Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
222


__ADS_3

"Setelah melahirkan nanti, aku ingin bermain paralayang," bisik Lyla di telinga Morgan.


"Oke, baiklah." Morgan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia mengikuti Rachel menuju ke ruangannya.


Akhirnya setelah pemikiran yang matang dan setelah meminta persetujuan dari Lyla, Rachel membawa Lyla ke meja operasi setelah mengumpulkan beberapa dokter untuk membantu dalam melakukan operasi. Keluarga yang lain juga sudah dihubungi, Alex dan Jane sudah datang setelah mendengar kabar bahagia itu, sedangkan Theresia akan menunggu pagi untuk terbang dari negaranya.


"Bukankah seharusnya beberapa minggu lagi untuk melahirkan?" tanya Alex di tengah suasana yang hening.


"Ya, seharusnya begitu, tapi entah kenapa air ketubannya pecah dan Lyla mengalami pembukaan."


Alex terdiam, ada hal yang dia takutkan kepada keponakannya. Bagaimana jika di waktu ini Lyla tidak selamat? Bagaimana dengan bayinya? Apakah mereka akan selamat? Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada kedua orang itu, sudah dipastikan Alex akan menuntut rumah sakit ini dan tidak akan memaafkan dokter yang menanganinya!


"Kita tidak akan tahu kapan orang akan melahirkan, Alex. Tenang saja." Seakan tahu apa yang Alex pikirkan tentang Lyla, Jane menggenggam tangan Alex dan menenangkannya.

__ADS_1


Jane juga merasakan ketakutan, sebagai seorang wanita hal ini memang sudah seharusnya dialami. Seorang wanita mempertaruhkan nyawanya baik di persalinan normal atau di meja operasi, semua hanya menunggu takdir saja. Semoga Lyla dan bayinya selamat.


Setelah menunggu beberapa saat lamanya, lampu di atas pintu ruangan operasi itu padam, pintu ruangan juga terbuka, Rachel keluar dengan membawa seorang bayi mungil di tangannya dan tengah menangis cukup kencang.


Segera ketiga orang itu mendekat melihat Rachel tersenyum senang.


"Keponakan kita sudah lahir, anak perempuan yang sangat sehat sekali," ucap Rachel. Diam-diam dia melirik Morgan, biasanya seseorang menginginkan anak laki-laki sebagai penerus pertamanya.


Morgan tidak bisa berkata apa-apa, menatap bayi mungil yang sedang mengerjap-kerjapkan matanya dengan mulut yang berdecap seakan sedang merasakan sesuatu di bibirnya.


"Putriku telah lahir ...." Mata Morgan langsung basah, diambilnya bayi mungil penuh lendir itu dan menciumnya tanpa merasa jijik. Barulah setelah itu anak tersebut menangis dengan cukup kencang.


Hati Morgan menghangat, sedih, terharu, juga bahagia, sebuah perasaan yang sulit sekali untuk dia ungkapkan saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Laura?" Alex bertanya dengan tatapan mata yang tajam.


"Dia baik-baik saja. Dokter sedang menanganinya di dalam. Bisakah aku mendapatkan keponakanku lagi?" Rachel meminta, dengan berat hati Morgan menyerahkan putri kecilnya kepada Rachel.


Morgan mengusap air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Dari belakang Robinson sudah kembali dan mengusap pundak putranya.


"Sudahlah, tidak ada hal buruk yang terjadi dengan Laura. Dia baik-baik saja di dalam."


"Aku sudah menjadi ayah," ucap Morgan lirih.


"Iya, kau beruntung. Kau sudah menjadi seorang ayah sekarang." Robinson juga ikut senang. Akhirnya cucu pertama di keluarga ini sudah lahir, meski berjenis kelamin wanita, apa salahnya? Toh Morgan masih bisa memilikinya di kesempatan selanjutnya.


Lyla telah selesai ditangani, dibawa dan dipindahkan ke ruangan terbaik yang ada di rumah sakit ini. Robinson, Alex, Jane, dan Morgan tentunya ikut masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2