
Robinson keluar dengan suara nyanyian riang pelan yang keluar dari mulutnya. Langkah kakinya ringan, dan dia merasa senang luar biasa hari ini.
Beberapa bawahannya yang ada di sana juga menatap heran kepada Robinson yang tidak seperti biasanya, tapi mereka sudah paham dengan hadirnya Morgan yang telah membuat Robinson menjadi lembut beberapa hari terakhir ini.
"Tuan," panggil Cedrik yang telah sampai di dekatnya dan membukakan pintu mobil. Robinson menahan langkahnya untuk masuk ke daam mobil mewah, dia mendengarkan bisikan yang Cedrik ucapkan.
"Lakukan dengan bersih."
"Baik." Cedrik menutup pintu setelah Robinson masuk ke dalam mobil, dan mobil itupun melesat pergi meninggalkan area rumah sakit.
***
Morgan menatap wajah Lyla yang masih tertidur dengan lelap tanpa merasa bosan sama sekali. Makanan sudah habis setengah, perut Morgan sedikit tidak nyaman setelah kemarin sempat mendapatkan pukulan dari orang-orang itu.
Suara dering telepon terdengar, Morgan melihat ada nama Selvi di layar HP-nya.
"Ku dengar Lyla sudah sadar? Kenapa kau tidak menghubungiku?" tanya Selvi dengan nada khawatir.
"Maaf, aku lupa."
"Lupa? Kau melupakan bibimu? Oh, yang benar saja!" teriak Selvi tidak terima akan ucapan keponakannya.
Morgan menjauhkan ponselnya dari telinga dan menjauh dari samping Lyla, bisa saja kan suara nyaring bibinya membuat Lyla terbangun.
"Kau sudah makan siapa kali ini? Apa Andrew memutuskan hubungan?"
Selvi terdiam mendengar pertanyaan keponakannya, tapi kemudian dia menangis sedetik kemudian.
"Hatiku sakit sekali ... huhu .... Aku dicampakkan lagi." Suara Selvi terdengar menyedihkan dengan isak tangis yang hebat. Morgan menghela napasnya sedikit, Ibu dari ayahnya memang sering sekali putus cinta, dia juga beberapa kali melihat dan mendengar tangisan bibinya itu. Di usia yang sudah kepala empat masih belum juga mendapatkan pasangan.
"Sudah. Sudah. Jangan menangis terus. Aku tidak ada di sana, dan tidak bisa menghiburmu. Datanglah ke sini, Lyla juga sudah sadar. Kau bisa datang ke sini sementara aku akan menyelesaikan urusanku. Bisa kan?" tanya Morgan sambil mencoba untuk menghibur Selvi.
"Iya, kau benar. Aku terlalu banyak bekerja. Aku akan pergi nanti malam."
Panggilan tersebut dimatikan. Morgan hanya menatap ponselnya yang kini sudah tidak lagi menyala.
***
Selvi telah sampai di bandara. Gerald yang menjemputnya bersama dengan beberapa orang terpercaya. Di saat seperti ini, dia tidak ingin kecolongan lagi dan tidak ingin jiak orang jahat mengambil kesempatan. Hidup di dunia hitam tidak bisa membuatnya tenang sedikitpun baik di negara asalnya maupun di negara lain.
"Aku kangen sekali kepadamu, Keponakan!" Pelukan erat diberikan Selvi kepada Gerald. Gerald yang tidak sempat menghindar hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aunty. Tolong lepaskan aku. Aku pria dewasa yang sebentar lagi akan menikah." Tolak Gerald.
"Ah, aku tidak peduli. Kau mau dewasa atau mau menjadi tua dan beruban, bagiku kau masih sama seperti anak kecil yang pernah aku belikan permen karet di belakang ayahmu." Selvi tidak peduli dan tetap memeluk erat keponakannya. Waktu cepat sekali berjalan sehingga dua anak kecil yang sering dia belikan permen karet dan coklat dengan diam-diam itu kini sudah besar dan melebihi tingginya.
"Ah, aku sebal jika mengingatnya. Itu bukan sebuah kebaikan, tapi itu juga berupa sogokan agar ayah mengizinkanmu membawaku dan Morgan keluar untuk bermain, dan kau bisa bertemu dengan pacarmu."
