Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
10. Gadis Penyihir


__ADS_3

"Kalau begitu, lakukan!"


Morgan tersenyum menyeringai mendengar tantangan dari gadis tersebut, tanpa menunggu lagi dia mulai melakukan aksinya, mencumbu gadis itu bahkan tidak peduli dengan siapa wanita yang sedang bersamanya ini.


"Ah" Suara des*h lembut terdengar saat Morgan menyentuh bagian sensitif wanita itu, bagian depan yang membusung tampak menggoda untuk Morgan, putih bersih dan sangat menyenangkan saat dia menggodanya dengan telapak tangan, squishy pun kalah dengan benda alami ini.


"Morgan, bisa kau lakukan saja?" tanya Margareth dengan mata sayu dan suara mendayu. Dia tak tahan dengan perlakuan dari laki-laki ini yang telah membangkitkan gair*hnya. Darahnya serasa mendidih dengan perlakuan laki-laki yang sering gonta ganti pasangan tidur ini. Bahkan, Margareth tidak peduli akan hal itu, dia yakin jika mendapatkan Morgan akan membuatnya bahagia.


Resleting yang ada di belakang Morgan turunkan dengan perlahan, dia tidak membiarkan bibirnya menganggur, menyesapi leher wanita tesebut dan memberikan satu warna merah di sana.


"Morgan. I love you," ucap Margareth.


"Kau bajingan, Morgan!" Teriakan suara itu yang membuat Morgan terdiam dan mengurungkan niatnya. Terlalu mengganggu sampai-sampai dia tidak bisa menikmati sesuatu yang ada di depannya kini.


"Morgan. Aku mencintaimu." Suara Margareth memang sangat menggoda, tampak wanita itu kini sedang pasrah dan menatapnya dengan penuh cinta. Akan tetapi, di dalam kepalanya kini terdapat suara yang lain yang tidak bisa dia enyahkan dengan mudah. Suara teriakan seorang gadis dan tangisan yang sangat menyedihkan.


Sial! racau Morgan, kini bangkit dari atas tubuh Margareth dan membenarkan letak dasi serta kancingnya. Sadar dengan tubuh laki-laki yang kini menjauh, membuat Margareth bangun dari kursi dengan alis sedikit mengerut.


"Ke-kenapa? Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Margareth bingung. Morgan tidak menjawab. Akan tetapi, dia turun dari mobilnya dan berjalan memutar, diiringi oleh tatapan bingung Margareth.


Morgan membuka pintu mobil. "Turun!" ucap Morgan dingin sambil menarik paksa tangan Margareth.


"Tu-turun? Tapi kenapa? Apakah aku menyinggungmu?" tanya Margareth tak terima, melihat wajah Morgan yang datar dan kesal seperti itu membuatnya bingung, padahal tadi dia terlihat sangat menikmati permainan mereka.


"Morgan---"


"Turun dari mobilku sekarang juga!" Morgan tidak peduli dengan ucapan permohonan Margareth.


"Kau tidak akan meninggalkan aku di sini, kan?" tanya Margareth dengan takut. Laki-laki itu mengambil tas Margareth dan memberikannya dengan kasar dan menutup pintu mobil itu.


"Morgan, aku mohon. Jangan tinggalkan aku di sini, aku takut," ucap wanita itu hampir menangis.


Morgan benar-benar tidak peduli akan hal itu, dia terlanjur kesal sekarang ini dan memilih menghempaskan tangan Margareth yang menahan lengannya.


"Tuan Muda. Tuan ... Anda tidak akan benar-benar meninggalkan aku di sini sendiri, kan? Aku mohon. Aku takut," ucap Margareth. Morgan kini menatap ke kejauhan, sebuah taksi dengan atap yang menyala hampir mendekat ke arah mereka, dengan segera laki-laki itu menghentikan laju taksi tersebut.


"Pulanglah dengan taksi, aku yang akan membayarnya," ucap Morgan lalu mengambil dompet dari saku celananya dan memberikan beberapa lembar uang pecahan terbesar kepada sopir taksi tersebut.


"Antarkan wanita ini pulang dengan selamat ke rumahnya," ucap Morgan. Margareth tidak terima dengan perlakuan laki-laki ini sehingga saat Morgan berjalan menuju ke mobilnya dia menahan tangan laki-laki itu.


