Belenggu Hasrat Tuan Muda

Belenggu Hasrat Tuan Muda
51. Cerita Masa Lalu


__ADS_3

"Apa kau senang tinggal di panti asuhan? Bagaimana ceritanya kau bisa sampai ada di sana?" tanya Morgan ingin tahu. Lyla terdiam mendengar pertanyaan itu, seketika membuat Morgan tidak enak hati.


Oh, sial. Kenapa aku bertanya hal yang sensitif seperti ini?


"Em ... maaf. Bukan maksudku untuk menyinggungmu. Aku ...." Morgan menjadi bingung sendiri. Dia hanya mengusap belakang lehernya yang tiba-tiba terasa kaku.


"Aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku," jawab Lyla.


"Maksudnya ... kau diabaiakan?" tanya Morgan terkejut.


Duh, harusnya aku tidak bertanya itu, tentu saja di panti asuhan adalah tempat di mana semua anak diabaikan oleh orang tuanya!


"Eem ... entahlah. Sepertinya begitu," ucap Lyla seraya menatap Morgan dan tersenyum tipis. "Aku sendiri tidak paham, tapi saat aku ditemukan oleh ibu panti hanya ada secarik kertas bertuliskan tangan dan tertulis jika mereka meminta ibu panti untuk mengurusku dengan baik."


Morgan terdiam mendengar hal itu. Sekarang pikirannya dipenuhi oleh hal yang lain. Apakah Lyla anak yang tidak diinginkan orang tuanya? Apakah Lyla anak haram yang terlahir tanpa ayah? Atau, apakah Lyla anak yang harus disingkirkan sebab keluarganya tak suka dengan anak di luar nikah?


"Aku tidak tahu di mana mereka, tidak ada penjelasan siapa dan di mana. Tentu saja jika tahu siapa dan di mana mereka aku pasti akan menyusulnya dan bertanya kenapa aku bisa ditinggalkan di panti asuhan," ucap Lyla dengan sedih. Matanya terasa hangat jika mengingat bagaimana cerita ibu panti saat menemukannya di luar gerbang saat salju turun dengan derasnya. Beruntung ada salah satu anak yang menemukan dia di luar dan membawanya masuk. Jika tidak mungkin dia akan mati membeku di luar gerbang.


Lyla menghela napasnya dan mengusap air mata yang ada di sudut matanya.


"Ya ampun. Kau membuatku ingin menangis!" ucap wanita itu dengan tawa kecil. "Padahal ini sudah sering ditanyakan oleh orang lain, tapi aku selalu saja tidak tahan dan ingin menangis terus."


Semut besar rasanya sedang berjalan ke kedalaman tubuh Morgan dan menggigitnya dengan keras di sana.


Kasihan sekali dia, gumam Morgan di dalam hatinya.


"Jangan kasihan kepadaku," ucap Lyla yang membuat Morgan tersadar.


"Aku tidak bilang apa-apa," ucapnya.


"Iya, kau memang tidak bilang apa-apa, tapi sorot matamu seakan sedang mengasihaniku!" ucap Lyla, tangannya yang ramping meninju lengan atas Morgan yang berotot.


"Aku kira kau bisa membaca pikiran orang lain," ucap Morgan seraya mengusap lengannya yang baru saja ditinju oleh Lyla.

__ADS_1


Lyla tertawa kecil mendengar ucapan laki-laki itu.


"Tidak bisa, tapi aku bisa baca ekspresi wajahmu. Sudah lah, Tuan Muda. Jika kau ingin bertanya, apakah aku tahu wajah orang tuaku jelas aku akan berkata tidak tahu. Ada CCTV, tapi wajahnya tertutup topi lebar dan juga malam itu salju turun dengan sangat lebat."


Morgan hanya diam mendengarnya. Tentu saja jika dirinya ada di posisi Lyla sekali pun jika mengenal wajah orang tuanya pasti akan dia cari juga bagaimana pun caranya, apa lagi di zaman canggih sekarang ini hal itu bukanlah hal yang sulit untuk mencari seseorang.


"Apa kau merindukan mereka?" tanya Morgan.