Selvi melepaskan pelukannya dan wajahnya seketika berubah masam. "Jangan ingatkan aku lagi dengan hal itu. Menyebalkan!"
Selvi memberikan tasnya kepada Gerald,sedangkan dua koper di belakangnya disambut oleh bawahan Gerald.
"Ah, akhirnya aku terbebas dari rutinitasku yang menyebalkan," seru selvi sambil mengangkat kedua tangannya merasakan kebebasan. Gerald menggelengkan kepalanya melihat tingkah bibinya. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tapi gaya berpakaiannya tidak boleh diragukan lagi. Bahkan dia sering disangka sebagai model dengan tinggi dan tubuhnya yang indah.
"Hei, ayo pergi. Aku tidak sabar bertemu dengan Lyla."
Gerald mengikuti langkah kaki Selvi.
"Sampai kapan kau akan di sini?" tanay Selvi.
"Masih beberapa hari lagi. Kenapa?"
"Hah, kau ini terlalu lama di sini. Cepat pulanglah dan urus semua pekerjaan. Aku sudah penat mengurus rumah sakit, perusahaan, dan markas. Oh, dan satu lagi ...." Selvi memutar tubuhnya menatap keponakannya yang tampan sebelas dua belas dengan Morgan. Selfi berjalan mundur sambil terus berbicara.
"Apa?"
"Kau sungguh akan menikah minggu depan?"
"Hemm."
"Seharusnya kau tidak meninggalkan dia begitu lama. Aku khawatir dia akan tergoda dengan pria lain." Selvi memutar kembali tubuhnya dan berjalan di depan Gerald.
"Dia bukan orang yang seperti itu."
"Kau yakin?" Dia menoleh lagi sambil tersenyum kecil.
"Iya, aku sudah mengenal dia dengan baik."
"Oh, syukurlah jika begitu. Tapi, aku sedikit tidak yakin. Teman Indonesia-mu datang ke rumah, dan dia membawa banyak sekali buah tangan termasuk buah-buahan tropis dan banyak sekali mie buatan negaranya. Dia sangat senang sekali dan mereka cepat akrab," bisik Selvi di akhir kalimatnya.
"Apa? Rehan datang?"
__ADS_1
Selvi mengangguk dengan cepat. "Huum."
"Sialan!" Dengan cepat Gerald memberikan tasnya kepada Selvi dan segera berlari kembali ke dalam area bandara untuk memesan tiket pulang. Selvi tertawa keras melihat keponakannya itu dan berbalik berjalan menuju ke mobil dengan tawa puas.
"Dasar bucin!"
...***...
Selvi telah sampai ke rumah sakit, dan Gerald masih menunggu dengan tidak sabar untuk penerbangannya yang dijadwalkan satu jam lagi.
Langkah kakinya menjadi perhatian beberapa orang yang ada di sana, dia adalah wanita yang cantik, karirnya juga mulus, tapi sayangnya kisah percintaannya tidak secantik dan semulus yang diperkirakan orang lain selama ini.
Selvi memiliki pemikiran lain di dalam dirinya, jika dia menikah, maka calon suaminya kelak harus mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Begitu juga dengan Edward yang mengajaknya menikah, dan dia memberitahu pekerjaan lainnya selain menjadi seorang dokter bedah. Edward mengundurkan diri dan tidak ingin melanjutkan lagi hubungan mereka. Meski begitu mereka masih berteman. Akan tetapi, perasaan Selvi yang masih tertanam kepada laki-laki itu membuatnya sulit move on, apa lagi pekerjaan mereka berada di satu tempat yang sama.
"Mana Gerald?" tanya Morgan saat Selvi sudah masuk ke dalam ruangan itu. Tidak ditemukannya saudara sepupunya di belakang Selvi.
"Dia kembali ke rumah. Dia merindukan calon istrinya." Selvi menahan tawa, mengingat wajah Gerald tadi yang tampak marah sekali. Entah apa yang akan diperbuat pria itu kepada Rehan yang sudah mengganggu di rumah.
Bukan tanpa sebab Selvi mengatakan hal itu. Jika laki-laki itu adalah laki-laki yang baik, tentu saja dia tidak akan keberatan jika Rehan tinggal di rumah Morgan. Hanya saja, pria itu buaya darat yang sudah menggodanya juga dan menggoda beberapa asisten yang ada di rumah.
