Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
108. Keinginan Lyla


__ADS_3

“Lalu bagaimana dengan makanan ini?” tanya Morgan menunjuk pada popcorn yang ada di tangannya. Lyla mengambil makanan tersebut dan dia melirik ke kanan dan ke kiri. Ada beberapa anak muda yang Lyla pikir mereka juga akan masuk ke dalam bioskop juga. Mereka tampak seperti pelajar.


"Aku akan memberikannya kepada orang lain jika kau tidak keberatan," ucap Lyla kemudian dia membawa popcorn dan tersebut pada para remaja itu.


“Kalian juga akan menonton?" tanya Lyla. Tiga remaja wanita itu melirik Lyla dengan sedikit takut dan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Pacarku membeli makanan cukup banyak, dan aku rasa ... aku tidak akan bisa menghabiskannya. Apa kalian mau ini?" Lyla menyodorkan makanan tersebut, mereka tampak ragu-ragu.


"Ini tolong ambillah, daripada aku harus bingung dan sayang untuk membuangnya. Kalian bisa menikmatinya sambil menonton film," ucap Lyla.


Mereka masih saling berpandangan, tapi kemudian salah satu mengulurkan tangannya dan mengambil makanan tersebut.


“Terima kasih," ucap mereka bersamaan. Lyla menganggukkan kepalanya, kemudian kembali lagi ke dekat Morgan.


"Kau hanya memberikan mereka satu? Mereka bertiga," ucap Morgan.


"Kita hanya memiliki dua, dan kita hanya membutuhkan satu. Jadi hanya satu yang bisa kita berikan kepada mereka."


Morgan kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya kepada Lyla.


"Suruh mereka membeli masing-masing satu, agar mereka tidak berebutan," ucap Morgan.


Lila terdiam sejenak melihat dua lembar uang yang ada di tangannya, tapi Morgan menganggukkan kepalanya. Lyla kemudian kembali lagi pada ketiga remaja itu dan memberikan uang tersebut.


Sama seperti tadi mereka ragu, tapi Lyla meyakinkan jika mereka bukan orang jahat dan hanya ingin berbuat baik saja.


"Terima kasih, Nona. Terima kasih banyak. Tuan, terima kasih!" teriak salah satu mereka kepada Morgan sambil melambaikan tangannya. Morgan tersenyum dan menganggukan. Rasanya aneh, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat bangga, padahal dia hanya memberikan sedikit uang kepada para remaja itu.


Lyla kembali ke dekat Morgan yang menatap tiga pemudi tersebut. "Ayo kita masuk," ajak Lyla Morgan berdiri dan mengikuti langkah kaki Lyla.


Mereka berdua duduk di bangku sesuai dengan nomor yang tertera di tiket.


"Kenapa kau memilih bangku di paling belakang?" tanya Lyla. Morgan mengatakan apa yang tadi diucapkan oleh petugas kasir, sontak Lyla tertawa mendengar ucapan dari wanita itu.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Morgan dengan mengerutkan keningnya. Lyla menggelengkan kepalanya dan segera menutup mulut karena dia mendapati tatapan dari orang lain, beruntung film belum dimulai sehingga dia tidak mengganggu acara tersebut.


"Kenapa kau tertawa seperti itu? Apa aku salah lagi?" tanya Morgan dia benar-benar tidak mengerti.


"Sebenarnya tidak salah, tapi apa kau tahu apa maksud dia mengatakan seperti itu?" tanya Lyla. Kali ini Morgan yang menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu. Apa maksudnya?" tanya Morgan yang ingin tahu.


"Astaga, Tuan. Kau ini tinggal di planet mana?" tanya Lyla seraya menahan tawanya. Morgan berdecih dengan kesal saat Lyla menanyakan hal itu.


Lyla menarik napasnya dan mengembuskannya pelan.


"Sebenarnya kau pernah menonton film tidak sih? Aku heran denganmu," bisik Lyla takut terdengar oleh orang lain.


"Tentu saja aku pernah," jawab Morgan. "Tapi aku menonton bioskop hanya berdua dengan kekasihku," tambah Morgan bangga. Lyla menelan ludahnya dengan kasar, dia lupa suiapa Morgan yang bisa melakukan apa pun dengan uangnya yang banyak.


"Maksudmu kau menyewa gedung bioskop sendirian, hanya untuk berdua?" tanya Lyla.


"Ya, aku menyewa seluruh gedung bioskop untukku dan kekasihku," ucap Morgan membenarkan.


Lyla langsung mengatupkan mulutnya dan mendecih. "Terlalu boros," ucap Lyla.


