
" Akhhhh.... Belalai gajah!!! "teriak Farah, ia menutup matanya dan berlari ke luar kamar mandi. Nafasnya terasa naik turun membayangkan milik suaminya yang terlihat besar.
Keken keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya menutupi bagian bawahnya.
" Keken, apa yang kamu lakukan! Kalau mandi pintu dikunci agar tidak ada yang masuk. Bagaimana kalau Dini atau teh Cucu yang masuk dan melihat kamu seperti itu!" Farah berkata dengan cepat dan memburu. Namun matanya menatap kearah lain, tidak berani menatap Keken yang kini sedang bertelanjang dada. Malu.
" Kalau mereka melihat aku yang sedang mandi berarti mereka sedang beruntung bisa bertemu Kenzi si per kasa."ia menggulum senyum saat melihat tatapan Farah yang mematikan.
" Kamu benar-benar gila! umpat Farah
"Iya aku memang gila dan sekarang ambilkan aku kaos dan celanaku di koper." perintah Keken dan ia hanya duduk di ranjang dengan santainya.
"Kok nyuruh aku! Ambil sendirilah sana." ketus Farah, Ia tidak mau.
"Aku terbiasa dilayani, sekarang ambilkan pakaianku kalau tidak aku akan telanjang disini." ancamnya
Farah benar-benar kesal melihat tingkah Keken yang selalu seperti tuan muda dan minta dilayani. Namun ia tidak punya pilihan lain selain mengambil pakaian suaminya di koper daripada harus melihat si Kenzi lagi.
" Ini. " Farah melempar kaos dan celana Keken di samping ranjang. "Mulai sekarang belajarlah mandiri dan ambil apa yang kamu butuhkan, aku tidak mau kamu suruh - suruh lagi. Dan ingat, sekarang kamu bukan pangeran tapi kamu pria biasa jadi belajarlah mulai sekarang!"
"Aku memang bukan pangeran tapi dengan cara seperti ini kamu bisa mendapatkan pahala,kan melayani suami banyak pahalanya dijamin surga." ia selalu menggulum senyum saat bicara dengan Farah
"Bodo amat!!" Farah terlihat kesal.
" Cepatlah ganti pakaianmu, aku sudah lapar!" Farah tidak mempedulikan ucapan Keken, ia berjalan ke ruang tamu tempat dimana Keken akan tidur dan menonton tv.
" Mana makananku?"tanya Keken
Farah menyodorkan nasi, sate ayam serta sop yang ia beli di tukang sate langganannya.
" Hanya ada ini, mau ya dimakan kalau tidak selera ya sudah jangan dimakan." Farah menyuap nasi ke dalam mulutnya, masih dengan mode ketus.
__ADS_1
" Apapun yang kamu sajikan pasti akan aku makan yang penting bukan cumi atau seafood karena aju alergi itu." Keken menyuap makanan itu. Namun saat ia menyantap tiba-tiba ia berhenti makan sesaat.
"Kenapa?" Farah melihat suaminya terdiam saat makan.
" Tidak ada apa-apa, aku hanya heran kenapa tulangan ayam seperti ini dijual, aku merasa seperti kucing yang kelaparan sampai-sampai makan tulang. Dan ini sate kenapa banyak lemak dan kulitnya. Menang banyak si abangnya yang jual." ia menunjukkan beberapa tulang pada Farah. Benar-benar tidak ada daging yang melilit tulang itu. Keken merasa ini pertama kalinya ia makan makanan seperti ini. Jika mommy nya tahu pasti sayur itu sudah dibuang ke dalam tong sampah.
"Gurih tau, ini enak. Cobalah." Farah memberikan beberapa tulang yang masih ada daging nya. Ia tahu Keken mungkin tidak pernah makan makanan murah seperti dirinya.
"Ayo dimakan seperti ini." Farah memberi contoh pada Keken bagaimana cara mengigit sisa daging di sela-sela tulang namun pria itu malah tergelak tawa.
"Apa ada yang lucu?!"
