
Hari ini Louis datang ke kantor Morgan, memberikan undangan resmi untuk acara kedua orang tuanya akhir pekan nanti.
"Kau sudah bertemu dengan Renee? Dia sudah kembali," ucap Louis membuat Morgan menatap pemuda yang usianya berbeda tujuh tahun darinya.
"Kau tahu dia sudah kembali?" tanya Morgan.
"Ya, aku melihatnya beberapa hari yang lalu di bandara, tapi aku lupa untuk memberimu kabar," ucap Louis merasa bersalah.
"Ya, aku juga sudah bertemu dengannya," jawab Morgan.
"Syukurlah, kalian bisa bersama lagi dan hidup bahagia. Kakak, aku harus pergi. Kau bisa kan datang dengan dia nanti ke pesta Mom dan Dad?" tanya Louis setelah melihat arloji di tangannya.
"Aku harap kalian bisa datang bersama-sama. Aku pergi dulu, ya."
Louis bangkit dan kemudian pergi dari hadapan Morgan. Kini Morgan terdiam dan merenung, memikirkan Renee yang sekarang entah ada di mana dia dan dia tidak tahu bagaimana harus menghubungi wanita itu untuk bertemu.
"Kenapa aku tidak meminta nomornya kemarin?" gumam Morgan.
...***...
Di sebuah apartemen, seorang wanita sedang duduk di depan jendela sambil menatap ke arah luar. Langit sangat cerah daripada hari kemarin, salju juga berhenti turun, meskipun begitu tetap saja udara terasa dingin di luaran sana.
"Kau yakin tidak mau datang ke tempatnya lagi?" tanya Theresia, sepupu Renee.
"Tidak. Aku yakin jika Morgan akan mencariku," ucap Renee dengan pedenya.
"Oh, ya? Kau sangat yakin sekali. Bagaimana jika tidak?"
Renee menyesap kaleng bir yang ada di tangannya satu tegukan.
"Dia masih mencintaiku."
Theresia menatap Renee dengan senyum kecil dan gelengan kepala.
"Kau yakin akan hal itu?"
"Ya, aku yakin sekali."
__ADS_1
"Aku tak yakin, tapi kemarin aku baru saja melihat dia duduk di restoran bersama dengan seorang wanita muda."
Renee tersentak mendengar ucapan Theresia.
"Morgan?" tanya Renee membalikkan tubuhnya.
"Yups!"
"Mungkin itu hanya teman bisnisnya," ucap Renee berasumsi.
"Makan siang dan eskrim sebagai penutupnya? Teman bisnis macam apa itu? Rasanya sedikit tidak mungkin," ucap Theresia. Renee mengeratkan pegangan tangannya pada kaleng bir tersebut mendengar pernyataan Theresia.
"Kau harus datang padanya dan membujuknya untuk kembali. Aku tidak yakin jika dia melakukan hal itu semua kepada orang lain yang tidak dia kehendaki," ucap Theresia.
Renee kini hanya diam, memikirkan benar adanya ucapan sepupunya itu.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Theresia.
"Aku akan tetap menunggu dia datang."
"Siapa wanita itu?" gumamnya pelan.
"Apakah mungkin jika dia wanita yang spesial untuknya? Rasa-rasanya tidak mungkin jika melihat sifat Tuan Muda Castanov dan sekarang dia terlihat makan siang dengan wanita asing," ucap Theresia.
Renee yang mendengar itu menjadi kesal. Memang dia salah juga karena tidak mengatakan sebab akibat kepergiannya dulu, tapi Morgan tidak boleh dengan yang lain. Nyatanya Renee juga tersiksa saat pergi meninggalkan Morgan.
"Dia tidak boleh dengan yang lain."
"Kalau begitu kau harus segera menemui Morgan dan bicara dengan dia. Hilangkan gengsi mu dan bicaralah, kau tidak boleh diam saja dengan apa yang terjadi. Katakan saja siapa yang menyuruhmu pergi. Dia akan mengurusnya dan kau bisa dekat lagi dengannya. Jangan sampai Morgan menjadi benci denganmu karena perlakuan orang lain padamu. Kau harus katakan jika kau pergi demi untuk kebaikannya juga!" desak Theresia. Renee hanya diam mendengar usulan itu. Dia sudah memikirkannya, tapi entah apakah dia bisa menemui Morgan dengan mudah setelah ini mengingat jika Gerald selalu ada di samping laki-laki itu.
