
Chris merasa iba dengan pria yang kini masih terbaring di ranjang rumah sakit. Luka pria itu begitu serius di bagian kepala dan terlihat beberapa bagian tubuhnya membiru karena bekas benturan.
"Orangtua nya pasti mencari pria ini." gumam Crish
"Cidera otaknya cukup parah, hingga dia harus dioperasi." Crish meraup wajahnya. Sejak kemarin ia menghubungi abangnya agar segera menandatangani surat penting bahwa Slamet harus segera dioperasi dan Sam menyetujui serta menandatangi segala dokumen itu.
"Aku berharap dia akan sadar dalam beberapa hari ini, jika tidak__" Chris lagi-lagi mengusap wajah kasarnya.
" Tulang, kapan pria ini akan sadar dan sembuh. Aku begitu kasihan melihatnya." Eki yang selama ini menjaga Slamet tidak kuasa menahan tangis. Pria itu begitu menyedihkan bahkan wajahnya terdapat luka yang membiru.
"Tidak tahu, kita doakan saja."
"Tulang, apa kau tidak punya ruangan lain. Kau begitu tega menempatkan kami disini." keluh Eki, setiap malam dia harus ketakutan karena kamar ruangan Slamet berada persis di samping ruang jenazah.
Chris terkekeh. " Ini adalah ruangan rahasia karena tidak semua orang berani datang kesini jadi bersabarlah, semoga saja Slamet bisa bertemu dengan orangtua nya dengan segera.
" Untung saja pak direktur mengijinkan kita merahasiakan data pasien jika tidak pria ini akan cepat dikenali."
Namun sesaat kemudian ia mendapatkan telepon dari Ani. Crish keluar dari ruangan itu lalu mengangkat telepon nya.
"Hallo Crish, apa kau ada di rumah sakit?" tanyanya
"Iya, kenapa Ni?"
"Aku melihat berita viral hari ini. Kau tahu istri si Slamet sedang mencarinya. Dia live di toko Princess. Aku melihat istrinya sedang hamil dan dia begitu sedih mencari suaminya."
Chris diam tanpa suara.
"Hallo, kau dengar aku?"
"Aku dengar, kau cerewet sekali." gerutu Chris. " Apa kau sudah bilang dengan Tulang Sam?"
"Belum Chris, aku menelepon tulang tidak diangkat."
"Kita tunggu kabar dari Tulang dulu jangan gegabah."
"Baiklah Chrish."
* **
Disisi lain,
Sam yang sedang berkebun kini didatangi empat orang pengawal yang memakai jaket hitam. Mereka meminta waktu pada Sam untuk bicara.
"Dimana tuan Keken?" tanyanya
"Kalian tidak sopan, jika bertanya dengan orangtua harus sopan dan santun ." Sam menuang kopi dari termos, kopi buatan dari istrinya.lalu menyesapnya dengan santai.
__ADS_1
"Maaf tuan, atas ketidaksopanan kami." Mereka menunduk hormat. "Kami tahu tuan Keken berada di tangan anda, kami meminta dengan penuh kesopanan tolong kembalikan tuan muda kami."
"Saya tidak mengenal Keken, siapa dia." Sam
Salah satu pengawal menunjukkan video Sam saat bersama Tono di rumah sakit, saat mereka membawa Keken pergi wajahnya memang tidak terlihat namun kendaraan yang Sam bawa masih terlihat plat mobilnya.
"Anda tidak bisa mengelak lagi tuan karena bukti sudah ada dan ini salah satunya." Pengawal itu menunjuk kearah jam tangan Sam yang sama saat dipakai malam itu.
" Aku tidak kenal Keken, aku hanya kenal Slamet. Apa hubungan kalian dengan Keken?" Walaupun Sam tahu yang dimaksud Slamet itu Keken, tapi ia tidak ingin salah melangkah. Sam takut para pengawal ini suruhan dari musuh Slamet yang ingin membunuhnya.
"Kami anak buah nyonya Imelda, orangtua dari Slamet eh maksudku tuan muda Keken."
"Aku tidak percaya,jika dia orangtua Slamet maka dia yang harus datang kesini bertemu denganku secara langsung." Sam menyalakan rokok dan menghembuskan asap keudara.
Pengawal itu menelepon nyonya besar dengan segera, tak ingin membuang waktu.
Setelah mendapat telepon dari pengawal, Imelda mengiyakan permintaan pria paruh baya itu untuk bertemu dengan nya. Bagi Imelda yang terpenting bisa menemukan Keken, ia akan melakukan apapun. Dan sepanjang perjalanan ia menangis, sangat bersyukur ada titik terang dari keberadaan anaknya.
"Aku sangat bahagia bisa bertemu Keken mas." Ia masih saja merapalkan doa agar Keken selamat.
"Iya, kita akan bertemu Keken."
"Bagaimana, kau sudah membuat laporan polisi tentang Made Mahendra?"
"Sudah sayang, polisi akan menangkapnya dengan segera. Tidak sia-sia kita memiliki pengawal yang pintar."
"Kau tenang saja sayang, aku yakin dia akan dihukum seumur hidup atau hukuman mati karena percobaan pembunuhan."
Setelah tiga puluh menit mereka sampai di sebuah desa tak jauh dari kota malang. Mereka menuju kebun untuk bertemu pria yang menyelamatkan putranya.
