Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 214


__ADS_3

Keken hanya diam tanpa merespon pertanyaan istrinya. Dan itu membuat Farah kesal


"Kok diam saja? Katanya mau jawab semua pertanyaanku?"


"Apa tidak ada pertanyaan lagi selain itu?


" Tidak ada! " ketus Farah


" Kau itu ada-ada saja pertanyaan aneh begitu ditanyain. Tentu saja Kenzi aman dan tidak mungkin hilang ingatan."


" Jadi Kenzi tahu kan kemana akan pulang dan dimana tempat persembunyian nya." Farah


" Apaan sih, sudahlah jangan membahas seperti itu. Kau aneh! "Keken menutup dirinya dengan selimut, membayangkan yang tidak - tidak membuat dirinya pusing apalagi berdekatan dengan seorang wanita. Keken memang hilang ingatan tapi dia tetap seorang pria normal yang juga memiliki hasrat.


Farah hanya menggulum senyum, ternyata sekarang Keken menjadi pria pemalu dan tidak suka berkata mesum, sangat berbeda dengan sebelumnya. Farah turun ke lantai bawah namun ia yakin Keken akan membuka selimut saat dirinya tidak ada.


" Akhirnya wanita itu pergi juga." Keken benar-benar membuka selimut dan bersandar di kepala ranjang.


Farah yang masih berada di depan kamar mendengar gumam an Keken lalu ia kembali ke dalam kamar.


"Cie.. cie... malu sama bini sendiri." goda Farah sembari mengerlingkan mata, seperti yang pernah Keken lakukan dulu padanya.


"Apaan sih! kok balik lagi."Keken tersipu malu lalu menutup kembali wajahnya dengan selimut dan Farah hanya terkekeh.


" Enak juga ngerjain si Modosa. "gumamnya dalam hati.


Malam pun datang kini keluarga Keken makan malam bersama di rumah Navysah karena mereka sudah berjanji akan datang saat jam makan malam.


" Apa kau sudah baikan? "tanya Davian pada ponakan nya


" Alhamdulillah sudah membaik Om."


" Aku juga baik Om. "ucap Farah yang duduk di samping Keken.


" Siapa yang tanya elu, Farah! "seru Fafa


" Mana tahu Om Davian kangen denganku, hehehe... " Farah terkekeh


" Om senang akhirnya kau bisa tertawa kembali setelah Keken pulang. " Davian melihat Farah yang selalu mengulas senyum.


" Tentu Om, aku sangat senang Keken kembali. Tidak akan aku sia-siakan waktu yang tersisa ini. "Farah akhirnya mengikhlaskan Keken untuk pergi ke Singapura dan dia harus sabar menunggu Keken sembuh.


" Kamu akan disini bersama Tante, nanti saat melahirkan ada Fafa dan Alif yang menjagamu. "


" Kok aku? "Fafa melirik pada ibunya.


" Emang siapa lagi, kan anak mama yang cowok kalian, kalau mas Raffa bulan depan akan ke Jepang untuk urusan bisnis. " jelas Navysah


Fafa hanya menghembuskan nafas panjangnya, saat Hanin melahirkan juga sangat riweh dan pusing apalagi sekarang dia dititipi istri Modosa yang akan melahirkan.


" Aku titip Farah, Fa. Sementara waktu dia tanggung jawabmu. "


Hanin yang mendengar kini menginjak kaki suaminya. Mulai cemburu dengan Farah walaupun dia istri sepupu suaminya.


"Cuma membantu bukan tanggung jawab Fafa." celetuk Hanin.


Navysah terkekeh melihat menantunya yang cemburu dengan kehadiran wanita lain walaupun masih keluarga.


"Masih saudara Nin, bukan orang lain." ucap Navysah


"Iya mah, tapi aku tetap saja cemburu dan pastinya Fafa akan membagi waktunya untuk kami dan Farah."

__ADS_1


" Ya sudah, jika aku merepotkan kalian maka lebih baik aku di mansion mommy Imelda. Aku tidak masalah karena ada bibi yang siap membantu."


