
Keken memang pergi dari rumah tetapi ia tidak membawa satu pakaian pun,yang dia bawa hanya berkas penting pemberian Khaffi tadi siang. Semalam ia terpaksa menginap di apartemen Khaffi untuk menenangkan diri, biasanya sebelum Keken menikah jika ada masalah maka ia akan pergi ke club dan bersenang-senang tapi sekarang dia sudah tidak lagi pergi kesana, karena sekarang Keken harus berhemat untuk menafkahi istri dan calon anaknya maka mau tak mau ia tinggal di Khaffi untuk sementara waktu.
" Kamu beristirahatlah, aku akan bekerja. Jika kamu lapar tinggal pesan makanan." Khaffi melirik sahabatnya masih dengan keadaan meringkuk di ranjang, entah berapa botol minuman yang Keken tenggak hingga pria itu mabuk parah.
"Setelah kamu kembali di posisimu kembalikan semua biaya minumanku." ucap Khaffi sembari menggulum senyum.
"Dasar Pangeran Medit! Perhitungan banget sama temen." sahut Keken, walaupun matanya tertutup ia masih mendengar suara Khaffi.
" Sudah tahu aku pelit masih saja berteman denganku." Khaffi menggulum senyum namun ia meninggalkan satu kartu kreditnya di atas nakas. Kartu yang bisa Keken gunakan untuk berbelanja.
"Mau berapa hari menginap disini?" tanyanya
" Dua hari setelah pekerjaanku selesai."
"Ku kira kau akan selamanya pergi dari rumah mini itu, apa kau tidak berencana untuk meninggalkan Farah, aku masih bisa menampungnya." goda Khaffi sembari terkekeh.
"Si*lan lu!! Bini temen mau diembat juga." Keken melempar bantal kearah Khaffi namun lemparan nya tidak mengenai tubuh pria itu karena dengan cepat Khaffi menghindar.
"Gue Keken si crazy rich yang tampan tiada tara, masa gue nyerah gitu aja sama si Hilman. Gue bakal buktikan kalau Farah bisa jatuh cinta sama gue. Tidak akan ada perpisahan di antara kami!"
"Lihat saja, pasti Farah bakal cinta sama gue." ucap Keken dengan percaya diri. Ia akhirnya bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang.
" Bagus, ini Keken sinting yang gue kenal." Dan lagi-lagi Khaffi mendapat lemparan bantal.
"Gue berangkat dulu, jangan lupa bersih-bersih rumah karena hidup ini tidak ada yang gratis. Bugh.." Khaffi melempar bantal itu tepat di wajah Keken kemudian dia berlari menghindari amukan Pangeran Modosa.
"Khaffi!!" teriaknya, sahabatnya itu kini berani melawannya disaat Keken tidak berdaya dan miskin.
Namun mata Keken berbinar saat melihat kartu kredit yang ditinggalkan Khaffi. Ia tersenyum licik.
* **
Satu hari Keken tidak pulang dan itu membuat Farah khawatir apalagi saat mengingat tangan Keken yang bercucuran darah karena menghantam cermin lemari.
Ia pun terpaksa berbohong pada mommy Imel kalau Keken ada di rumah dan baik-baik saja. Tak lupa Farah berterima kasih pada mertuanya karena begitu peduli dengan kehamilannya.
"Jangan lupa minum susu dan vitamin."
__ADS_1
"Mommy akan datang kesana hari jum'at, mommy sudah kangen denganmu dan si berand*lan itu."
" Jika kamu butuh sesuatu katakan pada mommy."
Pesan singkat itu yang selalu diingat Farah. Ia hanya menghela nafas panjangnya entah apa yang harus dia katakan jika mommy datang dan tahu bahwa Keken pergi dari rumah.
" Keken dimana ya sekarang? "tanyanya bermonolog .
" Di rumah simpanannya! "jawab Dini dengan kesal. Saat dia tahu bahwa terjadi pertengkaran antara Farah dan Keken, ia mendiamkan Farah. Dini begitu kesal karena Farah berkata kasar hingga menyebabkan Keken pergi dari rumah, sedangkan Dini tahu kalau Keken begitu mencintai Farah namun mata hati gadis itu masih tertutup dan masih mencintai mantannya.
Farah mendengus kesal saat Dini datang, gadis itu pasti akan menceramahinya lagi dan memihak pada Keken.
