
"Hei, kau kenapa?" tanya Morgan terkejut akan jatuhnya Lyla di tangannya. Akan tetapi, wanita itu tidak menjawabnya sama sekali meski Morgan mengguncang bahu dan menepuk pipinya. Pipi Lyla terasa panas, Morgan sendiri terkejut akan suhu tubuh wanita itu.
"Hei kau jangan berpura-pura. Bangun sekarang juga atau aku akan menghukummu!" seru Morgan sekali lagi.
"Hei. Bangun! Aku perintahkan k koau untuk kembali ke tempat tidurmu!" perintah Morgan. Jangankan untuk kembali, membuka mata saja Lyla tidak bisa.
Morgan panik akan keadaan itu, kemudian menggendong Lyla menuju ke lantai bawah. Para asisten yang berada di sana menatap kejadian tersebut dan terlihat khawatir mendekat ke arah Morgan berlari.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya salah seorang asisten yang bertanya dan mungkin saja bisa membantunya.
"Jangan banyak bicara. Bukakan pintu mobil untukku," ucap Morgan sedikit membentak pada asisten tersebut. Wanita itu pun segera berlari kini mendahului Morgan menuju ke arah mobil dan membukakan pintunya. Sopir yang ada di dekat mereka juga ikut berlari mendekat dan hendak bertanya, tapi lagi-lagi dia mendapat bentakan dari Morgan untuk segera masuk dan membawanya ke rumah sakit.
"Sebenarnya kau itu kenapa?" tanya Morgan pada sosok yang tidak sadarkan diri di atas pangkuannya. Dia menepuk pipi Lyla dengan pelan, tapi wanita itu tidak bangun-bangun juga.
"Ayah," lirih Lyla dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Percepat laju mobil ini!" perintah Morgan pada sopir saat merasakan jika hawa pada tubuh Lyla yang semakin meningkat panas.
Dalam waktu yang singkat mereka telah sampai di rumah sakit, Morgan segera menggendong tubuh lemah itu berlari ke dalam rumah sakit tersebut. Perawat yang ada di sana dengan sigap membawakan brankar yang ada di sana untuk Lyla. Mereka kemudian membawanya ke sebuah ruangan.
Dari kejauhan Selvi melihat Morgan tengah membantu mendorong brankar Lyla. Dia kemudian berlari kecil mendekati keponakannya itu.
"Ada apa? Apa yang terjadi kepada wanita itu? Apa kau mengganggunya lagi?" tanya Selvi khawatir sekaligus marah kepada pria itu. Dia menatap tajam keponakannya jika saja dia melakukan hal yang tidak pantas seperti dulu kepada Lyla. Morgan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa kau pikir aku sejahat itu?" tanya Morgan dengan nada kesal.
"Lalu apa yang terjadi? Kau sungguh tidak mengganggunya?" tanya Selvi ingin jawaban yang benar.
"Tentu saja. Kau bisa bertanya pada asisten apa yang telah terjadi kepadanya. Sepertinya dia demam tinggi dan mengigau di dalam tidurnya," ucap Morgan menerangkan.
Selvi mendengar hal itu kemudian masuk ke dalam ruangan meninggalkan Morgan yang kebingungan di luar sana.
Di dalam ruangan tersebut Lyla sudah ditangani oleh dokter yang lain. Dampak wanita itu tidak membuka matanya sama sekali.
"Apa yang terjadi kepadanya?" tanya Selvi khawatir.
"Dia hanya demam saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Edward sambil tersenyum.
__ADS_1
"Benar hanya seperti itu kan?" tanya Selvi. Edward menganggukan kepalanya, sehingga membuat Selvi menghela nafasnya lega.
"Syukurlah."
"Memangnya kau memikirkan apa?" Tanya Edward melirik kepada wanita yang dia sukai. Selvi hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan khawatir, sepertinya keponakanmu tidak melakukan apa-apa kepadanya."
"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Selvi selanjutnya.