"Iya, tentu saja. Siapa anak yang tidak rindu dengan orang tuanya?" Ucapan Lyla membuat Morgan terdiam. Ingin dia menjawab 'aku', tapi lidahnya kelu untuk menjawabnya.


"Aku sangat rindu dengan mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu harus cari mereka di mana." Lyla tersenyum kecil membuat Morgan termenung.


"Kenapa?" Sadar dengan kediaman laki-laki itu Lyla pun bertanya.


"Tidak apa-apa. Aku ... kau wanita yang hebat bisa menahan perasaanmu seperti itu."


"Karena keadaan, Tuan. Aku dan anak panti lainnya sudah berusaha untuk ikhlas menerima keadaan kami. Oh, ya. Bagaimana denganmu? Selama aku di rumahmu, aku tidak melihat orang tuamu," tanya Lyla.


"Mereka sudah tidak ada. Tewas karena kecelakaan."


"Tidak apa-apa. Aku maafkan," ucap Morgan. Akan tetapi, laki-laki itu kini masih tampak murung saja.


"Apa kau merindukan mereka?" tanya Lyla menatap wajah Morgan.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku benci mereka."


"Ha? Benci? Apa mereka berbuat salah?" tanya Lyla. Akan tetapi, Morgan tidak segera menjawab pertanyaan dari wanita itu.


Lyla sadar dengan kediaman Morgan, dia terlalu lancang untuk bicara, padahal dia tidak tahu bagaimana keadaan di dalam keluarga laki-laki ini.

__ADS_1


"Em ... maaf, aku memang tidak tahu apa-apa tentang hidupmu, tapi aku yakin tidak ada orang tua yang membenci anaknya. Orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Apa kau yakin yang kau katakan adalah benci yang sesungguhnya?" tanya Lyla.


Morgan masih enggan menjawab pertanyaan itu. Bayangan saat kedua orang tuanya tidak merestui hubungannya dengan Renee, kini tampak jelas di matanya.


"Iya, aku benci mereka," ucap Morgan dengan nada suara yang bergetar. Sudah sangat lama sekali tidak ada pembahasan yang memancing emosionalnya, tapi kali ini kenapa Lyla yang harus bertanya akan hal itu?


Morgan mengusap sudut matanya yang basah. Lyla melihat hal tersebut dan tersenyum seraya mengusap pundak Morgan dengan lembut.


"Tidak apa-apa kalau kau mau menangis. Tidak ada salahnya," ucap Lyla.


"Aku ini laki-laki." Morgan berkata dengan nada yang tegas.


"Apa salahnya jika laki-laki? Baik wanita maupun laki-laki, jika ada suatu hal yang membuat sedih maka menangis saja. Kau butuh itu untuk membuat perasaanmu menjadi lega."


Morgan menggelengkan kepalanya, sudah sejak lama sekali dia tidak menangis, saat Renee meninggalkannya di beberapa hari sebelum pernikahan mereka pun tidak! Atau bahkan di saat pemakaman kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan. Akan tetapi, air mata itu tidak bisa dia tahan untuk keluar juga, dan kali ini dia hanya membiarkannya saja.


Lyla tersenyum kecil melihat hal itu, dia mengambil kepala Morgan untuk memberikan bahunya sebagai tempat bersandar.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Morgan menolak.


"Sesekali kau butuh tempat bersandar untuk menghilangkan rasa sedihmu. Aku janji tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun," ujar Lyla.


Entah kenapa ucapan Lyla membuat Morgan percaya sehingga dia melakukan apa yang Lyla katakan.


Perasaan Morgan kini menjadi hangat, dia merasa nyaman menyandarkan kepalanya di pundak Lyla. Tidak menyangka jika pundak yang tipis ini ternyata senyaman ini.


"Apa perasaanmu nyaman sekarang?" tanya Lyla sedikit memutar kepalanya yang membuat ujung hidung Morgan hampir mengenai pipinya. Sejenak mata mereka saling berpandangan satu sama lain, mengunci sehingga Morgan tidak bisa mengalihkan matanya pada hal yang lain.


Tanpa sadar, Morgan beranjak untuk mendekat. Bak magnet yang tidak bisa lepas dari kutub yang berlawanan.


...****************...


...Hei, Morgan. Mau ngapain kamu?...

__ADS_1


...🤨...


__ADS_2