Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
34. Diculik Untuk Yang Kedua Kali


__ADS_3

"Hei, kenapa kau menghentikan mobilmu? Ini sakit!" ucap salah seorang pemuda yang duduk di belakang, kepalanya baru saja terbentur kursi mobil bagian depan cukup keras.


"Ada seseorang yang menghalangi jalan kita!" ucap si pemuda yang memegang kemudi dengan nada yang kesal. Dia kemudian keluar dari mobil itu, lalu diikuti oleh yang lainnya.


Lyla tersentak ketika melihat mobil berwarna hitam berhenti di depannya, dia ingat jika mobil itu yang sering dipakai Gerald. Apakah laki-laki itu mencarinya?


Dari spion yang ada di depannya, Morgan melihat beberapa pemuda itu mendekati mobilnya. Terdengar suara seseorang yang menggebrak mobil mahal miliknya itu. Morgan segera keluar, tampak Lyla menghentikan langkah dan hanya terdiam menatapnya.


"Hei, Bung. Kau menghalangi jalan kami!" seru salah satu pemuda itu sambil menunjuk Morgan dengan lantangnya.


Morgan menutup pintu mobilnya dengan santai dan membenarkan kerah jaket.


"Oh, aku menghalangi?" tanya Morgan mendekati mereka. Tiba-tiba saja Lyla merasa takut dengan apa yang akan terjadi. Satu lawan empat bukanlah hal yang sebanding. Bagaimana pun juga dia wanita, rasanya meski membantu Morgan untuk melawan keempat orang ini jelas mereka berdua akan kalah tanding.


"Iya, kau menghalangi jalan kami. Lihat, temanku sampai sakit gara-gara kau."


"Oh, begitu ya? Lalu kenapa kalian mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat pelan? Kalian bisa ditilang mengendarai mobil kurang dari dua puluh mill per jam."


Keempat pemuda itu saling berpandangan satu sama lain. Memang benar, tapi mereka tidak peduli akan hal itu.


"Polisi tidak akan berani menilangku, aku putra dari wali kota!" teriak salah seorang pemuda yang memiliki gaya paling mentereng.


"Oh, begitu rupanya."


"Iya, sekarang singkirkan mobilmu. Kami mau lewat," ucapnya sambil menggerakkan tangannya mengusir Morgan.


"Hei, kau!" seru Morgan mengalihkan tatapannya pada seorang yang lain yang hanya diam di tempatnya. "Apa kau sengaja membawa milikku? Kembalikan!" ucap Morgan yang membuat Lyla terhenyak tak mengerti.


"Eh, apa?" Lyla menatap ke sekeliling, jelas bahwa dia lah yang dituju oleh Morgan.


"Kembalikan apa yang bukan milikmu!" ucap Morgan lagi. Lyla merasa bingung, melihat apa yang ada pada dirinya, dan dia tidak melihat apa pun yang aneh, tidak juga melihat apa yang Morgan maksudkan.

__ADS_1


Morgan mendekat pada Lyla, tapi seorang pemuda yang ada di sana menahan langkah kakinya.


"Siapa yang kau masud? Apa kau mengenal dia? Hati-hati Nona, dia bisa saja orang yang jahat!" seru pemuda itu memberi peringatan kepada Lyla.


"Siapa yang kau maksud orang jahat?" tanya Morgan dengan tatapan marah.


Lyla semakin takut dengan suasana yang ada di sana, panas, meski sekarang ini cuaca sangat dingin.


"Tentu saja kau. Dia sedari tadi bersama dengan kami."


"Iya, jangan mudah percaya dengan dia. Dia bisa saja penculik," tutur yang lain.


Morgan berdecak dengan kesal. Dia mengambil sesuatu yang ada di belakangnya, membuat keempat pemuda itu terkesiap dengan apa yang akan Morgan ambil.


"Aku punya sesuatu untuk kalian berpesta. Pergilah. Di sana kalian bebas untuk menikmati apa yang kalian mau." Morgan memberikan sesuatu kepada salah satu pemuda tersebut dari dalam dompetnya membuat para pemuda itu menghela napas lega karena mereka sempat mengira jika laki-laki asing ini akan menodongkan pistol pada mereka.


