Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 203


__ADS_3

Khaffi sengaja datang ke rumah tante Navysah karena tahu Farah menginap disana. Sejak Keken menghilang, Khaffi merasa sedih bahkan ia meminta asisten ibunya untuk mencari Keken. Mereka sengaja datang ke Malang untuk ditugaskan mencari Keken. Dan dihari ini ia mendapatkan titik terang bahwa Keken ditemukan namun dalam kondisi koma,ia mendapat informasi langsung dari tante Navysah dan meminta Khaffi untuk tidak bicara pada Farah tentang kondisi Keken.


Ia datang dengan membawa banyak buah dan makanan, walaupun Khaffi tahu Farah pasti tidak akan kelaparan di rumah tantenya namun seperti biasa Khaffi tetap membawa makanan untuk wanita hamil itu. Saat ia masuk ke rumah, keadaan nya terlihat sepi bahkan asisten rumah tangga tante Navysah tidak terlihat entah kemana. Khaffi masuk begitu saja seperti biasanya,namun matanya melebar saat melihat seorang wanita yang ia kenal bersama dengan Alif bahkan mereka terlihat tertawa bersama. Khaffi tidak pernah melihat Dini dan Alif tertawa selepas itu, entah apa yang mereka bicarakan hingga mereka terlihat senang.


Khaffi pun melihat mereka menggunakan headseat bersama seperti layaknya sepasang kekasih. Entah mengapa ia tidak suka karena Alif sudah bertunangan dan Dini seperti menggoda pria itu. Khaffi tidak suka melihat pemandangan ini.


"Apa, apaan ini!!" teriak Khaffi


Mereka melihat Khaffi dengan tatapan berbeda. Dini begitu malas melihat pria itu sedangkan Alif melihat dengan tatapan geli. Mengingat Khaffi yang selalu dirayu Natata, biduan yang lagunya sedang ia putar.


" Kalian sedang apa? "tanyanya


" Mendengarkan musik! "ucap mereka berdua lalu saling menatap dan tertawa lagi.


" Musik apa? "


" Kepo! "Jawab Dini dengan tidak suka


" Dengerin lagu pacarmu, Natata si rambut merah. "Alif terkekeh


" Dih, najis! " umpat Khaffi mengambil roti dan mengolesnya dengan selai coklat.


" Farah mana? "tanyanya pada Dini


" Tidur. "


" Ini masih pagi kenapa dia tidur? Aku membawa banyak makanan untuknya. " ucap Khaffi


" Farah lagi ngambek karena Alif tidak mau mengantar ke pantai. "


" Aku itu sibuk. Khaffi saja sana yang anterin kalian, dia kan orang santai." sindir Alif


" Aku juga kerja, nanti siang balik lagi ke kantor. "Khaffi

__ADS_1


" Kau itu menyebalkan saat bicara, Lif." Dini


" Kau juga menyebalkan. "Namun Alif menyentuh pucuk rambut Dini dengan lembut. Ia menganggap Dini seperti adiknya, si Inha yang selalu ketus dan bicara apa adanya.


Dini terkesiap karena perlakuan Alif,lalu tersipu malu. Sedangkan Khaffi menatap tidak suka.


" Tidak usah baper kalau Alif begitu padamu, dia sudah punya tunangan jadi jangan berharap Alif akan menyukaimu!" Khaffi


"Siapa yang baper!" Dini mendelik kesal karena Khaffi selalu berkata yang menyakitkan hatinya.


"Gue sudah tahu kalau Alif punya tunangan dan gue sadar diri mana mau Alif denganku yang miskin ini." Hati Dini naik turun menahan amarah lalu ia bangkit dan ingin pergi ke kamar Farah daripada harus melihat wajah Khaffi.


" Tunggu dulu, bawa ini ke kamar si Farah, bilang padanya kalau aku datang. Aku yakin dia kangen denganku." Khaffi menyodorkan tas plastik berisi makanan dengan sedikit kasar pada Dini.


Gadis itu langsung mengambil tas itu dan naik ke lantai atas, tak ingin berlama-lama melihat Khaffi yang menyebalkan.


