Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
45. Toilet Yang Rusak


__ADS_3

"Dari mana saja kau tadi?" tanya Morgan setelah Selvi pergi dari ruangan Lyla.


"Aku tidak pergi kemana-mana," jawab wanita itu.


"Kau mau kabur, kan?"


"Kabur? Kabur ke mana dengan keadaanku yang seperti ini?" tanya Lyla dengan santai sambil mengunyah makanannya. Morgan menatap wanita itu dari kursinya dengan tatapan yang kesal.


"Tadi aku hanya pergi keluar sebentar, ke toilet di ujung lorong sana," tunjuk Lyla Dengan menggunakan dagunya.


Morgan tidak percaya begitu saja dengan ucapan Lyla. "Untuk apa kau pergi ke toilet di luar? Apa toilet di ruangan ini tidak cukup bagus untukmu?" tanya laki-laki itu dengan nada yang dingin.


Lyla menatap malas pada Morgan. "Aku tidak bisa memakai toiletnya, itu rusak."


"Alasan!" ujar laki-laki tersebut.


"Kalau kau tidak percaya silakan buktikan saja. Aku tidak berbohong," ucap Lyla santai.


Morgan masih menatapnya tanpa berkedip sama sekali.


"Jangan melihatku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku nanti!" ujar Lyla yang membuat Morgan berdecak kesal.


"Cih. Aku jatuh cinta padamu? Bangunlah dari mimpimu! Siapa yang akan jatuh cinta dengan wanita sepertimu?" ucap Morgan kesal, kemudian bangkit dari duduknya untuk membuktikan jika ucapan wanita itu adalah kebohongan belaka.


"Awas saja jika kau berbohong. Aku akan menjahit mulutmu agar kau tidak bisa bicara lagi!" ancam laki-laki itu.


Lyla menatap Morgan malas. Dia akan diam saja dan membiarkannya untuk mengecek keadaan.


"Biar dia tahu rasa!" gumamnya. Dia akan menahan tawanya untuk nanti, sesuatu yang akan terjadi setelah ini.


"Apa yang dia katakan? Tidak mungkin rumah sakit sebagus ini toiletnya rusak," ucap Morgan sambil mengecek kran yang ada di sana.


"Cih, dia berbohong!" gumamnya, kemudian memutar kran yang lain. Tanpa dia sangka, kran tersebut rusak dan air menyembur dari sana.


"Akh! Sialan!" teriak Morgan saat air mengenai wajahnya. Dia tidak bisa menghentikan laju air tersebut meski sudah memutar kran itu berulang kali.


"Sialan, bagaimana menghentikan ini!" teriak laki-laki itu sambil terus berusaha untuk menutup kerannya, hingga akhirnya setelah beberapa menit berjuang dia bisa menghentikan air yang keluar dari sana.


Morgan melihat pakaiannya yang basah, hampir semua tubuhnya basah, juga dengan wajah dan rambutnya.

__ADS_1


"Kenapa aku sial sekali setelah bertemu dengan wanita itu," ucap Morgan sambil mengusap wajahnya, dengan langkah yang kasar dia keluar dari toilet tersebut.


Lyla melihat pintu yang terbuka, dia tidak bisa lagi menahan tawanya saat laki-laki tersebut keluar dengan pakaian yang seluruhnya basah. Tawa itu sangat keras sehingga perutnya terguncang.


"Aku tidak berbohong kan? Kenapa kau tidak percaya sekali? Haha!" Susah payah dia ingin menghentikan tawa itu, tapi melihat wajah Morgan yang semakin datar membuat dia tidak bisa menghentikannya sama sekali.


"Diam kau!" bentak laki-laki itu dengan kesal.


Morgan kini berjalan tidak peduli dengan lantai yang dia buat basah. Dia mengambil handuk yang ada di dalam nakas milik Lyla, ada banyak handuk di sana yang bisa dia gunakan.


"Ah, kenapa aku sial sekali setelah bertemu denganmu."


"Aku?" tunjuk Lyla pada dirinya sendiri.


"Ya, kau!"


"Astaga, Tuan, kenapa kau menyalahkan aku? Aku kan sudah bilang jika toilet itu rusak. Kau sendiri yang tidak percaya." Lyla kini tertawa kembali.


Morgan tidak peduli akan ucapan dari wanita itu. Pokoknya dia yang salah, tidak boleh mendebat. TITIK!


