
Morgan telah kembali ke kamar Lyla. Dia sangat berhati-hati sekali membawa nampan itu di tangannya. Dengan dorongan kakinya dia membuka pintu tersebut dan kemudian menutupnya kembali.
Lyla yang tengah berbaring melamun, tersentak saat melihat laki-laki itu telah kembali. Dia sedikit terheran karena Morgan berjalan dengan sangat pelan sekali.
Dengan susah payah Morgan duduk di kursinya dan menyimpan nampan makanan itu di atas meja.
“Akhirnya aku bisa sampai juga di sini,” ucapnya sambil mengusap peluh yang ada di keningnya. Lyla yang mendengar hal itu mengerutkan kening, terheran dengan ucapan Morgan yang seakan apa yang dia lakukan adalah sebuah perjuangan hingga akhirnya dia sampai di sini.
Wangi aroma makanan tersebut sampai hingga ke hidung Lyla. Meski tadi dia sudah makan, tapi mencium aroma wangi ini membuat perutnya berbunyi juga.
Seperti biasa jika hendak makan, Morgan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dan tak lama dia kembali lagi ke tempatnya semula.
Lyla melirik makanan apa yang dibawa oleh Morgan, tapi dari tempatnya berbaring tidak jelas melihat apa yang ada di atas piringnya.
“Tuan, kau dapatkan makanan itu dari mana?” tanya Lyla saat Morgan hendak memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
“Kantin,” jawab Morgan dengan singkat.
“Apa kau hanya membawa satu?” tanya Lyla seraya memperhatikan makanan itu.
“Ya.”
“Kenapa hanya bawa satu?” Morgan yang akan melahap makanannya merasa terganggu dan tidak nyaman karena ditanya terus-menerus, sehingga dia akhirnya menyimpan sendok tersebut kembali di atas piringnya.
“Karena aku membeli untuk diriku sendiri.”
Helaan nafas terdengar dari mulut Lyla, dia mengusap perutnya yang kini mendadak kosong. Entah ke mana tadi makanan yang telah dia makan, menghilang begitu saja.
Kenapa dia tega sekali hanya membawa satu? gumam Lyla di dalam hatinya.
Dia mencoba untuk mengalihkan tatapannya dari makanan itu, tapi aromanya tidak bisa dienyahkan dari hidungnya.
Suara dering telepon terdengar dengan sangat nyaring membuat Morgan lagi dan lagi batal untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia berdecak kesal, tapi tak urung juga mengangkat telepon yang berasal dari Selvi.
__ADS_1
“Tadi Edward bilang kau dapat masalah?” tanya Selvi dengan cepat saat Morgan telah mengangkat teleponnya.
Morgan menghela nafas kesal, ternyata laki-laki itu menyebalkan juga. Tidak bisakah dia diam?
“Ya, katakanlah seperti itu,” jawab Morgan dengan malas.
“Bagaimana bisa?”
“Apa dia tidak bicara kenapa?” tanya Morgan dengan kesal. Seharusnya laki-laki itu mengatakan juga sebab apa yang telah menimpa dirinya tadi, sehingga Selvi tidak perlu bertanya lagi.
“Apa bisa kita bicara nanti saja? Aku ingin makan sekarang ini,” ucap Morgan menolak menjelaskan.
“Oh, oke. Apa kau mau makan?” tanya Selvi sekali lagi.
“Hem.”
“Kalau begitu selamat makan. Jika ada sesuatu yang kau inginkan bilang saja padaku.”
“Kau sebagai keponakan tidak ada sopan-sopannya sama sekali.”
“Aku sedang lapar. Abaikan masalah kesopanan. Lagi pula kau adalah adik dari ayahku.”
“Jadi menurutmu jika aku adalah adik dari ayahmu, kau bisa berbuat seenaknya? Jangan harap kau—”
Morgan yang merasa kesal mematikan sepihak panggilan tersebut. Dia benar-benar lapar sekarang ini. Pagi tadi tidak makan, Dan ini juga sudah lewat satu jam dari jam makan siang, apalagi tadi dia sempat berlari-lari mencari Lyla. Tentu saja sekarang perutnya meronta-ronta.