"Kenapa? Apa itu salah lagi di matamu?" tanya Morgan bingung.


"Tidak. Itu hakmu karena menggunakan uang milikmu sendiri. Tapi apa kau tahu, menyewa satu bioskop dan hanya menonton berduaan saja tidak seru!" ujar Lyla.


"Apa bedanya?" tanya Morgan.


"Tentu saja beda. Kau akan lebih suka jika menonton dengan banyak orang seperti ini."


"Benarkah?" Morgan tidak percaya. Lyla menganggukkan kepalanya.


"Ya, kau akan bosan menonton hanya berdua saja. Kau akanmenyukai menonton dengan banyak orang seperti ini," ucap Lyla meyakinkan. Morgan tetap tidak percaya, dia memakan popcorn dan juga minumannya dengan santai.


"Apa pernah pacarmu mengatakan bosan saat menonton film?" tanya Lyla seraya mengambil popcorn yang ada di pangkuan Morgan.

__ADS_1


Morgan mengangkat bahunya, memang dia pernah mendapati jika wanita yang dia bawa menonton mengatakan bosan, tapi dia malah mengajaknya untuk pergi ke hotel dan berakhir mereka berpeluh bersama dengan film yang sedang tayang di layar lebar itu.


"Tidak ada yang pernah bilang bosan menonton film denganku," ucap Morgan.


"Benarkah?" Lyla tidak merasa yakin.


"Ya, karena kami menonton sambil berolah raga," ucap Morgan jujur.


"Cih, pantas saja!"


Morgan menatap Lyla bingung. "Pantas saja? Kenapa?" tanya Morgan.


"Itu menjijikkan. Pantas saja tidak ada yang bilang bosan. Kau juga modus dengan menyewa satu gedung bioskop hanya untuk dirimu sendiri."


"Kau bilang menjijikkan, tapi orang lain ingin lagi dan lagi," ujar Morgan. Lyla menutup telinganya dengan kedua tangan.


"Aku tidak mau mendengarkan."


"Kau tidak tahu saja, mereka ...."


"La ... la ... laaa ...." Lyla bertahan dan menolak untuk mendengarkan penjelasan Morgan.


Morgan tertawa geli, dia mengurunkan tangan Lyla dari telinganya itu.


"Kau ini, diam lah. Lihat orang lain melihat kita," ucap Morgan. Lyla tersenyum malu, benar saja banyak yang mleihat ke arah dirinya. Kini dia hanya duduk dengan diam dan fokus makan popcorn yang dia ambil dari pangkuan Morgan.


"Sesekali kau juga perlu melakukan kehidupan seperti orang biasa pada umumnya, Tuan. Aku yakin jika kau akan mendapatkan hari-harimu menjadi lebih berwarna."


Morgan benar-benar tidak mengerti apa yang Lyla katakan. Hidup biasa-biasa saja? Dalam garis kemiskinan? Dia sebutkan hal yang menyenangkan dan akan bisa membuatnya lebih berwarna? Itu sangat mustahil!


"Apa menurutmu hari-hari yang aku jalani ini sangat membosankan?" tanya Morgan.


"Tidak tidak juga, tapi kau juga harus menjalani hidupmu di luar kebiasaanmu," ucap Lyla.


"Bukankan biasanya kau menonton film hanya berdua saja? Coba bandingkan nanti, setelah kau menonton bersama-sama dengan mereka. Percaya kepadaku kau akan mendapatkan bedanya dan kau akan senang menonton bersama-sama. Suasananya pasti akan lebih seru."


Morgan menggelengkan kepalanya dia tetap saja tidak akan percaya. Menurutnya menonton film itu harus dengan keadaan yang sangat tenang dan juga tidak terganggu oleh sesuatu apapun termasuk suara-suara kecil sekalipun.


"Tuan, sebenarnya film apa yang kita tonton sekarang ini?" tanya Lyla, Morgan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu. Aku hanya menunjuk saja film yang aku lihat tadi."


Lyla menghela nafasnya dan menggelengkan kepala dengan pelan. "Astaga! Ya sudahlah, aku pikir tadi kau sudah tahu kita akan menonton film yang mana."


Morgan kemudian hanya tersenyum dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu.


"Tadi aku akan bertanya padamu, tapi kau pergi ke toilet dan aku tidak tahu, dan tidak mengerti dengan apa film yang akan kita tonton. Jadi, aku memilih random saja," ucap Morgan.


"Ya, sudahlah. Kita nikmati saja film ini. Siapa tahu ini adalah film yang bagus," ucap Lyla.