"Oh, begitu rupanya."
"Lyla. Apa kabarmu?" Selvi mendekat kepada Lyla dan memeluknya seperti pada anaknya sendiri.
"Aku baik. Bagaimana kabarmu?" tanya Lyla balik.
"Menyebalkan. Aku diputuskan pacarku. Jadi, saat Morgan menyuruhku datang ke sini, aku tidak lagi menolak." Tawa keluar dari bibir selvi dan membuat Morgan ikut senang. Setidaknya dia tidak melihat wanita itu menangis seperti dulu lagi.
"Aku turut sedih."
"Tidak perlu. Kau tidak perlu ikut sedih mendengarnya. Dia memang laki-laki yang baik, tapi dia tidak bisa menerima kekuranganku." Terdengar sedih di telinga Lyla.
Lyla menatap Selvi dari atas hingga ke bawah, dilihatnya dengan benar wanita itu, tapi dia tidak menemukan cacat atau kekurangan sedikit pun darinya. Selvi sangat sempurna sebagai seorang wanita jika dilihat dari fisiknya, lantas apa yang membuatnya mengatakan memiliki kekurangan?
"Jangan dipikirkan. Oh ya. Kapan kau keluar dari rumah sakit?"
Lyla menggelengkan kepalanya dan mengalihkan tatapannya kepada Morgan.
"Besok."
"Benarkah? Syukurlah jika begitu. Aku senang sekali mendengarnya. Kita harus mulai membuat daftar."
"Daftar?" tanya Lyla dengan kening mengerut.
"Iya, Morgan belum bicara denganmu?"
"Bicara apa?" tanay Lyla.
"Kau tidak tahu jika Morgan telah mendaftarkan pernikahan kalian minggu depan?"
"Hah?" Lyla melongo dibuatnya oleh pernyataan Selvi.
"Menikah? Minggu depan?"
"Iya. Kalian akan menikah minggu depan."
Morgan memalingkan wajahnya ke arah lain dan mengusap lehernya yang tiba-tiba saja kaku.
"Kau tidak bilang padaku telah mendaftarkan pernikahan kita minggu depan." Lyla berbicara dengan lirih. Dia masih tidak menyangka jika akan menikah secepat itu, terutama karena dia sendiri masih belum tahu akan keadaan Alex sekarang ini.
"Anu ... aku lupa. Tidak apa jika kau belum siap. Kita bisa menundanya sampai kau siap."
Lyla menggelengkan kepalanya. "Aku siap, tapi aku belum tahu keadaan Uncle."
"Oh, itu ...."
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan Lyla dengan memakai kursi roda yang didorong oleh Mac.
"Uncle!" Lyla menyibak selimut dan turun dengan semangat, tapi tubuhnya yang masih lemas membuatnya hampir terjatuh andai tidak ditangkap oleh Morgan. Tiang infusnya sampai terjatuh ke lantai.
"Hati-hati," peringat Morgan.
Lyla menangis harus karena dia bisa melihat keadaan Alex meski dengan kondisi yang masih menyedihkan. Banyak luka yang terdapat di wajahnya dan tubuhnya yang tampak terbalut kain perban.
"Kau diam lah di atas ranjangmu."
Lyla menurut dan kembali duduk di ranjangnya, tapi karena perbuatannya tadi membuat darahnya keluar di selang infus.
"Tanganmu ...." Dengan cepat Selvi mengambil tindakan sehingga darah perlahan kembali lagi masuk ke dalam tubuhnya. Hal tersebut membuat Alex memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu. Cahaya matahari pagi menyorot kepada Selvi dan membuatnya bersinar. Hangat.
"Apa Kau baik-baik saja, Uncle?"
__ADS_1
Alex tersadar dan melihat Lyla yang tampaknya sudah baik-baik saja. Mendengar cerita dari Mac tentang keadaan Lyla membuat Alex ingin segera menemui keponakannya ini dan melihat keadaannya.
"Aku baik. Kau sendiri?" Alex merasa bersalah sekali karena telah melibatkan keponakannya. Entah bagaimana jika mereka terlambat untuk menanganinya, sudah pasti dia akan hidup lagi sendirian di dunia ini.
Selvi telah selesai dan membenarkan infus Lyla yang tinggal sedikit lagi.
