Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
100. Kau Adalah Kekasihku!


__ADS_3

"Eh, Tuan Morgan. Maaf, a-aku ... tadi aku ke toilet sebentar. Apa kau mencariku?" tanya Lyla merasa bersalah.


Morgan segera menggelengkan kepalanya dan menyimpan gelas yang dia bawa di atas meja kecil yang berada di dekat sana.


"Siapa yang mencarimu? Aku ke sini karena ingin pergi ke toilet," ucap Morgan kemudian melangkahkan kakinya pergi ke ruangan kecil tersebut.


Lyla kembali menikmati lampu-lampu yang ada di luar sana. Ini lebih baik daripada dia berada di lantai bawah. Sedikit tidak nyaman karena dia merasa banyak mata yang mengawasinya.


"Indah sekali," gumam Lyla menatap pemandangan yang ada di luar sana. Dia sedikit membungkuk menumpukan kedua tangannya pada palang besi yang ada di sana.


Tiba-tiba saja dia teringat dengan Denis. Laki-laki yang dulu selalu mengejarnya. Lyla teringat mereka sering berjalan pada malam hari di bawah sinar bulan dan ramainya jalanan di kota saat pulang dari bekerja.


"Sedang apa dia di sana? Apakah dia baik-baik saja?" gumamnya.


Seorang laki-laki baru saja sampai di lantai atas dan melihat wanita yang sangat cantik berdiri hanya sendirian saja. Wanita yang sedari tadi sudah dia perhatikan bersama dengan Nyonya Drew. Dia tersenyum senang karena akhirnya wanita ini memisahkan diri dari keramaian yang ada di lantai bawah. Gegas dia mendekat pada Lyla dan berdiri di samping wanita itu.


"Halo Nona, apa kau sendirian saja? Aku lihat dari tadi kau tidak ada teman. Bolehkah aku di sini bersamamu?" tanya laki-laki itu membuat Lyla terkejut.


"Sebenarnya ...."


"Perkenalkan, namaku adalah Larry, Putra ketiga dari keluarga Weston," ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya kepada Lyla. "Siapa namamu?" tanya laki-laki itu.


Lyla merasa ragu untuk menyambut tangannya. Akan tetapi, dia merasa tidak sopan jika menolak salaman darinya.


"Namaku Lyla," ucap singkat wanita itu.


"Nama yang sangat cantik sekali. Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?" Laki-laki itu menatap Lyla dari atas hingga ke bawah dan sebaliknya.


Lyla segera menggelengkan kepala.


"Sepertinya kita tidak pernah bertemu."


"Benarkah?"


Lyla segera menganggukkan kepalanya dan menarik tangannya dari laki-laki itu. Sepanjang ingatannya dia memang tidak pernah bertemu dengan laki-laki ini. Apa lagi dia yang hanya bekerja sebagai penjaga di toko bunga merasa laki-laki seperti ini tidak akan datang ke toko bunga yang sederhana.

__ADS_1


"Iya, aku yakin itu. Aku jarang sekali keluar dari rumah," jawab Lyla.


"Oh ternyata begitu. Sepertinya aku salah mengenali seseorang. Maafkan aku," ucap Larry sambil tersenyum malu. Lyla hanya menganggukkan kepala saja dan kembali menghindari tatapan dari pria tampan itu. Meskipun tampan, tapi Lyla merasa tidak nyaman dengan tatapannya.


"Kau di sini sendiri? Kenapa tidak turun ke bawah?"


"Aku disini sedang menunggu seseorang, dia ada di dalam sana," tunjuk Lyla ke arah toilet.


"Temanmu?"


Lyla menganggukan kepalanya.


"Oh aku kira kau datang ke sini hanya sendiri saja, tadi aku melihatmu berbicara dengan Nyonya Drew."


"Apa tidak sebaiknya kita menunggu temanmu di lantai bawah? Kita bisa pergi ke belakang dan mencari tempat duduk agar bisa mengobrol dengan santai," ajak laki-laki itu.


Dia menggerakkan kakinya agar bisa semakin dekat dengan Lyla, sementara Lyla berharap Morgan akan segera keluar dari toilet.


"Kenapa kau seperti takut kepadaku? Apa aku ini membuatmu takut?"


