
"Laura, ini adalah Paman Will. Kau bisa meminta apa pun yang kau mau kepadanya."
Lyla tersadar dan segera menganggukkan kepalanya. "Halo, Paman. Aku Lyla-- Laura."
Laki-laki tua itu menatap Lyla sendu dan tidak segera menyambut tangan Lyla yang terulur, dia mengusap air di sudut matanya yang keluar dari sana.
"Selamat datang di rumah ini, Nona. Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi," ucap Paman Will.
Lagi? Apakah kami pernah bertemu sebelumnya? batin Lyla.
"Apa yang Anda inginkan, bicara saja kepadaku. Makanan apa yang Anda mau? Aku bisa membuatnya sekarang juga. Aku memang orang yang sudah tua, tapi kau tidak perlu meragukanku, aku bisa membuatkan makanan enak untukmu. Kau tahu, saat muda dulu aku adalah seorang koki di kapal pesiar. Aku bisa memasak makanan dari berbagai negara," ucap Paman Will sambil membanggakan dirinya. Lyla tersenyum menatap laki-laki tau itu yang lucu menurutnya.
"Benarkah? Oh, aku beruntung sekali bisa bertemu denganmu, Paman. Aku ingin makan sesuatu yang enak malam ini, apakah kau bisa membuatkannya untukku?"
"Tentu saja. Apa yang ingin kau makan, Nona?" tanya Paman Will sambil membungkukkan tubuhnya.
"Emhh ... Entahlah, buatlah makanan yang terbaik dan terenak yang bisa kau buat."
Paman Will mencoba untuk berpikir. "Ah. Aku tahu. Kau bisa menunggu sebentar, Nona? Aku akan kembali dalam setengah jam dan akan membuat lidah dan perutmu puas."
Paman Will berjalan dengan langkah yang ringan pergi ke dapur yang memiliki peralatan lengkap dan bahan makanan yang sudah dia persiapkan sedari saat Alex mengatakan jika akan ada tamu spesial untuknya. Dengan senang hati laki-laki itu menyiapkan masakan untuk Lyla.
"Lyla," panggil Morgan. Barulah Lyla menolehkan kepalanya menatap Morgan dengan pandangan penuh rindu. Begitu juga dengan Morgan, dia mendekat dan ingin sekali mengusap pipi putih Lyla yang selama ini dia rindukan.
Namun, saat Morgan mendekat terdengar deheman dari Alex.
"Ekhem! Aku harus mengecek keadaan mobilku. Oh, aku pikir tembakan-tembakan itu bisa membuat aku rugi banyak untuk perbaikan mobil mahal ini."
Morgan paham jika bukan itu yang Alex maksudkan, dia melirik malas kepada sang paman dari kekasihnya ini.
"Awas jika kau berani macam-macam dengan keponakanku!" ancam laki-laki itu sambil menubruk bahu Morgan dan pergi dari sana.
__ADS_1
Sampai di pintu, Alex berbicara dengan pelan kepada bawahannya. "Jaga keponakanku baik-baik, perhatikan mereka. Jika dia membuat keponakanku menangis lagi, bunuh saja dia!"
"Baik, Tuan."
Alex pergi, sementara pria yang tadi memperhatikan dua orang itu dari kejauhan.
"Morgan," lirih Lyla. Morgan tersenyum dan mendekat. Laki-laki itu langsung memeluk Lyla dengan erat dan tidak ingin melepaskanya lagi.
"Maaf, maaf aku terlalu lama untuk menjemputmu. Apa kau kesulitan selama aku tidak ada?" tanya Morgan kepada Lyla.
Lyla menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku baik-baik saja. Kau ... Apa kabarmu?" tanya Lyla dengan sedih, rasa rindu yang terlanjur dipupuk dalam-dalam kini mencuat ke permukaan. Tatapan Lyla sendu dengan air mata yang kemudian keluar dan tidak terbendung lagi.