"Woaaahh. Ini ...." Pemuda itu menatap kartu yang ada di tangannya dengan pandangan mata yang berbinar. Tiga orang yang lain mendekat dan salah satu dari mereka merebutnya, mengangkat kartu itu dan menerawangnya pada cahaya lampu jalanan yang temaram.


"Ini asli?" tanya yang lain.


"Bukan juga disebut teman," jawab Morgan ragu. Ya, apa lagi yang akan dia katakan? Memang bukan teman, 'kan?


"Ah, mau teman atau bukan, kita bisa berpesta dengan puas sampai pagi. Aku serahkan dia padamu, Bung. Mau kau apakan dia terserah padamu. Ini lebih berharga dari dia. Kita bisa mendapatkan satu masing-masing," ucap pemuda tadi dengan senyuman bahagia di bibirnya.


"Bawa saja gadis pencuri ini bersama denganmu. Kami pergi dulu. Jika ternyata ini palsu akan ku pastikan aku akan ada di depan rumahmu dan menangkapmu dengan pasal penipuan," ancam pemuda tersebut.


Mereka kemudian pergi dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Lyla hanya melongo dari tempatnya, hilang sudah sesuatu dari bayangannya tentang laki-laki ini. Sesuatu yang dia kira berasal dari salah satu adegan film action, nyatanya tidak ada di sini, yang ada hanya permainan dari seorang laki-laki kaya yang hanya bisa menyuap orang lain saja.


Hah, apa yang aku harapkan? Gumam Lyla dalam hatinya. Percuma saja, dia harusnya tidak pernah berpikir hal itu akan terjadi. Mustahil. Mustahil sekali jika laki-laki ini akan melawan empat orang yang lain meski iya tubuh dari pemuda tadi lebih kecil darinya.

__ADS_1


Lyla melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Morgan di sana.


"Hei, kau mau kemana?" tanya Morgan saat tidak mendapatkan kata terima kasih sama sekali dari wanita itu.


"Bukan urusanmu aku mau pergi ke mana!" jawab Lyla asal. Dia terus berjalan meski kakinya sedikit pincang.


Morgan yang mendapatkan perlakuan semacam itu hanya bisa berdecak kesal mendapati sikap Lyla yang menyebalkan.


"Hei, aku bicara denganmu!" teriak Morgan sambil menatap punggung Lyla yang terus berjalan menjauh darinya.


"Iya, aku tahu. Kau tidak cukup bodoh untuk berbicara dengan tiang lampu!" seru Lyla di antara langkah kakinya.


Eh, apa?


"Cih ... Dasar wanita gila," gumam Morgan dengan menahan kesal.


"Hei, jangan kau tidak sopan denganku. Setidaknya ucapkan terima kasih karena kau telah aku tolong!" teriak Morgan lagi dengan tidak terima.


"Untuk apa kau menolongku? Mereka bukan orang jahat. Benar apa kata mereka, kau lah yang jahat!" teriak Lyla.


Morgan mengusap wajahnya dengan kasar. Benar-benar wanita itu sangat menyebalkan sekali. Kenapa dirinya harus berurusan dengan dia, sih?


Dia menunggu Lyla berbalik, malam semakin larut, tidak mungkin kan dia akan terus berjalan seperti itu? Pincang pula! Akan tetapi, hingga lampu jalanan berakhir wanita itu tidak juga berhenti, apa lagi berbalik untuk mendekatinya.


"Astaga! Wanita itu benar-benar menguji kesabaranku!" ucap Morgan asal. Dia berjalan dengan langkah kaki yang cepat dan menyusul Lyla. Tanpa banyak berkata, wanita itu dia tarik dan dia naikkan ke bahunya, membopongnya bak membawa beras di dalam karung.


"Hei, apa yang kau lakukan?" teriak Lyla kaget dengan apa yang Morgan lakukan.


"Kau wanita yang menyebalkan!"


"Lepaskan aku. Lepaskan! Tolong! Aku diculik!" teriak Lyla.

__ADS_1


...****************...


...Yang kasih jempol dan dukungan lainnya, semoga bermimpi Morgan-Lyla nanti malam 😂...


__ADS_2