"Tidak. Hanya saja aku sedikit tidak nyaman berbicara dengan laki-laki."


Larry tertawa cukup keras mendengar ucapan Lyla.


"Apa ada seseorang yang membuatmu trauma? Aku ini orang yang baik-baik. Tidak akan membuat wanita secantik kau menjadi ketakutan."


Lyla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja sedikit tidak nyaman karena aku bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain," jawab Lyla.


"Bagaimana kalau kita mengobrol saja, agar kita bisa lebih akrab? Aku orang yang cukup menyenangkan untuk menjadi temanmu."


Morgan baru saja keluar dari dalam toilet dan mendapati Lyla bersama dengan seorang laki-laki. Dia merasa kesal karena orang itu terus saja menatap Lyla sambil tersenyum.


"Siapa laki-laki itu?" gumam Morgan kesal sambil berjalan mendekat ke arah Lyla.

__ADS_1


"Honey, apa yang sedang kau lakukan? Kau berbicara dengan orang asing tanpa seizinku?" ucap Morgan seraya melingkarkan tangannya di pinggang Lyla dan mengecup bibirnya singkat. Sontak Lyla merasa terkejut dengan perlakuan Morgan barusan.


"Tuan apa yang kau ...."


"Kau lupa dengan aturanku? Aku paling tidak suka kau berbicara dengan orang asing. Kau membuatku sangat cemburu," ucap Morgan lagi sambil memainkan rambut Lyla dan menggulungnya di jari telunjuknya, kemudian dia menghantarkan rambut itu dan menyesap wanginya.


Larry yang ada di sana terkejut dengan perlakuan Morgan. Dia pikir teman yang dimaksud oleh Lyla tadi adalah wanita, ternyata dia adalah Tuan Muda Castanov.


"Tuan Muda. Maafkan saya. Saya tidak tahu jika dia adalah kekasih Anda. Mohon maafkan saya," ucap laki-laki itu mundur satu langkah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Morgan tersenyum miring dan menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Tidak apa-apa. Terima kasih karena Anda telah menemani kekasih saya di sini. Setelah ini aku akan membawanya ke lantai bawah."


"Kalau begitu saya pamit dulu. Permisi," ucap Larry kemudian melangkah pergi dari sana dengan langkah yang cepat. Morgan dan Lyla menatapnya hingga laki-laki itu tidak terlihat lagi.


"Apa yang anda lakukan, Tuan? Apa yang kau bicarakan tadi. Kita di sini hanya teman, tidak memainkan skenario sepasang kekasih yang datang ke pesta," ucap Lyla protes.


Morgan melepaskan tangannya dari pinggang Lyla. "Kau tahu bagaimana bahayanya berbicara dengan laki-laki asing?" tanya Morgan.


"Bahaya apa? Dia hanya mengajakku mengobrol di sini. Lagi pula aku juga tidak mengikutinya pergi ke mana-mana," ucap Lyla kesal bukan karena menyebutnya kekasih, tapi karena ciuman dadakan tadi yang membuat dia syok.


"Tetap saja, itu bahaya! Dia bukan laki-laki yang baik." Morgan kemudian melangkahkan kakinya menjauh.


"Kau tidak akan ikut ke lantai bawah?" tanya Morgan dingin. Tanpa banyak bicara, Lyla mengikuti langkah kaki Morgan dan turun.


Morgan tersadar, Lyla tidak bisa berjalan dengan cepat, maka dia menunggu Lyla di tengah tangga dan memberikan lengannya untuk Lyla.


"Ternyata kau masih ingat untuk membantuku," ujar Lyla. Morgan tidak banyak bicara soal itu, dia hanya menatap ke arah depan dan dengan ekspresi yang dingin.


"Jangan jauh-jauh dariku. Kau dengar?" tanya Morgan.


"Iya." Lyla tidak ingin bertanya kenapa, mungkin karena jawabannya adalah hal yang tadi itu.


"Jika ada yang bertanya, jawablah kau adalah pasanganku malam ini. Jangan berkata jika kau hanya temanku," ucap Morgan.


"Iya, aku mengerti. Aku adalah adikmu, benar?"

__ADS_1


"Bukan. Kau adalah kekasihku!"


__ADS_2