Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
81. Panas Di Dalam Hati


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Morgan terus berdecak dengan kesal menyadari betapa bodoh dirinya karena tidak peka dengan sesuatu yang Lyla butuhkan.


"Ah, sial! Kenapa aku tidak ingat dengan itu?" gumamnya dengan cukup keras. Mengingat Lyla yang mungkin kelaparan membuat dia merasa bersalah. Morgan mengendarai mobilnya dengan cukup kencang di jalanan yang basah karena salju, dia ingin sampai secepat mungkin di universitas dan membawa Lyla makan siang.


...***...


"Bersabarlah sebentar, mungkin makanan lama karena mengantri," ucap Markian sambil melihat ke arah pelayan yang masih sibuk dengan yang lainnya.


"Umm, oke," ucap Lyla sambil tersenyum.


"Apa kau sudah lapar sekali? Aku bisa belikan makanan yang lain terlebih dahulu," tanya Markian.


"Ah, tidak usah. Aku akan menunggu saja. Rasanya bisa tidak enak jika kita makan dalam keadaan yang tidak lapar," ungkap Lyla. Markian tersenyum senang karena mendapati wanita yang sangat sabar seperti Lyla.


"Oh, ya. Jam berapa kita pulang nanti?" tanya Lyla.


"Sekitar jam tiga. Apa tidak ada yang memberi tahumu sebelumnya?"


"Tidak." Lyla terdiam, memikirkan bagaimana caranya nanti dia pulang ke rumah Morgan.


Mungkin aku harus berjalan kaki, ucap Lyla di dalam hatinya. Dia memang tidak tahu jalan pulang, tapi dia bisa bertanya pada seseorang di jalan nanti.


"Ah, tunggu di sini. Aku akan bertanya apakah makanan kita sudah selesai atau belum," ucap Markian kemudian beranjak untuk pergi dari sana.


...*** ...


Morgan telah sampai di depan universitas, dia memarkirkan mobilnya bersama dengan mobil-mobil mewah yang lainnya di sana. Sedikit berpikir Morgan kali ini, mungkin dia bisa meminjamkan mobil untuk Lyla agar dia tidak malu untuk belajar di sini. Dari banyaknya mobil yang terparkir di sana juga dengan banyaknya orang-orang dengan penampilan yang mentereng membuat Morgan yakin jika Lyla bisa saja merasa kecil di tempat ini.


Morgan berlari menuju kelas Lyla, tapi dia tidak menemukan wanita itu di sana.


"Ooh, tampan sekali dia. Siapa laki-laki itu?" bisik seorang wanita berambut pirang kepada kedua temannya.


"Aku tidak tahu, apakah mungkin dia dosen baru? Aku dengar akan ada dosen baru di kelas kita," ucap yang lain.


"Benarkah? Jika benar, sepertinya akan sangat menyenangkan sekali."


"Ya, kau mau bertaruh?" Semua orang mendekat dan menatap Morgan yang kini bertanya kepada seorang pemuda yang ada di sana.


"Bertaruh apa?" Mereka saling berbisik dan tersenyum kemudian.


"Itu mudah!" seru wanita berambut pirang sambil menjentikkan jarinya.


"Oke, kami akan menunggu di sini."


Morgan mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu kemudian keluar dari kelas Lyla. Wanita dengan rambut pirang tadi berlari menyusul Morgan dengan langkah kaki yang cepat.


Morgan berjalan dengan cepat, tapi wanita yang ada di belakanganya berlari dan menubruk tubuh Morgan dari belakang.


"Awwh!" seru gadis tersebut membuat Morgan terkejut dan membalikkan dirinya, terlihat wanita itu kini berada di lantai sambil meringis kesakitan. Morgan segera menghampiri wanita tersebut dan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Wanita itu terpana akan ketampanan Morgan, tapi kemudian tersadar saat Morgan berbicara, "Kau tidak apa-apa?" tanya Morgan pada wanita dengan rambut pirang tersebut.


"Ah, ya. Aku tidak apa-apa, Tuan. Maafkan aku," ucap wanita tersebut seraya menerima uluran tangan Morgan dan berdiri. Dia menepuk-nepuk pakaian belakangnya membersihkan dari debu yang menempel.