"Hei, kenapa kau menangis? Apa kau marah kepadaku?" tanya Morgan sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Lyla. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Morgan mengusap air mata yang keluar dan membasah di pipi Lyla.
"Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya senang bertemu denganmu. Kau--"
Lyla menatap Morgan dari atas hingga ke bawah dan sebaliknya. Pria itu tampak sehat, tapi ada sedikit cacat di alis kirinya bergurat sekitar lima centi.
"Tidak. Di sini lebih sakit dan rasanya aku tidak bisa bertahan saat mengingatmu kembali. Maaf aku telah lancang melupakanmu, Sayang. Maafkan aku."
Morgan menciumi tangan Lyla keduanya. Dia sangat menyesal karena telah membiarkan wanita ini sendirian dan mungkin daja dia sempat ketakutan.
"Tidak apa-apa. Aku senang kau mengingatku lagi dan kau menemuiku di sini."
"Setelah ini kita pulang ya. Aku tidak mau kau menjauh lagi. Ku mohon."
Lyla menganggukkan kepala. "Iya. Aku mau."
Momen kerinduan mereka harus terganggu akibat Alex yang berteriak kencang memanggil Paman Will. Laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun itu segera berlari, masih dengan mengenakan celemek di tubuhnya.
"Ada apa, Tuan?"
__ADS_1
Sementara Morgan yang hendak mencium Lyla hanya bisa berdecak kesal. Alex laki-laki menyebalkan yang saat ini harus dia hadapi, lebih sulit menghadapi Alex daripada musuhnya.
"Andai dia orang lain, sudah aku bunuh dia," gumamnya kesal.
Lyla yang mendengar itu sontak menyikut perut Morgan. "Hei, dia waliku sekarang ini!" Pelototan diberikan Lyla kepada laki-laki ini.
"Iya, aku paham. Dia sudah jadi orang tua bagimu, maka dari itu dia sangat menyebalkan!"
"Ada apa, Tuan?" tanya Paman Will tergesa.
"Aku lapar, apa kau menyiapkan makanan cukup banyak untuk kami?" tanya laki-laki muda itu.
"Iya. Tentu saja aku membuat cukup untuk kalian."
"Syukurlah. Aku juga ingin merayakan kepulangan keponakanku di rumah ini, bisakah kau mengaturnya?" tanya Alex sambil berjalan dengan sengaja di antara Lyla dan Morgan. Kedekatan dua orang itu sangat menyebalkan untuknya. Alex tidak suka pandangan Lyla kepada laki-laki itu!
Makan malam berlangsung dengan pembicaraan riang antara Alex dan Paman Will, sementara Lyla dan Morgan lebih tenang makan sambil melirik satu sama lain.
"Aku sedang membayangkan bagaimana muka pak tua itu di sana," ujar Alex sambil tertawa dengan keras. Dia menggeserkan piring berisi makanan laut ke arah keponakannya. "Kau harus makan yang banyak, Keponakanku."
"Uncle. Sebenarnya ada apa? Apa maksudmu pak tua? Siapa dia?" tanya Lyla yang masih bingung dengan siapa yang Alex maksudkan. Dia tidak tahu menahu urusan mereka dengan pak tua yang dimaksud sehingga mereka harus melarikan diri dari orang itu dan serta merta diberondong oleh tembakan.
Alex yang mendapat tatapan tajam dari Lyla hanya menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Emhh ... Itu. Ada satu hal yang kami lakukan, dan kau tidak perlu tau. Terima kasih karena kau sudah membantuku di sana."
Lyla semakin bingung dengan maksud Alex, dia merasa tidak membantu apa-apa. Lagipula rencana mereka jauh dari apa yang Alex sampaikan saat akan pergi tadi.
"Uncle, apakah setelah ini aku akan bisa bertemu dengan keluargaku yang lain?"
Alex terdiam, tapi kemudian mengangguk setelah melirik Paman Will.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memberitahumu setelah makan nanti. Sekarang bisakah kita makan hingga selesai? Aku sangat lapar sekali."