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." ucap Farah
"Dih! Siapa juga yang mau berdebat denganmu. Percuma saja ngomong sama patung manekin!"
" Jadi aku patung manekin nya!" sewot Farah
" Lu yang bilang ya bukan gue." balasnya lagi.
"Din, mendingan lu pergi dulu deh gue lagi mumet jangan bikin gue tambah kesel."
"Tidak mungkin! Keken tidak akan seperti itu, dia tidak punya selingkuhan." belanya
Dini menggulum senyum saat Farah membelanya. Masuk jebakan.
"Mana kita tahu, bisa saja dia cari hiburan dengan gadis yang lebih sexy dan cantik darimu. Lihat tubuhmu sudah gendut pake daster sama sekali tidak menarik."
Farah kini tersadar ternyata ucapannya sama dengan Keken yang selalu bilang bahwa dia bau dapur dan seperti emak-emak berdaster.
" Dini, jawab dengan jujur. Apa aku cantik jika berpakaian seperti ini? "
" Tidak! Kamu itu dekil, buluk, gendut dan tidak menarik. " Dini mengeluarkan mulut cabe level sepuluh tanpa tedeng aling-aling.
" Biasanya ibu hamil itu cantik dan bersih tapi kamu kebalikannya. Dekil dan bau asem lagi. " sindirnya lagi.
Entahlah, Farah yang dulu selalu wangi dan bersih kini semenjak hamil dia tidak pernah merias diri bahkan terkesan jorok dan terkadang malas mandi.
__ADS_1
" Jadi sekarang bagaimana, mommy Imelda hari jum'at akan kesini. Aku takut jika dia tahu Keken pergi."
"Telepon Keken, minta maaf sama dia." perintah Dini
"Aku tidak mau!"
"Dasar keras kepala!" Dini begitu kesal dengan sikap Farah yang tidak mau mengakui kesalahannya.
" Aku malu Din, yang ada dia pasti tinggi hati dan merasa menang."
"Ini bukan masalah menang dan kalah, jika aku jadi Keken sudah pasti ku talak kamu. Mana ada suami yang tidak marah saat istrinya berbohong apalagi bertemu mantan pacarnya. Sadarlah Farah, kamu sudah menikah!"
Farah diam membisu.
"Terus aku harus bagaimana?" tanyanya lagi
"Sekarang lu telepon Keken, tanya dia di rumah siapa,tanyain kapan dia pulang dan kamu harus minta maaf."
"Kalau dia tidak menjawab gimana." Farah pesimis sebelum berjuang
"Ya ampun, kamu kan bisa alasan kalau calon anakmu minta dielus bapaknya atau lu bisa cari alasan kalau bulan ini cek kandungan, gitu aja kok repot! "
"Cepetan, telepon dia." perintah Dini
Farah ragu-ragu untuk menelepon Keken. Dan seperti biasanya Dini merebut ponsel Farah karena gadis itu terlalu banyak berpikir hingga membuat Dini kehilangan kesabaran.
" Tidak diangkat kan. " Sudah lima kali menelepon tapi tidak satupun diangkat oleh Keken.
" Jangan - jangan Keken sedang hu hah hu hah dengan wanita lain. " pikiran Farah mulai negatif karena mengingat dulu saat dirinya menjadi asisten rumah tangga di rumah Keken, pria itu tidak mengangkat ponsel karena sedang asyik-asyikan dengan wanita lain. Permainan panas.
"Siap-siap lu dimadu dan bisa jadi lu punya anak tiri. Bisa juga lu janda sebelum si bayi lahir." Dini kian membuat hati Farah tidak menentu. Pikirannya mulai kacau membayangkan Keken menduakan nya dan memiliki anak dari wanita lain.
"Tidak! Keken tidak akan setega itu denganku. Dia tidak akan berani selingkuh di belakangku, tidak, tidak!" Farah mulai menepis segala prasangka buruk tentang suaminya
" Lah, lu aja tega sama Keken dan tidak pernah menghargai pengorbanan dia. Dia laki-laki, emaknya tajir lagi wanita mana yang tidak mau menikah dengannya. Gue juga mau. " Dini mulai memancing emosi Farah
"Jangan bikin aku kesel deh Din, gue udah mumet dengan masalah ini mendingan lu pergi daripada gue lempar pakai sandal!"
__ADS_1
Dini hanya menggulum senyum, setelah membuat hati Farah gelisah ia pergi ke kontrakannya dan berchating ria dengan Keken dan Khaffi.