"Tidak apa-apa. Dia hanya perlu beristirahat saja, aku kira nanti sore dia juga akan baik-baik saja," ucap Edward lagi. "Tapi ...."
"Kenapa?" tanya Selvi dengan cepat.
"Tangan kirinya sedikit bengkak. Mungkin dia terlalu keras menggunakannya sampai bengkak seperti itu," terang Edward lagi.
"Apa itu akan bermasalah nantinya?"
"Tidak. Untuk saat ini masih dalam tahap wajar, tapi jika dia tidak bisa menjaga tangannya dengan baik aku tidak bisa menjanjikan dia akan seperti dulu lagi."
Selvi terdiam mendengar ucapan dari Edward. Saat melihat Lyla untuk pertama kalinya, dia melihat jika wanita ini bukanlah wanita biasa yang hanya suka bertopang dagu saja.
"Hah? Bengkak kenapa?" tanya Selvi bingung. Edward menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak terlalu tahu, tapi sepertinya kakinya terkilir. Lihat," tunjuknya pada pergelangan kaki Lyla yang lebih besar sebelah. Selvi juga melihat hal tersebut.
"Apa terjadi sesuatu dengan dia?" Gumam wanita itu. Sekali lagi Edward menggelengkan kepalanya.
"Semoga saja tidak ada hal yang buruk."
Selvi menatap Lyla yang tertidur lelap di atas ranjangnya.
"Kasihan sekali dia," gumam Selvi pelan.
Setelah melihat keadaan Lyla, kedua dokter itu pun keluar dari ruangan tersebut. Morgan yang melihat pintu terbuka segera berdiri dari duduknya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Morgan dengan cepat.
__ADS_1
Dokter Edward mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan kepada Selvi.
"Kau yakin dia benar baik-baik saja?" Tanya Morgan sekali lagi dengan tidak percaya.
"Tenanglah keponakanku. Dia memang hanya demam biasa, mungkin juga itu dikarenakan tangannya yang bengkak, dan juga kakinya. Apa kita bisa bicara berdua?" tanya Selvi menatap keponakannya.
Edward yang berada di sana merasa keberadaan dirinya tidak tepat saat ini. Maka dari itu dia pamit untuk mengecek keadaan pasien yang lain.
"Aku akan mengecek keadaan yang terlebih dahulu," ucap Morgan saat mendapati tatapan dari tantenya tersebut. Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu dia kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.
Lyla masih tertidur di sana, terlihat lebih baik sekarang ini karena wajahnya tidak sepucat tadi saat dia membawanya ke sini. Morgan melirik tangan Lyla yang bengkak, dia mengambilnya dan mengusap tangan itu pelan tanpa dia sadari. Teringat dengan ucapan Lian saat malam kemarin yang mengatakan jika tangan gadis itu sakit karena mempertahankan kalungnya.
"Bisa kita bicara?" tanya Selvi yang membuat Morgan terkejut dan seketika itu melepaskan tangan Lyla.
"Bicara apa?"
"Apa saja."
Dua orang itu keluar dari ruangan tersebut.
"Apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Morgan setelah menutup pintu ruangan Lyla.
"Apa yang terjadi pada Lila? Kenapa tangan dan kakinya sampai bengkak seperti itu?" Tanya wanita tersebut menatap Morgan dengan tatapan tajam.
"Jangan tanya aku."
"Lalu aku harus tanya siapa?" Selvi mulai kesal dengan jawaban dari keponakannya tersebut.
"Aku tidak tahu apa-apa dengan dia."
"Kalian itu satu rumah. Bagaimana kau tidak tahu tentang dia sama sekali?" tanya Selvi marah dan kesal. Morgan hanya diam saja. Dia memang tidak tahu menahu sama sekali.
"Memangnya jika satu rumah aku harus tahu semua tentang dia?" Kali ini Morgan balik bertanya.
Selvi menjadi semakin kesal mendengar ucapan dari keponakan yaitu. "Tentu saja kau harus tahu, selama dia berada di rumahmu, dia adalah tanggung jawabmu!"
...****************...
__ADS_1
mampir sini yok!