"No!!" Kali ini suara Imelda dan Navysah menolaknya secara bersamaan.


" Mommy mau kamu disini." Imelda


" Benar, kau butuh perhatian lebih karena sebentar lagi melahirkan. Jika disana maka kami tidak bisa memantaumu."


Farah menundukkan kepala, memang benar ia lebih nyaman berada di rumah tante Navysah karena ramai tapi sepertinya Hanin kesal padanya.


"Mommy, apa aku boleh tinggal di rumahku saja. Ada ibu dan ayah yang menjagaku." pintanya


" Aku ingin disana dan rumah sakit tidak terlalu jauh, aku bisa langsung kesana saat kontraksi nantinya."


" Kita bicarakan nanti di rumah, sekarang kita makan terlebih dahulu."Imelda


Mereka bicara sembari makan malam dan diselingi candaan dari Fafa dan Hanin lalu dilanjutkan dengan berdiskusi tentang hidup keluarga Keken yang akan menetap di Singapura untuk sementara waktu.


Akhirnya mereka pulang ke mansion tepat pukul sebelas malam.


"Farah, bangun." Keken menepuk wajah istrinya karena tidur di mobil


"Mommy masuk dulu. Ngantuk." pamit Imelda. Ia meninggalkan sepasang suami istri yang masih saja di dalam mobil


"Iya mom."


"Farah...." Keken masih membangunkan nya dengan menusuk - nusik pipi istrinya dengan jari


"Dia manis juga saat tidur." gumam Keken dalam hati


" Tuan muda, apa perlu saya yang menggendong nona untuk naik keatas sepertinya nona kelelahan." ucap sopir keluarga Keken. Ia tahu tuan mudanya tidak mungkin bisa menggendong istrinya karena tubuh Keken masih belum kuat.


" Maaf tuan, bukan maksud saya lancang seperti itu hanya saja __"


"Sudahlah kau diam saja!" potong Keken dengan cepat.


"Farah, kau dengar aku tidak? Ayo bangun dan tidur di kamar." Keken lagi-lagi bicara di telinga istrinya


"Kalau kau tidak bangun, akan aku tendang dari mobil ini dan sudah pasti kau akan menggelinding ke lantai, kau dengar itu!" Keken sengaja berkata di telinga Farah lagi


"Mmmphhh... Ken..." lirih Farah, " Ini dimana?"


"Di neraka, ayo kita turun. Cepetan!" Keken menggandeng tangan istrinya yang masih mengantuk. Ia tidak mungkin menggendong Farah ala bridal style mengingat kesehatan nya belum sembuh total.


Dan benar saja setelah masuk kamar Farah langsung meringkuk di ranjangnya tanpa bicara dengan Keken.


"Dia itu kenapa? Apa sangat lelah?" tanyanya bermonolog


Keken pun tak lama kemudian masuk ke dalam selimut dan ikut tidur bersama sang istri.


Namun menjelang tengah malam Farah kian mengeratkan tubuhnya pada Keken. Ia butuh sesuatu yang nyaman untuk dipeluk.


Keken merasa sesak karena tubuh istrinya yang besar kini memeluk tubuhnya dari belakang, mau tak mau ia membalikkan badan dan menatap wajah istrinya.


"Dia sangat manis." Keken memeluk istrinya, memang Keken pun merasa nyaman saat memeluk tubuh bulat itu.


" Kenapa aku bisa menikah dengan gadis ini, apa alasannya?" Keken masih mencari tahu apa yang terjadi di masa lalu, saat di rumah tantenya ia berbincang dengan Fafa mengenai Farah. Dan ia mendapat sedikit gambaran tentang sifat gadis itu.Fafa menceritakan segalanya.


" Maaf. "Hanya itu yang bisa ia ucapkan, lalu Keken mencium kening istrinya. Namun saat Keken memeluknya tanpa sengaja ia menyentuh gunung kembar yang terlihat begitu kencang dan menggoda, Keken penasaran.


