
Deru suara musik menghentak dengan keras, aroma alkohol bercampur asap rokok yang mengepul di udara tidak ada satu pun yang menghiraukan, juga beberapa orang yang turun ke tengah ruangan kini tengah meliukkan tubuhnya mengikuti irama yang cepat. Baik pria mau pun wanita berbaur di tengah kerumunan. Teriakan serta senyum kebahagiaan mengiringi wajah-wajah itu.
"Ayolah, Tuan. Jangan muram begitu. Sedari tadi aku hanya melihat wajahmu yang murung. Apa kau sedang ada masalah?" tanya seorang wanita cantik yang duduk sambil bergelayut manja di lengan Morgan. Laki-laki sedari tadi hanya minum, tidak terlalu menanggapi wanita cantik dengan pakaian mini yang melekat di kulit tubuh putihnya.
"Bisakah kau biarkan aku sebentar?" tanya Morgan menatap wanita itu dengan tatapan yang tajam.
"Membiarkan Anda? Oh, tidak. Aku tidak mau disebut makan gaji buta. Ayo lah, setidaknya berikan aku senyuman manismu. Biarkan aku melihat senyumanmu sedikit saja,, dan biarkan aku membalas semua kebaikanmu," ucap wanita itu lagi dengan nada yang manja. Satu tangannya mengusap dada Morgan dan dengan beraninya, lanjut ke bawah dengan usapan lembut hingga sampailah pada tonjolan yang selalu didambakan oleh seluruh wanita yang ada di klub ini. Sesuatu yang sangat didambakan dan menjadi topik menarik untuk dibahas bersama dengan yang lainnya.
Morgan minum dari mulut botol, menenggak langsung cairan setan yang memabukkan setiap peminatnya. Mendapatkan rangsangan lembut dari luar celananya membuat sesuatu yang ada di dalam sana bereaksi, apa lagi melihat banyak wanita seksi di sini.
"Oh, si*l! Kau membuat milikku bangkit, Baby!" desis Morgan membuat wanita itu tersenyum senang. Morgan pun ikut tersenyum, melonggarkan sabuknya dan melesakkan tangan wanita itu ke dalam celananya. Untuk sesaat wanita itu terkejut. Akan tetapi, selanjutnya dia juga ikut tersenyum dengan sangat lebar, merasakan sesuatu yang lembut kini mengeras. Bayangan di dalam pikirannya tiba-tiba berkelana hingga sampai ke titik puncak kenikmatan. Akankah laki-laki ini bersamanya nanti?
Meski ingin, tapi wanita itu tidak bisa berharap banyak. Morgan, laki-laki tampan dengan sejuta pesona, sangat sulit untuk ditaklukan. Jika sekarang ini dia ada bersama dengan laki-laki itu, anggaplah dia sedang mendapatkan sedikit percikan dari dewi fortuna.
"Ah, um ...." Desis suara keluar dari mulut Morgan dengan mata yang tertutup menikmati pijatan lembut wanita ini. Rasanya tentu saja menyenangkan sekali. Dia sampai tidak bisa diam saat miliknya serasa akan ada yang meledak.
Wanita seksi itu tersenyum senang, menatap Morgan yang keenakan. Ia tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihat apa yang mereka lakukan di sini. Semua orang berhak untuk melakukan apapun yang mereka mau, tidak ada yang melarang sama sekali.
Morgan menarik wanita itu ke atas pangkuannya, menekan pinggul wanita lebih dalam hingga milik mereka bergesekan. Matanya kembali terpejam menikmati sensasi yang terdapat di bawah sana.
Senyum senang terbit dari bibir wanita seksi tersebut, jika sudah seperti ini dia yakin jika Morgan pasti akan melanjutkan kegiatan mereka setelah ini.
__ADS_1
Tangan laki-laki itu kini tidak bisa diam, bermain di permukaan dada yang besar, sesekali mendekatkan mulutnya ke sana dan meny*sap kulit putih itu sehingga berubah kemerahan.
"Tu-Tuan. Apa yang Anda lakukan? Ini tempat umum, banyak yang melihat," ucap wanita itu. Akan tetapi, Morgan tidak mendengarkannya, malah semakin gemas dengan gundukan besar yang tengah dia mainkan bak balon berisikan air.