"Maaf, Tuan. Aku sedang buru-buru. Aku tidak bisa menghentikan langkah ku tadi," ucap wanita tersebut.


"Ya, tidak apa-apa." Morgan menjawab dengan singkat.


"Amm ... sepertinya aku tidak pernah melihatmu di sini? Apa kau orang baru? Aku Angel," tanyanya sambil mengulurkan tangannya kepada Morgan.


"Maaf, aku harus pergi. Aku juga buru-buru," ucap Morgan, kemudian berjalan dengan langkah yang cepat meninggalkan wanita tersebut di sana. Dia merasa kesal karena telah diabaikan oleh seorang lelaki.


'Menarik juga.'


Dua temannya yang sedari tadi hanya mengintip dari ambang pintu mendekat dan melingkarkan tangannya pada leher wanita berambut pirang. "Bagaimana? Kau mendapatkan nomornya?" tanya salah satu temannya itu.


"Aku tidak mendapatkannya," ucap Angel seraya menyerahkan ponsel mahal miliknya dan disambut senang oleh dua temannya itu.


"Ah, sayang sekali. Sepertinya lain kali kau tidak perlu menyanggupi jika hanya untuk mendapatkan kegagalan. Kau masih punya uang untuk membeli yang baru, kan?" ejek Sarah seraya memutar-mutar ponsel tersebut sebelum memasukkannya ke dalam tas mahalnya.


"Kau menghinaku."


"Tidak. Aku tidak menghinamu, karena aku sangat tahu jika kau sangat mampu untuk membelinya," ucap wanita itu lagi.


"Dia sangat seksi," ucap Angel sambil tersenyum tipis.


"Bahkan, jika aku dirugikan aku tidak masalah. Dia sangat 'hot'," ucap Angel sambil menatap Morgan yang masih berjalan cepat menuju ke arah lain.


Morgan kini telah sampai di kantin, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Lyla, semoga saja pemuda yang tadi tidak salah memberitahunya.


Di dekat jendela Morgan menemukan Lyla yang tengah duduk sendirian di sana. Dia menyunggingkan senyum dan mendekat ke arah Lyla berada.


"Hei, kau mau makan siang denganku?" tanya Morgan membuat Lyla mengalihkan tatapannya dari luar jendela. Lyla terkejut dengan kehadiran Morgan yang ada di sana.


"Tuan, sedang apa kau di sini?" tanya Lyla bingung. Morgan menarik kursi dan duduk di sana.


"Aku ingat jika kau mungkin belum makan siang," ucap Morgan.


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Castanov. Adik Anda tidak akan kelaparan selama ada aku di sini," ucap salah seorang pemuda yang tiba-tiba saja datang dan mendekati mereka berdua. Morgan ingat jika ada Markian di sini, antara senang dan tidak dengan adanya pemuda tersebut.


"Makanan telah datang, Princess. Semoga kau menikmati makanan ini." Markian memindahkan piring dan minuman milik Lyla, kemudian menurunkan piring miliknya. Dia juga menarik kursi yang ada di samping Lyla dan duduk di sana, membuat Morgan tidak suka. Kenapa tadi dia tidak duduk di samping Lyla?


'Membuat kesal saja!' gumam Morgan di dalam hatinya.


"Terima kasih, Tuan Lenon. Aku sangat menghargai makanan yang kau berikan," ucap Morgan, kemudian menarik piring milik Markian dan langsung mengambil sendok.


"Eh, makananku!" seru Markian, tapi terlambat karena Morgan telah mengambil makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulut dengan suapan yang besar.


"Emhh ... ini enak sekali! Aku beruntung bisa datang dengan tepat waktu," ucap Morgan dengan tanpa bersalah sama sekali.

__ADS_1


Lyla melihat wajah Markian yang menahan kesal, tapi pemuda itu tidak berani menegur Morgan. "Ini untukmu saja. Aku belum lapar," ucap Lyla menggeserkan piring miliknya.


"Eh, tidak perlu. Aku bisa memesan yang lainnya. Kau makanlah ini, aku akan pergi untuk memesan lagi," ujar Markian dengan tak enak hati dan kembali menggeserkan piring ke hadapan Lyla lagi. Markian pergi dari sana untuk kembali memesan.