" Nyonya, silakan duduk. "Pengawal itu memberikan sebuah kursi kayu ala kadarnya agar Imelda bisa duduk.
" Kau tidak memberikan aku kursi. "Feri mendelik pada pengawalnya karena hanya Imelda yang diberi tempat duduk.
" Maaf tuan, tidak ada kursi lain disini. "ucap pengawal itu
" Kalian ambillah kursi plastik di gudang itu. "Sam menunjuk sebuah ruangan kecil.
Dan akhirnya Feri bisa duduk berhadapan langsung dengan Sam.
" Aku orangtua Keken, dimana anakku berada pak? "tanya Imelda sembari menangis.
Sam melihat wanita paruh baya lalu menatap pria yang mirip wajahnya dengan Slamet dan dipastikan mereka memang orangtua kandungnya. Sebelumnya ia baru saja membuka kiriman video dari anak Tono,bahwa istri Slamet sedang mencarinya.
" Dia tidak ada disini. "Sam menggilas rokoknya
" Apa anakku baik-baik saja.Aku ingin bertemu dengannya. "
__ADS_1
" Kondisi dia sekarang masih koma, dua hari yang lalu dia operasi karena ada kerusakan di bagian kepalanya. "
Imelda terlihat lemas dan tidak bertenaga saat mendengar putranya koma.
"Banyak orang yang mencarinya, anakmu sedang bahaya maka dari itu aku menyembunyikan nya di suatu tempat dan harus berpindah - pindah." sambung Sam lagi
Sam menceritakan dari awal bagaimana dia menemukan Keken dalam kondisi tidak sadarkan diri bahkan pria itu kritis dengan luka di kepalanya.
" Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa anakku,terima kasih. huhuhu.... "Imelda yang selalu kuat kini terlihat begitu rapuh.
" Aku akan mengantarmu kesana. " Sam ikut di mobil Imelda. Ia sangat bersyukur akhirnya Slamet bisa bertemu kedua orang tuanya.
Rumah sakit,
Imelda berjalan tergesa-gesa ingin segera bertemu anaknya. Feri yang melihat itu langsung menarik tubuh istrinya." Kamu tenanglah, tidak perlu tergesa-gesa karena Keken pasti aman."
Mereka melewati pintu belakang rumah sakit, Imelda pun merasa aneh kenapa harus melewati pintu kecil, bahkan tidak ada satupun orang yang melewati pintu itu.
" Slamet ditempatkan di bagian belakang dan tidak ada data tentangnya di rumah sakit ini karena beberapa hari yang lalu ada orang yang mencarinya." Sam menerangkan pada Imelda yang masih terlihat bingung dengan jalan yang mereka lewati.
Mereka tiba di satu ruangan khusus, tempat dimana Keken berada.
" Keken.... "Imelda melihat putranya terbaring lemah. Kepalanya terbalut perban dan wajahnya pucat.
" Tubuh Slamet membaik namun luka di kepalanya yang cukup serius, sepertinya dia dihantam benda tumpul berkali-kali. " Crish menerangkan keadaan Keken sekarang.
" Slamet itu nama yang diberikan pak Tono karena pria ini sangat beruntung lolos dari maut."
Imelda terisak tangis, menyentuh dan mencium pipi anaknya." Anak mommy.... "
" Maaf, kami harus menempatkan pria ini disini dan menutupi identitasnya agar aman. "
" Pantas saja Keken tidak bisa ditemukan karena dia tidak terdata di rumah sakit ini, mereka orang - orang cerdas yang melindungi anakku." gumam Feri dalam hati.
" Terima kasih, terima kasih karena sudah menyelamatkan putraku. " Imelda berkata dengan tulus, entah apa yang terjadi dengannya jika anak semata wayangnya meninggal, ia pasti gila di usia senjanya.
" Kami menolongnya sebagai rasa kemanusiaan dan semua biaya dan operasi abang Sam lah yang menanggung bukan saya. Dia yang menandatangani berkas operasi karena pria ini harus segera mendapatkan penanganan serius di bagian kepala " ucap Crish
" Kalian tenang saja, kami akan mengganti semua biaya Slamet selama dirawat disini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih. " Kali ini Feri yang terlihat kuat tidak mampu menahan laju airmata nya. Ia menangis haru
"Tidak perlu pak, abang sudah bilang dia ikhlas karena dia merasa kasihan pada Slamet. Banyak orang yang mengincar nyawanya."
"Mereka semua akan menerima balasan dariku, akan kubuat mereka dihukum seberat - beratnya." Wajah Feri memerah menahan amarah saat mengingat pelaku yang telah membuat anaknya terluka seperti ini.
" Aku ingin membawa putraku ke Jekardah, agar dia mendapatkan penanganan yang lebih baik. "Imelda
" Saya belum bisa mengiyakan permintaan nyonya karena kita harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari dokter spesialis yang menangani Slamet, eh maksudku Keken ini karena aku hanya dokter umum dan bukan kapasitas saya untuk menjawabnya. " Chris
__ADS_1
Imelda dan Feri menghela nafas panjangnya dan berharap Keken bisa dipindahkan segera karena berada di Malang nyawa anaknya belum terasa aman.