"Morgan, apa yang kamu lakukan adalah penghinaan untukku!" teriak Margareth dengan linangan air mata, masih berharap jika laki-laki itu akan mengantarnya pulang dan dia akan melupakan hal yang baru saja terjadi.


Morgan tidak peduli, dia menghempaskan tangan Margareth dan benar-benar pergi meninggalkan wanita itu yang masih tampak berantakan.

__ADS_1


"Morgan!" teriak Margareth saat Morgan berlalu melewati dirinya. Hati Margareth bagai tercabik-cabik saat melihat laki-laki itu benar-benar tidak peduli. "Sialan! Dasar br*ngsek. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepadamu!" teriak Margareth dengan amarah yang amat sangat besar. Dadanya kembang kempis dan mata merah menyala setelah mendapati perlakuan yang tidak menyenangkan dari laki-laki itu.


...***...


"Sial. Sial. Sial!" teriak Morgan memukul kemudinya sendiri. Dia tidak peduli dengan telapak tangannya yang sakit. Jalanan yang sepi membuat dia leluasa mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Apa dia mengutukku sampai mengganggu pikiranku? Apa dia penyihir?" gumam Morgan dengan kesal. Pikirannya kini dipenuhi dengan wajah menyedihkan dan tangisan, serta sumpah serapah yang tadi keluar dari mulut Lyla.


"Ya, dia telah menyihirku, dia mengutukku. Dasar wanita aneh!" desisnya dengan kesal lalu semakin dalam menekan pedal gas hingga mobil itu melesat dan membelah keheningan malam.


...***...


Di rumah kediaman Morgan, di dalam sebuah kamar, masih terdengar suara tangisan dari seorang wanita yang baru saja kehilangan harga dirinya. Dia lelah, dia sudah sangat lelah dengan tangis yang percuma dia keluarkan sedari siang tadi. Ada hal yang tidak akan pernah akan kembali meski dia menangis atau bahkan membunuh laki-laki bajingan itu.


"Sampai kapan kalian akan mengurungku di sini?" tanya Lyla lirih kepada wanita setengah baya yang telah memberinya pakaian layak.


"Aku ingin pulang, bisakah kau biarkan aku pulang? Bukankah tuanmu sudah melakukan apa yang dia mau? Setidaknya biarkan aku mati dengan tenang di luaran sana jika kau tidak mengizinkanku mati di sini," ucap Lyla lagi dengan tak peduli akan perkataannya. Ya, lebih baik mati saja daripada hidup juga sudah tidak jelas. Tidak akan ada siapa pun orang yang akan menerima wanita kotor seperti dirinya. Bahkan, dia juga ragu, apakah bumi atua langit juga akan bisa menerimanya?


"Apa yang Anda katakan, Nona. Anda---"


"Aku hanya mengatakan apa keinginanku."


"Anda berkata tidak jelas, lebih baik Anda makan---"


"Bisakah aku makan di saat yang seperti ini? Aku hancur," ucap Lyla lagi tanpa menatap wanita yang sedari siang menemani dan mengurusnya.


"Saya mohon, demi kesehatan Anda, Nona."


"Aku lebih baik mati," ucap Lyla. Wanita tersebut tidak tahan lagi, setelah ratusan kali membujuk gadis keras kepala ini, dia mengambil piring yang terdapat hidangan mewah, khusus koki masakkan untuk memanjakan perut gadis ini. Namun, Lyla tetap saja bergeming di tempatnya dan tidak menoleh sama sekali. Tatapannya hanya tertuju pada titik di depannya ke arah dinding yang kosong.


"Nona, tolong kerja samanya. Saya akan dihukum jika Anda tidak mau makan," ucapnya memaksa, satu sendok berisi makanan dia sodorkan ke depan mulut Lyla, tapi gadis itu menepis tangannya dan membuat piring itu melayang hingga terjatuh dan pecah berserakan di lantai.


"Akh!" teriak wanita itu terkejut akan perlakuan Lyla. Refleks dia mundur untuk menghindari pecahan piring yang hampir mengenai kakinya.


Suara teriakan dan pecahan piring tersebut terdengar hingga ke bawah, di mana Morgan baru saja masuk ke dalam rumah dengan maid yang telah menyambut kedatangannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Morgan seraya memberikan dasinya kepada wanita tersebut.


"Gadis itu tidak mau makan sedari siang tadi, Tuan," jawabnya dengan takut dan menundukkan kepalanya. Apalagi saat mendengar dengkusan sang majikan, membuatnya semakin menunduk dalam.