Lyla menatap Morgan dengan kesal, dia merasa tidak enak hati terhadap Lenon. "Apa yang kau lakukan, Tuan? Sikapmu sangat buruk sekali!" ucap Lyla dengan kesal.


"Buruk? Oh, maafkan aku. Aku hanya lapar dan tangan ini refleks menarik piring miliknya, lagi pula dia juga tidak keberatan," ucap Morgan dengan wajah yang tak berdosa. Lyla menarik napasnya dengan kesal, sungguh tidak sopan sekali laki-laki ini terhadap pemuda yang baik seperti Markian.


Morgan melirik Lyla yang tidak menyentuh makanannya. "Kenapa kau tidak makan?" tanya Morgan.


"Kau harus meminta maaf pada Markian."


"Ya, akan aku lakukan nanti," ucap Morgan kemudian menyuapkan makanan lagi ke dalam mulutnya. "Sekarang makanlah, ini sangat enak sekali. Jika sudah menjadi dingin, aku yakin ini tidak akan enak lagi," ucap Morgan.


"Setelah kau meminta maaf padanya."


Morgan menghentikan kunyahannya, menegakkan tubuhnya dan menatap Lyla dengan tajam. Tiba-tiba saja dia merasa kesal mendengar wanita yang keras kepala ini.


Akhirnya Morgan mengalah. "Iya, ku bilang akan aku lakukan. Kau lihat, dia juga masih ada di sana," tunjuk Morgan dengan menggunakan garpu yang ada di tangannya. "Sekarang makanlah."


"Aku menunggu Markian," ucap Lyla.


"Kenapa kau harus menunggunya?" tanya Morgan sedikit emosi.


"Karena dia yang telah mengajakku ke sini."


"Aku akan membayarkan milikmu agar kau tidak merasa tidak enak hati padanya." Morgan semakin kesal.


"Tetap saja tidak sopan, Tuan. Kami datang bersama, maka makan juga harus tetap sama-sama," ucap Lyla. Morgan menghela napasnya dengan kesal, ingin rasanya marah, tapi nyatanya dia tidak bisa melakukannya. Jadi, dia hanya bisa menunggu sampai Markian kembali.


"Maaf, kalian menunggu?" tanya Markian yang sudah datang dengan roti dan minuman di tangannya. "Oh, padahal kalian makan duluan saja. Aku tidak apa-apa belakangan," ucap Markian saat melihat makanan dua orang itu masih utuh.


"Tidak apa-apa, Markian. Kami menunggumu. Rasanya tidak enak jika kami makan duluan," ucap Lyla malu. Markian duduk di samping Lyla.


Lyla menatap Morgan, tapi laki-laki itu hanya diam dan menatap Markian dengan tatapan yang kurang bersahabat. Dia menggerakkan kakinya, menendang kaki Morgan sedikit keras sehingga Morgan tersadar saat terkena tendangan dari Lyla. Gegas Morgan mengalihkan tatapannya dari Markian.


Lyla menggerakkan kepalanya, memberi isyarat agar Morgan segera berbicara.


Setelah helaan napas berat dari Morgan akhirnya laki-laki itu berbicara juga.


"Aku minta maaf soal makananmu. Biar nanti aku yang akan bayarkan makanan kalian," ucap Morgan sedikit kaku. Tidak terbiasa dia mengucapkan kata maaf selama ini.


"Oh, tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya makanan. Biar aku yang akan bayarkan, ini adalah hari pertama Lyla dan aku sangat senang sekali karena bisa bertemu dengan kalian. Ayo, silakan habiskan makanannya." Markian menyuruh Morgan dan Lyla untuk segera makan.


"Tuan Lenon, biar kita bertukar makanan saja. Aku belum memakannya sama sekali." Lyla menyodorkan piring miliknya lagi. Akan tetapi, seperti tadi Markian kembali memberikan piring tersebut kepada Lyla.


"Kau habiskan saja, Lyla. Aku akan makan roti. Ini juga enak," ucap Markian kemudian memakan roti di tangannya dengan suapan yang besar.


Dalam makannya, Morgan memperhatikan dua orang yang ada di hadapannya, meski tanpa saling berbicara, tapi dari tatapan keduanya tampak sekali seperti orang yang sudah sangat akrab sekali. Ada rasa panas yang dia rasakan di dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2