
Morgan tersenyum senang saat melihat Lyla telah bertemu dengan ibunya. Dia ikut terharu dan puas karena telah bisa membantu Alex untuk menemukan wanita itu, meski sedih juga karena ternyata David, ayah Lyla telah tiada karena sabotase yang menyebabkan kecelakaan mobil bertahun-tahun yang lalu.
Lyla dan Theresia masih larut akan kerinduan.
“Apa kalian bisa melakukannya lagi nanti? Pengantin pria sudah menunggu di depan sana.”
Ucapan Alex membuat Theresia melepaskan pelukannya dari sang putri.
“Ah, benar. Kau harus pergi pada suamimu.”
Alex mendekat dan memberikan lengannya pada Lyla untuk mengantarkan wanita itu pada suaminya.
“Maaf kami terlambat datang. Ayo kita pergi ke sana.”
Lyla tersenyum senang dan menggandeng lengan sang paman dan pergi ke altar bersamanya, sedangkan Theresia mengikuti mereka dan duduk di deretan bangku paling depan yang sudah disediakan. Seorang tamu merelakan tempat duduknya dan memberikannya untuk Thersia dan Alex.
“Di mana kau menemukan ibuku, Uncle?” tanya Lyla dengan suara yang sangat pelan, senyumannya terus terpancar di bibirnya akibat bahagia yang bertubi-tubi di hari spesialnya ini. Langkah kaki mereka pelan menapaki karpet merah yang terbentang sampai ke depan altar.
“Aku dan suamimu yang mencarinya, dan anak buahnya yang berhasil menemukan ibumu. Meski banyak sekali rintangan, tapi akhirnya kami berhasil membawanya pulang.”
"Jadi ... Morgan mencari ibuku?" tanya Lyla tidak percaya.
"Iya, dia juga ikut membantu mencari keberadaan ibumu."
“Aku ingin menangis lagi. Kau baik sekali telah membawakan ibuku datang.”
“Jangan menangis, kau tidak mau ibumu menjadi khawatir, kan?”
“Tentu saja tidak. Aku tidak akan menangis. Lalu, kau tidak masalah dengan pernikahan Tante Selvi? Kau menyukainya, kan?”
Alex menjadi salah tingkah, tapi dia masih tetap bisa bersikap tenang. “Aku memang menyukainya, tapi jika dia bukan jodohku, aku bisa apa?”
Tiba-tiba saja Alex melihat seorang wanita cantik yang ada di deretan bangku paling depan. Sangat cantik sekali sehingga hatinya berdenyut hangat.
“Siapa wanita itu?” tanya Alex, Lyla melihat ke arah lain, tapi dia belum tahu siapa yang Alex maksud. “Yang memakai gaun pink lembut dengan jepitan kupu-kupu. Arah jam tiga.”
Lyla melihat ke arah yang dimaksud Alex.
“Oh, kau tidak boleh jatuh cinta padanya, Uncle. Dia baru menikah dua hari yang lalu dengan Gerald."
"Gerald? Sepupu suamimu?"
"Iya."
Alex berdecak kesal. Lagi-lagi cinta tidak berpihak kepadanya. "Sial sekali."
Lyla menahan tawanya dan mengusap lengan sang paman lembut. "Sabar. Kau pasti akan bisa menemukan wanita yang baik untukmu. Tuhan telah merencanakan seseorang yang lebih baik untuk menjadi pendampingmu, Uncle."
Alex telah mengantarkan Lyla ke depan suaminya dan menyerahkan sang keponakan pada Morgan. "Aku berikan keponakan tersayangku padamu. Kau harus menjadi suami yang baik untuk dia. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka aku yang akan bertindak untuk menghukummu!" ucap Alex dengan tatapan setajam elang. Dia bersumpah, jika Morgan tidak bisa memperlakukan Lyla dengan baik, dia yang akan mencari pria itu dan memberinya pelajaran.
"Kau tidak perlu meragukanku, Paman. Hanya aku yang bisa membahagiakan keponakanku."
Mau tidak mau, Alex menyerahkan Lyla untuk Morgan dan dia melirik Selvi yang ada di dekat Robinson. Hatinya retak saat ini melihat Selvi yang sangat cantik sekali dengan balutan gaun putih dengan veil tipis di kepalanya. Andai dia bisa, ingin sekali dia menyingkirkan Robinson dan menggantikannya di depan altar untuk mengucapkan janji suci.