"Morgan, tolong panggil perawat dan minta infusan yang baru."
Morgan mengerti dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Selvi.
"Uncle, perkenalkan ini adalah adik dari ayah Morgan. Tante, ini adalah pamanku. Alex."
Dua orang itu bersalaman tanpa ragu. Halus tangan Selvi membuat Alex terpesona, juga karena wajahnya yang cantik meski sedikit terlihat garang. Namun, Alex suka melihat bibirnya yang merah merona.
"Ekhem! Tante. Ini yang kau minta." Morgan telah sampai dan menyerahkan labu infus yang tadi diminta oleh Selvi.
Selvi tersadar dan menerima benda tersebut dan menggantikannya dengan cekatan. Hal tersebut membuat Alex tersenyum sendiri. Rasanya kagum, senang, meski dia sendiri tidak tahu hal yang pasti apa yang membuat dirinya seperti ini.
Morgan dan Selvi membiarkan Lyla dan Alex untuk berbicara berdua. Dua orang itu tertawa dan tersenyum bersama, tidak ada air mata yang diperlihatkan Lyla saat semalam kepada Morgan, dan hal itu yang membuat Morgan senang.
"Jadi, dia keluarganya?" tanya Selvi sambil menikmati cemilan yang kemarin dibawakan oleh Robinson.
"Hu-um."
"Lalu orang tuanya?"
"Sudah tiada."
"Nenek dan kakeknya?"
"Entah. Aku masih belum bisa menemukannya."
"Kau mau mencari keberadaan mereka?"
"Entah. Apakah mereka masih hidup?" gumam Morgan.
Selvi pun terdiam dan memilih untuk melanjutkan makan camilan lagi.
"Aku ingin tanyakan satu hal kepadamu."
"Apa?"
"Kenapa kau tidak pernah bilang jika aku bukanlah anak dari ayahku?"
Selvi terdiam, tangannya pun diam. Dia menoleh kepada Morgan yang kini menatapnya.
"Siapa yang bilang kepadamu?"
"Jadi, benar seperti itu?" Morgan tidak menjawab,malah balik bertanya.
Helaan napas panjang selvi menandakan jika wanita itu akhirnya lega, karena bukan darinya kabar berita itu didengar oleh Morgan.
"Karena aku sudah menyayangimu sama seperti aku menyayangi Gerald. Aku hanya takut jika kau akan pergi."
"Pada kenyataannya aku memang tidak ada tempat di sana. Jelas aku akan pergi untuk menjalani hidupku sendiri."
"Dan tega meninggalkanku?" Tatapan kecewa diberikan oleh Selvi.
"Kau masih ada Gerald."
"Kalian dua orang terpenting yang ada di dalam hidupku. Aku tidak masalah tentang siapa kau, aku juga tidak masalah dengan asal usulmu. Kau besar dengan kami. Meski banyak hal yang pahit karenamu, tapi itu semua bukan salahmu," ucap Selvi.
"Ah, aku lapar. Kau tega sekali tidak menawariku makanan. Aku juga mengantuk. Aku akan cari hotel di dekat sini." Selvi menyimpan camilan di atas meja dan berdiri.
"Kau bisa pulang denganku ke tempat Gerald."
"Tidak perlu. Aku lebih ingin mencari tempat yang sunyi dan bisa merenung sendirian," ujar Selvi dan berlalu pergi. "Lyla. Aku akan pergi ke hotel. Jika kau sudah sembuh, kunjungi aku lagi di sana."
Lyla yang dipanggil menoleh ke arah Selvi. "Baiklah. Aku akan mengunjungimu besok sepulang dari sini."
Selvi tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Mau aku antar?" tawar Morgan.
"Tidak perlu. Sudah cukup banyak orang yang mengantarku." Selvi menolak, kemudian tanpa berbicara lagi dia pergi dari sana.
Alex menatap kepergian wanita bertubuh semampai itu. Semua pergerakan Selvi dia lihat dan dia mengaguminya.
"Akhemm! Apakah Pamanku sedang terpesona?" goda Lyla membuat Alex tersadar dan memerah di wajahnya.
"A-apa yang kau katakan. Tidak. Aku tidak sedang--"
__ADS_1
"You're blushing, Uncle!" Lyla menatap sang paman dengan senyuman geli melihat wajah tampan yang memerah itu.
"No!"