"Dasar penyihir!" geram Morgan, lalu dengan langkah kaki yang lebar segera pergi ke lantai atas.


"Tuan." Gerald menundukkan kepala saat melihat Morgan melewatinya. Kehadiran asistennya itu tidak digubris sama sekali oleh Morgan, yang dia inginkan sekarang ini adalah menghentikan teriakan dari wanita yang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Pergi saja kalian, aku tidak butuh belas kasihmu sama sekali. Yang aku inginkan hanyalah pergi dari neraka ini!" jerit Lyla dengan emosi, di tangannya terdapat pecahan piring yang sangat tajam, dia arahkan kepada wanita paruh baya yang ada beberapa meter di depannya.


"Nona, jangan lakukan itu. Saya mohon, itu berbahaya!" ucap wanita tersebut takut dan khawatir.


Lyla menggelengkan kepalanya dan tersenyum tampak mengerikan, bahkan di mata Morgan yang baru saja sampai di ambang pintu kamar tersebut hanya menatap wajah wanita tersebut yang serius dan tanpa gentar sama sekali.


"Nona, saya mohon. Itu bahaya, simpan, letakkan benda itu. Saya akan bantu untuk bicara dengan tuan muda," ucap wanita itu lagi masih membujuk Lyla.


"Bicara apa? Apakah bicara bisa membuat aku kembali seperti dulu? Tidak kan?" ucap Lyla.


"Jawab!" teriaknya sampai wanita itu terlonjak kaget. Urat menyembul dari leher Lyla, tatapan wanita itu sungguh sangat menakutkan sekarang ini.


Morgan menghela napasnya dengan lelah, pikirannya sedang kacau, di tambah urusannya dengan wanita ini sepertinya tidaklah mudah.


"Apa yang kau mau? Aku punya uang dan segala yang kau butuhkan," ucap Morgan mengalihkan tatapan Lyla dari wanita tersebut.


Lyla tertawa keras kini mengalihkan benda tajam di tangannya ke arah Morgan. Matanya merah memancarkan kemurkaan, seakan sesuatu yang mengerikan merasuki dirinya.


"Kau, laki-laki yang sudah menghancurkan hidupku. Apakah puas melihatku seperti ini?" teriak Lyla.


Morgan berusaha untuk tetap tenang seperti biasanya. Dia mulai melangkah mendekat ke arah Lyla dengan sangat santai sekali.


"Harus ku akui jika aku memang salah, tapi tidak bisa kah kita berdamai? Aku punya semua yang kau butuhkan. Bahkan, jika harga yang kau mau setara dengan membeli seribu wanita sepertimu aku juga bisa memberikannya."


Lyla tertawa mencibir, tidak dia sangka telah bertemu dengan laki-laki yang sombong seperti ini, bahkan kata maaf saja tidak ada darinya.


"Atau, kau mau tetap di sini dan menikmati semua yang aku punya termasuk diriku? Aku akan sangat senang sekali jika memang itu bisa terjadi," ucap Morgan dengan angkuh.


Hal tersebut membuat Lyla semakin murka, juga dengan wanita paruh baya yang ada di sana. Majikannya ini memang memiliki sifat keras kepala dan juga tidak mudah untuk meminta maaf kepada yang lainnya. Semua bisa diselesaikan dengan uang.


Jarak Morgan dan Lyla semakin dekat, Morgan masih berusaha untuk tetap tenang sambil membuka jasnya. Dia bersiap untuk menghindar dari marabahaya jika saja Lyla akan menyerangnya.


"Dalam mimpimu, brengs*k!" cecar Lyla, lalu tanpa Morgan sadari gadis itu bergerak, tangannya terangkat ke atas bergerak dengan cepat.


"Akh!" teriak sang asisten saat melihat darah mengalir dengan deras dan mengucur ke lantai. Morgan hanya terdiam melihat cairan merah itu di lantai tanpa bisa mengatakan hal apapun. Dia hanya diam terpaku melihat apa yang gadis itu lakukan.


"Kau---"


"Apa kau puas? Aku harap kau bersedih dan menyesal selama sisa hidupmu nanti," lirih Lyla, dua detik kemudian tubuh itu ambruk di lantai dengan genangan darah di bawahnya.


"Tuan!"


...****************...

__ADS_1


Jempol, mana jempol 👍


Dukungannya dong, biar semangat nulis nih!


__ADS_2