Dia mematikan panggilan tersebut dan menyimpan ponselnya. Akan tetapi, dia terkejut saat melihat ketika Lyla tiba-tiba telah berada di sampingnya
“Astaga!” ucap laki-laki itu hampir melompat dari tempat duduk. “Kenapa kau ada di sini?” tanya laki-laki tersebut sambil memegang dadanya yang berdebar karena kaget. Wanita itu hanya tersenyum sambil menunjuk makanan yang ada di depannya.
“Sepertinya ini sangat enak.”
“Aku tidak tahu, aku belum memakannya.” Morgan menarik piring itu menjauh dari Lyla.
__ADS_1
Lyla yang melihat piring tersebut diambil merasa kecewa.
“Berapa harga satu piring makanan itu? Apakah di sini itu mahal?” tanya wanita itu lagi, tatapannya tidak bisa dialihkan dari piring yang kini ada di tangan Morgan. Rumah sakit ini sangat mewah dan juga terkenal di negara ini. Terkenal dengan biaya mahalnya dan Lyla mengira jika semua yang ada di sini juga sangat mahal. Dia hanya bisa menelan ludahnya saja.
“Cukup terjangkau,” jawab Morgan dengan singkat bersiap untuk mengambil kembali sendok di sana.
Des*h suara napas Lyla terdengar menyedihkan. Bahunya kini merosot ke bawah, wajah yang tadi tersenyum kini tidak nampak lagi.
“Ah … aku tidak punya uang,” ucap wanita itu dengan nada lemas.
Morgan yang mendengar hal itu mengalihkan tatapannya dari piring. Melihat wajah Lyla yang murung seperti ini membuatnya merasa aneh. Dia kemudian menyimpan piring tersebut di atas meja dan menggeserkannya ke depan tubuh Lyla.
“Kau makan saja lah.”
“Hah?” Lyla mengalihkan tatapannya kepada Morgan dengan wajah yang terlihat bingung.
“Aku tidak tega melihatmu seperti kucing kelaparan yang hampir mati,” ucap laki-laki itu. Kesal rasanya ketika seseorang memperhatikannya saat makan.
“Aku bukan kucing kelaparan. Aku hanya orang yang sedang lapar,” ucapnya sambil mencebikkan bibir tanda tak suka.
"Apa bedanya?" tanya Morgan sambil tertawa kecil.
"Tentu saja beda, aku bukan hewan," ucap Lyla dengan kesal. Enak saja dirinya disamakan dengan hewan meski kucing adalah hewan yang imut. “Kau saja yang makan. Aku tidak mau mengambil milik orang lain.” Lyla kembali menggeserkan piring tersebut ke hadapan Morgan.
“Itu sudah aku berikan, dan sudah jadi milikmu barusan.”
“Tapi aku tidak terbiasa menerima pemberian orang lain,” ucap Lyla dengan jujur.
Selama ini dia memang selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu apa pun sendirian. Rasanya tidak nyaman jika dia menerima dan menerima terus menerus. Pengalaman yang buruk pernah dia terima dulu saat dia mengira jika kebaikan seseorang tulus ternyata ada suatu hal yang membuatnya kecewa daripada itu.
Ya, saat di panti asuhan mereka memang menerima banyak, tapi dia belajar jika seseorang ternyata ada tidak tulus dengan apa yang mereka berikan dan hanya menginginkan pandangan baik saja dari orang lain. Bahkan salah seorang yang dulu menjadi teman baiknya, nyatanya hanya melakukan hal itu demi ingin terlihat baik saja.
“Sebaiknya selama bersama denganku, kau biasakan saja. Kau … selama kau ada bersamaku kau adalah tanggung jawabku," ucap laki-laki itu sambil membuang wajahnya ke arah lain. Lyla dengan mata besar dan bibir yang bulat seperti itu membuatnya merasa aneh
__ADS_1