Hanin lebih cengeng dan super sensitif.


" Ken, lama - lama gue ba cok lu! " ancam Fafa, ia sudah pusing dengan istrinya yang sedikit - sedikit menangis dan merengek tanpa alasan yang jelas.


" Ampun... Ampun... Maafkan aku Nyi Ratu Janin. Semoga anak kalian mirip gue." Keken terkekeh dan masih dalam mode menggoda Hanin.


"Cuih! Najis!" umpat Fafa, " Gue bapaknya yang ngasih saham penyemaian masa anak gue mirip lu, ogah!"

__ADS_1


" Masa anak gue mirip pangeran Modosa, Oh No!" cibir Hanin, ia mengikuti mertuanya ke rumah belakang.


__ADS_2