" Ini asli tidak sih? "Keken mulai merabanya. Bahkan tangannya tak mau diam seolah mendapatkan kesempatan emas disaat istrinya tidur.

__ADS_1


" Asli. " lirihnya," Mantap sekali. " Keken terkekeh. Lau ia menyentuh bibir istrinya yang tebal dan berisi.


" Sexy.. "Lalu tanpa sadar ia mengurai pelukan dan menatap istrinya dari samping." Bibir ini tadi mencium ku. " ia kembali menyusuri sudut bibir istrinya,menciumnya kembali dan merasakan sesuatu yang nyaman dan membuatnya ketagihan.


" Manis... "ucapnya


" Mmmphhh... "Farah merasa terganggu dengan kegiatan Keken dan pria itu dengan lihai nya pura-pura menutup mata seolah tidak melakukannya.


" Dia tidur lagi. "gumam Keken setelah melihat Farah tidur lagi.


Tangannya tak mau diam, bahkan menyentuh setiap lekuk tubuh istrinya terutama menyentuh perut besarnya." Anakku, cup cup. "Keken mencium perutnya


Entah kenapa tangannya sangat aktif seolah ingin menjelajah dan penasaran dengan bagian tubuh istrinya. Hasratnya kian melambung. Sial.


Naluri lelaki Keken begitu besar, dia boleh hilang ingatan tapi tidak dengan otak bawahnya. Keken menyentuh titik sensitif istrinya.


"Ini apaan sih! Kok tanganku tidak mau diam." ucapnya dalam hati. Ia dengan cepat mengungkung istrinya. Menciumi setiap inci tubuhnya dengan lembut dan berakhir kembali di bagian inti.


"Aku pasti sudah gila." Keken mengusap wajahnya dengan kasar karena Kenzi mulai bangun dari persembunyian nya.


"Ini tidak benar!" Keken tidak mau sejauh itu lalu dia kembali berbaring di samping istrinya.


" Lakukanlah jika kau ingin." suara Farah kini terdengar tepat di telinganya, wanita itu membuka mata dan menatap wajah Keken ternyata Farah terbangun dan pura-pura tidur.


" Kau tidur bohongan?! "


"Aku tidur tapi kau meraba-raba diriku,jadi aku merasa terganggu." Farah


"Lalu kenapa kau tidak bangun dan menolaknya?"


"Kenapa aku harus menolak jika aku pun ingin."jawabnya dengan jujur


" Maksudnya? "


" Kau tidak dengar kata dokter, di trisemester terakhir kita harus melakukan hubungan suami istri untuk stimulus agar bayi bisa keluar dengan baik. "


" Mana ada seperti itu, itu hanya akal-akalan dokter saja! "elaknya


" Dih! Kagak percaya padahal mau. Kamu gengsi atau malu denganku. "


" Siapa yang malu. "Keken mendelik


" Bilang saja malu padahal mau juga tadi saja meraba-raba tubuh sexy ku. "


" Siapa yang meraba - raba tadi ada nyamuk makanya aku lihat kau bentol tidak. "elaknya


" Ah yang bener. "Farah menggulum senyum.


" Padahal Keken yang dulu selalu ingin lagi dan lagi tanpa harus gengsi. "


" Emangnya dulu aku seperti itu? "tanyanya


" Iya, bahkan Kenzi begitu senang saat bertemu dengan sarangnya. Dia terpuaskan hingga Keken tidak pernah mengeluh sakit kepala. "


Keken mulai menggaruk kepalanya, jika Keken yang dulu begitu mesum kenapa sekarang dia harus malu-malu jika menginginkan istrinya.


" A... aku... " belum sempat Keken melanjutkan ucapan nya, Farah segera memotongnya.


" Aku mengantuk, sayangnya aku juga sedang tidak bersemangat untuk bertemu Kenzi. "ucap Farah sembari memunggunginya, ia tersenyum jahil. Sesekali mengerjai Keken.


" Si*L!! "umpat Keken sembari memunggunginya.

__ADS_1


__ADS_2