Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
175. Dipaksa Menerima Warisan


__ADS_3

"Aku akan kembali ke kantor. Baik-baiklah kalian di sini. Jika kalian ingin membuat cucu untukku jangan lupa untuk mengunci pintu."


Blushhhh.


Wajah Lyla memerah mendengar ucapan Robinson. Dia tidak menyangka sama sekali akan kata-kata itu keluar dari mulut pria tersebut.


"Ayah--"


Morgan hendak berkata untuk memberi peringatan kepada ayahnya, tapi Robinson mengangkat tangannya dan segera menutup pintu ruangan itu.


"Ja-jangan dengarkan dia. Dia bukan orang yang baik," ucap Morgan dengan muka yang masih memerah. Kedatangan ayahnya bukan di waktu yang tepat.


Lyla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, tentu saja. Ayahmu orang yang baik, ya. Aku pikir, ayahmu sudah tiada."


Morgan baru teringat jika mungkin saja Lyla masih belum tahu siapa laki-laki itu, dan mungkin apa yang telah Robinson lakukan kepada Alex, bisa jadi dia akan menjadi marah. Tiba-tiba saja Morgan menjadi takut. Bagaimana jika Lyla membencinya karena perlakuan ayahnya kepada Alex?


"Morgan. Kau baik-baik saja?" tanya Lyla. Morgan tersentak mendengar panggilan dari kekasihnya itu.


"Eh, iya?"


"Kau melamun? Kau tidak mendengar pertanyaanku?" tanya Lyla.


"Ah? Kau bertanya sesuatu?"


Lyla menyelidik ke kedalaman mata laki-laki itu, dia tidak tahu apa yang Morgan lamunkan sehingga tidak mendengar pertanyaannya tadi.


"Kau melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?"


Aku tidak mungkin kan akan bicara soal ini? Bagaimana tanggapannya nanti? batin Morgan.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir, setelah ini kemana kau akan pulang. Apa kau akan pulang bersama dengan Alex?"


Lyla tersadar dan terdiam, mengingat kembali Alex yang tidak dia ketahui keadaannya.


"Apakah Uncle selamat? Dia tidak mati kan?"

__ADS_1


Suara Lyla terdengar lirih. Morgan terdiam sejenak. Alex memang tidak mati, tapi ....


"Morgan. Apa kau sudah mengecek keadaan pamanku? Bagaimana keadaanya?" tanya Lyla sekali lagi.


"Dia baik-baik saja. Tapi, dia masih harus dirawat intensif."


"Di mana tempatnya dirawat? Apakah dia di rumah sakit yang berbeda?" tanya Lyla lagi.


"Tidak. Dia ada di sini. Kau mau melihatnya?"


Dengan antusias Lyla menganggukkan kepalanya. "Iya, aku ingin melihatnya."


"Tapi aku harus bicara dulu dengan dokter, apakah dokter mengizinkan kau keluar dari sini atau tidak. Aku tidak berani membawamu keluar jika dokter belum mengizinkan."


Sekali lagi Lyla menganggukkan kepalanya. Kali ini dia tidak akan keras kepala, karena dia juga tidak ingin jika Alex khawatir dengan keadaannya.


"Istirahatlah dulu. Kau sudah terjaga sedari tadi." Morgan membenarkan letak bantal untuk Lyla. Lyla pun membaringkan kembali tubuhnya dan Morgan menarik selimut hingga ke lehernya.


"Morgan."


"Hem?"


Morgan tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Maaf soal yang kemarin. Aku belum bisa melindungimu dengan baik." Kecupan lembut diberikan di punggung tangan kekasihnya.


Lyla menarik tangan Morgan dan memintanya untuk berbaring di sampingnya. "Jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut. Selain Uncle Alex, aku cuma sendirian di sini."


Suara itu sendu, membuat Morgan menjadi bersalah akan perlakukan ayahnya kepada Alex.


"Iya, aku tidak akan pergi lagi." Morgan mengambil selimut yang sama dan berbaring di samping kekasihnya. Menatap wajah Lyla yang teduh dan menyimpan banyak kesedihan.


Lyla menyembunyikan wajahnya ke dada Morgan dan tiba-tiba saja tidak bisa lagi menahan tangisnya. Tangis yang sudah cukup lama dia simpan sendiri dan tidak dia perlihatkan kepada siapa pun. Tidak ada niatan untuk menjadi lemah di hadapan Morgan, tapi entah kenapa kali ini dia tidak bisa lagi menahannya sehingga air mata itu deras keluar dari mata.


Hal tersebut membuat Morgan menjadi khawatir. "Hei, kenapa? Apakah ada yang sakit?"