"Selamat juga untuk kelian berdua." Hanya itu yang bisa Alex ucapkan untuk kedua orang itu dan dia pergi sebelum Robinson menjawabnya.
__ADS_1
Akhirnya pemberkatan untuk Robinson dan Selvi dilakukan dengan Alex yang ikut menjadi saksi pernikahan dua orang itu. Hatinya semakin patah saat melihat dua pengantin tersebut berciuman sebagai tanda mereka sah menjadi pasangan.
Masih beruntung Alex belum menyatakan perasaannya kepada Selvi, andai dia sudah menyatakannya, pastilah dia akan malu untuk bertemu dengan wanita itu.
"Tenanglah. Kau bisa melewati waktu ini dan mendapatkan wanita yang lebih baik." Theresia mencoba untuk memenagkan hati Alex.
"Iya, Kakak. Kalau bisa, aku ingin menikah denganmu saja yang jelas menyayangiku sedari dulu."
Theresia tertawa dan menggenggam tangan adik sepupunya. "Kau tidak perlu menikahiku untuk bisa mendapatkan kasih sayangku. Kau adikku yang selalu aku sayangi."
Acara pemberkatan selesai, dua pengantin telah pergi dengan mobil pengantin dan menuju ke hotel di mana mereka akan melakukan malam pertama dan juga persiapan untuk resepsi yang akan dilaksanakan pada keesokan harinya. Semua orang yang ada di sana menatap takjub mereka yang telah pergi, beberapa gadis dibuat iri oleh kedua pengantin itu.
"Aku tidak menyangka, akan bertemu dengan putriku lagi. Dia telah dewasa dan telah menjadi seorang istri." Theresia mengusap sudut matanya yang telah basah. Senang dan terharu karena bisa melihat Lyla. Padahal, dia sudah pesimis karena tidak pernah bisa keluar dari dunianya yang kelam dan dia tidak menyangka jika akan terbebas dari orang itu. Andai Alex tidak datang, mungkin saja sampai mati dia akan terbelenggu dengan seseorang yang telah membuatnya terpenjara selama kurang lebih dari dua puluh tahun ini.
"Ayo kita pergi. Kau harus beristirahat dengan baik," ajak Alex kepada Theresia. Theresia mengangguk dan mengikuti langkah adiknya untuk pergi dari sana.
Saat mereka telah sampai di parkiran untuk mengambil mobil, Alex melihat seorang wanita yang sedang bersusah payah dengan motornya. Berkali-kali wanita itu menyalakan motor tersebut, tapi kendaraan roda dua itu tidak mau menyala juga.
"Ah, sial sekali. Apakah aku harus mendorongnya lagi?" gumam wanita itu kesal, tapi terdengar dengan sangat jelas oleh Alex.
"Apakah dia ada masalah?" tanya Theresia saat Alex tidak juga masuk ke dalam mobil.
"Entah, sepertinya begitu."
Alex hendak masuk ke mobil, tapi Theresia menutup pintu mobilnya lagi dan berjalan ke dekat gadis tersebut.
"Hai, apakah kau ada masalah?" tanya Theresia ramah.
Gadis itu menoleh dan tersenyum malu melihat wanita yang sangat cantik bak bidadari ada di depannya.
'Membuat malu saja! Aku akan menjualmu setelah kembali dari sini!' batin wanita tersebut. Tak lupa dia menaikkan kaca matanya yang melorot ke hidung.
"Jika kau mau, kami bisa mengantarmu pulang."
Gadis itu menatap Theresia dan menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Nyonya. Sebentar lagi motorku akan menyala. Terima kasih atas tawarannya."
Akan tetapi, setelah menunggu beberapa menit lamanya, motor tersebut tidak juga mau menyala sehingga Alex datang ke arah keduanya.
"Kakak. Kita harus segera kembali ke hotel." Alex mengingatkan setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Alex, bisakah kita mengantar gadis ini dulu? Motornya tidak mau menyala." pinta Theresia.
