
Keken
Sejak pertemuannya dengan Farah kemarin, ia semakin protes dengan sikap Imelda yang semakin mengunci ruang gerak nya. Dan itu terbilang aneh.Baru pertama kali ia melihat sang mommy bertindak berlebihan dengan seorang gadis. Apa yang salah dengannya, hingga sang mommy begitu gencar dan berusaha menghalangi hubungannya dengan Farah.
" Jangan pernah berpikir untuk mendekati gadis itu!"
"Mommy tidak ingin dia terluka karenamu, Nak!"
"Kamu selalu bersama banyak wanita dan dia tidak akan tahan bersamamu sayang."
Hanya itu sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut ibunya.
"Tidak masuk akal!" Keken mengebrak mejanya setelah sang mommy pergi dari kantornya, ia terlihat begitu emosi karena tidak ada satupun dari keluarganya yang mendukung agar dia bisa mendapatkan Farah.
Pikirannya begitu kalut, rasa cintanya pada Farah begitu besar namun tak ada satu orang pun yang memahami dirinya.
"Bahkan ayah yang selalu mendukung kini lepas tangan, tak mengijinkanku untuk merebut gadis itu." lirih Keken
"Apa aku seburuk itu hingga tak bisa mendapatkan gadis yang baik, kali ini aku mencintainya bukan untuk bermain-main." lirih Keken kembali.
Memang salah Keken, dulu ia selalu mengumbar janji bahwa akan serius dengan seorang gadis namun nyatanya janji itu tidak pernah dilakukan hingga akhirnya kedua orangtua nya tidak percaya dengan mulut manisnya.
" Ini semua salahku, memang aku pria brengs*k!" gumamnya, "Tapi kali ini aku serius, sangat serius dengan Farah." lirih Keken, ia menutup mata sembari membayangkan wajah gadis itu lagi.
" Baru kali ini hatiku sakit membayangkan Farah bersama pria itu." lirih Keken
Dan lamunan Keken terhenti saat mendengar pesan masuk dari Wina.
"Dia di Bogor, di hotel Amalis. Good luck cintaku."
Keken tersenyum setelah membaca pesan dari Wina. Tak lupa ia memerintahkan seseorang untuk mengerjai ibu tiri Farah yang begitu menyebalkan.
__ADS_1
" Bagaimana pun caranya, ambil kartu itu dan berikan pada Farah secara diam-diam!"
" Siap tuan! "ucapnya
Dan sekarang ia berniat untuk menemui Farah untuk mengungkapkan segalanya,tak peduli harga dirinya jatuh di dasar paling dalam seandainya gadis itu menolak, tapi setidaknya Keken bisa mengutarakan isi hatinya bukan hanya memendam perasaan seperti pecundang. Ia takut kedatangan Farah ke Bogor untuk membahas rencana pernikahan Farah dan Hilman.
" Bisa jadi mereka akan mempercepat pernikahannya." ia mengeratkan rahang membayangkan gadis pujaannya menikah dengan pria lain.
"Atau Farah kesana untuk menemui keluarga nya, aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus menyusulnya.
Ia keluar dari kantor dengan menggelabui pengawal ibunya. Keken memiliki kecerdasan diatas rata-rata, ia selalu memiliki seribu cara agar bisa lolos dan bertemu wanita pujaan nya.
~Hotel Amalis~
Farah memijit keningnya yang masih sakit. Ia meminum obat tidur dan obat pereda sakit kepala, berharap ia bisa tidur dengan pulas dan sembuh. Saat Farah hampir tertidur karena pengaruh obatnya, suara ketukan dari luar terdengar sangat keras dan mengganggu.
"Siapa sih yang datang, ganggu aja?! " teriak Farah, ia terdengar kesal namun Keken tidak peduli.
"Kamu lagi, ada apa?" ketusnya.
"Kenapa kamu berpakaian seperti ini?" Farah melihat Keken dengan baju yang berbeda, dengan name tag yang bukan bertuliskan namanya. Baju yang biasa dipakai untuk office boy kantor.
"Itu tidak penting, sekarang ada yang ingin aku bicarakan, apa aku boleh masuk?"