Dia menggosok-gosokkan handuk itu pada pakaian yang basah, tubuhnya kini menjadi sangat dingin sehingga dia menggigil.


Lyla memang benci dengan laki-laki itu, tapi bukan berarti dia tega melihat Morgan kedinginan.


"Kau pikir aku akan memakainya?" tolak laki-laki itu.


"Aku sih tidak memaksa." Lyla menyimpan pakaian tersebut di samping Morgan. Mau dipakai atau tidak setidaknya dia sudah menawarkan.


"Itu jika kau ingin memakainya," ucapnya kemudian kembali lagi ke atas tempat tidurnya.


Morgan benar-benar tidak ingin memakai pakaian itu. Dia bukan pasien di sana, lagi pula pakaian tersebut tidak modis sama sekali. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, beruntung ponsel itu tidak kebasahan.


Beberapa saat dia menunggu panggilannya diangkat, sampai-sampai merasa kesal karena orang yang dihubunginya tidak juga mengangkat panggilan tersebut.


...***...


Di sebuah restoran ternama, Gerald sedang melakukan meeting bersama dengan Tuan Harvey. Sedikit sulit mengenai pertemuan kali ini karena Tuan Harvey merasa kecewa Morgan tidak bisa datang untuk menemuinya, sehingga dengan susah payah Gerald meyakinkan laki-laki itu.


Dering suara telepon membuat pertemuan kali ini sedikit terganggu.

__ADS_1


"Mohon maafkan saya. Permisi sebentar," ucap Gerald dengan tidak enak hati dan mengangkat telepon dari Morgan.


"Ke mana saja kau? Aku menghubungimu sedari tadi," tanya Morgan dengan suara teriakannya yang lantang. Gerald segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya, sakit. Tuan Harvey pun sekilas mendengar suara tersebut.


"Apa itu Tuan Morgan?" tanya Tuan Harvey. Gerald menganggukkan kepalanya dengan pelan. Laki-laki itu kini duduk dengan menyandarkan punggungnya.


"Ada apa? Apa kau dalam perjalanan kemari? Kami masih melakukan meeting jika kau akan datang. Belum terlambat untuk itu," ucap Gerald setelah Morgan selesai berteriak-teriak di seberang sana.


"Datang apanya? Aku sedang terkena musibah di sini!" teriak laki-laki itu dengan kesal. Seketika Gerald menegakkan tubuhnya.


"Musibah? Apa kau kecelakaan?" tanya laki-laki itu dengan khawatir, juga dengan Tuan Harvey yang langsung menatap heran gerald.


"Ya, aku sedang terkena sial di sini! Kirimkan aku pakaian," ucap Morgan yang membuat kening Gerald kini mengerut berlipat-lipat.


"Pakaian untuk apa?"


"Tentu saja untuk ganti bajuku, bodoh! Aku tersiram di toilet yang rusak!" teriak laki-laki itu dengan marah.


Gerald benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada Morgan. Bagaimana bisa jika dia tersiram di toilet yang rusak?


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau ...." Gerald menghentikan ucapannya dan segera menutup mulutnya seraya berbisik, "Bagaimana bisa kau tersiram di toilet seperti itu?"


Pertanyaan Gerald membuat Morgan semakin kesal.


"Cepat kau datang dan bawakan baju untukku."


"Aku tidak bisa, meeting belum selesai. Kau suruh saja orang lain untuk membawakanmu pakaian," ucapnya dengan tidak enak hati. Meski sedikit dilema tapi dia harus memilih untuk mengabaikan permintaan Morgan. Jika dia mengikuti permintaan laki-laki itu tentu saja Tuan Harvey tidak akan senang dan akan membatalkan bisnis ini. Berapa banyak uang yang akan melayang. Tentu saja di masa depan nanti dia juga yang akan disalahkan oleh Morgan.


Panggilan tersebut dia matikan secara sepihak.


"Maafkan aku karena gangguan ini. Apakah kita bisa melanjutkan meetingnya?"


"Apa yang terjadi kepada Tuan Morgan?" tanya Tuan Harvey.


"Aah, tidak ada apa-apa. Dia hanya sedang mendapatkan sedikit masalah di sana," ucap Gerard sambil mencoba berpikir apa yang sebenarnya terjadi antara Morgan dan toilet rusak.


...****************...


Wkwkwk, pengalaman Morgan yang tak pernah dia duga 🤣

__ADS_1


Yuk, mampir sini sambil nunggu Morgan-Lyla up lagi



__ADS_2