Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
230


__ADS_3

Selvi sering murung akhir-akhir ini. Dia masih protes terhadap suaminya dan ingin tetap memiliki anak. Robinson sudah tidak tahu lagi harus seperti apa menghadapi Selvi. Dia sudah berpuasa selama dua Minggu lamanya dan Robinson tidak bisa bertahan lebih lama lagi dari ini!


"Sayang." Robinson masuk ke kamar dan melihat Selvi mematikan ponselnya. Selvi yang melihat Robinson masuk segera berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sayang. Tolong jangan bersikap seperti itu. Apa ini tentang anak lagi?" tanya Robinson duduk di samping istrinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Setiap hari kau terus saja murung dan itu membuatku sedih."


"Menikahlah lagi, Robinson. Dan punya anak."


Robinson ingin membekap mulut Selvi dengan mulutnya sehingga tidak lagi berbicara seperti itu.


"Tidak mungkin, Sayang. Aku tidak mungkin menikah lagi. Untuk apa? Jika hanya bayi saja kita bisa mengambilnya di panti asuhan, kan? Tolong jangan membuat keadaan menjadi rumit. Aku tidak bisa melakukan apa yang kau minta. Semua itu sulit untukku. Jika kau ingin hamil, baiklah. Ayo kita pergi ke dokter lagi dan melakukan program."


Selvi membuka selimutnya dan menatap Robinson tidak percaya, akhirnya suaminya itu setuju.


"Tapi kau harus resign dari rumah sakit dan semua hal yang kau kerjakan di luaran sana. Diam saja di rumah dan jangan beraktifitas," ucap Robinson. Padahal di dalam hati dia tidak ingin Selvi hamil dan membuat kesehatannya terancam.

__ADS_1


"Oke. Aku terima apa yang kau minta, yang penting aku akan punya anak. Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang!" ucap Selvi dan turun dari ranjang kemudian menarik tangan suaminya.


"Ini sudah malam, Sayang."


"Aku tidak peduli. Aku tidak ingin menundanya lagi!"


Selvi memaksa Robinson, dan laki-laki itu tidak bisa menolaknya lagi. Robinson sudah tidak tahan dengan kelakuan Selvi yang mengabaikannya dan juga sering marah-marah tidak jelas.


Langkah kaki Selvi cepat menyusuri lorong rumah sakit dan Robinson hanya mengikuti kemauan Selvi.


"Hai, Rachel." Selvi menyapa Rachel yang bertugas shift malam.


"Tidak. Ayahmu telah mengizinkan aku untuk hamil, jadi tolong bantu aku agar aku bisa menjalankan program hamil dengan baik, Rachel."


Rachel menatap Robinson dan laki-laki itu hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah lain. Padahal Rachel sudah mewanti-wanti kepada sang ayah agar Selvi tidak hamil di usianya yang empa puluh tahunan.


"Rachel, ayo kita periksa. Apa rahimku sehat?" tanya Selvi penasaran.

__ADS_1


Rachel menuruti keinginan Selvi dan menyuruhnya berbaring. Namun, sesuatu membuat Rachel tidak bisa mengedipkan matanya dari layar USG.


"Mom, kau hamil!"


"Apa?"


Robinson dan Selvi bertanya bersamaan, reaksi Rachel masih terpaku melihat layar hitam itu.


"Itu ...." Tunjuk Rachel kepada keduanya. Robinson yang tidak percaya akan pernyataan Rachel mendekat dan melihat titik berwarna putih di sana.


"Kalian akan punya anak," ucap Rachel masih tidak percaya.


"Ah, benarkah? Aku senang sekali jika aku benar hamil!" seru Selvi kegirangan. "Tapi kenapa aku tidak merasakan mual muntah seperti orang lain? Berapa usia kandunganku?" tanya Selvi penasaras.


"Sekitar tujuh minggu."


"Hah? Tujuh minggu?"

__ADS_1


Rachel menganggukkan kepalanya dan membuat Selvi tidak percaya. Begitu juga dengan Robinson yang tidak mengedipkan matanya. Dia tidak tahu sama sekali jika istrinya sedang hamil selama ini,


__ADS_2