Terdiam sejenak Farah sembari mengenyitkan dahi, melirik ke kanan dan ke kiri seolah ragu untuk memasukkan seorang pria ke dalam kamar hotelnya.
"Aku kesini dengan penuh perjuangan, aku tidak bawa mobil hanya naik ojek karena ini sangat penting." Keken berusaha keras agar Farah mau memberinya kesempatan untuk bicara. Keken tidak mau datang sia-sia setelah mengelabui beberapa pengawal ibunya, ia sengaja menganti pakaiannya dengan baju office boy dan menyapu di sekeliling kantor dengan wajah bermasker. Pekerjaan yang tidak pernah Keken lakukan namun demi Farah ia harus melakukannya.
"Tapi aku tidak bisa sekarang, aku habis minum obat tidur kepalaku sangat sakit dan aku butuh istirahat." Farah memijit kepalanya lagi.
"Aku tidak peduli, sebentar saja Farah." Tanpa permisi dan sedikit memaksa Keken masuk ke dalam kamar Farah. Ia tidak punya banyak waktu karena pengawal mommy pasti akan menemukannya.
__ADS_1
"Ada apa?" Farah hilang fokus, ia kembali menguap. Farah duduk sembari mengucek matanya. Kian berat rasa kantuk nya.
"Farah, a... aku..." Keken terbata saat mengucapkannya, nafasnya masih memburu karena Keken lari dengan kencang demi bertemu Farah.
"A... aku...."
" Kamu kelamaan, ada apa Ken!" Farah menguap kembali, namun beberapa detik kemudian ia menutup mata. Benar-benar tertidur.
"Far, Farah..." Keken menepuk pipi gadis itu. Dan dengan sigap Keken membawa tubuh Farah ke ranjang,menelisik wajah gadis yang ia cintai, menatapnya dalam - dalam hingga sesuatu pikiran kotor masuk kedalam otaknya.
"Kesempatan terakhir untukmu, lakukan Ken." seolah ada bisikan setan ditelinga kiri Keken
"Jangan Ken!, dia gadis yang baik. Jangan merengut kehormatan nya." seolah malaikat berbisik di telinga sebelah kanan.
"Kau, ingin memilikinya kan. Lakukan." bisik setan lagi
"Jangan Ken, biarkan dia bahagia dengan pria yang dicintainya." bisik malaikat lagi.
"Apa yang harus aku lakukan." gumam Keken, otaknya kembali berputar dan berpikir cepat, waktunya tidak banyak karena pengawal ibunya pasti akan segera datang.
Dan disaat seperti ini ia sangat bingung untuk memilih, kesempatan untuk memiliki Farah seutuhnya atau meninggalkan kamar itu dan mengikhlaskan gadis itu bersama pria pilihannya. Keken meremas jari tangan pertanda ia sedang berpikir keras.
" Kesempatan terakhir untuk memilikinya. Dia sudah minum obat tidur dan kau tahu apa artinya, bukan." seolah bisikan setan mulai memenuhi sebagian otaknya lagi.
"Cinta tidak harus memiliki, kalian bisa bersama walaupun hanya sebatas teman." Dan seolah bisikan malaikat baik memenuhi sebagian otaknya lagi.
"Ambil kesempatan emas ini. Tidak akan datang dua kali."
" Jangan lakukan Ken, itu tidak benar."
Keken berulang kali meremas rambutnya, bingung dengan mana yang harus ia pilih. Sesekali ia melirik Farah yang masih tertidur pulas dan tak sengaja matanya melirik sesuatu yang menurutnya begitu sexy, padat dan kenc*ng. Berulang kali ia menelan salivanya, sesuatu yang selalu membuat dirinya haus.
__ADS_1
"Maafkan aku Farah, aku memang Pangeran Modosa si pria brengs*k tapi kali ini aku melakukannya dengan rasa cinta."
Tanpa membuang kesempatan Keken larut dalam jurang kenikmatan yang seperti ia lakukan dengan wanita lain. Tidak peduli akhirnya akan seperti apa, yang ia pikirkan saat ini hanya menikmati surga dunia bersama dengan wanita yang ia cintai.