
Beberapa mobil berjajar di halaman sebuah mansion megah di sebuah kota yang sama dengan Lyla. Beberapa orang sedang duduk diam dan sibuk dengan ponselnya masing-masing, tapi tidak begitu dengan beberapa anak buah yang berdiri di depan mereka, menundukkan kepala menatap ujung sepatu mereka seakan di sana ada hal yang menarik yang bisa mereka lihat.
"Jadi, kalian sudah menemukan gadis itu?" tanya seorang pria yang duduk di kursi tunggal, duduk dengan satu kaki menyilang di atas kaki yang lainnya, jari jemarinya saling bertautan satu sama lain.
"Benar, Tuan. Kami sudah mendapatkan titik terang di mana wanita yang Anda maksud berada," ucap salah seorang pria yang berdiri paling depan. Laki-laki dengan kemeja berwarna tosca itu tersenyum senang memperlihatkan senyumannya yang menawan. Dia menganggukkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kalian tidak membawanya kemari?" tanyanya lagi. Peluh kini mengucur di kening para pria yang berdiri di tengah suasana tegang.
"Maafkan kami, Tuan. Orang-orang itu cukup sulit untuk kami tembus," ucap laki-laki tersebut semakin menundukkan kepalanya. Dia semakin takut tatkala pria yang ada di hadapannya mengetuk-ketukkan ujung kakinya pada lantai.
"Apa aku tidak salah dengar? Aku membayar kalian agar bisa mengerjakan yang aku perintahkan. Kenapa kalian tidak bisa? Bukankah kalian ini orang-orang yang sudah terlatih sebelum kalian aku angkat menjadi bawahanku?" tanyanya. Dia kini bangkit, seorang yang duduk di sebelahnya hanya melirik sekilas, kemudian kembali lagi pada game di ponsel yang ada di tangannya.
"Dan aku dengar jika jumlah mereka tidak banyak dari orang-orang kita," celetuk salah seorang dari tiga di sana membuat para bawahan tersebut menelan salivanya dengan susah payah.
"Oh, jadi begitu? Aku harus kerahkan berapa banyak orang lagi agar dia bisa berada di sini?" tanya pria tampan tersebut.
"Maafkan saya, Tuan!"
"Maaf?" Dia mulai berjalan memutari pria itu.
"Iya, saya minta maaf dan saya akan atur strategi untuk bisa menyerang dan membawanya datang ke sini--" ucap pria tersebut. Akan tetapi, sebelum dia bisa melanjutkan ucapannya, tubuh kekar itu sudah terpental akibat tendangan keras yang mendarat di dadanya. Vas bunga mahal yang ada di ruangan sudah terbelah, pecah tidak berbentuk lagi.
"Uhuk!" Pria itu terbatuk seraya memegangi dadanya yang sakit.
"Kau tahu apa mau ku selama ini bukan? Apakah aku pernah memberi orang lain kesempatan kedua?" tanyanya. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, rasa di dalam mulutnya sudah tidak enak, mual karena ada darah di sana.
"Aku mohon, Tuan--" Lagi-lagi ucapannya terhenti saat dia melihat pucuk pistol tertuju ke arahnya, tepat pada kening. Belum sempat laki-laki itu berbicara, dia sudah menarik pelatuknya sehingga bunyi letusan terdengar keras. Dalam sekejap mata, orang yang ada di depannya terkapar dengan kening yang sudah berlubang, darah mengalir membasah ke lantai hingga membuat genangan besar.
Satu dari tiga orang yang ada di sana melirik sekilas, kemudian kembali pada ponselnya, begitu juga dengan dua yang lainnya tidak peduli dengan apa yang terjadi di sana karena itu adalah kebiasaan dari seorang Alexander Crownford. Seorang laki-laki yang sangat berpengaruh di kota ini.
...****************...
...****************...
__ADS_1
Apa yang dilakukan Crownford bukanlah hal aneh, itu memang sudah menjadi kebiasaannya selama ini. Apa yang dia tidak sukai maka dia tidak ingin melihatnya lagi, bahkan hanya untuk bernapas sekali pun.
"Bereskan!" ujar Alex sambil berbalik pergi menuju ke sofa, duduk dengan manis tanpa ekspresi sama sekali, sementara tiga orang bawahannya menyeret tubuh tak bernyawa itu ke luar dari ruangan.
"Kau kehilangan orang yang hebat," ucap salah seorang.
"Dia tak akan peduli siapa yang mati. Mau presiden sekalipun, haha!" tawa seorang yang lain masih menatap ponsel di tangannya.
"Hentikan tawamu, Barnie!"
Laki-laki yang disebut Barnie terdiam kesal. Lagi-lagi dipanggil dengan nama tokoh boneka dinosaurus berwarna ungu.
"Hei, berhenti memanggilku dengan nama itu!" cecarnya kesal.
"Salahkan ayahmu yang memberi nama lucu itu!" ucap Alex. John, tepatnya John Barnie Edison, putra dari salah seorang pengusaha ternama, mendecih sebal. Ya, salahkan kedua orang tuanya yang katanya sering menonton film menyebalkan itu!
Pria bernama Miguel berdiri, memasukkan ponsel ke saku celananya. Perbuatannya diiringi tatap yang lain termasuk Alex.
"Oke, pergilah." Alex berbicara, tapi matanya menatap ponsel yang baru saja dia pegang.
"Aku ikut, sudah tidak ada pertunjukan seru lagi di sini," ucap Edison. Dua orang itu pergi meninggalkan Alex dan Tuan Nelson, Barry Nelson.
"Kau tidak ikut pergi?"
"Tidak," jawab Nelson.
Keduanya kini diam, hanya sibuk pada ponsel masing-masing.
"Jadi, wanita itu siapa?" tanya Nelson.
"Hanya seorang wanita yang ingin aku dapatkan."
Nelson menatap Alex sekilas. Tidak biasanya Alex berbuat seperti ini untuk seorang wanita.
__ADS_1
"Kau menyukainya?" tanya Nelson.
"Tidak. Aku hanya ingin membuatnya sengsara saja," jawab Alex.
Nelson menghela napasnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Alex, beberapa bulan ini dia sangat sibuk dengan satu wanita yang dia sendiri masih belum paham siapa wanita itu.
"Apa kau ingin tahu dia siapa?" tanya Alex.
"Tidak. Aku tidak peduli."
"Hem, baguslah. Aku juga tidak ingin bicara," ucap laki-laki itu lagi.
"Menurutmu ... apa aku harus mengubah kamar di atas?"
"Untuk apa?" Dahi Nelson mengernyit.
"Jika dia ada di rumah ini."
"Terserah. Ini rumahmu. Apa yang ingin kau lakukan, lakukan saja." Nelson kembali pada permainannya.
Alex terdiam sesaat, menghentikan gerakan jemarinya pada layar ponsel, tersenyum kecil seraya memikirkan sesuatu. Nelson memperhatikan itu, laki-laki ini tampak aneh, entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Aku pergi," ucap Alex. Akan tetapi, Nelson masih tetap duduk di tempatnya.
"Kau tidak akan pergi?"
"Kau mengusirku?" tanya Nelson tak suka.
"Tidak. Terserah kau saja!" Alex pergi meninggalkan Nelson seorang diri di ruangan itu.
Genangan darah masih ada di ruangan tersebut, Nelson menatapnya dengan tanpa rasa Kiki atau mual sama sekali. Dia hanya bertanya-tanya di dalam hati, seperti apa wanita yang telah membuat Alex uring-uringan selama beberapa hari ini?
Siapa wanita itu? batin Nelson bingung, tapi dia masih enggan bertanya.
__ADS_1