"Ah. Tuan." Tak tahan rasanya sehingga wanita itu mendes*h. Suaranya yang menggemaskan membuat Morgan semakin dalam melesakkan kepalanya pada dada yang dia tahu itu itu hanyalah sebuah gumpalan silikon semata.
"Kau sudah ada janji dengan yang lain?" tanya Morgan, miliknya sudah tidak tahan ingin kehangatan. Dengan cepat wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Untukmu, malam ini aku akan membatalkan semua jadwalku," ucap wanita itu membuat Morgan tersenyum senang.
Dua orang itu kemudian pergi dari sana menuju ke lantai atas di mana terdapat banyak deretan kamar. Ruang VVIP kini menjadi tempat tujuan mereka.
Lirikan beberapa orang tampak terlihat tidak senang melihat Morgan dan wanita bayarannya pergi ke lantai atas.
"Hei, bukankah kau bilang dia adalah lelakimu? Kenapa bukan kau yang ada di sana dan memeluknya?" ucap seseorang pada seorang wanita yang lainnya, wanita dengan gaun hitam. Wanita tersebut hanya diam dan menyesap minumannya dengan perasaan jengkel.
Benar. Seharusnya aku yang ada dengannya malam ini. Kesal dengan kenyataan yang ada, wanita itu menenggak minumannya hingga habis dan membanting gelas kosong ke lantai hingga pecah berserakan. Dua sahabatnya terkejut, tapi setelah itu mendekat dan memberikan gelas baru untuknya.
"Tidak apa-apa. Biarkan saja dia bersenang-senang dengan para j*lang. Suatu saat nanti akan aku buat dia bertekuk lutut dan tidak akan lagi berani bermain-main dengan wanita lain!" ujar wanita tersebut dengan percaya diri.
***
__ADS_1
Dua orang itu berjalan melewati lorong dengan pencahayaan remang untuk menuju ke kamar mereka. Morgan yang sudah mabuk berjalan dengan tidak beraturan membuatnya sesekali menabrak orang lain.
"Tuan Anda berat sekali. Sudah aku katakan tadi Anda jangan minum terlalu banyak," ucap wanita itu menahan kesal. Bagaimana tidak kesal, tubuh Morgan besar tidak sebanding dengan tubuhnya yang ramping. Jika saja bukan Morgan bukanlah seorang tuan muda dia pasti tidak akan berbuat sampai seperti ini.
"Aku tidak minum banyak, Sayang. Aku hanya minum sedikit," ucap Morgan dengan suara khas mabuknya.
Morgan berjalan dengan oleng sehingga menubruk seseorang dari arah depannya.
"Hei, apa kau buta? Jalan selebar ini masih saja menabrak orang lain?" ucap Morgan kesal, laki-laki itu menunjuk ke arah orang yang dia tabrak tadi yang merupakan seorang pelayan di tempat tersebut.
Sadar dengan siapa yang dia temui, laki-laki yang Morgan tabrak tadi memilih untuk meminta maaf meski dia tidak salah, jangan sampai memiliki masalah dengan laki-laki itu jika dia masih ingin umurnya panjang.
"Aku heran, apa gunanya mata jika tidak dipakai?" gumam Morgan sambil meludah saat pelayan itu pergi dari hadapannya.
"Sudah lah, Tuan. Jangan hiraukan pelayan tidak berguna itu. Lebih baik, kita pergi segera dan bersenang-senang. Aku akan melayanimu malam ini. Bagaimana?" tanya wanita itu dengan menarik dasi Morgan, tak lupa dengan senyuman yang terbit di bibir seksinya.
"Benarkah? Pelayanan apa yang akan kamu berikan padaku?" tanya Morgan sambil tersenyum.
"Apa pun yang kamu mau. Aku budakmu malam ini," ucap wanita itu dan lalu pergi dengan membawa Morgan ke tempat yang telah di sediakan.
...****************...
__ADS_1
Jempol, mana jempol 👍
Dukungannya dong, biar semangat nulis nih!