"Aku akan pergi," ucap Renee akhirnya.
"Pergi kemana?"
Renee mengambil memakai pakaian hangatnya dan mengambil tas.
"Menenangkan diri," jawab Renee. Dia melangkah cepat untuk pergi ke luar dari apartemen milik Theresia.
__ADS_1
"hei, kemana kau akan pergi. Kau tidak mengajakku?" teriak Theresia. Renee tidak menjawab, terus melangkahkan kakinya untuk pergi ke luar dari sana.
"Kemana dia akan pergi?" gumam Theresia melihat pintu yang kembali tertutup.
Renee berjalan dengan langkah kaki yang cepat menuju ke arah lift. Dia merasa kesal setelah mendengar Theresia berkata jika Morgan makan siang dengan wanita lain. Dia megambil ponselnya di tas dan menghubungi seseorang.
"Ada apa, Honey?" tanya seorang laki-laki dari seberang sana, di belakangnya terdengar suara musik yang menghentak.
"Bisakah kita bertemu?"
"Wooo, kau merindukanku?" tanya laki-laki itu terdengar nada tawa kecil.
"Lupakan itu. Aku ada urusan penting denganmu," ucap Renee kesal.
"Oh, oke. Datanglah kapanpun kau mau, aku di sini menunggumu, Sweetie."
Renee mematikan panggilannya sepihak dan berjalan ke luar untuk mencari taksi. Dia paham dengan di mana laki-laki itu berada.
Rumah besar itu tampak sangat mewah terlihat dari depan. Pilar besar berdiri dengan sangat kokoh berada di barisan depan mansion tersebut. Halaman rumah dengan keindahan yang memanjakan mata dengan lampu-lampu hias juga tertata dengan rapi. Akan tetapi, semua keindahan itu tidak membuat Renee menghentikan langkah dan diam menikmatinya. Langkah kakinya lebar berjalan menuju ke pintu mansion yang dijaga oleh dua orang laki-laki dengan badan tinggi tegap.
Tanpa bertanya, salah satu dari pria itu membukakan pintunya, sudah tahu pada siapa wanita yang datang.
Di taman belakang, terdengar riuh suara musik dan teriakan orang-orang, baik wanita atau pun laki-laki. Renee sudah paham dengan apa yang terjadi di sini setiap malam. Semua orang menoleh saat Renee datang dan melangkahkan kakinya di samping kolam renang, menuju laki-laki yang duduk di depan meja bar.
"Hai, Honey! Kau mau berenang?" tanya seorang laki-laki yang tengah berada di tengah kolam, mengusap wajahnya yang basah dan menyunggingkan senyuman pada wanita cantik yang baru saja lewat.
"Kau bajingan! Tidak cukupkan hanya melihatku saja?" Wanita yang ada di hadapannya tidak terima dan menarik laki-laki itu dengan cepat, memberikan ciuman panas yang disambut olehnya tak peduli dengan banyak orang yang ada di taman tersebut.
Renee tak peduli, terus melangkah mendekat pada laki-laki yang tersenyum menatapnya.
"Hai, Sweetie. Akhirnya kau datang juga!" ucap laki-laki itu saat Renee sudah sampai di depannya, dia mengulurkan tangan untuk mengelus pipi lembut Renee, tapi segera ditepis olehnya. "Kau galak sekali, apa kau tidak merindukanku?" tanya laki-laki itu dengan senyuman manis tidak marah dengan apa yang Renee lakukan terhadapnya.
"Kita harus bicara!" Tanpa meminta izin, Renee menarik tangan pria itu.
"Woww. Kau sangat tidak sabaran sekali. Apa kau sangat merindukanku?" tanyanya.
Renee tidak menjawab, tetap menarik tangannya hingga mereka masuk ke dalam sebuah ruangan.
__ADS_1