Morgan dan Lyla menikmati film tersebut. Mereka tidak tahu bagaimana alur film ini, tapi hanya melihat saja dan menikmati. Sampai suatu ketika ada satu adegan yang membuat Lyla mengalihkan tatapannya dari layar lebar tersebut. Begitu juga dengan Morgan, wajah mereka sama-sama memerah karena tidak menyangka dengan adegan yang disuguhkan film tersebut.


Ciuman dan adegan panas ditampilkan, beberapa orang yang ada di depan Morgan saling mendekat satu sama lain dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang kekasih sambil menikmati makanan yang ada di tangan mereka. Pun juga orang-orang yang ada di samping Morgan dan Lyla, mereka sangat menikmati film itu bersama dengan para kekasihnya. Sementara Morgan dan Lyla saling menjauh satu sama lain.


Mereka sangat malu melihat film romantis yang tidak jarang diselingi dengan adegan ciuman dan adegan panas bahkan suara ******* dari beberapa penonton kadang terdengar entah mereka melakukan apa dan Lyla tidak mencoba ingin tahu dengan apa yang terjadi di dekatnya.


'Kenapa dia membawaku menonton film seperti ini? Apakah dia ini laki-laki yang mesum?' pikir Lyla.


Sampai akhirnya film itu selesai dan mereka keluar dari sana tanpa banyak berbicara. Lyla bahkan tidak bisa menikmati popcorn yang Morgan belikan untuknya. Keluar dari ruangan bioskop tersebut Morgan seperti laki-laki yang tanpa jiwa. Dia merasa linglung dan tidak bisa berpikir jernih karena sekarang ini kepalanya terasa pusing karena adegan yang tadi dia tonton.


Haiss. Kenapa juga harus film dewasa seperti itu? gumama Morgan di dalam hatinya.


"Kenapa kau membawaku menonton acara seperti itu? Apa kau mau mencuci otakku dengan hal-hal yang kotor?" tanya Lyla dengan kesal sambil berjalan meninggalkan Morgan. Moergan baru saja terpikirkan, pantas saja jika petugas kasir berbicara yang aneh-aneh kepadanya dan sialnya laki-laki itu tidak mengerti sama sekali.


Dasar bodoh. Morgan yang bodoh! racau Lyla di dalam hati.


Sadar jika dirinya ditinggalkan oleh Lyla, Morgan menyusul langkah kaki wanita itu dan menarik tangannya.


"Astaga, Tuan. Kau sengaja ya membawaku untuk menonton film dan melihat adegan seperti itu?" tanya Lyla.

__ADS_1


Morgan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak tahu jika itu adalah film dewasa. Aku tidak tahu jika 21+ itu dengan adegan yang v*lgar. Aku pikir itu hanya seperti film pada umumnya. Aku tidak tahu jika di dalamnya ada adegan yang tidak boleh kau lihat. Eh, lagi pula kenapa jika kau melihat adegan yang seperti itu? Usiamu sudah lebih dari 21. Kau sudah bisa melihatnya," ucap Morgan berkilah.


Lyla terdiam. Memang benar apa yang Morgan katakan, ia sudah bisa melihatnya. Bahkan dia juga sudah pernah melakukannya bersama dengan Morgan meski itu hanyalah sebuah paksaan, tapi jujur saja untuk melihat hal tersebut dengan sangat jelas dia masih tidak berani melakukannya. Menurutnya adegan tersebut sangat jijik karena diperlihatkan ke khalayak ramai.


"Lupakan itu, aku lapar. Cepat carikan makanan," ucap Lyla. Morgan hanya mengangguk saja. Dia kemudian melihat foodcourt yang ada di lantai di bawah bioskop dan teringat sewaktu mereka membeli pakaian, makanan itu tidak buruk juga untuk dimakan.


"Ayo kita makan. Kau mau makan di mana? Di sana atau di restoran?" tanya Morgan menunjuk tempat yang mereka lewati.


"Aku terlalu lapar dan aku malas untuk pergi ke restoran. Jadi, di sana juga tidak apa-apa. Dan kau yang harus memesannya sebagai permintaan maaf karena telah membawaku menonton film yang tidak benar," ujar Lyla.


Morgan kali ini tidak mengelak lagi. Dia akan menuruti saja apa yang Lila perintahkan. Lagi pula, dia sudah pernah memesan di tempat yang seperti ini. Kali ini dia tidak akan mempermalukan diri sendiri lagi seperti waktu itu.


"Baiklah, kau cari saja tempat duduk yang nyaman. Aku akan memesan. Apa yang ingin kau makan?" tanya Morgan.