Alex mengerutkan keningnya. Mengantarkan gadis ini untuk pulang jelas saja akan membuat mereka tidak bisa beristirahat dengan cepat.
"Ah, tidak perlu, Nyonya. Aku akan menghubungi temanku untuk menjemput ke sini." Tolak wanita itu lagi.
"Tidak apa-apa, Nona. Ikutlah dengan kami. Biar kami antar pulang. Atau, kakakku akan terus mengomel sepanjang jalan dan membuat telingaku sakit."
"Aku tidak sejahat itu, Alex," protes Theresia kesal.
"Anak buahku akan mengurus motormu. Ikutlah dengan kami. Kami bukan orang jahat. Jika kami orang jahat, kau bisa menemui Tuan Castanov untuk mencariku," ucap Alex saat melihat keraguan yang terlintas di mata gadis berambut coklat itu.
Akhirnya, setelah sedikit pemaksaan oleh Theresia dan Alex yang meyakinkannya, gadis itu mau ikut dengan mereka.
"Siapa namamu?" tanya Theresia memutarkan kepalanya pada gadis berkaca mata itu.
__ADS_1
"Jane. Namaku Jane Abigail," jawab wanita itu.
"Nama yang bagus sekali. Apa kau teman putriku?"
"Nona Lyla maksud Anda?" tanya Jane.
"Iya."
"Ah, bukan. Aku adalah asisten yang merias Nona Lyla. Seharusnya aku ikut pulang saat setelah selesai merias putri Anda, tapi aku penasaran dengan jalan acara sehingga aku menunggu sampai acara itu selesai. Putri Anda sangat cantik sekali, Nyonya. Sangat mirip denganmu."
Theresia senang akan ucapan dari Jane.
"Iya, aku juga sangat senang sekali dia cantik sepertiku."
Theresia mengantarkan Jane menuju ke sebuah rumah kontrakan kecil yang ada di pemukiman padat. Kumuh sekali menurut Alex yang terbiasa di tempat yang nyaman dan mewah.
"Maafkan aku. Tempatnya tidak layak. Terima kasih karena telah mengantarku pulang," ujar Jane tidak enak hati saat Theresia ikut turun dan melihat jalan masuk ke dalam. Jalanan becek dan banyak anak kecil yang bermain di tengah jalan membuat sesak dan tidak nyaman. Apa lagi mereka menatapnya sedari tadi.
"Ah, tidak apa-apa. Apa ini jalan menuju ke rumahmu?" tanya Theresia dan dijawab anggukkan kepala oleh Jane.
"Iya. Tidak jauh dari sini."
Theresia melihat ada beberapa pemuda yang duduk di tepi jalan dan menatap ke arah mereka. Tiba-tiba saja dia khawatir dengan keselamatan Jane.
"Alex, bisakah kita mengantar Jane hingga sampai ke depan rumahnya?" tanya Theresia.
"Tapi Kakak--"
"Alex, kumohon."
"Baiklah."
Jane terkejut karena Theresia ingin mengantarnya hingga ke dalam rumah.
"Tidak perlu, Nyonya. Jalanan ke dalam tidak bagus dan akan membuat Anda berdua tidak nyaman," ucap Jane. Takut jika dua orang itu terganggu dan membuat mereka lebih repot lagi.
"Tidak apa-apa, kan, Alex?" tanay Theresia lagi.
"Hem, baiklah. Ayo naik. Jalanan ke dalam sana cukup untuk mobil kan?" tanya Alex akhirnya.
"Iya."
Alex dan Theresia mengantarkan Jane sampai ke depan rumahnya. Rumah kontrakan yang sangat kecil sekali dan terlihat tidak layak sebenarnya.
Jane menawarkan kedua orang itu untuk masuk ke dalam rumah kecilnya, tapi Theresia dan Alex menolak karena mereka akan segera kembali ke hotel.
"Terima kasih telah mengantarku pulang. Berhati-hatilah di jalan," ucap Jane sambil melambaikan tangannya ke pada Theresia dan Alex.
Alex mengendarai mobilnya untuk kembali ke jalanan besar.
"Aku kira dia teman Laura."
Alex hanya diam.
"Dia gadis yang cantik jika tanpa kaca mata," ujar Theresia lagi yang mengagumi mata coklat wanita tadi.
__ADS_1