" Kau itu kasar sekali padanya. "


" Bukan urusanmu! " ketus Khaffi


" Siapa yang kesal padamu, aku kesal dengan gadis itu kenapa dia disini dan menginap,tidak jelas!! "


" Memangnya kenapa dia menginap disini, dimana pun dia tinggal dan menginap terserah dia dan tidak ada hubungan denganmu. Memangnya kamu suaminya ngatur - ngatur dia segala. "


" Bukan begitu, hanya saja dia wanita. Ngapain tinggal di rumah orang yang tidak ada hubungan keluarga. Pasti dia mencari kesempatan dalam kesempitan denganmu. Si Dini kan matre, dia suka dengan pria kaya yang banyak uangnya. Bisa jadi dia menggodamu, Lif. "


" Jaga ucapanmu! " Kali ini Alif terlihat tidak suka,


" Dia tidak seperti itu. " Alif memang baru beberapa hari mengenal Dini namun menurutnya gadis itu tidak menggodanya. Dini seperti gadis umumnya yang ingin berkawan dengan banyak orang.


" Cih! Baru kenal saja kau sudah membelanya."


"Aku tidak membelanya, tapi aku bicara fakta. Dan jika kau menyukai gadis itu lebih baik katakan daripada diambil pria lain!"

__ADS_1


" Siapa juga yang suka! Amit-amit yang ada aku darah tinggi terus saat bersamanya."


" Terserah, bukan urusanku! Aku hanya melihat gadis itu cukup cantik walaupun tidak memiliki d*da yang besar, badan nya masih original dan bukankah kamu suka gadis yang seperti itu. Tubuhnya tinggi, bersih dan kurus, wajahnya tidak jelek-jelek amat aku yakin jika dia dipoles sedikit pasti cantik. " Alif menilai fisik seorang Dini dengan detail.


" Dasar dokter ca bul!! "umpat Khaffi, Alif yang pendiam ternyata memiliki otak me sum seperti pria lain nya.


" Aku pria normal yang juga bisa menilai seorang gadis. Kuberi dia nilai delapan. Jika kau tidak mau dengan nya maka untukku saja, biarkan dia jadi istri keduaku" Alif menahan senyumnya lalu ia pergi meninggalkan Khaffi, ia sudah telat menjemput Anggrek.


" Dasar br*ngsek!! " umpatnya


" Nilai dia bukan delapan tapi lima, kau dengar itu. Lima!! "teriak Khaffi.


" Kenapa kau berteriak? " Farah turun bersama Dini dan mendengar Khaffi mengatakan angka lima.


" Tidak apa-apa. "bohongnya, namun sekilas ia menatap Dini dari atas hingga bawah.


" Oh, aku kira ada apa. Tadi kau mengatakan angka lima. " Farah


" Mm... maksudku kita harus solat lima waktu. " Khaffi terpaksa berbohong agar mereka tidak tahu apa yang dibicarakan nya dengan Alif.


" Betul, memang kita harus solat lima waktu dan tepat waktu jangan ditunda - tunda yang akhirnya bikin malas ngerjain nya.


" Khaffi, antarkan aku ke pantai. Aku ingin melihat ombak. Dan tidak ada penolakan!" Farah berkata seperti Keken


" Kau memang istri Modosa yang sama gilanya. Baiklah akan aku antar."


"Kalian pergilah berdua, aku di rumah saja." Dini tidak suka jika satu mobil dengan Khaffi. Mulut pria itu selalu sinis dan mengejeknya hingga membuat kesal. Dini lebih baik berada di rumah daripada sakit hati.


" Ah, tidak seru!" Farah,


" Aku tidak bisa Farah. " Dini


" Tapi jika aku berdua dengan Khaffi, siapa yang akan membantuku jika sesuatu terjadi. Khaffi laki-laki sedangkan aku butuh teman wanita untuk menggandeng tanganku."

__ADS_1


Dini berpikir benar juga apa kata Farah apalagi wanita itu sedang hamil dan Farah butuh dukungan dari semua sahabatnya.


" Baiklah, ini demi kamu. Jangan lupa ijin dulu sama tante Navysah" Mau tak mau Dini menerima permintaan teman nya untuk ikut ke pantai.


__ADS_2