"Seperti yang waktu itu aku makan," jawab Lyla.


"Oke, baiklah. Kau tunggu dan jangan berbicara dengan orang asing. Aku takut kau diculik," ujar Morgan.


Lyla memutar bola matanya malas dan kemudian mereka berpisah untuk ke tempat masing-masing. Akan tetapi, sebelum sampai di depan kasir, Morgan melirik Lyla yang kini sudah duduk di depan jendela.


'Ternyata dia memang suka duduk di tempat seperti itu,' gumamnya, kemudian pergi ke kasir dan menunggu antrian yang untungnya tidak terlalu ramai.


Tidak lama menunggu Morgan telah kembali dengan membawa nampan berisi dua piring makanan dan dua minuman beserta kentang goreng. Dia membawanya dengan selamat ke meja Lyla dan memberikannya. Ini adalah pengalamannya yang kedua memesan dan membawa makanannya sendiri.


"Huft, harusnya restoran seperti ini ditiadakan saja. Untuk apa pembeli yang membayar harus mengantri dan juga membawa makanan sendiri?" gumam Morgan sangat pelan.


Lyla sangat senang menerima makanan tersebut dan akhirnya dia bisa makan siang juga.


"Kau hebat, Tuan. Kau masih mengingat apa yang dulu kau lakukan," ucap Lyla sambil bertepuk tangan pelan. Morgan tersenyum senang dan bangga dengan pujian dari Lyla.


"Ya, tentu saja. Aku sudah jauh lebih hebat dari pertama dulu kan?"


Lila menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengambil piring miliknya dan segera memakan makanan tersebut.


Morgan menatap Lyla yang makan dengan sangat lahap sampai-sampai dia tidak memperhatikan jika ada saus di pipinya. Morgan mengambil sapu tangan dari dalam saku kemejanya dan membersihkan saus itu dari pipi Lyla.


"Bisakah kau makan pelan-pelan?" tanya Morgan. Lyla terdiam saat merasakan lembutnya perlakuan dari Morgan untuknya. Dia tampak tersipu malu setelah melihat saus di sapu tangan tersebut."


"Maaf, aku lapar." Lyla kemudian meneruskan memakan miliknya begitu juga dengan Morgan yang sudah memulai makan dia cukup menikmati makanan tersebut apalagi orang yang ada di hadapannya ini membuat napsu makannya kini menjadi besar.


"Setelah ini kita akan pergi ke mana?" tanya Morgan.


Lyla berhenti makan dan berpikir sebentar. "Apa kau tidak akan kembali ke kantor?" tanya Lyla.


Morgan perdecak kesal ditanya seperti itu. Inginnya seharian ini dia habiskan bersama dengan Lyla saja dan melupakan pekerjaan-pekerjaan yang ada di kantornya.


"Bisakah kau tidak mengingatkanku tentang pekerjaan?" tanya Morgan sedikit kesal.


"Tentu saja tidak bisa. Pekerjaanmu banyak dan kau harus menyelesaikannya, Tuan. Oh, ya. Aku sudah belajar membuat mie. Apa nanti malam kau mau makannya? Aku akan memasak khusus untukmu nanti," ucap Lyla sambil tersenyum lebar.


"Oh, ya benarkah? Aku tidak tahu kalau kau sudah belajar memasak mie."


"Aku belajar kemarin dan aku ingin mempraktekkannya. Jadi, kau adalah orang pertama yang akan mencoba masakanku nanti. Bagaimana? Aku ingin kau mencicipinya  dan menilai masakanku." Lyla menatap Morgan dengan penuh harap.


"Kirimkan saja pesan jam berapa kau akan pulang. Aku akan membuatnya dan akan siap saat kau sampai di rumah nanti malam," ujar Lyla.


Morgan tersenyum senang mendengarnya, dan akhirnya menganggukkan kepala.


"Oke, baiklah. Buatlah makanan yang enak dan aku akan memberi penilaian. Jika kau bisa memuaskan lidahku, aku akan memberikan hadiah untukmu."


"Benarkah? Hadiah apa?" tanya Lyla penasaran.


"Terserah kau ingin aku memberikan hadiah apa."


Lyla bingung untuk memikirkan apa yang dia inginkan.


"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin apa-apa," ucap wanita itu yang membuat Morgan terheran.


"Kenapa kau tidak ingin apa-apa? Apa sama sekali kau tidak punya keinginan?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


Lyla menggelengkan kepalanya, tapi kemudian dia berkata, "Aku ingin melihatmu tersenyum. Selalu tersenyum dan juga selalu bahagia."


__ADS_2