"Kau seperti kucing, meong... meong..." ia menirukan suara kucing
"Tidak lucu!" ketusnya
"Menurutku ini lucu sayang, kamu terlihat imut dan__"
"Dan apa?!"
"Sudahlah, mulai sekarang jangan suka mengeluh kamu bukan Keken si crazy rich.Sekarang kamu Keken si pria biasa, mulailah belajar hidup sederhana. Dan aku akan masak untukmu setiap hari. Terserah kamu mau makan atau tidak aku tidak peduli yang penting aku sudah masak. Dan besok aku mau jualan makanan secara online. Jadi aku bisa istirahat sembari mencari uang dari rumah."
" Aku tidak mengizinkanmu bekerja! "ucap Keken.
" Sudah kubilang, aku yang akan bekerja untukmu, kamu tenang saja aku pasti dapat pekerjaan."
" Jaman sekarang cari kerja susah, aku tidak bisa mengandalkanmu sendiri. Aku masih punya uang mahar darimu dan akan aku pergunakan untuk modal usaha. "
"Pergunakan mahar itu untuk dirimu sendiri, bukan untuk modal jualan." ucap Keken
"Belilah emas atau saham untuk investasi, itu lebih bermanfaat."
__ADS_1
"Aku tidak tahu begituan, yang kutahu hanya menabung untuk masa depan dan dengan cara berjualan maka uangku akan bertambah." Farah
" Pokoknya aku tidak mau kamu kecapean, kalau kamu butuh uang katakan padaku, kamu tidak perlu jualan. "ucap Keken.
" Ini ambil kartu atm ku ini, memang tidak seberapa tapi aku akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak kita. " Keken membuka dompetnya dan menyerahkan satu kartu sakti pada Farah
" Tidak usah, aku masih ada uang. Aku tidak perlu uangmu." tolak Farah
"Kamu tanggung jawabku, walaupun sekarang kamu belum bisa menerima aku tidak masalah, aku tidak akan marah tapi kita terikat dalam pernikahan. Aku wajib memberimu nafkah." ucap Keken. Hati Farah sedikit menghangat karena Keken mau bertanggung jawab untuk dirinya dan calon anaknya.
" Aku akan pergi malam ini dan pulang dini hari. Kamu kunci pintu saja, nanti aku bawa kunci duplikatnya. Kalau kamu takut minta Dini untuk menemanimu tidur disini."
"Kamu mau kemana?" tanya Farah. Sejak di mansion ibunya, Keken pun selalu pulang dini hari. Dan Farah tidak peduli namun saat ini dirinya hanya berdua dengan Keken,ia penasaran kemana Keken pergi setiap malam.
"Rahasia, bukannya kamu yang bilang kalau urusan kita masing-masing." Keken menyelesaikan makan nya dan bersiap untuk pergi.
Farah semakin kesal karena Keken tidak jujur padanya. Dan sekarang Keken akan pergi.
"Jangan cemberut begitu, kamu bertambah cantik sayang." Keken yang melihat wajah Farah ditekuk kini hanya bisa menggulum senyum.
" Tidak usah merayu!"ia merapikan piring bekas makanan dengan kasar dan pergi kearah dapur.
" Sayang, suamimu akan pergi. Kemarilah! "pinta Keken, namun tidak ada sahutan dari ruangan dapur. Keken mencari istrinya yang kini sedang membereskan makanan dengan wajah masam.
" Aku pergi dulu. "Keken memeluk Farah dengan cepat dan mencium keningnya serta tak lupa mencium perut Farah yang masih datar.
" Apaan sih, Ken! " Farah mencubit lengan Keken. Ia merasa kecolongan karena gerakan Keken yang begitu cepat.
" Kan dulu aku pernah bilang, walaupun kamu mau pernikahan kita satu tahun. Aku hanya minta kamu memelukku saat aku pergi ke luar dan aku bisa mencium anakku juga. Masih ingat kan perjanjian kita?"
Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya dan membuang muka. Keken benar, ia pernah mengiyakan permintaan pria itu sebelum menikah.
__ADS_1
" Assalamualaikum.. "ucap Keken
"Walaikumm salam." balasnya