Lyla menggelengkan kepalanya.


"Sudah diam. Aku hanya ingin seperti ini sebentar."

__ADS_1


Maka Morgan pun hanya diam dan mengelus kepala Lyla dengan pelan, mencoba untuk mengerti apa yang dirasakan Lyla meski dia sendiri masih belum paham segala yang ada pada diri kekasihnya.


Tak lama, Lyla tertidur saking lelahnya, mungkin juga karena pengaruh obat yang tadi dia makan. Saking lelahnya dia bahkan tidak sadar jika Morgan mengecup bibirnya beberapa kali.


"Apa sebenarnya yang ada di dalam hatimu? Kenapa kau menangis?" gumam Morgan dengan suara yang sangat pelan. Tangan kirinya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Lyla.


"Aku berjanji, tidak akan lagi meninggalkanmu sendiri. Kau akan ikut denganku. Kau tidak keberatan kan jika aku tidak memiliki apa-apa lagi?"


Bibir Lyla sungguh tidak bisa ditolak olehnya. Bibir yang masih pucat itu sangat menggoda. Meski dengan susah payah dia menahannya, tapi nyatanya Morgan tidak bisa. Dia mendekat kembali untuk mengecup pelan bibir tipis itu.


"Astaga! Kau bahkan melakukannya saat kekasihmu sedang tertidur? Kau sungguh laki-laki yang sangat bernafsu!"


Suara itu terdengar lagi,membuat Morgan terkejut dan menoleh. Tatapannya tajam diberikan Morgan kepadanya.


"Bisakah kau tidak masuk dengan tanpa permisi?" desisnya kesal.


"Kau harus memeriksakan pendengaranmu, Nak. Aku sudah mengetuk pintu. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada orang-orang yang berjaga di luar. Bahkan aku sudah mengetuk pintu tiga kali." Robinson menyimpan sesuatu di meja di depan sofa dan dia mengangkat tiga jarinya, tapi Morgan tidak peduli itu. Baginya kehadiran sang ayah sangat mengganggu sekali.


"Bukankah kau pergi ke markas?" Morgan memindahkan kepala Lyla dengan hati-hati dan turun dari sana. Sekali lagi dia merapikan selimut Lyla dan memastikan jika wanitanya tidur dengan nyaman.


"Iya, aku memang pergi tadi, tapi aku ingat jika kau mungin belum makan, kan? Aku tidak mau jiak kau mati kelaparan. Kau yang akan aku andalkan untuk menjadi penerus selanjutnya."


Robinson akan melangkah keluar dan berhenti saat Morgan berbicara, "Aku tidak mau. Kau pikir aku mau mewarisi bisnis harammu?" tanya Morgan.


Robinson memutar tubuhnya dan menatap tajam sang putra.


"Aku tidak akan memaksamu untuk memegang Black Eagle jika kau tidak mau, tapi perusahaanku. Siapa yang akan aku berikan perusahaan jika bukan kepada putraku sendiri? Dan lagi, bukankah kau sendiri memiliki bisnis haram di sana? Kau putraku, aku tahu segala gerak gerikmu, Nak. Jadi, tidak ada alasan lagi jika kau tidak mau menerimanya. Aku memaksa."


Morgan terdiam dengan wajah yang kesal. Dia masih tidak mau menerima semua pemberian dari Robinson dan ingin membuat bisnisnya sendiri. Mungkin dengan uang yang dia miliki yang dia hasilkan di dalam tabungannya selama ini, dia akan membuat sebuah resort besar di beberapa negara tropis. Salah satunya akan dia buat di Bali dengan view pantai yang indah, dan akan dia persembahan resort itu untuk Lyla.


"Ah, aku adalah orang yang sangat menyedihkan rupanya. Setelah ditinggal pergi kekasihku, tidak diakui oleh putraku, sekarang aku ditolak. Betapa kasihannya diriku ini," ucap Robinson dengan nada yang menyedihkan.


"Cih, jangan sok menyedihkan seperti itu. Itu tidak cocok dengan wajahmu!" Morgan duduk di sofa dan membuka makanan yang Robinson bawa.


Robinson tersenyum senang. Entah apakah Morgan akan menerima tawarannya untuk memegang perusahaan atau tidak, tapi dia senang jika Morgan tidak menolak makanan yang dia bawakan.


"Aku akan pergi. Kau bisa melihat keadaan perusahaan. Cedrik akan mengurusnya nanti."

__ADS_1


"Hemm." Morgan memakan hidangan mewah yang Robinson bawakan, sementara sang ayah pergi dari ruangan itu.


__ADS_2